Cerita Rempah di Tanah Raflessia

Agak telat, tapi saya memang baru membaca buku menarik berjudul Sejarah Rempah (Komunitas Bambu, 2011) karya Jack Turner. Dari buku itu kemudian saya menyadari betapa rempah memainkan peran yang begitu besar terhadap peradaban dunia, mulai dari material pembalseman mumi, sesaji dewa-dewi, pemikat hasrat seksual, sampai komoditi. Bahwa rempah juga telah mengundang para pelaut dan petualang menjelajah separuh bumi hingga ke Nusantara. Barang dagangan yang tak sekadar bicara soal rasa, melainkan pula eksotisme negeri-negeri tropis yang penuh fantasi dan daya magis.

Siang itu seorang kawan melemparkan poster pada saya melalui media sosial tentang acara gathering & live writing competition“ Gemah Rempah Mahakarya Indonesia” yang diselenggarakan di Tartine Restaurant, fx Mall (10/10/2014). Tentu saja sorenya saya langsung bergegas. Di sana saya berkenalan dengan kawan-kawan blogger serta–yang tak kalah penting–menyimak tuturan menarik dari Bang JJ Rizal tentang rempah. Sebuah momen yang memberikan saya inspirasi pada perjalanan ke Bengkulu seminggu kemudian.

Sisa Kejayaan Rempah di Museum Negeri Bengkulu & Benteng Marlborough

Ini bukan kali pertama saya mengunjungi provinsi yang lekat dengan bunga raflessia. Tetapi pada kunjungan kedua ini, saya punya pemahaman baru tentang rempah yang tak pernah terpikir sebelumnya. Usai kelar dengan urusan pekerjaan, saya coba cari tahu lokasi menarik di mana saya bisa menemukan sesuatu yang mengikat Bengkulu dengan rempah.

Saya menyukai Kota Bengkulu yang kecil, rapih, dan bersih. Pada setiap persimpangan jalan dan gerbang gedung-gedung pemerintahan, terdapat hiasan monumen dan gapura Tabot (Tabuik) yang menunjukkan perpaduan budaya Melayu pra-Islam dan Islam. Tak ada kata macet di sini. Udara siang hari biasanya panas dan terik, terutama area di dekat Pantai Panjang. Tapi kali ini suasana agak berbeda. Langit tidak cerah dan seolah mendung. Bukan karena hujan hendak turun, melainkan asap akibat hutan yang terbakar. Supir taksi saya bilang, “Kabut begini sudah biasa terjadi setiap musim kemarau.“ Kiriman asap dari hutan di perbatasan dan provinsi tetangga.

Saya ingat tahun lalu mampir ke Museum Negeri Bengkulu. Berkenalan dengan Bu Erma, seorang staf museum, yang luar biasa ramah dan bersedia memandu saya berkeliling sambil berkisah tentang koleksi-koleksi di museum. Kepiawaiannya yang lincah berbicara adalah berkah. Ia bisa cerita dari A sampai Z tentang bermacam koleksi dari masa pra-sejarah sampai situasi terkini di Bengkulu.

Ah, betapa Bengkulu ini kaya akan alam dan budaya. Itu kesan saya saat mengunjungi museum. Beragam koleksi peninggalan suku-suku punya keunikan. Tapi yang paling membuat penasaran adalah apa yang Bu Erma tunjukkan di bagian koleksi kain.

“Nah, ini ada rempah-rempah yang digunakan sebagai pewarna alam untuk kain tenun!” katanya sambil menunjukkan pada saya kain-kain cantik yang dibuat dengan perkakas tenun tradisional. Alat tenun gedogan atau disebut juga pelantai karena ditenun dengan duduk di lantai.

Warna hitam diambil dari tumbuhan timbuak yang direbus dan difermentasi; merah dari minyak kepalang, kulit manis, kayu sepan; kuning dari kunyit; dan cokelat dari bahan pewarna merah dicampur arang. Begitulah yang tertulis pada display berkaca. Kekhasan lain tenun Bengkulu ada pula yang serupa songket Palembang: terbuat dari sutera dan berbenang emas.

Bu Erma kembali menjelaskan kalau rempah ini bukan cuma untuk pewarna, tetapi perawat kain. Orang dulu menaruh cengkeh, lada, dan rempah-rempah di lemari agar kain warisan tidak bau apek, terhindar dari serangga, dan awet.

Sayang sekali, kini penenun di Bengkulu semakin langka. Tak banyak lagi perempuan yang menenun karena berbagai alasan. Selain proses yang rumit dan memakan waktu panjang yang penuh kesabaran dan ketelitian, nilai adat dari tenun pun mulai hilang. Sementara potensi ekonomi kreatif belum dikembangkan secara optimal. Pembuatan sehelai kain membutuhkan waktu sebulan, bahkan lebih jika memiliki motif penuh dan memakai pewarna alam. Lagipula, pewarna alam dan rempah-rempah tertentu yang dulu ditanam di halaman rumah dan kebun sudah sulit ditemukan. Oiya, dulu kain juga menjadi komoditi dagang. Orang-orang dari Persia maupun India pernah menukar rempah-rempah dengan kain-kain dari negara mereka yang kemudian turut mempengaruhi khasanah kain tradisional di Bengkulu.

Pada kunjungan kali ini, saya pun mampir lagi ke museum untuk menyapa dan mengobrol dengan Bu Erma dan staf lainnya. Senang sekali mereka masih ingat saya. Tentu saya kembali melihat-lihat koleksi.

Cerita lain selama berada di Bengkulu adalah ketika saya bersama rombongan kawan mengunjungi Benteng Marlborough.

Benteng Marlborough adalah satu-satunya benteng peninggalan Inggris di Indonesia dan menjadi benteng kedua terkuat setelah Benteng St. George di India. Dari luar tak tampak kemegahannya karena dibangun dengan corak menyerupai bukit kecil buatan. Sebelum masuk, saya dan kawan-kawan berfoto di papan yang bertuliskan nama benteng. Tercantum “Fort Marlborough: The Historical Heritage of the British Colonization in Bengkulu” dengan angka tahun 1714-1741.

Memasuki benteng, kami ditemani Pak Dede yang memandu. Pria setengah baya yang berbadan ramping itu ternyata sangat fasih dan hapal setiap sudut benteng. Ia memulainya dengan sejarah berdirinya benteng dan informasi tentang nisan-nisan batu para pejabat Inggris di Bengkulu yang tertempel pada dinding lorong pintu masuk.

Saya tak banyak ingat soal paparan pria yang menurut saya lebih cocok menjadi guru sejarah ketimbang pramuwisata. Tapi ada kesan ketika ia melontarkan pertanyaan yang seolah hendak menegaskan kesadaran saya soal rempah.

“Coba dipikirkan ada apa di Bengkulu sampai orang-orang Barat datang, bangun benteng, dan mau menguasai tempat ini?”

Kami sekadar senyum-senyum. Ia tak memberitahu jawaban pasti untuk pertanyaan itu.

Kami memasuki ruang di sisi kiri. Tembok-tembok semuanya tebal. Jendela-jendela dipagari terali besi yang juga besar. Namun ruangan-ruangan di area benteng ini tidak pengap, malah terasa adem meski agak gelap dan terkesan angker.

Ternyata di ruangan yang dulu adalah kantor inilah saya menemukan jawaban pertanyaan Pak Dede. Pada dinding-dinding terpajang dalam pigura sederhana berbagai lukisan tanaman-tanaman rempah dan poster-poster berisi informasi dan ilustrasi jalur perdagangan internasional pada Abad Pertengahan. Siapa menyangka kalau berbagai pelabuhan dan kota di Alexandria, Gaza, hingga Venesia dan Genoa dibangun dari monopoli perdagangan rempah!

Orang Eropa mengenal rempah dari pedagang Arab yang awalnya merahasiakan lokasi tumbuhnya rempah. Saat itulah rempah dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Sensasi aroma dan rasa rempah menimbulkan banyak spekulasi tentang asal-muasal rempah yang ditanam di Tanah Firdaus dan dijaga makhluk-makhluk, seperti peri, monster, naga, phoenix. Nilai rempah menjadi luar biasa mahal dan menandakan status kekayaan dan kebangsawanan masyarakat di Eropa.

Saya menemukan toples-toples yang boleh dibuka dan difoto. Inilah komoditi ekspor Bengkulu pada masa kerajaan hingga kolonialisme: pala, getah damar, kayu manis, lada putih, dan lada hitam.  Selain emas dan batu mulia, apalagi yang paling berharga pada masa itu kalau bukan rempah-rempah.

“Bengkulu ini kaya!” Berkali-kali Pak Dede menyelingi penjelasannya dengan pernyataan-pernyataan. Ia seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri atas kebanggaan pada tanah kelahirannya. Ironis karena juga soal kekecewaannya pada pemerintah pusat dan daerah dalam hal tata kelola wilayah. Tentang ketimpangan dan ketertinggalan pembangunan fisik dan masyarakat Bengkulu dibandingkan daerah lain. Padahal Bengkulu begitu kaya akan berbagai sumber daya serta telah aktif dalam perdagangan internasional jauh sebelum Indonesia sebagai negara lahir.

Pak Dede mengakhiri paparannya saat kami sampai di titik tertinggi benteng. Kami berdiri di samping meriam. Persis di mana kami dapat menikmati panorama pantai dan laut lepas berwarna biru cemerlang serta landscape Kota Bengkulu pada sisi yang berlawanan.    

Kuliner Rempah

Menjelajah rempah-rempah di Bengkulu tak lengkap tanpa serangkaian kunjungan ke warung-warung makan lokal. Inilah tradisi rempah yang setidaknya masih bertahan hingga kini. Rempah sebagai bumbu dan penyedap santapan khas masyarakat Bengkulu.

Kami mengunjungi dua restoran lokal dengan corak berbeda. Pertama adalah Rumah Makan Padang Guci di Jl. Danau Bengkulu di pusat kota. Jangan salah tebak, meskipun ada kata “padang,” tapi ini bukan rumah makan Padang. Seperti umumnya rumah makan Sumatera, begitu datang kami tidak perlu repot pesan atau pilih menu. Tinggal duduk saja, lalu pelayan pria mengantarkan belasan piring. Dua nampan sekaligus ditaruh pada lengan kiri dan kanannya, satu nampan bisa memuat 9 piring lauk dan sayur. Nasi disediakan pada piring terpisah dan tersedia bakul nasi tambahan jika ingin tambah sepuasnya.

“Hebat sekali, Bang, bawa banyak piring begitu!” refleks saya menunjukkan kekaguman yang dibalasnya dengan hanya senyuman. Hal biasa bagi orang-orang di sini.

Layaknya raja, meja langsung harum semerbak dipenuhi piring berisi aneka warna terang: merah, kuning, dan oranye. Tentu saja warna mencolok tersebut berasal dari rempah-rempah perpaduan cabai dan santan. Selain daging sapi/kerbau, ada juga ayam, macam-macam ikan, serta hidangan laut. Warna-warni yang sedap dipandang mata ini adalah pula pertanda rasa!

Untuk mengetes, saya terlebih dulu mencicipi sambal merah. Bukan sekadar gurih, tetapi sangat pedas dan kaya bumbu. Hidangan Bengkulu ini tak sama dengan Padang. “Makanan Bengkulu itu rasanya lebih berani dan pedas!” ungkap kawan asli Bengkulu dengan bangga. Buat saya agak mirip juga dengan kuliner Batak karena pakai onje, andaliman, serta lada.

Yang paling khas dari Bengkulu adalah tempoyak. Tempoyak merupakan daging durian yang difermentasi dan diolah dengan rempah dan cabai. Selain tempoyak, makanan yang saya rekomendasikan, yaitu jengkol pedas, jange (kikil kaki), ikan sale (lele asap), pindang, dan lilit (sejenis keong kecil yang hidup di sungai). Ada teknik menarik untuk makan lilit. Dagingnya hanya bisa didapatkan dengan cara satu kali hisapan/sedotan yang dalam pada lubang keong. Sluurpppp!

Esok hari, penjelajahan kuliner dilanjutkan di kawasan pantai. Saya mengunjungi rumah makan dengan saung-saung bambu dan beratap ijuk di Inga Raya di Jl. Pantai Pasar Bengkulu dan Sembam Ikan Marola di Jl. Pariwisata Pantai Berkas Bengkulu. Kuliner di dua rumah makan tersebut adalah hidangan laut berbumbu rempah. Kami memesan aneka ikan dan seafooddengan porsi yang besar dan segar. Pengunjung bisa memilih sendiri hasil tangkapan nelayan lokal dengan ukuran yang diinginkan.

Hidangan laut berbumbu yang bisa dengan mudah ditemukan di restoran sepanjang pantai, antara lain ikan leberan (berupa ikan kecil-kecil digoreng garing dengan bumbu balado), bagar hiu (daging ikan hiu dengan rempah ketumbar, lada, laos, cabai, pala, bawang, dan lainnya), pendap (serupa pepes isi ikan yang dibungkus daun talas), ikan kerapu, dan olahan ikan lainnya dengan cara dibakar maupun berbumbu kuah asam pedas dan gulai. Sementara pelengkap sayur, pilihannya mencakup kacang kelor, pucuk daun singkong, pakis, timun buah, rebung rotan, dan jengkol.

Sejenak saya teringat deskripsi dari buku Sejarah Rempah yang menggambarkan suatu kondisi makanan orang-orang Eropa di Abad Pertengahan. Daging yang hambar dan setengah busuk. Kita mungkin sulit membayangkan bahwa aktivitas makan saat itu bisa saja menimbulkan risiko keracunan sampai kematian. Soal cita rasa, baru mereka kenal setelah kedatangan rempah. Tetapi saat itu rempah pun seolah hanya milik bangsawan dan biarawan.

Mungkin di Eropa masa Abad Pertengahan itu apa yang saya nikmati di Bengkulu ini jauh lebih dahsyat ketimbang hidangan para raja dan ratu. Wewangian yang menggairahkan nafsu dan perut yang mungkin hanya bisa mereka bayangkan sebagai kenikmatan di Taman Firdaus.

Saya rasa tak hanya Bengkulu, tetapi juga hampir di seluruh daerah di Nusantara, rempah adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat kita sejak dulu. Rempah sebagai suatu berkah alam yang subur dan kaya telah menghasilkan berbagai mahakarya kreasi manusia Indonesia, mulai dari kreasi seni seperti kain tenun hingga kelezatan kuliner. Dari sini rempah telah menjangkau batas-batas geografis antar-benua. Rempah-rempah adalah bagian dari sejarah peradaban manusia, bahkan di berbagai belahan dunia. Maka, siapa bisa mengelak dari fakta manfaat dan aroma rempah sebagai bumbu kehidupan yang melampaui urusan lidah dan perut, melainkan pula imajinasi yang surgawi.