Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Kolaborasi Gastronomi dan Pariwisata

Secara terminologi, gastronomi dan pariwisata mempunyai batasan yang berbeda. Gastronomi menjelaskan tentang keterkaitan antara budaya dan makanan, sedangkan pariwisata adalah aktivitas perjalanan di luar tempat tinggalnya dengan tujuan tidak untuk menetap. Melihat definisi tersebut adakah celah untuk keduanya dapat saling mendukung?

Gastronomi dan pariwisata merupakan bidang ilmu yang multidisiplin. Jadi, kemungkinan untuk saling mendukung, sangat terbuka. Kata kunci yang menghubungkan keduanya adalah “budaya.”

Gastronomi menjelaskan komponen-komponen budaya, seperti sejarah, tradisi, sistem kepercayaan, dan cerita-cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat dengan makanan sebagai pusat kajiannya. Gastronomi menganggap makanan sebagai produk budaya dari kelompok masyarakat tertentu. Seperti halnya arsitektur, bahasa, musik, kriya, dan seni pertunjukan, makanan juga bisa menjadi identitas budaya lokal. Di sisi lain budaya adalah salah satu komponen daya tarik wisata. Banyak orang berwisata dengan tujuan untuk menikmati orisinalitas budaya setempat.

Baca Juga: Apa itu Gastronomi?

Sementara itu, pariwisata memberikan kesempatan yang luas pada stakeholders di suatu wilayah atau destinasi untuk menyediakan segala kebutuhan wisatawan. Kebutuhan untuk menikmati lansekap dan budaya yang unik, akomodasi, transportasi, dan - tentu saja - makanan. Kebutuhan akan makanan menyediakan dua pilihan bagi wisatawan, yakni makanan lokal atau makanan umum yang tidak ada kaitannya dengan budaya lokal. Makanan lokal adalah bagian dari gastronomi yang mempunyai kekuatan “behind the scene dari penciptaan makanan tersebut. Ada cerita sejarah dan tradisi yang mengiringinya. Menikmati makanan lokal yang dikemas dengan cerita (storytelling) yang menarik, adalah sebuah atraksi gastronomi.

Menurut Anne-Mette Hjalager dalam bukunya Tourism and Gastronomy (2001), gastronomi memberikan nilai tambah pada pariwisata dengan menghubungkan budaya, lansekap, dan makanan lokal menjadi sebuah pengalaman berwisata yang tak terlupakan. Sementara itu, pariwisata menawarkan kesempatan kepada produsen makanan untuk menambah nilai produknya melalui pengalaman wisatawan pada proses produksi dan konsumsi makanan tersebut. Baik gastronomi maupun pariwisata, masing-masing memberikan nilai tambah melalui pengalaman. Keduanya mempunyai produk tangible (berwujud/benda), seperti lansekap, seni, dan makanan, namun yang sebenarnya dijual adalah unsur intangible (tak berwujud/non-benda), yaitu pengalaman.

Dalam perjalanan dan aktivitas wisata, makanan adalah pusat pengalaman karena wisatawan akan selalu butuh makan di mana pun mereka berada. Globalisasi makanan menjadi semacam halangan bagi gastronomi untuk ikut berperan pada sebuah destinasi. Gastronomi menjadi kurang berarti  ketika wisatawan memutuskan untuk tidak menikmati makanan lokal dan lebih memilih comfort food yang tidak jauh dari makanan mereka sehari-hari. Walaupun, di sisi lain, globalisasi makanan juga memberikan kesempatan terhadap makanan lokal untuk bisa lebih dikenal di seluruh dunia. Namun, butuh kekuatan yang besar untuk menjadi bagian dari makanan global. Saat ini globalisasi makanan identik dengan menjamurnya merek kapitalisme fastfood, seperti McDonald, Kentucky Fried Chicken, Burger King, dan lainnya. Ketika nama-nama fastfood tersebut ada pada sebuah destinasi, ini akan menjadi tantangan yang berat bagi makanan lokal untuk bersaing.

Hal lain yang terkait dengan pengembangan gastronomi maupun pariwisata, adalah aspek higienitas atau kebersihan sebagai isu utama. Bagi kebanyakan wisatawan, nama-nama fastfood  tersebut memberikan jaminan harga yang lebih jelas, produksi yang lebih higienis, dan kualitas yang lebih terstandar. Mereka tidak mau mengambil risiko dengan makanan lokal yang belum mereka kenal sebelumnya. Atau, bisa jadi mereka tidak mendapatkan informasi yang baik tentang makanan lokal yang tersedia. Maka, gastronomi juga menjadi daya tarik wisata yang paling rentan untuk tidak dipilih oleh wisatawan dibandingkan dengan daya tarik wisata lain, seperti lanskap dan atraksi budaya.

Namun, jika makanan lokal dibuat dengan kebersihan standar tinggi, dikemas dengan presentasi yang menarik, diiringi dengan aktivitas dan cerita atraktif, dan dipromosikan bersama atraksi lain untuk mendukung sebuah destinasi, tentu akan menjadi sebuah kekuatan bagi gastronomi untuk bersaing dengan makanan-makanan produk dari globalisasi. Kolaborasi gastronomi dan pariwisata kian memberikan manfaat nyata kepada para pihak terkait, terutama masyarakat lokal. Gastronomi memberikan nilai tambah bagi destinasi melalui pengalaman berwisata, sementara pariwisata ikut berperan dalam menjaga keberlangsungan makanan lokal. Selain itu, sebagai suatu bentuk kolaborasi yang ideal, pariwisata juga membantu meningkatkan pendapatan masyarakat lokal melalui pengembangan gastronomi di waktu yang bersamaan.

Baca Juga: Gastronomi, Nation Branding, dan Sambal