Destination of The Month

Baluran

East Java

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

read more

Siapa itu Backpacker?

Di kalangan anak muda, kini penyebutan backpacker tampaknya kian populer dibandingkan wisatawan. Backpacker telah menjadi bagian dari tren dan gaya hidup. Pelekatan pada backpacker adalah murah! Jalan-jalan dengan budget minim. Secara terminologi, backpacker adalah pula wisatawan dalam pengertian melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk tujuan dan jangka waktu tertentu (tidak menetap). Tetapi apakah benar backpacker sekadar wisatawan yang berwisata dengan murah? Menarik untuk menelusuri hal ini dengan mempelajari bagaimana backpacker muncul pada awalnya dan menjadi hal yang trendy.

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Di kalangan anak muda, kini penyebutan backpacker tampaknya kian populer dibandingkan wisatawan. Backpacker telah menjadi bagian dari tren dan gaya hidup. Pelekatan pada backpacker adalah murah! Jalan-jalan dengan budget minim. Secara terminologi, backpacker adalah pula wisatawan dalam pengertian melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk tujuan dan jangka waktu tertentu (tidak menetap). Tetapi apakah benar backpacker sekadar wisatawan yang berwisata dengan murah? Menarik untuk menelusuri hal ini dengan mempelajari bagaimana backpacker muncul pada awalnya dan menjadi hal yang trendy.

Menelusur KemunculanBackpacker Tourism

Backpacker. South East Asia pernah menampilkan sebuah artikel berjudul “From Ancient Explorers to Hippies & Full Moon Party: A Short History of Backpacking!” Mungkin akan terlalu jauh dan rumit untuk menjelaskan kelahiran backpacker kaitannya dengan nomadic tribes atau early explorers, seperti Chistopher Columbus yang menyebrangi Samudera Atlantik (1492) atau David Livingstone yang menjelajah Afrika (1842). Pada artikel tersebut, Giovanni Francesco Gemelli Careri (1651-1725) – seorang Italia – disebut-sebut sebagai the first backpacker atas perjalanannya mengunjungi banyak wilayah di berbagai belahan dunia. Berbagai publikasi perjalanannya itulah yang kemudian menginspirasi kemunculan travel literature berupa novel petualangan berjudul Around the World in Eighty Days karya Jules Verne yang terbit tahun 1873. Sensasi berpetualang mengunjungi destinasi dan menemui orang-orang “eksotis” (pandangan orang-orang Eropa terhadap orang Timur) telah memberikan fantasi yang mendorong banyak orang, khususnya kaum muda, untuk melakukan perjalanan.

Gaya berwisata ala backpacker ini kian mengalami popularitas ketika munculnya fenomena New Age, Flower Generation, atau kaum Hippie di tahun 1960 hingga 1970-an. Hasrat untuk bersenang-senang dengan eksotisme memiliki makna baru terkait gerakan perdamaian (isu lingkungan hidup dan perang), yaitu kebebasan dan pencerahan (spiritual enlightenment) di mana kaum muda di negara-negara Barat mulai meninggalkan rumah mereka untuk melakukan perjalanan ke berbagai negara Asia. Generasi Bunga ini tak hanya menjadi suatu gerakan politik dan spiritual, melainkan memasuki ranah budaya pop. Booming terhadap fenomena tersebut banyak diadaptasi oleh para figur pop, dari selebritis, musisi terkenal, sampai anak-anak muda, terutama di AS dan banyak negara di Eropa melalui cara berpakaian, pernak-pernik dengan simbol khusus (lambang perdamaian, cinta/hati, bunga, daun ganja, dan lambang spiritual), hingga ideologi gaya hidup bebas dan mandiri, yaitu melakukan perjalanan keluar dari rumah untuk jangka waktu tertentu secara individu maupun berkelompok menggunakan backpack.

Wisatawan backpacker sebetulnya tidak benar-benar pergi tanpa suatu persiapan matang. Justru mereka mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk tidur di mana pun (selain hotel) dengan membawa peralatan dan perlengkapan yang cukup lengkap. Mereka tidak membawa koper, melainkan ransel punggung yang besar (backpack) yang mudah dibawa ke mana pun untuk berbagai medan. Kata “backpacker” sendiri berasal dari ciri dengan ransel tersebut. Jika biasanya turis menggunakan jasa transportasi pribadi, menginap di hotel, serta dibantu tour operator atau pemandu wisata, maka backpacker pergi dengan transportasi lokal, menginap di homestay atau camping, dan tanpa menggunakan jasa komersil tur. Biasanya backpacker menghindari lokasi-lokasi mass tourism (destinasi wisata populer dan “mahal”) dan cenderung mengunjungi destinasi yang masih “asli” atau belum dikembangkan industri pariwisata. Konstruksi itulah yang hendak dibangun untuk mengkategorikan tourist dan backpacker. Dalam industri dan akademisi, istilah backpacker tourist/tourism kerap juga disebut sebagai free independent tourist, budget tourist/tourism, dan, karena sebagian besar bacpacker adalah anak muda (pelajar/mahasiswa), pula diasosiasikan sebagai youth & student tourist/tourism. Menurut Philip Pearce, (2008) definisi backpacker meliputi kriteria preferensi terhadap anggaran/budget akomodasi, penekanan pada pertemuan dengan wisatawan lainnya (sesama backpacker, biasanya untuk saling memberikan dukungan dan informasi, jadwal perjalanan diatur sendiri dan fleksibel, serta penekanan pada kegiatan liburan informal dan aktivitas yang partisipatif.

Backapcker As a Political Statement

Secara internasional, backpacker juga tak luput menjadi sasaran pasar yang besar bagi industri pariwisata global. Setiap tahunnya, mobilitas wisatawan tipe ini terus meningkat dan tentu saja memberikan dampak ekonomi yang tak sedikit. Perkiraan peningkatan laju backpacker mencapai sekitar 5% per tahunnya (kemungkinan sebenarnya jauh lebih besar karena backpacker sulit atau bahkan tidak terdata di banyak wilayah). Destinasi utama kalangan backpacker internasional sampai saat ini masih tertuju pada negara-negara berkembang, khususnya di Asia Tengara dan India. Selain sebelumnya sempat menjadi tujuan kelompok Hippie, negara-negara tersebut menjadi favorit kalangan backpacker karena murah dan menawarkan pengalaman yang unik dan langka. Bahkan, sejumlah event khusus di kawasan tertentu telah dikenal luas dan menjadi ruang bagi para backpacker dunia berkumpul, seperti pesta malam hari di pantai dengan nama “The Full Moon Party” di Thailand atau Perayaan Waisak di Candi Borobudur.

Preferensi anggaran menjadi yang pertama. Maka, ketika seorang atau sekelompok backpacker hendak melakukan perjalanan ke luar negeri, perencanaan telah dilakukan jauh-jauh hari. Hal ini dilakukan guna proses pengumpulan dana, informasi, adanya event penting (misalnya upacara adat/spiritual tertentu), dan bahkan dipicu oleh tiket pesawat promo atau murah yang dipesan jauh sebelum keberangkatan (LCC/Low Cost Carriers). LCC telah memberikan dampak signifikan terhadap kunjungan backpacker di kota-kota besar. Persinggungan positif lainnya adalah medorong kunjungan di low season (weekdays) dan memberikan kesempatan pada daerah terdekat untuk dikunjungi atau berkembang melalui kehadiran wisatawan.

Aspek budget yang utama dan diupayakan semurah mungkin, memang telah membuat kalangan backpacker dilihat secara sempit sebagai wisatawan yang pemilih karena mereka tidak tidur di hotel, naik taksi, memakai jasa komersil tour operator atau guide, serta tak membeli sovenir mahal. Namun, kebiasaan backpacker untuk menggunakan homestay, transportasi lokal, dan warung makan lokal, justru telah memberikan kontribusi ekonomi langsung yang cenderung lebih besar terhadap perekonomian lokal (manfaat pariwisata diserap langsung oleh masyarakat, bukan segelintir kapitalis industri). Pilihan mereka tidak hanya mendasar pada sesuatu yang murah, melainkan autentik yang mengedepankan lokalitas dan aspek keberlanjutan, khususnya isu lingkungan hidup. Dengan adanya kunjungan-kunjungan ke destinasi yang bukan mass tourism, backpacker tourism telah mendorong keberagaman pilihan (diverse attraction) yang mencegah adanya overload pada destinasi yang telah populer dan membuka peluang baru bagi destinasi lain untuk “terbuka.” Backpacker juga menaruh perhatian besar pada aspek partisipasi atau interaksi lokal, misalnya melalui homestay, keterlibatan langsung dalam perayaan upacara bersama masyarakat lokal, atau menjadi relawan. Backpacker disebut-sebut sebagai pendorong new innovative experience atas keterlibatannya pada budaya/tradisi dan masyarakat lokal. Tak jarang, backpacker yang berada di tempat tertentu, seperti Melbourne, justru ikut bekerja paruh waktu untuk menunjang anggaran perjalanan mereka. Sebuah riset di Australia menunjukkan bahwa kehadiran backpacker telah memberikan kontribusi besar terhadap tingkat pekerjaan dan pendapatan lokal. Dengan besarnya kontribusi tersebut, hadirnya backpacker justru meminimalkan tingkat kebocoran (leakage) pada neraca ekonomi pariwisata lokal. Selain itu, alasan difavoritkannya backpacker di banyak lokasi juga dikarenakan oleh sensitivitas dan partisipasi aktif mereka terhadap unsur sosial-budaya dan lingkungan hidup. Backpacker dinilai lebih memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap keberlangsung ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan hidup.

Namun tak semua melihat backpacker secara holistik dan positif. Karena independensi dan preferensi pada budget, kadang mereka dianggap sebagai wisatawan pelit. Mereka biasanya bepergian solo/sendiri atau tak lebih dari 5 orang. Kita seringkali melihat mereka berjalan kaki dengan ransel penuh membawa peta, enggan untuk menerima rekomendasi yang “nyaman,” sehingga lekat dengan stereotipe turis yang egocentric dan individualistik. Kesenjangan kebiasaan antara international backpacker dengan wisatawan dan masyarakat lokal, khususnya di negara-negara berkembang di Asia Tenggara, telah menimbulkan kecurigaan dan kekhawatiran. Pada awal tahun ’90-an, negara seperti Botswana bahkan berusaha mencegah/mengucilkan backpacker karena stigma tersebut. Bacpacker yang bepergian dengan dandanan kasual dituduh tidak menghargai tatanan adat, terutama ketika mengunjungi lokasi sakral. Maka etika menjadi hal yang kemudian harus dipikirkan untuk bepergian dengan gaya backpacker.

Adanya Stigma terhadap backpacker merupakan akibat dari tingginya kesenjangan antara backpacker sebagai wisatawan dengan masyarakat. Kesenjangan akan lebih berdampak buruk lagi ketika menemukan karakter masyarakat lokal yang tidak terbuka atau supportive terhadap kehadiran orang asing, baik lokal maupun internasional. Sehingga, backpacker sendiri perlu ekstra hati-hati dan waspada. Apa yang dianggap sebagai ketidaksopanan merupakan akibat ketidaktahuan mereka dan rendahnya pemahaman/sikap terbuka masyarakat. Tentu saja, hal ini mengancam kedua pihak.

Pengembangan backpacker tourism perlu memperhatikan karakter backpacker tersebut. Artinya, elemen-elemen pengembangan pariwisata harus disesuaikan. Meskipun kelengkapan infrastruktur dan layanan bukanlah hal utama bagi backpacker, namun hal tersebut tetap penting. Untuk meminimalkan kesenjangan dan potensi konflik, backpacker memerlukan informasi yang tepat dan situasi yang mendukung, sepeti tersedianya pilihan homestay yang memadai, transportasi lokal, rambu-rambu yang jelas (etika), serta sistem keamanan yang baik. Mereka rentan terhadap tindak kriminal karena berada sendiri di daerah yang “asing.” Ini juga berlaku bagi backpacker itu sendiri yang perlu menciptakan mekanisme keamanan diri. Kasus yang seringkali menimpa backpacker, meliputi pencurian, penipuan, perampokan, hingga yang paling parah di daerah konflik adalah penculikan karena diduga sebagai mata-mata atau dijadikan sasaran sandera bagi pihak musuh. Persoalan terhadap backpacker perempuan akan lebih pelik mengingat adanya tindak diskriminasi ataupun tingginya angka kekerasan terhadap perempuan di banyak tempat.

Membedakan diri dari gaya berwisata sebagai backpacker adalah jelas sebagai suatu sikap. Di sini, backpacker menjadi salah satu pilihan dalam gelombang pariwisata alternatif (bertolak dari mass tourism). Ada hal yang perlu dipertimbangkan sebagai backpacker, yaitu berwisata dengan sebuah kesadaran. Dengan menjadi backpacker, seorang atau sekelompok turis tahu apa yang dilakukannya dan menyadari betul efek yang ditimbulkan dari perjalanan wisata. Maka, backpacker memilih cara alternatif sebagai suatu sikap yang dilatarbelakangi kesadaran. Bahwa perjalanan wisata seharusnya memberikan dampak positif bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan bagi perekonomian lokal, sosial-budaya, dan lingkungan. Preferensi pada anggaran adalah penting, namun bukanlah semata-mata murah! Backpacker menyadari dirinya tidak akan pernah menjadi masyarakat lokal, tetapi selalu berupaya untuk hidup seperti masyarakat lokal karena mereka tahu ada banyak dampak negatif yang ditimbulkan untuk menjadi wisatawan yang memisahkan diri dari kehidupan yang dikunjungi. Menjadi backpacker adalah sebuah sikap politik dan gerakan dalam melawan arus pariwisata modern yang kian gencar dilakukan di mana modern tourism cenderung berkarakter pada kapitalistik, modal/investasi besar, menekankan pada perubahan fisik secara masif, berorientasi pada profit, dan menimbulkan efek negatif yang tak kecil bagi lingkungan dan masyarakat.

Jadi apakah kita sudah merasa menjadi backpacker selama ini? Tentu saja backpacker bukanlah wisatawan muda yang bepergian dalam rombongan 10-20 orang dengan kelompok trip informal (bukan tour operator resmi) di mana kita sekadar membayar sejumlah uang, lantas menikmati suatu paket perjalanan murah yang dikelola oleh sesama anak muda. Backpacker adalah gaya dan identitas dengan ideologi. Tak ada yang salah memang ketika ini menjadi tren, tetapi mengklaim diri sebagai backpacker tanpa melihat asal-usul dan etika berwisata, maka itu adalah gaya ikut-ikutan saja!

*Tulisan ini sebagian besar diambil dari sebuah bab berjudul Bacpacker Tourism pada buku Peluang dan Tantangan Pariwisata Indonesia (Penerbita Alfabeta, 2014) yang ditulis oleh penulis yang sama.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Tourism in General Siapa itu Backpacker?

Newsletter

Subcribe
1070273
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1343
555
4390
886362
11282
19042