Air Terjun Madakaripura: Semedi Akhir Mahapatih Gajah Mada

Madakaripura. Bagi banyak dari kita, namanya mungkin terdengar asing, meski berada di lokasi yang relatif dekat dengan destinasi populer yakni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Madakaripura merupakan nama bagi suatu kawasan di mana kita dapat menemukan lima air terjun sekaligus pada satu tempat yang sama. Air Terjun Madakaripura berada di perbatasan Desa Sapih, Lumbang di Kab. Probolinggo dan Desa Wonorejo di Kab. Pasuruan.

Perjalanan menuju Air Terjun Madakaripura tidak mudah. Kami harus menembus hutan jati yang kering meranggas dengan jalur berkelok. Dilanjutkan dengan melintasi naik-turunnya bukit dan lembah yang diselingi dengan desa-desa sunyi yang bersahaja. Tanda bahwa kami telah dekat adalah adanya ujung jalan di mana sisi kiri-kanan berupa tebing tinggi hijau yang menjulang. Pada salah satu sisi, antara jalan dan tebing, dibatasi oleh sungai kecil berbatu dengan air yang jernih berkila. Sementara di sisi yang lain, berhadapan langsung dengan tebing. Seperti sebuah lorong menuju gerbang yang kian menyempit.

Dari ujung jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan, kami harus berjalan kaki pada sebuah jalan setapak di pinggiran sungai. Di perjalanan kami tidak merasa bosan melewati kawasan yang dipenuhi rindang hijau tersebut karena mata akan dimanjakan dengan pemandangan hamparan pohon-pohon liar, telinga akan didendangkan suara gemericik aliran sungai dan merdunya burung-burung yang berkicau. Sesekali kami juga akan disambut dengan gerombolan kera yang bergelantungan dari ranting ke ranting. Belum lagi jika sesekali kami menengadah ke atas, hamparan langit yang cerah akan langsung menyapa. Keindahan sang langit memang bergantung pada cuaca. Beruntung ketika kami berkunjung kala itu, langit sedang cerah dan warna biru dengan sebaran awan putih bersih terlihat segar. Sebaliknya jika mendung, konon warna gelap abu-abu dengan percikan awan hitam, tampak begitu mistis. Tetapi, tampaknya apa pun cuacanya semua seperti terlihat indah di sana.

Sebelum menelusuri jalan setapak, pada pintu masuk terdapat sebuah patung batu setengah badan dengan raut wajah yang tidak asing bagi kami. Wajah yang tampak tegas, rahang persegi, namun terlihat sedikit bulat dan gemuk. Bibir, mata, hidung, dan pipi memang tampak lebih besar dari ukuran standar orang kurus. Sebenarnya wajah itu juga masih polemik apakah benar wajah sang tokoh atau bukan. Bahkan ada yang bilang, kalau wajah yang sekarang dipercaya dan banyak dirupakan dalam bentuk patung, lukisan, atau pun gambar dalam buku-buku sejarah, sebenarnya adalah rekontruksi dari sebuah celengan terakota kuno yang ditemukan di Trowulan. Ah sudalah! Kami tidak hendak membahas polemik wajah tersebut. Tapi, yang ingin kami sampaikan bahwa itu adalah wajah sang pencetus Sumpah Palapa: Mahapatih Gajah Mada.

Tak jauh di belakang patung Sang Mahapatih yang agung, berderet huruf-huruf beton berwarna merah membentuk formasi bertuliskan “M A D A K A R I P U R A.” Legenda memang terus menyampaikan bahwa di tempat inilah, tepatnya di bawah air terjun di ujung jalan setapak, Gajah Mada dikisahkan terakhir terlihat sebelum menghilang dan tak pernah kembali lagi. Nama Madakaripura diambil dari kejadian itu. Kata ‘mada’ adalah sebutan singkat dari nama Gajah Mada, ‘kari’ berarti terakhir, dan ‘pura’ berarti tempat bersemedi. Para pencerita kuno percaya bahwa di air terjun  itulah Gajah Mada mencapai moksa.

Sungai kecil itu ibarat petunjuk yang akan menggiring kami menuju air terjun. Air jernih yang mengalir di permukaan sungai adalah bukti limpahannya. Saat pertama kali ditemukan, sungai itu juga yang memberitahu bahwa di ujungnya terdapat gugusan air terjun indah yang menjadi sumber air penghidupan bagi ikan dan tumbuhan di sepanjang alirannya. Menurut penduduk setempat, Suatu ketika Bupati Probolinggo sedikit penasaran ada sungai yang menembus tebing-tebing tinggi. Ia pikir pasti ada sesuatu di ujungnya.

Benar saja, akhirnya Sang Bupati bersama penduduk setempat menelusurinya dan menemukan gugusan air terjun di ujung lorong yang buntu. Walaupun sebenarnya cerita-cerita tentang air terjun itu sudah lama terdengar dari orang-orang tertentu, sama seperti cerita tentang moksanya Mahapatih Gajah Mada. Bahkan jauh sebelumnya, Suku Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, telah menggunakan air dari salah satu air terjun di Madakaripura sebagai air suci dalam prosesi Mendhak Tirta pada ritual dua hari sebelum upacara agung Yadnya Kasada.

Dengan jalur setapak yang sedikit berkelok dan lumayan jauh serta tebing-tebing tinggi yang mengiringinya, kadang kita merasa tertipu. Itu pasti air terjunnya di balik tebing yang itu. Begitu kami awalnya juga berpikir. Ketika sampai di balik tebing, ternyata masih berupa jalan setapak. Itu bisa terjadi beberapa kali karena ada banyak kelokan yang tertutup tebing. Namun tanda lain yang lebih nyata dan sebenarnya bisa kita gunakan untuk menandai lokasi air terjun yang telah mendekat, yakni suara jatuhnya air yang menggelegar. Pada kelokan terakhir, kami melintasi jembatan yang menyeberangi sungai, dan dari sanalah suara air terjun sudah mulai terdengar. Di sana pula kami temukan banyak orang menawarkan mantel dan plastik pelindung handphone dan kamera. Jika tidak ingin basah sekujur tubuh, kami tentu harus membelinya.

Air Terjun Madakaripura terdiri atas lima air terjun. Air terjun pertama, kedua, dan ketiga berjejer pada satu sisi yang sama. Airnya merembes halus di antara semak-semak hijau yang menutupi tebing. Sehingga, jatuh ke kepala terasa lembut dan akan merembes membasahi muka dan tubuh. Kita harus melintas di bawah air terjun itu jika ingin menuju air terjun yang keempat dan kelima.

Nah, basah itu pasti tapi terasa segar dan menyenangkan, seperti hujan di waktu kecil. Siapa pun boleh mandi di air terjun. Namun, pengunjung dilarang telanjang bulat.

Setelah melewati ketiga air terjun, tak jauh dari sana, kami melanjutkan perjalanan dan naik merangkak ke lereng tebing landai yang kuat. Sampai di atas, kami bertemu lagi ujung lorong buntu yang tertutup oleh tebing menjulang setinggi hampir 200 meter. Di sana terdapat dua air terjun pada sisi tebing yang saling berdampingan yang limpahan airnya deras menggelegar. Salah satu dari dua air terjun terakhir itu, dipercaya sebagai air suci yang bisa digunakan untuk penyembuhan penyakit dan prosesi Mendhak Tirta. Dasar dari air terjun adalah kolam membulat dengan warna air biru kehijau-hijauan, pertanda kalau dasarnya cukup dalam. Airnya sangat dingin, namun jika cuaca cerah, sinar matahari akan menerobos dan menghangatkan permukaannya. Itulah yang meruntuhkan hasrat untuk tidak masuk ke dalam genangan airnya. Walaupun ada peringatan untuk tidak mandi, banyak pengunjung yang tak menghiraukan. Bahkan, mereka melompat-lompat kegirangan, bermain air seperti anak kecil di sungai. Bukan tanpa alasan pelarangan untuk tidak mandi diberlakukan. Sebabnya, sebelumnya pernah ada pengunjung yang meninggal. Menurut cerita, pengunjung tersebut kedinginan di dalam kolam hingga kakinya kram dan akhirnya meninggal tenggelam. Mungkin satu hal yang perlu menjadi catatan buat para traveler dan petualang, selain harus menjaga lingkungan, kita juga harus menjaga keselamatan diri sendiri. Apalagi berada di destinasi wisata yang cukup ekstrim seperti Air Terjun Madakaripura. Siapkan stamina dan pastikan perbekalan untuk menjelajahi keindahan air terjun yang juga mendapat julukan sebagai air terjun tertinggi di Pulau Jawa.