Feel Free at Kawah Wurung

Ini kedua kalinya Jejakwisata.com mengunjungi Dataran Tinggi Ijen karena masih penasaran dengan keindahan salah satu destinasi tersembunyi di tempat ini: Kawah Wurung. Apalagi, setelah melihat postingan chef cantik Farah Quinn di Facebook mengenai Kawah Wurung. Semakin tinggi hasrat untuk mengunjunginya.

Kawah Wurung adalah sebuah sabana terbuka dengan kontur berbukit-bukit yang sebagian besar ditumbuhi oleh rerumputan dan beberapa pepohonan. Nama “Kawah Wurung” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “kawah yang tidak jadi.” Memang ada sebuah cekungan luas menyerupai kawah, tapi di dalamnya adalah padang rumput, bukan kubah lava. Ada banyak sapi penduduk berkeliaran di dalamnya yang dibiarkan berhari-hari merumput dengan bebas.

Ketika kami berkunjung, musim kemarau datang, sehingga pemandangan dipenuhi warna kuning membara. Sementara di musim hujan, warnanya akan terlihat hijau segar dengan pucuk-pucuk daun yang mulai tumbuh. Kawah Wurung dikelilingi oleh hutan dan bukit-bukit yang selalu terlihat hijau. Tumbuhan unik yang menghuni daratan subur ini, salah satunya adalah bandotan atau wedusan dengan bunga bulat-bulat berwarna putih keunguan. Tanahnya bagai dibalut karpet ungu karena tanaman tersebut memenuhi hampir seluruh permukaannya. Di tempat inilah Farah Quinn berfoto dengan komentar setengah menyindir: “Ohh... Ternyata lokasi ‘I’m feel free’ Princess S itu tempatnya di Bondowoso Jatim, bukan di Italy.” Mungkin maksudnya, kita bahkan tak perlu pergi jauh ke Eropa untuk bisa menemukan kawasan yang dipenuhi bunga dengan latar alam pegunungan.

Dari sebelah timur Kawah Wurung, kepulan asap Kawah Ijen bisa terlihat dengan jelas. Semua sisi pemandangan tampak begitu menakjubkan. Rumput-rumput di dalam kawah dan gundukan-gundukan bukit yang mengelilingnya terlihat kuning meranggas. Kontras dengan pohon-pohon berwarna hijau segar yang muncul di antara padang rumput. Beberapa bukit di sebelah timur, rumputnya masih tampak hijau karena di situ lebih banyak pohon yang berdiri. Sementara di bagian selatan, habitat tumbuhan bandotan yang bunga-bunganya membentuk hamparan permadani putih ungu di antara pohon-pohon yang tidak begitu rindang. Kawah Wurung kalau dibandingkan hampir mirip dengan Bukit Teletabis di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, namun di sini cakupan wilayahnya lebih luas.

Bagi para penggiat fotografi, khususnya landscape photography, tentu saja destinasi ini sangat kami rekomendasikan. Selain panorama yang cocok dibidik lensa kamera, udaranya juga bersih dan segar. Merebahkan tubuh di atas rerumputan, menghirup napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan-pelan, dan kemudian rasakan sensasinya. Hmmmm....segaaaarrr! Itulah kebebasan alam.

Untuk mencapai Kawah Wurung memang butuh perjuangan yang cukup melelahkan. Jalan berbatu sejauh hampir 15 km dengan kondisi yang rusak harus dilalui. Jalan ini membelah perkebunan kopi yang sepi. Saat musim kemarau kondisi jalan berdebu, sementara pada musim hujan akan licin. Terdapat tiga perkampungan yang akan dilewati. Suasana kampung terlihat sangat sepi dan bersahaja, rumah-rumahnya mempunyai bentuk dan fasad yang hampir sama. Ternyata sebagian besar penduduknya bekerja pada perkebunan kopi yang dimiliki oleh PTPN XII. Di kampung terakhir, 3 km sebelum Kawah Wurung, ada sebuah vila peninggalan Belanda yang juga disewakan oleh PTPN XII. Di kampung ini juga terdapat agrowisata petik stroberi. Seluruh kampung adalah dusun-dusun dari Desa Jampit. Setelah kampung terakhir, kami menemukan jalan tanah menelusuri hutan dan padang rumput yang silih berganti di sela-sela bukit kecil. Tak ada petunjuk arah sama sekali, bertanyalah dengan jelas arahnya di perkampungan terakhir karena jika menemukan pertigaan dan salah memilihnya dijamin akan tersesat. Namun pada pagi hingga siang hari, ada banyak penduduk setempat yang sedang mencari kayu atau rumput di dalam hutan yang bisa dijadikan penunjuk arah. Kami sempat tersesat, tapi beruntung bertemu dengan penduduk setempat yang bersedia mengantar kami ke Kawah Wurung. Kabar baiknya, kendaraan roda empat bisa masuk hingga ke Kawah Wurung, walaupun dengan laju yang lambat karena kondisi jalan yang rusak. Jika ingin lebih cepat sebaiknya naik motor.

Get There

Kawah Wurung berada di Dataran Tinggi Ijen yang masuk wilayah Bondowoso, tepatnya di Dusun Curah Macan, Desa Jampit, Kecamatan Sempol. Dari arah Terminal Bondowoso tidak ada angkutan umum resmi, yang ada hanya angkutan plat hitam milik penduduk Sempol yang biasa digunakan untuk belanja kebutuhan pokok di kota. Angkutan ini hanya sampai jam 1 atau jam 2 siang dan akan berangkat jika sudah penuh.

Pemberhentian terakhir berada di Sempol, sekitar 5 km sebelum Jampit. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih mudah dan menghemat waktu. Dari arah Bondowoso, saat memasuki Jampit akan menemukan pertigaan. Jika lurus menuju Kawah Ijen, sementara yang belok kanan menuju Kawah Wurung.