Destination of The Month

Baluran

East Java

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

read more

Menggugat “Eksotisme” pada Program Televisi

Ketika pada awalnya Riyanni Djangkaru, yang berwajah lokal, hadir di televisi membawakan program jalan-jalan dengan tampilan tidak manja, saya berpikir ini adalah alternatif terobosan. Dan benar saja, hal itu pun kemudian mendapat perhatian dan memunculkan tren terhadap program televisi bertema traveling. Tetapi dengan maraknya program serupa saat ini, saya melihat justru ada yang membosankan dengan wajah-wajah presenter tersebut. Perawakan bule atau indo tampaknya kian mendominasi lagi. Makna eksotisme pun seperti kembali mundur ke belakang terhadap sebuah destinasi dan masyarakat lokal dalam pandangan yang lebih mengarah pada “pariwisata modern.”

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Ketika pada awalnya Riyanni Djangkaru, yang berwajah lokal, hadir di televisi membawakan program jalan-jalan dengan tampilan tidak manja, saya berpikir ini adalah alternatif terobosan. Dan benar saja, hal itu pun kemudian mendapat perhatian dan memunculkan tren terhadap program televisi bertema traveling. Tetapi dengan maraknya program serupa saat ini, saya melihat justru ada yang membosankan dengan wajah-wajah presenter tersebut. Perawakan bule atau indo tampaknya kian mendominasi lagi. Makna eksotisme pun seperti kembali mundur ke belakang terhadap sebuah destinasi dan masyarakat lokal dalam pandangan yang lebih mengarah pada “pariwisata modern.”

Kata kuncinya adalah “eksotisme.” Saya berikan tanda kutip karena kata tersebut memiliki banyak pergeseran makna dan kerap kali menjadi sebuah imaji yang menghadirkan motivasi terhadap apa yang kini kita sebut sebagai perjalanan wisata hingga kemudian memunculkan sebuah industri paling menjanjikan di masa kini dan ke depan: industri pariwisata. Tapi di sini saya ingin mengkritik tayangan televisi bertema jalan-jalan dan kaitannya dengan eksotisme itu sendiri.

Perkara bule (khususnya orang-orang Eropa) dan eksotisme dalam pariwisata memiliki kaitan yang erat. Kalau menelisik sejarahnya, pariwisata modern di Eropa yang muncul pada masa pra-kolonialisme hingga kolonialisme atau penjajahan atas negara/kawasan di Timur jauh, salah satunya Indonesia, memiliki titik mula dari apa yang mereka sebut sebagai eksotis. Eksotis menjadi hal yang dianggap unik. Sebuah nilai pada atraksi maupun destinasi yang tak pernah mereka temui sebelumnya dan tentu saja tidak ada di tempat di mana mereka tinggal. Rempah-rempah menjadi begitu bernilai karena kemisteriusannya di abad pertengahan adalah barang yang eksotis. Penari Bali dengan payudara yang tumpah dikatakan eksotis oleh turis asal Eropa. Pantai berpasir putih yang menghadap samudera biru dengan view matahari tenggelamnya pun eksotis. Borobudur itu eksotis! Dan eksotisme seolah menjadi keutamaan motivasi perjalanan. Motivasi yang tak jarang sekadar mewujud pada ego untuk menikmati suatu kekaguman. Di sinilah turis kemudian seperti menegaskan posisi yang berjarak dengan masyarakat lokal, dengan alam, dan aspek sosial-budaya dari suatu destinasi. Turis adalah subjek, dan bentuk-bentuk eksotisme dianggap objek, termasuk masyarakat yang eksotis! “Pariwisata modern” dibangun di atas relasi yang tidak adil dan setara.

Setelah Jejak Petualang, rating program jalan-jalan masih cukup baik dan terus bermunculan seiring dengan perkembangan gaya hidup dan industri pariwisata. Tapi jika sebelumnya Riyanni tampil dengan membawa cerita tentang pengalaman berinteraksi dengan masyarakat lokal dan petualangan yang penuh jerih payah dalam mendaki gunung, kini tampilan lain hadir. Presenter program televisi bertema traveling lebih banyak berwajah indo atau bahkan bule yang bukan hanya bertampang “menjual,” bahkan bisa jadi kian laris jika punya logat indo yang kental alias tak lancar berbahasa Indonesia tak apa. Kesan yang ingin ditampilkan seolah bisa saja positif. Untuk menekankan betapa orang luar saja begitu mengagumi Indonesia. Jadi, apalagi kita sebagai orang Indonesia ya harus bangga. Atau malu! Menurut saya ini pandangan yang kuno dan twisted! Perspektif itu tetap saja tak seimbang! Apalagi untuk melihat perawakan si presenter ketika bertemu dengan orang-orang lokal di perdesaan yang kontras dengan makeup dan cara berpakaian. Hal yang lebih ekstrem lagi adalah melihat tayangan Ethnic Runaway di mana presenter - selebritis, aktor, model - yang “cantik” dan “tampan” harus tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat adat yang berkehidupan secara sederhana di pelosok hutan atau pegunungan.

Menyoal maraknya presenter bule atau indo bukan hanya mengenai gugatan pada penguatan stereotipe dan prioritas untuk memberikan kesempatan bagi talent lokal, tapi kembali lagi tentang penguatan arus utama pada corak “pariwisata modern.” Saya ingat cerita kawan dari Toraja. Ia yang kala itu masih kanak-kanak sangat antusias menyambut kedatangan turis asing dengan mobil di kampung. Ia dan anak-anak lain akan berlari-lari mengejar turis sambil berteriak-teriak: “Gula-gula, Mister!” Turis membidikkan kamera dan ia bersama anak-anak lain akan berpose se-”eksotis” mungkin dengan gaya bocah kampung tanpa sendal dan baju sedang bercengkrama dengan kerbaunya. Demi upah sebungkus permen!

Soal eksotisme dan corak pariwisata modern yang cenderung berpandangan kapitalistik telah sejak 3 dekade terakhir mendapat banyak kritik terkait keberlanjutan industri pariwisata (sustainable tourism) serta perkara etika (tourism ethics). Sebabnya, motivasi pada penonjolan eksotisme tak banyak memberikan efek positif bagi perekonomian lokal (kesejahteraan dan partisipasi masyarakat), sosial-budaya, dan lingkungan. Malah kecenderungan yang justru merusak. Perilaku turis yang tak berkesadaran dan tak bertanggung jawab kerap menimbulkan masyarakat lokal kehilangan potensi ekonomi lokal, turisfikasi merusak tatanan sosial-budaya lokal, dan tentu saja degradasi lingkungan pada efek mass tourism. Maka secara pribadi saya berpendapat bahwa eksotisme adalah kata atau motivasi usang yang tak layak lagi ditampilkan. Atau untuk menyebutnya secara halus, adalah desakan dekonstruksi pada pemaknaan yang positif.

Peran media sampai saat ini masihlah berperan penting dan signifikan terhadap perkembangan destinasi maupun industri pariwisata secara umum. Bagaimana suatu motivasi dikedepankan atau pola perjalanan digambarkan pada media akan memiliki pengaruh pada bagaimana kita sebagai wisatawan melihat dan mengunjungi destinasi wisata. Tetapi tentu akan menjadi jauh lebih sulit untuk mempengaruhi media dalam hal ini. Maka sebagai turis, hal itu tetap kembali kepada kita.

Menyaksikan program televisi jalan-jalan sebagai program hiburan memang menyenangkan, namun ketika kita memutuskan untuk melakukan perjalanan, di situlah kita mengambil keputusan pada jalan yang kita pilih dan alami. Persinggungan perjalanan wisata dengan banyak sektor dan manusia, menyadarkan kita bahwa perjalanan kita bukan hanya tentang diri kita sendiri. Tetapi pula bagaimana perjalanan kita dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan orang lain! Karena ego pada eksotisme mungkin hanya akan berakhir sesaat dengan ajang pamer posting bergaya selfie di media sosial. Sementara melakukan perjalanan dengan kesadaran penuh dan penerapan etika, memberikan makna lain yang lebih patut kita kenang dan bagi kepada orang lain. Saya tetap melihat pariwisata bisa jadi solusi untuk banyak persoalan jika diterapkan dengan baik juga. Dan kita sebagai wisatawan punya peran. Tentu saja pula media massa dalam menampilkan sebuah strategi ajang promosi wisata yang mengedepankan keberlanjutan dan etika.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Tourism in General Menggugat “Eksotisme” pada Program Televisi

Newsletter

Subcribe
1037249
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
506
453
5565
850939
16832
20604