Destination of The Month

Baluran

East Java

Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur, merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

read more

Pulau Buru: The Dark Tourism

“aku mencium angin pantai//asin laut berdebur//mengusap bibir//getaran sepi//melimbur datang bersama//gelombang bergulung//bayangan seragam loreng mata tentara dendam kesumat//bayangan gagang karaben bersambaran di atas kepala//oleh rasa sendir//basah tampuk mataku”

Dikutip dari puisi Hesri Setiawan berjudul Pantai Sanleko (1997)

 Satu waktu di tepi Pantai Sanleko, seorang sastrawan Hesri Setiawan mengisahkan pengalaman hidup pada putrinya. Ia diasingkan ke Pulau Buru karena menjadi anggota LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) yang disebut-sebut sebagai afiliasi PKI (Partai Komunis Indonesia). Persepsi umum akan mengatakan langsung bahwa pengasingan tersebut layak dilakukan sebab PKI itu jahat dan ia bersama LEKRA dituding antek-antek pembuat onar yang harus ikut “diamankan.” Tapi kenyataan berkata lain. Ita Ken Setiawan, putri Hesri, lewat dialog dengan ayahnya, tak menemukan sama sekali ada kesalahan yang membuatnya harus diasingkan sebagai tahanan politik (tapol) waktu itu. Ditambah lagi, Ken bersilaturahmi dengan para mantan tapol dan melihat serta merasakan langsung situasi sosial di bekas pengasingan yang membuktikan kekeliruan pandangan masa lalu yang menimpa ayahnya. Tampak ada kejanggalan atau keraguan-raguan akan kenyataan tersebut: ada seorang sastrawan berkelas Asia-Afrika yang diasingkan tanpa diketahui sebab-sebabnya dengan jelas? Hal ini berlaku sama pada seluruh staus para tapol. Ngerisekaligus memilukan. Seperti ia tuangkan dalam sajaknya Pantai Sanleko yang dibacakannya kala itu di bibir Pantai Sanleko, Pulau Buru, Maluku.

Narasi di atas diringkas dari film berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta (2016). Film karya anak bangsa tersebut memiliki gagasan pokok pada perjalanan bersama mantan tapol ke bekas pengasinganya di Pulau Buru. Artikel ini akan mengulas potensi pengembangan pariwisata di Indonesia yang  ditampilkan melalui film tersebut. Mari kita mulai dengan mengimajinasikan diri sedang menjelajahi negeri dengan keindahan pantai-pantai berikut kehidupan di pulau-pulaunya yang eksotis di Indonesia bagian timur bersama orang-orang terdekat.

Pulau Buru Tanah Air Betamerekam sebuah jejak perjalanan ke Pulau Buru. Di dalam kepariwisataan, perjalanan semacam itu merupakan apa yang sekarang disebut dark tourism (pariwisata gelap). Dark tourism secara umum diterjemahkan sebagai suatu perjalanan yang menarik orang untuk melakukan ke suatu kegiatan wisata dengan tujuan karena pernah terjadi peristiwa-peristiwa terkait kematian, penderitaan, kekerasan, atau bencana. Dengan kata lain, dark tourism adalah suatu perjalanan ke sebuah situs. Namun ia lebih spesifik menyangkut peristiwa-peristiwa di masa lalu dan akibatnya berbeda ciri-cirinya dengan pariwisata sejenis, seperti ziarah atau jalan-jalan ke museum bersejarah. Peristiwa-peristiwa yang dimaksud pun bukan seperti kematian orang karena dibacok atau kelaparan, tetapi peristiwa-peristiwa sosial yang artinya - yang menunjukkan letak perbedaannya - menyangkut aspek keberlangsungan hidup bersama. Pulau Buru menyiratkan dimensi tersebut. Perjalanan ke sana menghadirkan refleksi pengalaman baru akan masa lalu derita para tapol yang diasingkan tanpa pernah diadili. Begitu halnya bayangan penindasan membangun Desa Savan Jaya: membuat irigasi, persawahan, jalan, gedung kesenian, monumen, dan lain sebagainya. Atau, seperti memoar Hesri akan matinya seorang kawan yang ditembak karena berusaha kabur dengan mencuri sekoci. Dan akhirnya, berderet ingatan bencana kemanusiaan 1965.

Selain Pulau Buru, tentu terdapat situs pariwisata gelap lainnya di Indonesia. Kita ingat misalnya bencana alam yang memporak-porandakan daratan Aceh tahun 2004 dengan jumlah korban jiwa yang mencapai ratusan orang. Juga peristiwa Mandor di Kalimantan Barat akibat pembantaian masa Penjajahan Jepang. Peristiwa tersebut menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sebagai pariwisata gelap. Dan kini orang-orang mulai bertambah tertarik melakukan wisata gelap lainnya, seperti perjalanan ke kawasan Lumpur Lapindo Sidoarjo atau Monumen Bom Bali.

Di sini perlu diselipkan soal isu pengelolaan. Pengelolaan situs pariwisata gelap diperlukan utamanya sebagai penanda bagi orang yang melakukan perjalanan ke sana. Pengelolaan umumnya berbentuk pembuatan monumen, tugu peringatan, keterangan penjelas, atau seperangkat tata-tertib. Hal tersebut memiliki fungsi sebagai pembelajaran, baik secara moral maupun kenyataan sejarah (didaktif). Kiranya pengelolaan banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga pemerintah atau instansi terkait. Misalnya, di bawah Kementerian Pariwisata atau lembaga swasta semacam biro perjalanan wisata. Dengan begitu, segala peristiwa yang berhubungan dengan pembantaian massal atau pengasingan pasca-1965, bisa dikelola.

Pariwisata gelap hanyalah salah satu jenis pariwisata di Indonesia. Ada beragam bentuk dan jenis pariwisata lainnya yang lebih mudah dikenali, misalnya pariwisata yang berbasis pada alam dan kebudayaan. Berkemah, mendaki gunung, diving, atau sekadar berjemur di pantai ialah bagian dari bentuk aktivitas wisata berbasis alam. Sedangkan pariwisata yang berdasar pada kebudayaan memiliki variasi yang lebih kompleks, mulai dari percandian, pertunjukan tradisi, museum sampai yang memompa adrenalin sekali pun. Bahkan yang sekarang marak diminati karena tak perlu pergi jauh-jauh dari tempat tinggal, seperti wisata kuliner dan lainnya.

Ngomong-ngomong soal pariwisata gelap, sebagian orang bisa jadi menghubungkannya dengan hal-hal mistis. Apalagi yang mistis-mistis kerapdisukai di Indonesia. Walaupun pariwisata gelap terkesan menyeramkan, tapi ia bukan pariwisata yang harus punya ilmu kebatinan untuk bisa bercengkrama dengan makhluk halus beda alam. Subjek pariwisata gelap tetap manusia, sedangkan objeknya bisa benda, seperti tugu, monumen, makam, sumur, sungai, dan sebagainya. Dilihat dari sini, terbuka peluang dark tourism di Indonesia. Contoh pada bencana kemanusiaan pasca-peristiwa G30S/1965, adalah fakta bahwa ditemukan banyak kuburan massal dan lokasi lain pembuangan mayat. Telah merentang temuan lain di berbagai lokasi, seperti di berbagai titik di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Flores, hingga Sulawesi. Meskipun sebagian orang bisa saja tidak mengetahui, bahkan meragukan keberadaanya, namun sebagian orang atau kelompok lainnya telah menelusuri satu-satu situs tersebut - walapun tidak secara langsung mengatakan bahwa mereka sedang berwisata. Inilah sisi gelap suatu perjalanan, sebuah praktik pariwisata gelap. Dengan begitu, pariwisata gelap di Indonesia berpotensi besar sebab memiliki kilang-kilang kematian 1965.

Ada dua hal yang perlu diperjelas mengenai potensi pariwisata gelap di Indonesia. Pertama, soal penafsiran atau interpretasi. Pariwisata gelap sejak awal memiliki pertimbangan pada aspek kesejarahan (historis) atau penafsiran yang bersifat mendidik moral atau pengetahuan sejarah kehidupan. Hal ini dapat diketahui lewat pengalaman reflektif seorang wisatawan. Seseorang yang mengunjungi Monumen Mandor misalnya, mendapatkan refleksi kengerian atas peristiwa pembantaian oleh tentara Jepang atau kebanggaan pada perjuangan rakyat yang meraih kemerdekaan. Penafsirannya terletak pada momen historis pra-kemerdekaan. Penafsiran dalam pariwisata gelap juga bisa menjadi suatu dorongan pada perubahan pandangan mengenai masa lalu yang bertolak belakang dengan kesadaran umum akan sejarah. Secara implisit, penafsiran tersebut tampak sebagai perubahan sikap politis sebab menentang tabu narasi yang ada atau yang dipertahankan secara legal oleh pemerintah. Ini persis seperti rasa haru Ita Ken Setiawan ketika melawat ke Pulau Buru yang gelap. Ia secara reflektif mengalami perubahan pemahaman sejarah, yaitu bahwa ayah dan para tapol lainnya ternyata tidak bersalah, Pulau Buru bukti kesewenangan pemerintah di masa lalu, dan ada yang janggal atas pengasingan itu. Penafsirannya terletak pada momen patahan historis 1965. Kendati tidak semua orang bisa langsung percaya, namun fakta-fakta kesejarahan tersebut tetap ada dan dapat diklarifikasi secara runtut bila diperlukan. Inilah konsekuensi penafsiran dari potensi pariwisata gelap terkait persitiwa 1965.

Kedua, terkait isu etika. Etika dalam pariwisata gelap terjadi setelah adanya komersialisasi. Etika tersebut serupa etika bisnis sebab perjalanan ke sebuah situs dibingkai oleh usaha-usaha untuk mendapatkan keuntungan. Di sini perlu sebuah kajian empirik yang secara khusus membahas isu etika kalau saja potensi besar dalam pariwisata gelap di Indonesia hendak dikembangkan. Tapi kita bisa mengajukan beberapa rekayasa pertanyaan. Apakah etis seandainya kita mengeluarkan sejumlah uang untuk perjalanan melihat puing-puing bangunan, medan tempur, korban bencana, monumen, ziarah? Apakah etis bilamana terdapat biro perjalanan wisata yang memandu perjalanan ke Pulau Buru atau sejumlah titik pembantaian di negeri ini dan bertemu keluarga korban/pelakunya? Apakah etis orang atau suatu situs dikomersialisasi dan pengetahuan sejarah menjadi komoditi? Apakah etika pariwisata gelap dalam pariwisata? Lalu, bagaimanakah menetapkan etika dalam pariwisata gelap? Inilah hal yang bisa menjadi bahan kajian bagi para akademisi atau penggiat pariwisata.

Di antara beragam pariwisata di kota, desa, atau alam bebas, pariwisata gelap menambah daftar panjang jumlah pariwisata yang ada di Indonesia. Bagaimana tidak? Meskipun belum populer, namun potensinya tetap ada dan orang sedikit demi sedikit mulai melirik gaya wisata jenis ini. Hal yang sama tampak dalam skala global. Dalam setengah abad terakhir, pariwisata gelap telah sepadan dengan bidang pariwisata umumnya karena pertumbuhannya yang meluas dan kian beragam. Ini tampak dari peningkatan jumlah orang yang tertarik untuk mempromosikan atau mengambil keuntungan dari pariwisata gelap sebagai situs wisata, seperti petani di Pennsylvania yang menawarkan AS$ 65 per orang untuk perjalanan ke lokasi salah satu pesawat tragedi 11/9. (Bly, 2003 dalam Sharpley, 2009: 5).

Apakah alasannya bila pariwisata gelap belum berkembang di Indonesia? Bisa saja itu karena orang belum banyak tahu atau lebih familier dengan ziarah, pergi ke monumen, wisata sejarah, atau wisata edukatif. Tapi saya berpendapat bahwa hal tersebut karena minimnya promosi yang dapat meningkatkan pasar pariwisata gelap. Malahan pariwisata gelap di Indonesia telah dipromosikan lebih dulu lewat daring media luar negeri. (http://www.dark-tourism.com/index.php/indonesia) Selain itu, menengok sekilas pariwisata gelap di luar sana, tentu sudah lebih maju. Pengelolaannya telah menciptakan aktivitas ekonomi, seperti agen-agen perjalanan atau pemandu wisata. Di Inggris misalnya, secara formal-organisasional telah berdiri badan penelitian khusus mengenai pariwisata gelap yang rutin melakukan penelitian empirik. (The Institute for Dark Tourism Research) Sedangkan kita yang berada di Indonesia, baru melihat potensi pariwisata gelap untuk dikembangkan. Sebagaimana eksotisme keindahan alam dan budaya Indonesia, sisi gelapnya pun menarik dikunjungi bersama sebagai pembelajaran hidup. Film Pulau Buru Tanah Air Beta berperan juga mempromosikan potensi dark tourism sekaligus Visit Indonesia.

Jatinangor, 2 Oktober 2016

Referensi:

Nasution, Rahung. 2016. Pulau Buru Tanah Air Beta. Jakarta: Komunitas Beranda Rakyat Garuda.

Sharpley, Richard. 2009. “Shedding Light on Dark Tourism: An Introduction” dalam The Darker Side of Travel: The Theory and Practice of Dark Tourism. Britol: Channel View Publications. Hlm. 3-22.

*Oleh Benny Apriariska S, Penulis adalah mahasiswa pada program sarjana Antropologi, Unpad.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Tourism in General Pulau Buru: The Dark Tourism

Newsletter

Subcribe
1070271
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1341
555
4388
886362
11280
19042