Keindahan dan Sakralitas Sebuah Istana Air

Kawasan keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta, telah dikenal sebagai salah satu destinasi favorit bagi para turis domestik dan mancanegara ketika berada di Kota Gudeg tersebut. Tidak hanya menjadi kawasan bersejarah yang menawarkan keindahan corak budaya dan arsitektur Jawa, melainkan juga daya magis tertentu yang memiliki banyak situs sakral serta menjadi lokasi berlangsungnya berbagai ritual penting. Salah satu tempat dengan nilai yang memadukan kedua unsur itu, adalah sebuah istana air milik Sang Sultan yang berada tak jauh dari keraton, sekitar 500 meter ke arah selatan.

Istana air yang menjadi tempat pemandian dan semedi raja dan keluarganya itu bernama Taman Sari. Disebut sebagai istana air karena kemegahan dan kebesarannya, tidak sekedar sebuah kolam air. Penghormatan terhadap Taman Sari bukanlah tanpa alasan. Sebelum Taman Sari dibangun, kawasan tersebut ternyata adalah sebuah umbul atau sumber mata air. Mata air inilah yang kemudian menjadi patokan pembangunan keraton yang mengambil posisi tepat di tengah apitan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis.

Pembangunan terhadap Taman Sari dilakukan tak lama setelah keraton rampung didirikan pada akhir abad ke-17 pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Sebuah kisah mengatakan bahwa Taman Sari menjadi perwujudan rasa cinta dan hadiah Sultan kepada para isti dan selirnya yang telah membantu peperangan. Cerita lain menjelaskan kalau di Taman Sari-lah Sultan memanjakan para istri dan selirnya. Namun, tentu saja pemaknaan dari Taman Sari tidaklah sedangkal itu. Tak jauh dari gapura masuk yang berhiaskan motif tanaman dan bunga serta sepasang ular kepala naga, terdapat kolam air besar yang begitu mempesona. Di antara kolam tersebut, terdapat ruang-ruang kecil dan gelap. Di ruang-ruang itulah, Sultan melakukan pertapaan. Bagi masyarakat Jawa, petirtaan memiliki makna yang dalam sebagai sumber kehidupan dan juga lokasi untuk melakukan komunikasi dengan dimensi lain atau dunia gaib. Konon, di sinilah para Sultan dan raja-raja lainnya di Tanah Jawa menjalin hubungan dengan Ratu Pantai Selatan.

Terbayang dalam pikiran, ketika para perempuan bangsawan melakukan ritual mandi bersama raja di antara jernihnya air yang dikelilingi beragam bunga dan wewangian. Hingga saat ini, kita dapat menyaksikan jernihnya air pada kolam yang terpantul cahaya tanpa atap. Meski tak seindah dulu, namun Taman Sari membawa siapa pun yang mengunjungi untuk memiliki imajinasi erotis sekaligus sakral.

Tak jauh dari kolam utama, berjalan menelusuri jalan-jalan sempit perkampungan, kita akan menemukan lorong-lorong besar yang gelap dan masih tampak kokoh. Memasuki lorong bawah tanah tersebut, kita menuju Sumur Gumuling atau akrab disebut Masjid Bawah Tanah. Di ujung lorong, terdapat sejumlah jendela dan tangga dengan pijakan yang beratapkan langsung pada langit sebagai poros kelima tangga dan jendela-jendela tersebut.

Di antara lorong-lorong, terselip lagi ruang kecil, sempit, dan gelap. Aura magis begitu terasa ketika kita memasuki lintasan-lintasan beratap serupa kubah. Jika tidak waspada, bisa-bisa tersandung anak-anak tangga. Anehnya, meski sempit dan gelap, lorong-lorong di Taman Sari tidak apek atau sesak, justru udara terasa dingin dan sejuk.

Berada dekat pada pintu keluar Masjid Bawah Tanah, kita akan disambut dengan bangunan besar yang kini tak lagi utuh. Di Gedung Kenongo inilah keluarga bangsawan biasanya beristirahat sambil menyantap jamuan makanan mewah. Bangunan yang telah runtuh ini merupakan titik tertinggi di keraton. Kita bisa menyaksikan perkampungan, landscape Kota Jogja, serta indahnya matahari yang terbenam.

Meski memiliki corak Jawa, namun bangunan-bangunan terlihat begitu kental dengan desain Eropa kuno. Ini dikarenakan arsitektur Taman Sari yang berkebangsaan Portugis. Terlibatnya orang asing dalam pembangunannya, menunjukkan adanya hubungan baik antara Kasultanan dan kerajaan-kerajaan asing. Secara bahasa, “Taman Sari” sendiri memiliki arti sebagai kebun indah yang dihiasi bunga-bunga.

Dengan dinding-dinding yang kokoh, Taman Sari tampak tak hanya menjadi lokasi petirtaan, peristirahatan, pemandian, maupun semedi, melainkan juga sebagai benteng persembunyian atau pertahanan.

Menghadapi masa ke masa, sekaligus berbagai bencana yang pernah menimpa Jogjakarta, seperti gempa dan letusan gunung berapi, kondisi Taman Sari masih bisa bertahan meski tak lagi utuh atau semegah dan seindah dulu.

Tahun 2004 lalu, bersama dengan Pemerintah Portugal, Amerika Serikat, serta lembaga asing lainnya, Yogyakarta telah berhasil melakukan renovasi. Perbaikan terhadap Taman Sari juga dibantu oleh Pangeran Charles yang sempat singgah.

Terdaftar sebagai daftar 100 situs bersejarah yang terancam punah, Taman Sari merupakan atraksi wisata yang terlalu berharga untuk dilewatkan ketika berada di Jogjakarta. Tidak hanya memberikan pengalaman estetis melalui keindahan dan kemegahan tata ruang, Taman Sari pun menawarkan sensasi magis dan erotis bagi mereka yang tertarik menelusuri kisah sejarah dan mitos dari situs yang dikelilingi oleh perkampungan abdi dalem keraton ini.

Quick Tips

  • Untuk menuju Taman Sari, dapat dilakukan dengan berjalan kaki dari keraton sekitar 500 meter ke arah selatan, atau menaiki becak dari keraton atau Malioboro dengan ongkos berkisar dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu (tawar-menawar).
  • Jam operasional Taman Sari adalah setiap hari mulai pukul 09:00 hingga 15:30. Harga tiket hanya sebesar Rp 3.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 7.000 untuk turis asing. Namun, di beberapa lorong, pengunjung diharapkan untuk memberikan donasi terhadap kotak amal ataupun seniman lokal (pengamen).
  • Terdapat begitu banyak orang lokal yang menawarkan jasa guide(pemandu). Tak perlu khawatir biaya yang mahal karena jasa mereka hanya berkisar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu (tawar-menawar). Mereka akan membantu pengunjung menuju situs-situs yang tersebar di dalam perkampungan, serta bercerita tentang sejarah dan mitos Taman Sari.