Gerbang Emas Sumatera di Krakatau

Lebih dari sekedar menikmati sensasi panorama Gunung Krakatau yang fenomenal dan melegenda, berwisata ke Lampung Selatan merupakan sebuah perjalanan mengeksplorasi pulau, pantai, dan pegunungan yang dipenuhi dengan segala keindahan surga kawasan tropis.

Akhirnya saya menginjakkan kaki di Lampung Selatan setelah melakukan perjalanan sekitar 4 jam dari Ibukota Jakarta. Satu jam setengah, saya habiskan di atas kapal feri dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, menikmati gelombang dan tiupan angin sambil memandang hamparan lautan dan langit biru yang cerah dengan sesekali terlihat perahu nelayan menghiasi pantai-pantai di sekitar pulau kecil yang tak berpenduduk. Sebagai pelabuhan utama yang menghubungkan Jawa dan Sumatera, saya bersama para backpacker berbagi ruang dengan riuh penduduk lokal yang hendak bepergian maupun kembali pulang dari menjual komoditi agrikultur Lampung. Beberapa mobil pengangkut barang yang ikut masuk dan sudut-sudut kapal dipenuhi dengan kelapa, kakao, maupun pisang.

Lampung Selatan adalah bagian (kabupaten) dari Provinsi Lampung, terletak di paling ujung Pulau Sumatera, ia mewakili kekayaan dan keindahan dataran tinggi dan kepulauan tropis yang dimiliki Indonesia. Kunjungan pertama saya ke Lampung adalah lebih dari 10 tahun lalu, dan sekarang perubahan telah banyak terjadi dengan mulai digalakannya Lampung Selatan sebagai destinasi baru bagi industri pariwisata. Berbagai infrastruktur dan akomodasi, tentu saja, jauh lebih baik ketimbang kunjungan saya sebelumnya.

Seolah hendak menyambut kedatangan saya bersama kawan lainnya, sebuah landmark unik berwarna kuning di atas bukit dekat pelabuhan, menarik pandangan untuk meminta dikunjungi. Seorang kawan yang menjemput pun mengantar saya menuju Menara Siger setibanya kami di Lampung Selatan. Bangunan berlantai 5 dengan ketinggian mencapai 32 meter ini berfungsi sebagai pusat informasi pariwisata dan ruang pamer bagi acara-acara kebudayaan. Desainnya mengambil bentuk dari mahkota 9 runcing yang khusus dipakai pengantin perempuan di Lampung. Simbol siger juga bermakna pemersatu adat budaya. Di halaman belakang Menara Siger inilah terletak tugu penanda titik kilometer 0 Pulau Sumatera di mana dapat saya nikmati sajian pemandangan spektakuler terhadap gugusan pulau-pulau kecil dan lalu lintas kapal di Selat Sunda. Di bawah terik langit yang cerah, seolah potret kartu pos mewujud nyata dengan ketenangan beraroma laut di hadapan saya.

Tak jauh dari Menara Siger, kami menepi di sebuah rumah makan pinggir jalan. Menyantap sajian makanan laut yang segar dan lezat, penuh rempah layaknya hidangan Sumatera lainnya. Di mana pun di kawasan Lampung Selatan ini, seafood begitu mudah didapatkan dengan kondisi yang segar dan juga murah.

Kami menginap di Kalianda Nirwana Resort, salah satu penginapan yang berlokasi di bibir pantai, sekaligus yang paling dekat dengan Pulau Sebesi. Kebetulan sekali, kami mendapatkan kamar yang menghadap pantai dengan jendela berbingkai lukisan alam laut kristal, pasir putih, dan Gunung Sebesi di ujung garis cakrawala.

Pesona Pulau Sebesi

Keesokan pagi, sebuah kapal bermotor telah dinyalakan di dermaga hotel. Sebuah petualangan menanti untuk kami jelajahi: island hopping. Perjalanan menuju Pulau Sebesi memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sebuah waktu yang singkat untuk menikmati surga di laut tropis.

Kami menikmati angin laut yang cukup kencang di wajah kami, menghirup aromanya yang khas pesisir. Sayangnya, hari itu cuaca agak mendung dan gerimis, namun tidak mengurangi kegembiraan kami menikmati pesona Selat Sunda. Melintas menerjang ombak, satu per satu pulau-pulau kecil tak berpenghuni kami lewati. Sebagian pulau hanyalah berupa karang terjal dan bukit berbatu yang tertutup rindang pepohonan yang tumbuh dengan subur. Seorang pemandu menunjukkan pada kami pulau bergua yang menjadi rumah bagi ratusan kelelawar. Banyak cerita mengenai pulau-pulau kecil tersebut. Salah satunya adalah mengenai siluman-siluman yang menjelma binatang (amagus) yang kerap menampakkan dirinya pada nelayan sekitar maupun pengunjung. Bukannya tidak masuk akal, jika ada harimau di tengah pulau kecil yang dikelilingi lautan, tetapi begitulah cara penduduk lokal menjaga kelestarian pulau dan mempertahankan kearifan lokal mereka dalam bentuk mitos yang diwariskan.

Puas menikmati pulau-pulau kecil, kami kemudian sampai di sebuah dermaga sederhana. Sepasang nyiur lambai pohon kelapa dan sebuah papan bertuliskan “Welcome to Sebesi Island,” menyambut kami. Tampak dari kejauhan, Gunung Sebesi seolah membesar di hadapan saya, menunjukkan kemegahannya sebagai penguasa pulau. Nama “sebesi” tentu ada kaitannya dengan proses pembentukkan pulau yang berasal dari endapan lava gunung berapi ini. Sebab dengan begitu, pulau ini tidak hanya kaya dengan keanekaragaman hayati hutannya saja, tetapi juga tambang jenis besi.

Tidak banyak hal yang bisa lakukan di Pulau Sebesi. Dan rasa penasaran kami dengan kehidupan masyarakat lokal di pulau seluas lebih dari 2.500 hektar ini, membimbing kami untuk masuk lebih dalam menuju perkampungan kecil. Sungguh ironis, di tengah hamparan alam yang begitu kaya dan indah ini, masyarakat Pulau Sebesi hidup dalam keterbatasan. Listrik hanya menyala selama beberapa jam dalam sehari, begitu pula dengan infrastruktur pendidikan dan fasilitas publik lainnya yang minim. Sebagian dari mereka bekerja sebagai petani dan buruh, sebagian yang beruntung, mendapat peran di sektor pariwisata dengan membantu menyediakan makanan di penginapan seadanya di dekat dermaga.

Mengikuti saran kawan, kami pun beranjak kembali menuju dermaga tempat kami datang dan memesan hidangan hasil laut buatan tangan penduduk lokal. Cumi-cumi hitam dan ikan asin bersama tempe dan sayur asem. Ternyata rasanya jauh lebih memikat dibandingkan tampilannya yang sederhana. Seperti yang saya katakan sebelumnya, di sini seafood bisa dengan mudah didapatkan dengan harga yang murah dan rasa yang enak. Hidangan siang saya ditutup dengan buah kelapa yang banyak tumbuh memenuhi pulau.

Fakta penting mengenai Pulau Sebesi, adalah bahwa kawasan ini dikelilingi oleh terumbu karang hidup. Beranjak sedikit ke arah timur Pulau Sebesi, berhimpitan dengan Pulau Umang, kami singgah dan mulai mengenakan alat-alat snorkeling, siap menceburkan diri untuk menengok kehidupan lain dari taman laut yang menjadi potensi terpendam Pulau Sebesi.

Mitos dan Panorama Krakatau

Setelah mengunjungi Pulau Sebesi, kami kembali ke Kalianda dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi terbaik menikmati Krakatau melalui kawasan pesisir sepanjang jalur pesisir Canti-Rajabasa.

Di jalur yang diapit oleh Gunung Rajabasa dan hamparan pantai berpasir putih di sisi kiri-kanannya ini, kami menyaksikan pemandangan yang begitu megah dari Anak Krakatau. Tidak bisa kami bayangkan bagaimana dahulu gunung yang fenomenal itu meletus, menghancurkan dirinya sendiri, menciptakan kaldera (Selata Sunda) yang memisahkan Sumatera dan Jawa, menyebar abu vulkanik yang melelehkan es di Kutub Utara dan daratan Eropa, hingga mengakibatkan banjir dan tsunami dahsyat. Adalah Prof. Arysio Nunes Dos Santos, penulis buku kontroversial “Atlantis The Lost Continents Finally Found,” yang menegaskan keberadaan Atlantis – the mother of all civilization – di tempat saya berada, yang salah satu penyebab kehilangannya adalah ledakan dahsyat Gunung Krakatau.

Pemandangan Anak Krakatau di tengah laut kami nikmati sejenak dengan duduk di bibir pantai, beralaskan pasir putih ditemani nyanyi debur ombak yang berkejaran di laut biru, membawa kami pada fantasi tentang benua yang dilukiskan Plato sekitar 2.500 tahun yang lalu. Benua yang dihuni oleh bangsa dengan peradaban maju, dipenuhi oleh kemilau emas, seni yang begitu tinggi, serta pesona alam yang mengagumkan.

Tentu saja kami tidak hendak sekedar memandang Anak Krakatau seharian penuh. Dengan mobil, kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalur pesisir Canti-Rajabasa. Seorang kawan menjelaskan bahwa pada masa kolonialisme Belanda, kawasan ini menjadi sangat bersejarah sebagai salah satu rute yang dipakai sebagai gerbang Sumatera. Perjuangan rakyat Lampung melawan penjajah pun berlangsung di sini. Kami singgah di rumah tua dan makam pahlawan Radin Inten yang gugur pada 5 Oktober 1856. Atas izin keturunannya, kami diperbolehkan masuk melihat rumah tua panggung yang terbuat dari kayu. Seolah meresap spirit sang pejuang, meski tampak tak terurus, namun rumah kuno berarsitektur Lampung ini masih tampak kokoh dan kuat.

Sepanjang perjalanan, kami dibuat kagum dengan pantai-pantai yang kami temukan. Salah satunya adalah Pantai Wartawan, dinamakan “wartawan” karena pantai ini dipopulerkan oleh para wartawan yang mempublikasikan liputan tentang pantai ini. Uniknya, di tengah hamparan karang berbatu di tengah laut, muncul sumber air panas yang keluar dari celah-celah karang. Di tempat lain, terdapat pantai yang berpasir hitam dan sangat lembut dengan latar siluet Anak Krakatau. Lurus menuju Canti, kami menepi di Pantai Batu Kapal di mana sebuah batu berukuran dan berbentuk seperti kapal dihormati warga lokal sebagai pelindung yang menangkis luapan isi perut sang gunung.

Lampung Selatan seolah menjadi kawasan yang mengambil jarak dari hingar-bingar kehidupan metropolitan. Dikelilingi oleh gugusan bermacam-macam pantai dan gunung yang sakral, Lampung Selatan tentu saja tidak akan membuat siapa pun yang singgah kecewa dengan ketenangan dan pemandangan alam yang luar biasa indah. Sebab, meski ia berjarak dengan modernitas kota, ia justru menawarkan kedekatan dengan surga yang tidak akan mungkin ditemukan di sebuah kota besar. Membawa kita pada fantasi di mana nirwana maupun Atlantis betul-betul menjadi nyata ada di sini.

Get There

Dari Jakarta, perjalanan bisa dimulai menuju Pelabuhan Merak melalui tol sekitar 2 jam. Pelabuhan beroperasi selama 24 jam, tetapi sebaiknya memilih jadwal keberangkatan siang hari (tidak disarankan berangkat pada tengah malam). Ada banyak pilihan kapal dan jadwal yang tidak pasti. Saat memasuki loket pelabuhan untuk membayar karcis, kamu bisa langsung menanyakan ke penjaga loket kapal mana yang paling cepat berangkat dan tanyakan apakah itu kapal yang bagus atau tidak. Pilihannya adalah apakah kamu mempertimbangkan waktu, yang artinya tanpa memilih kapal bagus atau jelek, yang penting yang berlabuh/berlayar duluan. Atau alternatif lain, kamu mau menunggu untuk menaiki kapal dengan fasilitas bagus yang sulit dipastikan jadwalnya. Silakan cek jadwal kapal di Pelabuhan Merah di sini http://www.indonesiaferry.co.id/id/services/schedule.

Tarif kapal untuk dewasa Rp 11.500, tetapi untuk mobil pribadi/sedan (termasuk orang yang di dalam mobil) Rp 232.500.

Sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, jika kamu hendak menaiki kendaraan umum, bisa langsung menuju terminal yang masih di area pelabuhan. Untuk lokasi detil, mintalah arahan petugas pelabuhan atau sewa mobil Rp 150 ribu (jika rombongan). Jangan segan untuk mengobrol dengan penumpang kapal dan bercerita kalau kamu hendak ke Canti karena biasanya ada banyak jasa travel dari kota-kota lain di Jakarta dengan bangku kosong yang bisa ditawar setengah harga di dalam kapal.

Untuk menuju Sebesi-Krakatau, dari Pelabuhan Canti di Kalianda terdapat transportasi kapal penduduk yang keberangkatannya hanya pada pagi hari, sehingga sulit untuk diakses turis, apalagi kapal tersebut tidak memiliki rute sesuai tur (hanya Sebesi-Canti). Sehingga, kita harus menyewa kapal nelayan penduduk dengan harga yang relatif, sekitar hampir Rp 1 juta untuk sewa satu hari pulang-pergi (ditunggu).

Untuk berkeliling bukan ala backpacker, dari Pelabuhan Merak kamu bisa langsung menuju Krakatau Nirwana Resort (hotel dan resort terbaik di Lampung Selatan). Dari sini dapat menyewa perahu motor dengan tarif sampai 3 kali lipat dan tentu saja lebih nyaman.