Monday, 05 August 2013 01:41

Sensasi Aceh “Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk”

Written by

Melepaskan karir sebagai produser dan pekerja media yang mapan, lantas mengadu nasib dengan mengikuti apa yang dengan kecintaan selama beberapa tahun terakhir digeluti dalam hal masak-memasak! Sederhana saja, ia akan tersenyum begitu pengunjung terkagum puas dan mengatakan menu-nya enak.

Berbekal ajakan-ajakan via Twitter, akhirnya kami mampir juga di warung makan yang menu andalannya ayam tangkap ini. Berada di kawasan Ciranjang (berada dekat dan sejajar dengan Circle K), kami datang menjelang malam. Berbekal informasi kawan, akan sulit mendapatkan tempat duduk untuk datang di jam makan siang atau menjelang jam pulang kantor yang padat. Area parkir seadanya di pinggir jalan tampak penuh. Mudah-mudahan saja kami dapat bangku.

Sang pengelola, sekaligus juru masak yang berdandan funky itu menghampiri kami. Tahu kedatangan kami via Twitter, ternyata masih ada meja disediakan. Suasananya sangat ramah. Minimalis, tetapi nyaman. Pantas saja, jika kawan kami merekomendasikan untuk booking meja dulu karena kapasitas untuk restoran yang menempati teras sebuah rumah ini hanya berjumlah 42 kursi. Kami akhirnya mengobrol sebelum memesan. Tentang cikal-bakal Astrid Enricka – atau biasa disapa Acil – nekat mendirikan restoran sederhana dengan menu khas Melayu, lebih spesifik lagi, hidangan Aceh yang terkenal sulit dan kaya akan rempah.

Sangat personal sebetulnya. Menjadi seorang produser di sebuah televisi yang telah mapan, membuatnya banyak memiliki waktu luang untuk belajar memasak. Tepatnya sekitar 3 tahun lalu. Tapi tepatnya lagi, bisa jadi karena kerinduannya akan masakan Melayu semasa kecil ketika ia tinggal di Kota Dumai, Riau. Akhirnya keputusan itu datang, ia memulai pekerjaan baru di televisi baru yang membuatnya kehilangan aktivitas pergi ke pasar dan masak-memasak. Lagi-lagi, Acil nekat keluar dan malah semakin nekat lagi dengan pergi belajar memasak makanan Aceh dengan pengusaha kuliner lokal yang berusia lanjut di Aceh langsung selama 2 minggu. Sampai berujung pada berdirinya Atjeh Rayeuk ini.

Para pengunjung datang dan pergi. Tak lama kami mengobrol, Acil permisi untuk melayani tamu. Dengan sigap, ia langsung megucapkan selamat datang dan menyodorkan menu. Sebuah pertanda bagi kami juga untuk segera mencicipi. Selain ayam, ada juga bebek ayam tangkap.

Pesanan kami tiba. Ternyata betul-betul mirip ayam/bebek tangkap seperti yang pernah kami nikmati di Banda Aceh. Ayam/bebek dipotong kecil-kecil dan disisipkan di antara rerimbunan rempah daun yang digoreng. Aromanya sangat menyengat dan disajikan dengan lebih dari satu sambal. Ada sambal ganja, kecombrang, mangga, dan daun jeruk. Sudah termasuk dalam paket ayam/bebek tangkap, ada nasi yang disiram dengan rempah berminyak. Sangat gurih. Rempah-rempah yang kaya begitu terasa di lidah dan bumbu-bumbu diracik dengan pas, sehingga tidak eneg. Daging bebek juga memiliki keempukan yang pas, tidak alot dan tekstur tidak hancur karena terlalu empuk. Wah, lebih dahsyatnya ketika dicampurkan sambal karena ternyata serius pedas.

Selain ayam/bebek tangkap, menu Aceh lainnya adalah mi aceh dengan variasi capit kepiting, udang, sapi, dan ayam. Kawan kami yang gemar durian, tak luput memesan pancake durian yang biasanya hanya ada di Sumatera. Aroma durian langsung menyerbak. Dan kawan kami yang anti-durian pun merengut. Buat yang tak ingin nasi atau mi, ada pula menu spesial lainnya, yaitu roti cane susu.

Tak hanya menu utama saja yang sangat Aceh, minuman-minuman yang disajikan juga sangat pas nuansa Tanah Rencong-nya. Mulai dari teh tarik, teh lemon, es timun, dan sirup cincau. Kopi? Karena bukan berkonsep kafe, kopi tak lagi dihidangkan. Untuk harga makanan utama, masih berada pada kisaran di bawah Rp 40 ribu, sedangkan untuk minuman antara Rp 5 sampai Rp 14 ribu (harga per Agustus 2013).

Setiap pagi, Acil akan pergi ke pasar tradisional terdekat. Berbelanja bahan-bahan dan rempah. Semua bumbu racikan, masih diolah dari tangannya sendiri. Senang sekali kami bisa mengobrol banyak menjelang malam ketika restoran agak mulai sepi. Siapa menyangka kalau perempuan muda dengan dandanan funky ini sangat menikmati berkunjung ke pasar dan mengulek bumbu. Rumah makan Aceh memang tak sedikit bertebaran di Jakarta, tetapi rumah makan Aceh yang menyajikan menu se-lezat ayam tangkap khas Aceh, kami pikir belum kami temukan tandingan Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk. Selamat mencoba!

Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk

Jl. Cirancang No. 38, Kebayoran Baru

Twitter: @AyamTangkapAr

Telpon: 0878.8484.8892 (booking/pemesanan)

Read 115 times
More in this category: Menjadi Pasien di Klinik Kopi »