Adventure Sensation on Sempu Island

Awalnya, kami tidak menyangka kalau Kabupaten Malang punya tempat seindah ini. Sebuah laguna hijau dengan pasir putih yang bersih, air tenang yang berkilau, dan jauh dari pemukiman. Di balik tebing-tebing tinggi yang mengelilinginya, terbentang luas laut biru Pantai Selatan dengan ombak menggelegar yang setiap saat bisa memecah keheningan. Inilah Laguna Segara Anak, magnet dari Pulau Sempu.

Telaga Segara Anak di Pulau Sempu

Pulau Sempu adalah cagar alam yang tidak berpenghuni seluas hampir 877 hektar. Sebagian besar terdiri dari hutan mangrove yang masih alami. Rimba tersebut merupakan tempat hidup bagi kera ekor panjang dan persinggahan berbagai jenis burung. Di ujung selatan Pulau Sempu, terdapat sebuah laguna atau biasa disebut juga dengan telaga seluas tidak lebih dari 5 hektar. Airnya tenang dan jernih, namun dari kejauhan tampak menghijau. Titik terdalamnya juga hanya 5 meter, sehingga cukup aman untuk berenang. Telaga Segara Anak merupakan telaga pasang surut air laut. Debit airnya akan bertambah saat air laut pasang dan berkurang saat air laut surut. Deretan tebing tinggi yang hijau melindungi telaga ini dari dasyatnya ombak laut selatan. Sebuah lubang cukup besar yang menjadi tempat keluar masuknya air laut ke telaga seolah-olah menjadi sebuah jendela untuk mengintip birunya laut selatan. Di dalam telaga juga banyak terdapat ikan kecil, udang, dan biota-biota laut lainnya yang bisa terlihat dari permukaan airnya yang berkilau. Kami bahkan sempat melihat ular laut warna-warni sedang berenang di karang-karang pinggir telaga. Sedikit membuat panik karena ular karang yang berwarna cerah biasanya sangat beracun. Tapi sensasi berenang di air jernih dan tenang ini membuat kepanikan itu cepat berlalu.

Bagian timur Telaga Segara Anak, adalah pantai berpasir putih yang dibatasi oleh tebing dan hutan mangrove kering di mana jalan setapak menuju ke telaga berada di sepanjang tebing ini. Sementara bagian barat dan selatan, dihiasi oleh tebing tinggi terjal yang ditumbuhi aneka pepohonan hijau. Di salah satu titik tertinggi tebing, kita bisa menyaksikan Telaga Segara Anak dan Laut Selatan dengan jarak pandang yang lebih luas. Pemandangan yang kontras tersebut menghasilkan gradasi warna yang dramatis. Di satu sisi adalah perairan tenang berwarna hijau, sisi lainnya adalah laut biru dengan ombak yang terus-menerus berisik menghantam karang.

Ada larangan untuk menaiki tebing tertinggi karena aksesnya memang cukup berbahaya. Tapi ternyata banyak juga yang melanggarnya. Ke Pulau Sempu tanpa naik ke atas tebing, rasanya jadi kurang lengkap menurut mereka. Jika harus naik, pastikan menggunakan alas kaki yang kuat dan tidak licin agar tidak terpeleset dan terluka oleh karang-karang terjal. Tidak perlu naik sampai ke tebing tertinggi karena cukup berada di tengah-tengah, kami sudah bisa melihat Laut Selatan dan Telaga Segara Anak secara bersamaan.

Selain menikmati keindahan Telaga Segara Anak, kami juga menyewa perahu untuk mengelilingi sebagian pulau dan melihat pantai-pantai kecil yang masih alami. Ombaknya akan memberikan pengalaman yang luar biasa. Ombak di pinggiran pulau tidak terlalu besar, tapi begitu sampai ke ujung selatan dan berhadapan langsung dengan lautan lepas, ketinggian ombak mencapai 3-4 meter. Selama berperahu, tak jarang kami menyaksikan ikan hiu, ubur-ubur, dan penyu berkeliaran dengan bebasnya.

Banyak sekali traveler yang membandingkan keindahan Telaga Segara Anak dengan Pulau Phi Phi yang ada di Thailand. Kami belum pernah ke Pulau Phi Phi, tapi melihat gambar dan membaca ceritanya di Internet, rasanya tak tepat juga untuk membandingkan mana yang lebih baik. Keduanya tampak sama-sama indah, namun pasti memberikan sensasi yang berbeda. Menurut kami, sensasi adventure inilah yang membuat Telaga Segara Anak lebih unggul dari Pulau Phi Phi. Pengembangan pariwisata terhadap Pulau Sempu memang belum optimal, namun itu menjadikan perjalanan kami menjadi lebih menantang. Menuju ke Telaga Segara Anak adalah perjalanan yang menantang: kami menaiki perahu dan menelusuri hutan dengan kondisi jalan yang tidak mudah. Berbeda dengan ke Pulau Phi Phi yang bisa tenang di atas perahu saja. Di Telaga Segara Anak, selain perairan tenang, terdapat pula perairan dengan deru ombak yang berisik dan ganas.

Pasir putih di Telaga Segara Anak adalah camping ground alami yang unik. Saat sedang ramai, pantai akan dipenuhi dengan tenda-tenda pengunjung yang menginap. Mereka seperti tak peduli kalau saja tiba-tiba air laut pasang dan menggenangi pantai. Tidur beratapkan langit yang gemerlap dan beralas pasir layaknya kristal-kristal halus semalaman, tentu adalah sensasi yang banyak dicari oleh mereka yang ingin lepas dari hiruk-pikuk perkotaan.

Menikmati Ikan di Pantai Sendang Biru

Pantai Sendang Biru adalah pintu masuk ke Pulau Sempu. Bukan sebuah pantai yang landai dengan hamparan pasir putih yang luas, namun lebih menyerupai sebuah pelabuhan sederhana. Sendang Biru memang merupakan pelabuhan kapal-kapal nelayan yang mencari ikan. Tak jauh dari pelabuhan, berdiri bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Biru. Jika ingin membakar ikan di pinggiran Telaga Segara Anak, sebaiknya membeli ikan di sini. Harganya cukup murah, seekor ikan tuna seberat 2-3 kg hanya dijual seharga kisaran Rp 20 ribu. Berapa harga yang didapatkan tergantung tawar-menawar. Sore dan pagi hari adalah saat terbaik untuk berburu ikan karena pada saat itu banyak nelayan yang sedang berlabuh.

Ada dua dermaga di Sendang Biru: Dermaga Lama dan Dermaga Baru. Tempat pelelangan ikan dan perahu-perahu yang bagus banyak terdapat di Dermaga Baru. Dua dermaga ini mempunyai pintu masuk yang berbeda. Dari pinggiran dermaga Sendang Biru, Pulau Sempu terlihat jelas. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, hanya butuh 10 sampai 15 menit dengan perahu. Sendang Biru juga merupakan sebuah desa nelayan. Penduduknya cukup ramah terhadap pendatang. Yang unik, nama “Sendang Biru” ternyata mempunyai sejarah. Mungkin banyak yang bertanya: mengapa daerah pantai, tapi bernama “Sendang Biru”? Padahal dalam bahasa Jawa, kata “sendang” berarti telaga. Ketika kami bertanya pada penduduk setempat, nama itu diambil dari sebuah telaga kecil yang berwarna biru di desa. Untuk menutupi rasa penasaran, kami pun meluncur ke lokasi. Dengan menyusuri perkampungan dan keluar menjauhi pantai ke arah utara sejauh kurang lebih 2 km, akhirnya kami menemukan telaga itu. Sebuah telaga kecil yang berdekatan dengan sungai dan di salah satu pinggirannya ditumbuhi pohon bambu yang rimbun. Warna airnya benar-benar terlihat biru tua walaupun langitnya terlihat mendung. Lantas dari manakah warna biru itu? Kami belum sempat bertanya kenapa warna airnya begitu biru. Yang ada hanya kesimpulan kami sendiri bahwa warna biru itu berasal dari kedalaman telaga. Sepertinya Telaga Biru ini juga merupakan sumber air bersih bagi penduduk Sendang Biru karena di depannya sudah berdiri bangunan gardu untuk penyulingan air bersih milik PDAM.

Eksotisme Pantai Tamban, Bajulmati, dan Gua Cina

Deretan pantai di selatan Kabupaten Malang memang cukup banyak dan mempunyai keindahan yang luar biasa. Saat berkunjung ke Sendang Biru dan Pulau Sempu, jangan lewatkan untuk mendatangi ketiga pantai ini: Tamban, Bajulmati, dan Gua China. Letak pantai-pantai tersebut tidak begitu jauh dengan Sendang Biru, sekitar radius 5-6 kilometer, bahkan ketiganya saling bersebelahan dan berada dalam satu garis pantai yang sama, tapi memiliki jalan masuk yang berbeda-beda.

Pantai Bajulmati adalah pantai dengan batu-batu karang yang menawan dan pasir putih yang sedikit kehitaman. Pantai ini cukup curam dan dalam dengan ombak khas laut selatan yang besar dan berbahaya. Ada beberapa spot yang cukup aman untuk berenang, terutama di dekat muara sungai. Aliran sungai terlihat tenang dan berwarna kehijauan. Di atas sungai terdapat sebuah jembatan besar yang banyak digunakan pengunjung untuk berfoto. Ada tebing karang yang terlihat menyerupai buaya atau bajul dalam bahasa Jawa, dari kata inilah “Pantai Bajulmati” diberi nama.

Pantai Gua Cina berada satu jalur dengan Pantai Bajulmati dari arah Sendang Biru. Menurut legenda, sebuah gua kecil yang ada di pinggir pantai, dulunya merupakan tempat semedi seorang petapa dari Cina. Sang petapa tersebut tinggal sampai meninggal di dalam gua. Dari sinilah nama “Pantai Gua Cina” berasal. Di lepas pantai terdapat tiga buah pulau kecil berwarna hijau yang memberikan keindahan berbeda dengan pantai-pantai lainnya. Ombak di Pantai Gua Cina begitu besar dengan suara yang sangat bergumuruh karena bertabrakan dengan ketiga pulau tersebut. Tidak disarankan untuk berenang di pantai ini karena arus dalam gelombangnya kuat dan bersifat menyeret.

Pantai Tamban merupakan pantai yang landai dengan pasir putih yang bersih. Garis pantainya terbentang sejauh lebih dari 1,5 kilometer. Dari pantai ini, Pulau Sempu juga terlihat. Pantai Tamban berada satu lokasi dengan Desa Wisata Tambakrejo. Keindahannya berpadu dengan nuansa alam pedesaan, sungai, sawah, dan hutan yang mengelilinginya. Di pantai ini juga banyak terdapat perahu-perahu nelayan yang disewakan untuk mengelilingi pantai atau menyeberang ke Pulau Sempu.

Get There

Pantai Sendang Biru berada di Kecamatan Sumbermanjing Wetan atau sekitar 68 km sebelah selatan Kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor kurang lebih selama 2-3 jam. Kondisi jalannya cukup bagus dan jarang ditemukan yang menanjak. Satu-satunya tanjakan yang paling curam adalah di daerah Druju yang merupakan desa penghasil batu kapur dan daun nilam atau patchouli. Saat melewati wilayah ini, bau harum patchouli yang segar akan tercium. Ada dua jalur utama untuk mencapai kawasan Sendang Biru. Jalur pertama melalui Malang-Bululawang-Turen-Sumbermanjing Wetan-Sendang Biru atau bisa juga melalui Malang-Pakisaji-Kepanjen-Gondanglegi-Turen-Sumbermanjing Wetan-Sendang Biru. Semua jalur terdapat angkutan umum sampai Sendang Biru dengan mengawali dari Terminal Gadang menuju Turen, kemudian dilanjutkan angkutan pedesaan menuju Sendang Biru. Menggunakan angkutan umum membuat perjalanan lebih lama. Saran kami sebaiknya menyewa mobil dari Kota Malang. Perlu juga diingat bahwa untuk menjelajah pantai-pantai di sekitar Sendang Biru tidak ada angkutan umum selain ojek.

Petualangan akan dimulai saat mendarat di Pantai Semut. Hampir semua perahu akan menurunkan pengunjung di pantai ini. Pantai kecil yang dikelilingi hutan bakau lebat. Ada sebuah toilet, tapi saat kami datang belum bisa digunakan karena pintunya masih terkunci. Berikutnya kami menelusuri trek sejauh kisaran 3 km. Jalannya merupakan jalan setapak dengan kondisi yang tidak mulus karena banyak terdapat batu karang terjal dan akar pohon besar yang menghalangi. Banyak juga pohon yang tumbang dan sungai kecil yang mengering. Beberapa jalur juga terdapat tanjakan walaupun tidak begitu curam. Hampir seperempat dari perjalanan merupakan jalan setapak di pinggiran tebing Telaga Segara Anak. Harus hati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke telaga karena kontur jalannya agak miring. Jika kelak kamu akan melakukan perjalanan untuk pertama kalinya ke Pulau Sempu, sebaiknya menyewa pemandu yang banyak terdapat di Sendang Biru. Hindari juga mengunjungi Telaga Segara Anak saat musim hujan karena trek-nya akan berubah menjadi lumpur yang sangat menyulitkan. Jika di musim kemarau untuk mencapai Telaga Segara Anak membutuhkan waktu sekitar dua jam, maka saat musim hujan bisa sampai 4 jam. Selama perjalanan mata dan telinga akan dimanjakan dengan suara burung dan suasana hutan yang menghijau.

Perjalanan yang menantang adalah menuju Telaga Segara Anak. Dari pelabuhan di Sendang Biru, naik perahu menyeberang ke Pulau Sempu selama kurang lebih 10-15 menit. Tarif perahu antara Rp 100-150 ribu untuk pulang-pergi. Bisa memuat 10-15 orang. Jangan lupa untuk meminta nomor ponsel pemilik perahu. Saat pulang, hubungi lebih awal agar tidak perlu menunggu lama untuk dijemput. Selat yang memisahkan Sendang Biru dan Pulau Sempu mempunyai ombak yang relatif kecil karena ombak besar Laut Selatan terhalang oleh Pulau Sempu.

Special thanks to Dalaz Adventure Team: Alfan Sai, Arif Hidayat, Arizal Firdaus Idos, Ryan Ardiyansah, Budi Ikhtiawan, Ady Wahyudi and Arif Hidayatullah