Menjamah Keindahan Alas Purwo yang Misterius

Di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya Banyuwangi, terdapat bentangan hutan tua yang luar biasa indah. Tidak hanya rimbun hutan yang hijau dan liar, barisan pantai yang sepi dan eksotis, berbagai gua yang gelap dan menggoda, namun terdapat juga peninggalan masa lampau yang begitu misterius. Itulah Taman Nasional Alas Purwo.

Alas Purwo adalah primadona wisata di Kabupaten Banyuwangi. Membentang seluas 43.430 hektar, kita bisa mendapatkan hampir semua jenis keindahan alam negara tropis dalam satu lokasi. Nama “Alas Purwo” dalam bahasa Jawa memiliki arti hutan yang pertama atau hutan yang tertua di Pulau Jawa. Masyarakat sekitar menganggap bahwa Alas Purwo adalah hutan yang keramat. Mereka sangat percaya bahwa Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan Kerajaan Mataram. Mereka meyakini bahwa di hutan tersebut masih tersimpan keris pusaka Sumelang Gandring. Tak heran kemudian kalau banyak kita temukan orang yang bertapa dan melakukan ritual di gua-gua Alas Purwo.

Hutan Alas Purwo adalah hutan hujan dataran rendah yang banyak ditumbuhi pohon jati, bambu, dan sawo yang besar dan rindang. Tidak ada gunung di kawasan ini, yang ada adalah jejeran pantai, sungai, danau, dan sabana. Disamping kaya akan beragam jenis flora, Alas Purwo juga kaya akan fauna daratan, seperti rusa, banteng, macan tutul, monyet, aneka jenis burung, dan reptil. Saat menelusuri hutannya, satwa-satwa tersebut banyak berkeliaran dengan bebasnya. Menelusuri hutan di Alas Purwo ibarat memasuki dunia alam liar yang magis. Jalan lurus berbatu yang diapit oleh hutan yang rimbun. Suara-suara alam seperti gesekan hutan bambu, kicauan burung, dan hembusan angin membuat suasana benar-benar menyatu dengan alam. Jalan sunyi yang membelah hutan selalu berakhir pada sebuah pantai. Kawasan pantai adalah tujuan akhir wisatawan yang berkunjung ke Alas Purwo. Tak heran jika di beberapa pantai banyak terdapat fasilitas umum, meliputi penginapan, camping ground, toilet, dan warung makan. Walaupun sebagian besar kondisinya sangat memprihatinkan: toilet kotor dan tidak ada air serta beberapa penginapan bahkan sudah tak layak huni karena sudah rusak. Kondisi yang lebih baik adalah fasilitas umum yang ada di Pantai Pancur. Pantai ini memang banyak digunakan oleh sebagian besar pengunjung sebagai base camp untuk menjelajah pantai-pantai lain di Alas Purwo. Persewaan jip, mushola, camping ground, aula, dan warung makan ada di pantai ini.

Tak cukup satu hari untuk menjelajah semua destinasi wisata di Alas Purwo, apalagi jika sampai ke utara dan ujung timurnya. Namun jika waktu terbatas, pantai-pantai bagian selatan termasuk Sabana Sadengan bisa dikunjungi dalam satu hari dengan base camp di Pantai Pancur.

Kami memasuki Alas Purwo pada jalur yang berbeda. Berangkat dari Malang dengan kereta api Tawang Alun dan berhenti di Stasiun Rogojampi menjelang tengah malam. Tentu saja kami sebelumnya sudah memesan mobil yang akan membawa kami menuju Alas Puwo. Saat kami tiba, mobil sudah siap. Perjalanan malam menembus belantara yang sunyi menjadi tantangan pertama bagi supir yang akan mengantar kami.

“Wah, mudah-mudahan tidak ada apa-apa ya! Terus terang ini pertama kali saya mengantar tamu ke Alas Purwo malam hari.”

Kami semua saling berpandangan dengan sedikit rasa khawatir. “Emangnya kenapa, Pak, kalau malam hari gini?” tanya salah satu temanku.

“Ndak apa-apa, sih! Cuma jalannya kan sepi, gelap, dan panjang banget,” kata si Pak Supir santai yang membuat kami semua sedikit kurang puas dengan jawabannya. Aku sendiri menduga pasti ini ada kaitannya dengan keangkeran Alas Purwo yang aku baca-baca sebelumnya di internet.

Dalam perjalanan selama kurang dari dua jam kami banyak bertanya pada Pak Supir tentang Alas Purwo termasuk cerita-cerita mistisnya. Tapi sayang sekali, ternyata ia tidak banyak tahu. Tapi dia cukup paham saat kami tanya tentangWagini, anak gunduruwo, manusia yang fenomenal dari Alas Purwo ini yang beberapa tahun lalu sempat diliput media televisi. Satu saran dari Pak Supir yang sepertinya harus kami lakukan di tempat asing seperti ini, selalu bersahabat dengan alam dan jangan pernah merusaknya. “Bijak banget nih, Pak Supir! aku membatin.

Awalnya kami menelusuri jalan perkampungan dengan lampu-lampu kecil yang menyala. Setelah itu kami mulai memasuki kawasan hutan yang gelap dan tidak ada lampu. Kami lihat di kanan-kiri jalan hanya ada pohon tinggi yang menjulang dan semak-semak yang rimbun. Sesekali kami juga melihat bulatan-bulatan kecil menyala seperti mengawasi perjalanan kami. Itu adalah mata rusa di malam hari. Suara-suara binatang malam menambah suasana menjadi semakin seram, tapi mengasyikan. Asyik karena kami datang dengan banyak teman jadi rasa takut sudah menghilang. Setelah sekitar satu jam kami menelusuri jalan yang gelap, tampak dari jauh sebuah pendaran lampu pijar.

“Itu pintu masuk Rawabendo sudah kelihatan!”

Lega rasanya, tapi jangan senang dulu itu baru pintu masuk belum sampai pada tujuan kami yang terakhir, yaitu Pantai Pancur! Kami memang akan bermalam dengan tenda di Pantai Pancur dan besok paginya seharian menjelajah Alas Purwo bagian selatan dengan mobil yang kami sewa ini. Tak banyak waktu yang akan kami habiskan di Alas Purwo, hanya satu hari setengah malam.

Setelah membayar karcis di pintu masuk Rawabendo, kami kembali menelusuri gelapnya hutan. Tak lama kemudian kami tiba di Pantai Pancur. Ternyata pantainya happening banget, banyak juga pengunjung yang menginap. Akhirnya kami memutuskan tidur di aula karena hujan mulai turun. Malam ini kami harus cukup tidur, termasuk Pak Supir, karena besok pagi petualangan menjelajah hutan ini baru akan dimulai.

To See

Pura Luhur Giri Salaka

Hanya beberapa kilometer dari pintu masuk Rawabendo, tepatnya di jalan masuk menuju Pantai Triangulasi, terdapat tempat persembahyangan umat Hindu, yaitu Pura Luhur Giri Salaka. Lokasinya berada tak jauh dari jalan utama yang membelah hutan, tertutup oleh pohon-pohon jati yang rindang. Pura ini merupakan salah satu pura peninggalan leluhur yang sampai sekarang masih dipakai untuk Pagerwesi, sebuah upacara yang diadakan setiap 210 hari sekali. Banyak umat Hindu Bali yang datang ke Alas Purwo saat upacara ini berlangsung. Acara sakral tersebut merupakan ritual penyelamatan ilmu pengetahuan. Bagi pengunjung yang ingin mengikuti proses ritual di Pura Luhur Giri Salaka, sebaiknya datang pada bulan-bulan suci umat Hindu dan bulan Suro.

Pantai Pancur

Pantai Pancur adalah starting point utama untuk menjelajah pantai-pantai lain di bagian selatan Alas Purwo. Di sini fasilitas umumnya juga lengkap, mulai dari aula, camping ground, mushola, toilet, penginapan, dan warung makan. Pantai ini juga merupakan pintu masuk utama melalui darat menuju G-Land. Base camp persewaan jip atau mobil pick up berada di pantai ini. Memang untuk menuju G-Land atau Pantai Plengkung semua pengunjung diwajibkan untuk menggunakan jasa sewa jip. Semua kendaraan bermotor hanya bisa masuk sampai Pantai Pancur.

Dinamakan Pancur karena ada sungai yang mengalir sepanjang tahun ke laut yang aliran sungainya membentuk air terjun kecil (dalam bahasa Jawa disebut “pancuran”) sebelum memasuki pantai yang terjal. Potensi utama Pantai Pancur adalah panorama matahari tenggelam atau sunset yang banyak diburu. Di pantai ini dilarang mandi karena kondisi pantai yang tidak landai dan banyak batu karang terjal dengan ombak yang besar dan ganas. Saat sore hari, pantai terlihat ramai dengan orang-orang yang sedang memotret dan memancing di pinggiran batu-batu karang.

Tak jauh dari Pantai Pancur (sekitar 2 kilometer) terdapat gua sakral, yaitu Gua Istana dan Sendang Srengenge yang banyak digunakan oleh masyarakat sekitar untuk bertapa. Terdapat jalan setapak memasuki hutan untuk mencapai dua tempat suci tersebut. Sepanjang perjalananan, kita akan disambut oleh nyanyian burung-burung dan hewan-hewan liar, seperti rusa dan musang. Sebelah timur Pancur juga terdapat sebuah pantai unik, yaitu Pantai Parang Ireng. Yang unik dari pantai ini adalah butiran pasirnya yang besar dan berwarna hitam. Pantai ini juga digunakan sebagai tempat ritual umat Hindu untuk melarung sesaji.

Pantai Ngagelan

Hamparan pasir yang luas dengan ombak yang bergulung-gulung tanpa henti. Tak terbayangkan jika pada malam hari, pantai yang luas ini, akan dipenuhi oleh ribuan penyu yang sedang bertelur. Inilah Pantai Ngagelan.

Ngagelan merupakan tempat penetasan telur penyu semi-alami dan menjadi lokasi pendaratan dan peneluran 4 jenis penyu dari 6 jenis yang ada di Indonesia, yaitu penyu abu-abu, penyu sisik, penyu belimbing, dan penyu hijau. Apabila ingin melihat langsung penyu yang sedang bertelur, kita bisa mengikuti petugas yang melakukan patroli pencarian telur pada malam hari. Puncak atau musim pendaratan biasanya terjadi pada bulan Mei sampai September. Pada bulan-bulan tersebut hampir setiap malam terdapat penyu yang bertelur.

Ngagelan merupakan pusat penangkaran anakan penyu yang menetas. Sebagian besar tukik akan langsung dilepas ke pantai, sedangkan sisanya dipelihara selama beberapa bulan untuk kepentingan riset dan atraksi pelepasan. Pengunjung bisa mengikuti atraksi pelepasan anakan penyu-penyu tersebut. Di pantai ini terdapat toilet dan penginapan yang kondisinya sudah tak terawat. Hanya rumah untuk petugas penangkaran penyu saja yang masih terlihat terawat.

Pantai Triangulasi

Triangulasi diambil dari nama titik ikat dalam pengukuran dan pemetaan yang terletak ± 500 dari utara pantai. Triangulasi merupakan salah satu pantai yang mempunyai formasi hutan pantai yang masih lengkap, didominasi pohon nyampung, bogem, dan pandan laut. Kondisi pantai berupa pasir putih bersih, biasanya pada bulan April sampai November digunakan oleh 4 jenis penyu yang ada di Alas Purwo untuk bertelur (penyu belimbing, sisik, abu-abu, dan hijau). Panorama lain yang bisa dinikmati adalah sunset dan pengamatan satwa lainnya, seperti kera abu-abu, lutung, tupai, bajing, musang, rusa, kijang, babi hutan, dan biawak. Seperti kebanyakan pantai-pantai di Alas Purwo (kecuali Pancur dan Plengkung), kondisi gazebo, toilet, dan penginapan sudah tidak layak untuk digunakan. Mungkin sebaiknya memang bangunan-bangunan tersebut dihilangkan saja dan biarkan semua fasilitas umum terpusat di Pantai Pancur. Sepertinya dulu bangunan tersebut dibangun dengan baik, tapi karena pengunjung tidak banyak yang memanfaatkannya (atau tidak laku) akhirnya jadi terbengkalai dan tidak terawat.

Pantai Plengkung

Inilah destinasi unggulan Alas Purwo, pantai Plengkung atau G-land. Pantai ini mempunyai keunikan tersendiri dengan ombak yang sangat bagus untuk olah raga selancar. Menurut para peselancar dunia, ombak di Plengkung termasuk tiga besar terbaik di dunia dan hingga saat ini telah empat kali menjadi lokasi event tingkat internasional. Di Plengkung terdapat tiga pengusaha pariwisata alam yang menyediakan paket wisata surfing yang dilengkapi dengan fasilitas akomodasi.

Batas pasang-surut di Plengkung mencapai ± 1 km dari garis pantai dengan dasar pantai karang mati yang rata diakibatkan abrasi. Pada bagian Barat pantai Plengkung–sekitar 1,2 km–dari garis pantai terdapat patahan dasar laut yang membentuk palung laut. Di samping itu terdapat dinding karang yang berjarak ± 600 meter dari garis pantai yang mengelilingi bagian Selatan Taman Nasional Alas Purwo. Adanya palung laut dan dinding karang tersebut mengakibatkan terjadinya arus bawah laut dan membentur dinding karang yang membentuk gelombang air laut yang besar dengan ketinggian antara 9-12 meter. Gelombang laut yang besar dengan panjang mencapai 1-2 km serta berlapis-lapis sangat baik untuk olah raga surfing, 6-7 lapis gelombang yang sering terlihat di Plengkung terutama antara bulan Juni-Juli. Uniknya, para peselancar internasional punya nama untuk masing-masing jenis ombak: Kong, Money Trees, Launching Pad, Speedy, Chicken Break, Twenty-twenty dan Tiger Track. Tinggi dan panjang serta lapisan gelombang tersebut tergantung ada tidaknya angin barat ke laut. Kegiatan surfing biasanya dilakukan antara bulan Maret sampai Oktober.

Kegiatan wisata utama di Pantai Plengkung adalah surfing. Bagi pengunjung yang ingin datang ke Plengkung sebaiknya pada bulan Maret-Oktober karena kondisi ombak sedang besar dan bagus. Pengunjung juga sebaiknya berkunjung melalui perusahaan wisata surfing yang tersedia di sana, yaitu PT Wanasari Pramudita Ananta, PT Wanawisata Alam Hayati, dan PT Plengkung Indah Wisata. Selain bulan-bulan tersebut, kondisi ombak Pantai Plengkung sama dengan pantai-pantai lainnya. Saat bulan-bulan terbaik untuk surfing, Pantai Plengkung banyak dipenuhi wisatawan asing yang menghabiskan waktunya berhari-hari untuk berselancar. Hotel dan penginapan banyak tersebar di pinggiran pantai di antara hutan-hutan bambu yang mengelilingi pantai Plengkung. Kebanyakan hotel dan penginapan menggunakan mata uang dolar AS untuk pemberlakuan tarif jasa.

Ada dua pintu masuk utama menuju Plengkung, yaitu melalui jalur darat dari Pantai Pancur sejauh 9 km atau melalui Pulau Bali dengan jalur laut sejauh 120 km (ditempuh selama 2 jam dengan speedboat). Kebanyakan wisatawan asing datang melalui jalur laut dari Bali.

Ekowisata Hutan Mangrove Bedul

Bedul adalah kawasan hutan mangrove seluas hampir 2.300 hektar yang memanjang sejauh 16 km di pinggiran Danau Segara Anakan. Danau ini merupakan daerah aliran sungai payau yang bermuara di pantai selatan. Bedul adalah ujung barat dari Taman Nasional Alas Purwo. Kawasan hutan mangrovenya merupakan yang terluas di Jawa. Keindahan lokasi ini terlihat dari keutuhan dan kealamian hutan mangove sebagai tempat untuk mencari makan dan berkembang biak beberapa jenis burung air serta burung migran. Selain itu, Bedul merupakan salah satu tempat yang digunakan masyarakat untuk mencari kerang, udang, kepiting, dan ikan dengan alat tangkap tradisional, sehingga kegiatan tersebut merupakan salah satu atraksi wisata yang cukup menarik.

Bedul juga merupakan salah satu pintu utama untuk memasuki Taman Nasional Alas Purwo. Terletak di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo–sekitar 60 km dari Kota Banyuwangi. Nama Bedul diambil dari jenis ikan gabus yang bersirip di punggungnya dan banyak hidup di Segara Anakan. Ikan ini merupakan makanan sehari-hari masyarakat setempat. Kegiatan wisata utama di Bedul adalah menyusuri Segara Anakan dengan perahu gondang-gandung khas Banyuwangi sambil mengamati satwa-satwa liar yang hidup di antara hutan mangrove. Perahu gondang-gandung adalah dua perahu yang dijadikan satu dengan laju yang slow down, cocok untuk mengamati satwa. Tarifnya cukup bersahabat, hanya Rp 10 ribu sampai 30 ribu per orang untuk sekali jalan, tergantung jarak yang ditempuh.

Dalam pengembangan Blok Bedul, Balai Taman Nasional Alas Purwo bekerja sama dengan Desa Sumberasri yang didasarkan pada “Pengembangan Wisata Alam Terbatas Blok Bedul.” Pengembangan pariwisata di Blok Bedul diarahkan untuk wisata berwawasan lingkungan (ecotourism) yang mengedepankan prinsip-prinsip konservasi. Saat ini terdapat beberapa paket wisata yang ditawarkan untuk menyusuri mangrove dengan menggunakan perahu tradisional milik masyarakat setempat. Paket-paket tersebut, antara lain menyusuri dan menjelajahi mangrove di lokasi Kere, menyusuri mangrove dan menikmati burung air di daerah Cungur, serta menyusuri mangrove dan melihat tempat penetasan penyu di Ngagelan. Selain itu juga terdapat paket menyusuri mangrove dengan menggunakan kano yang disediakan oleh masyarakat desa.

Sabana Sadengan

Sadengan adalah sebuah padang rumput atau sabana (savannah) seluas 84 hektar di mana para satwa liar Alas Purwo mencari makan dan berinteraksi. Sadengan bukan merupakan padang rumput asli dari alam, tapi sengaja dibuat dengan menebang hutan yang rusak sebagai padang pengembalaan dan pengamatan satwa liar. Waktu terbaik untuk mengamati banteng dan rusa adalah pagi hari pukul 06.00 sampai 09.00 WIB atau sore hari pukul 15.30 sampai 17.00 WIB. Bawalah peralatan seperti teropong untuk pengamatan yang lebih jelas walaupun sudah tersedia menara pengamatan tiga tingkat. Pengunjung diperbolehkan memasuki kawasan padang rumput sampai ke dalam dengan ditemani penjaga. Saat kami mendekat, satwa-satwa tersebut menjauh.

Beragam jenis satwa beraktivitas di Sadengan mulai dari jenis burung, kijang, rusa, banteng, babi hutan, lutung, dan lain-lain. Dari 302 jenis burung yang ada di Taman Nasional Alas Purwo, beberapa juga terdapat di Sadengan, seperti elang jawa, elang ular bido, elang ikan kepala kelabu, elang laut perut putih, peregam, srigunting, ayam hutan merah, jalak putih, bangau sendang lawe, blekok sawah, merak hijau, dan banyak lagi.

Gua Padepokan dan Gua Istana

Kawasan Taman Nasional Alas Purwo mempunyai banyak gua dan hingga saat ini telah teridentifikasi 44 gua. Wisata gua yang terdapat di Taman Nasional Alas Purwo, di antaranya Gua Istana, Gua Mayangkara, Gua Padepokan, Gua Basori, dan Gua Jepang. Di gua-gua itulah terdapat tempat kegiatan ritual (bertapa) dan tempat habitat kelelawar serta ular. Juga masih terdapat satu gua yang merupakan peninggalan Jepang yang pernah dimanfaatkan untuk menyimpan peralatan-peralatan perang. Gua tersebut dinamakan Gua Jepang. Sedangkan di kawasan Gua Istana terdapat sumber air bernama Sendang Srengenge yang airnya diyakini dapat membuat orang awet muda. Tidak semua gua mempunyai akses yang mudah untuk dikunjungi. Gua Istana dan Gua Padepokan adalah beberapa gua yang sudah mempunyai akses yang cukup baik.

Pantai Cungur

Cungur merupakan wilayah pantai bagian Barat Taman Nasional Alas Purwo. Wilayah Cungur merupakan daratan hutan pantai yang hanya dibatasi oleh pengaruh pasang-surut air laut yang masuk dari Samudera Hindia ke dalam muara Sungai Segoro Anakan. Wilayah Pantai Cungur memiliki ekosistem khas hutan dataran rendah, hutan pantai, dan hutan mangrove. Lokasi ini menjadi habitat burung-burung air untuk berkembang biak dan mencari makan, bahkan setiap tahunnya sering dilintasi dan dikunjungi oleh beberapa jenis burung migran dengan jumlah yang masif. Tercatat sebanyak ± 39 jenis burung yang terdapat di wilayah ini.

Cungur sering dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata alam oleh para pengunjung Taman Nasional Alas Purwo untuk melakukan aktifitas wisata seperti birdwatching dan fotografi pemandangan. Para pecinta burung, fotografer, dan peneliti sering mengunjungi kawasan ini untuk memanfaatkan atraksi alam liar berupa keberadaan burung-burung migran yang datang setiap tahunnya, pemandangan sunset tepi pantai pada sore hari, dan hilir mudik kapal-kapal nelayan yang bersandar di Pelabuhan Grajagan.

Makam Gandrung

Makam Gandrung, merupakan objek pertama yang bisa dijangkau di area Tanjung Sembulungan di bagian timur Taman Nasional Alas Purwo. Berlokasi di pantai barat Tanjung Sembulungan, kawasan wisata ini berjarak ± 2 km dari Pelabuhan Muncar ke arah tenggara. Pantai di Makam Gandrung berpasir putih bercampur koral sepanjang ± 100 m dengan laut yang relatif tenang, sehingga perahu dapat merapat dengan mudah dan aman. Pada lokasi ini terdapat 2 makam tempat peristirahatan penari gandrung yang terkenal dari Banyuwangi. Biasanya masyarakat Muncar yang mayoritas nelayan mengirim doa (selamatan) untuk mendapatkan berkah agar hasil tangkapan ikannya melimpah.

Pada tanggal 15 Muharram setiap tahunnya di Makam Gandrung ini dilakukan upacara tradisional Petik Laut, yaitu acara yang diadakan oleh para nelayan Muncar sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang dilimpahkan, dan acara Gitik, yaitu pelepasan sesaji ke laut dilanjutkan ziarah ke makam Gandrung yang diikuti oleh para nelayan dan dimeriahkan oleh penari gandrung.

Teluk Banyu Biru

Kawasan ini ditandai oleh suatu cekungan pantai yang menjorok ke daratan dan air yang biru dan tenang. Teluk ini dipisahkan oleh tanjung kecil dengan kawasan Perpat. Di teluk Banyubiru ini, aktivitas diving, ski air, swimmingkanoing, maupun berperahu dapat dilakukan.

Pantai berpasir putih, lutung, elang laut dapat menjadi selingan menarik saat beristirahat di sepanjang pantai yang ditumbuhi oleh banyak lamun (rumput laut). Aktivitas menjaring ikan juga dapat dilakukan karena menurut para nelayan kawasan ini merupakan kantong ikan. Ikan yang datang tidak akan pergi lagi karena warna airnya yang biru dan perairannya yang tenang. Di bagian tengah, terdapat sungai yang disampingnya terdapat tonjolan daratan yang sering disebut sebagai legon. Di legon ini perairannya relatif tenang dan dapat digunakan untuk beristirahat di atas perahu tanpa takut terkena goncangan ombak yang hebat.

Perpat

Terletak di sebelah selatan Payaman, berjarak ± 5-10 km dari Payaman, hanya bisa dijangkau dari Muncar lewat laut dengan memakai perahu selama ± 2 jam. Perpat mempunyai laut yang tenang dan tidak bergelombang. Daerah ini merupakan teluk yang sering dijadikan persinggahan kapal apabila cuaca tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan dari Selat Bali menuju ke Pelabuhan Muncar. Area ini ditandai dengan adanya pohon perpat yang termasuk dalam kelompok mangrove.

Dengan terumbu karang yang bagus, Pantai Perpat dapat dijadikan sebagai lokasi snorkling dan diving yang menantang ditunjang hamparan terumbu karang yang relatif utuh. Pantai yang berpasir putih lembut dan panjang ini dapat dijadikan sebagai selingan bila aktivitas di perairan mengalami kejenuhan. Di bagian tengah perairan, bila cuaca memungkinkan, sering dijumpai kelompok lumba-lumba yang berenang berkelompok dan berputar-putar di perairan untuk mencari makan.

Kayu Aking

Terletak di sebelah selatan Tanjung Sembulungan di Pantai Selat Bali. Berpasir putih bercampur koral, tidak berombak karena merupakan teluk dan dapat digunakan untuk mandi dan tidak berbahaya. Kayu Aking merupakan lokasi dengan tonjolan-tonjolan batu karang yang menjorok ke laut, sehingga di lokasi ini dapat dilakukan kegiatan wisata minat khusus memancing.

Lokasi ini bisa ditempuh dari dua arah, lewat laut dari Muncar ke arah tenggara ± 5 km. Untuk yang lewat darat dapat ditempuh dengan naik sepeda motor melewati jalan setapak dari Kantor Balai Taman Nasional Alas Purwo di Pasar Anyar ke arah timur laut–berjarak sekitar 7 km melewati feeding ground Sembulungan di mana terdapat aneka jenis burung.