Sensasi Alam Liar Baluran

Ingin merasakan pengalaman berada di tengah alam liar yang sesungguhnya? Datanglah ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Taman nasional seluas hampir 25 ribu hektar ini merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

Baluran sangat mudah diakses. Berada 255 km dari Kota Surabaya, 35 km dari Banyuwangi, 60 km dari Situbondo, dan 159 km dari Denpasar. Dalam satu hari, taman nasional ini bisa dikunjungi lebih dari 100 orang dan jumlahnya naik lima kali lipat di hari libur. Uniknya, sebagian besar justru adalah wisatawan asing. Tak perlu khawatir soal biaya. Harga tiket masuk sangat murah: Rp 2.500 untuk wisatawan domestik, Rp 20.000 untuk wisatawan asing, dan Rp 6.000 untuk kendaraan.

Ada apa saja atraksi menarik di Baluran? Bagaimana akses menuju ke sana? Silakan rencanakan liburan kamu sendiri atau berkelompok dengan melihat ulasan di bawah ini yang kami tulis setelah mengunjungi Baluran bersama kawan-kawan backpacker di Malang.

To See

Sabana Bekol

Banyak yang bilang Sabana Bekol adalah “The Little Africa in Java.” Cukup beralasan, karena begitu kami sendiri memasuki kawasan sabana ini, langsung tercium dan terasa sekali aroma Afrika, meski kami pun belum pernah menginjakkan kaki di Benua Hitam. Padang rumput yang luas sedang menguning dengan beberapa pohon tersebar di pinggir dan di dalamnya. Kumpulan rusa berlari-lari di tengah sabana, suara lenguhan banteng menggema begitu liar, dan tentu saja, terik matahari yang panas. Benar-benar kontras dengan hutan-hutan yang sebelumnya kami lalui. Sabana Bekol berada 12 km dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Untuk mencapainya, kami menggunakan sepeda motor bersama dengan petugas taman nasional, menyusuri jalan aspal yang telah berbatu dan membelah hutan musim serta hutan evergreen silih berganti.

Luas Sabana Bekol mencapai 300 hektar. Sebelah utara berbatasan dengan jalan, sebelah barat berbatasan dengan hutan musim, sementara sebelah timur berhadapan dengan pinggiran pantai di Selat Bali. Satu-satunya akses yang kami lalui, membelah sabana ini menjadi dua: sebelah barat Sabana Bekol dan sebelah timur Sabana Bama. Pohon-pohon Widoro Bukel dengan bentuk yang unik seperti payung lebih banyak memenuhi Sabana Bama. Jika kamu melihat sabana dari sisi timur, pemandangan tampak lebih mengagumkan. Gunung Baluran yang megah akan menjadi latar belakangnya. Di ujung tikungan jalan terdapat sebuah bukit kecil di mana menara pandang berada di atasnya. Dari menara pandang, kami bisa melihat keseluruhan sabana dan Selat Bali yang membiru. Di kaki bukit terdapat beberapa bangunan yang merupakan wisma penginapan, lahan parkir, dan kamar mandi umum.

Saat terbaik mengunjungi Sabana Bekol, adalah pada pagi dan sore hari. Karena pada waktu-waktu tersebut, hewan-hewan liar keluar dari hutan. Sementara musim terbaik, adalah musim kemarau antara Juli sampai Oktober. Saat kemarau, air di dalam hutan sudah mulai habis dan yang tersisa hanyalah di padang sabana. Malam hari juga memberikan sensasi pemandangan yang menakjubkan. Jika kamu menginap di Bekol, dari depan penginapan kamu bisa menyaksikan bagaimana mata hewan-hewan tersebut bersinar memenuhi kegelapan malam yang hanya bercahaya bintang dan bulan.

Sabana Bekol hanya sebagian kecil dari 10.000 ha sabana yang dimiliki Baluran. Tetapi hanya Sabana Bekol dan Bama yang bisa diakses dengan mudah. Sabana di Baluran merupakan tempat hidup bagi rusa, banteng, kerbau, ular hijau, monyet ekor panjang, biawak, ajag (sejenis anjing hutan kecil), dan lainnya. Kadang kamu juga bisa menyaksikan bagaimana kawanan ajag membantai rusa untuk dimakan. Menakutkan? Atau malah membuat kamu ingin segera mengunjunginya?

Pantai Bama, Sunrise, dan Mangrove

Pantai Bama merupakan ujung dari jalan akses yang membelah Baluran. Berjarak 3 kilometer dari Sabana Bekol. Memasuki Pantai Bama, kamu akan disambut dengan pohon ketapang dan kesambi besar-besar yang rindang dengan puluhan monyet ekor panjang yang bergelantungan. Tapi jangan harap kamu akan mendengar suara ombak. Kami sendiri heran melihat laut Bama yang begitu tenang, nyaris tanpa ombak. Pantainya berpasir putih dan garisnya tidak begitu panjang, selebihnya dikelilingi oleh hutan mangrove. Sampai sejauh lebih dari 1 kilometer, kedalaman pantai ini hanya selutut orang dewasa, sehingga aman untuk aktivitas air bagi yang tak pandai berenang. Tanda batas laut dalam adalah warna biru tua.

Di balik lautnya yang tenang dan dangkal, Pantai Bama menyimpan keindahan alam bawah laut yang mempesona. Banyak yang bilang, ini merupakan yang terindah di Pulau Jawa. Dengan kondisi laut seperti ini, banyak aktivitas yang bisa kamu explore, seperti berenang, snorkelling, dan kano. Untuk snorkelling, setidaknya kamu harus berenang sejauh 500 meter dari bibir pantai untuk mendapatkan pemandangan terumbu karang dengan ikan-ikan kecil yang indah. Sementara di sekitar bibir pantai, kamu hanya akan melihat sejenis tanaman laut dengan daun yang meruncing besar-besar.

Kami juga memutuskan menginap di Bama untuk melihatsunrise-nya yang terkenal indah (sunset juga bisa dilihat di Sabana Bekol). Sore hari saat pengunjung sudah sepi, kami menyusuri bibir pantai, cukup prihatin melihat banyak sampah yang mengambang. Petugas taman nasional menjelaskan itu bukan merupakan sampah pengunjung, tapi sampah kiriman dari tempat lain yang entah dari mana. Di Bama ada tiga rumah singgah yang masing-masing berisi dua kamar, cafeteria, kamar mandi umum, musholah, dan rumah petugas taman nasional.

Saat menjelang malam, sebetulnya kami berharap mendengar suara ombak, tapi ternyata justru semakin sepi. Monyet-monyet sudah tertidur di atas pohon. Saat lampu sudah dimatikan pada jam 11 malam, suasana semakin hening, dan kami akhirnya tertidur. Kami baru terbangun pada pagi hari sekitar jam 4 oleh deburan suara ombak. Kaget dan senang tentu saja karena mendapatkan suasana yang membuat kami benar-benar merasa tinggal di dekat laut. Ternyata memang ombak di Pantai Bama hanya beriak pada pagi hari.

Menjelang matahari terbit saya berjalan ke arah barat untuk menyusuri hutan mangrove. Tak perlu repot karena sudah ada jalur dan jembatannya. Menurut petugas, sunrise di ujung jembatan yang membelah mangrove ini adalah titik yang paling indah untuk menyaksikan sang Raja Siang menampakkan dirinya. Sayangnya, karena mendung mataharinya jadi tak begitu terlihat. Tapi kekecewaan kami terbayar oleh atraksi ikan-ikan yang menari di atas permukaan air, melompat-lompat di sela-sela akar mangrove, serta monyet-monyet dengan asyiknya memancing kepiting dari lubangnya dengan ekornya yang panjang.

Gunung Baluran

Ini dia salah satu atraksi wajib dan utama dari konsumsi wisatawan di Baluran. Gunung setinggi 1.247 meter ini berdiri dengan megahnya di tengah-tengah taman nasional. Gunung Baluran merupakan gunung yang sudah tidak aktif, tapi belum diketahui betul kapan terakhir kali meletus. Menurut petugas taman nasional yang mengantar kami, gunung ini akan tampak sama bentuknya jika dilihat dari sisi utara maupun selatan. Simetris! Kalau tidak percaya coba kamu buktikan sendiri. Amati saja dari Kota Situbondo dan Banyuwangi! Kami penasaran juga ingin membuktikan, tapi sudah keburu tertidur di dalam bis. Gunung Baluran juga bisa didaki walaupun tidak bisa sampai puncak karena jalurnya yang belum layak didaki selain oleh profesional atau pendaki yang nekat. Untuk mendaki, kamu bisa didampingi oleh petugas dari taman nasional.

Pantai Bilik dan Sijile

Dua pantai ini katanya lebih indah dari Pantai Bama, baik pantainya maupun alam bawah lautnya. Tapi sayang tidak ada jalan akses umum ke tempat ini. Satu-satunya jalan paling mudah adalah lewat jalur laut melalui Pantai Bama dengan menyewa perahu nelayan. Jaraknya sekitar 15 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Kalau melaui jalur darat, kamu harus melalui jalur tikus dari Desa Banyuputih. Sangat tidak disarankan, kecuali kamu benar-benar seorang hardcore adventurer.

Hutan Musim dan Evergreen

Hutan musim akan tampak hijau di musim hujan dan akan terlihat kering menguning di musim kemarau, sementara hutan evergreen akan selalu hijau, baik musim hujan atau kemarau. Kedua jenis hutan ini akan silih berganti menemani perjalanan kami menyusuri Baluran. Dari pintu masuk, kamu akan disambut hutan musim, kemudian hutan evergreen, lalu berjumpa lagi dengan hutan musim, baru kemudian memasuki Sabana Bekol.

Sepanjang perjalanan melalaui hutan musim dan evergreen,kamu bisa menemukan kupu-kupu warna-warni yang berkumpul di atas kubangan-kubangan air. Saat musim hujan di mana banyak kubangan air, kupu-kupu juga semakin banyak ditemukan. Ayam-ayam hutan pun banyak melintas di tepi jalan. Jika beruntung, saat memasuki hutan evergreen kamu mungkin bisa bertemu dengan macan tutul karena di sinilah habitat hewan karnivora ini hidup. Kondisi jalan dari pintu masuk sampai Sabana Bekol memang rusak parah, tapi ada manfaat lain dari fasilitas jalan yang tak baik ini, bahwa pengunjung tidak bisa mengebut berkendara, sehingga terhindar dari resiko menabrak hewan-hewan liar yang bisa saja tiba-tiba melintas. Sementara menurut beberapa pengunjung lain, jika jalan mulus kemungkinan menambah jumlah pengunjung taman nasional. Kalau kami sendiri lebih memilih jalan yang mulus dengan dipasang beberapa peringatan dilarang mengebut dan tentu saja ada sanksi jika yang ketahuan mengebut dan berakibat pada kecelakaan terhadap hewan liar.