Wellness Tourism: Mencoba Metode Balur di Sukorejo

Dari Jakarta, saya terbang menuju Semarang. Tujuan perjalanan kali ini adalah Sukorejo. Masih perlu sekitar 2 jam perjalanan bagi saya dan beberapa kawan untuk bisa sampai di kawasan Alun-alun Sukorejo atau yang akrab disebut Bunderan (karena bentuk jalan yang melingkar). Dua jam tersebut saya nikmati dengan melihat pemandangan dataran tinggi Jawa Tengah yang dihiasi dengan perbukitan serta perkebunan yang begitu rindang dan hijau. Ketika udara mulai terasa sejuk dan agak dingin, kami pun menyadari bahwa destinasi yang kami tuju, semakin dekat dan tidak lama lagi.

Di Sukorejo, kami hendak mengunjungi Dr. Gretha Zahar, seorang ilmuwan yang juga adalah praktisi klinis dan radiation chemist yang telah berhasil mengembangkan metode Balur (www.balur.com) dan berbagai penemuan lainnya terkait proses peluruhan radikal bebas (logam) dari dalam tubuh. Metode Balur sendiri adalah suatu proses detoksifikasi pembaluran kulit untuk mengangkat racun, merkuri, dan logam berbahaya lainnya yang mengendap di dalam tubuh melalui proses khelasi, yaitu pemutusan radikal bebas dan logam amalgam yang terikat di asam amino aromatis dan struktur DNA. Mungkin terdengar sulit untuk dipahami. Tetapi terapi spa Balur ini bukanlah hal baru bagi masyarakat kita karena merupakan tradisi penyembuhan yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Selain Balur, ada juga Divine Cigarette (www.divinecigarette.com) atau dikenal dengan klobot, yaitu rokok tembakau dan cengkeh murni dengan ramuan khusus Divine yang telah di-nano (nano technology).

Mengobrol sebentar dengan Ibu Gretha yang begitu penuh semangat dan sangat enerjik di usianya yang telah berkepala tujuh, beliau menjelaskan kepada saya mengenai visinya untuk memandirikan bangsa melalui pengobatan tradisional dan berdasarkan pada beragam tanaman serta kekayaan alam Nusantara. Tidak hanya itu, pemahamannya mengenai alam semesta juga melampaui ilmu fisika dan metafisika, bahkan Spiritual Science. Tetapi, saya tidak ambil pusing dengan penjelasan ilmiah mengenai gold nicotine dalam Divine Cigarette ataupun proses peluruhan radikal bebas dalam tubuh melalui Balur, karena siapa pun yang datang menemui Ibu Gretha memiliki tujuan yang sama: sehat!

Entah mengapa, tiba-tiba jantung saya jadi berdegup kencang dan malah merasa takut dibalur. Cerita dari banyak kawan yang telah mencoba Balur, memang terdengar mengerikan. Namun, kisah sukses mereka menjadi magnet bagi saya dan kawan lain untuk sehat. Di sana, kebetulan sekali saya berkenalan dengan Ala, perempuan berdarah Kaukasoid ini tinggal di Tangerang. Ia adalah salah satu pasien dan kawan Bu Gretha yang mengidap kanker lever. Sebelumnya, dokter telah memvonis umurnya hanya tinggal 4 bulan, tapi setelah mengikuti terapi Balur, pada usia 60-an Ala sudah dinyatakan sembuh dan tampak begitu sehat.

Esoknya, tanpa basa-basi, Bu Gretha memanggil asistennya, Mas Aziz, untuk menyiapkan tempat membalur saya. Meski masih agak takut, tak mungkin juga saya menolak.

Saya pun melepas seluruh pakaian dan berbaring di atas dipan tembaga. Ruang Balur outdoor tanpa atap ini terlihat begitu nyaman. Dengan pagar bambu sebagai partisi, sekeliling area Balur ini dikelilingi dengan berbagai tanaman serta bunga yang tampak subur.

Sebelum dibalur, saya diharuskan untuk mengasapi beberapa cairan, salah satunya kopi Balur, dengan Divine Cigarette.

Proses Balur membutuhkan waktu sekitar satu jam. Awalnya, tubuh akan dilumuri dengan beberapa cairan khusus, kemudian dipijat-pijat. Sangat enak dan rileks. Tapi tak lama kemudian, Mas Aziz mulai menghantamkan tangannya memukul seluruh tubuh, mulai dari kaki hingga kepala. Tentu saja seketika badan saya terasa sangat sakit dan perih. Tidak ada ekspresi dan respon lain selain menjerit, dan mengaduh, berusaha menahan nyeri.

Meski terkesan begitu menyakitkan, anehnya rasa sakit sehabis dipukul tidak bertahan lama dan berbekas. Sekitar 10 menit setelah tuntas dibalur, saya pun langsung buang air dan muntah-muntah. Selain keluar dari pori-pori kulit, racun akan keluar melalui mulut dan feses. Sesudahnya, badan terasa begitu ringan dan enteng.

Selama 4 hari di rumah Ibu Gretha, saya dibalur sebanyak 2 kali, plus terapi totok yang dilakukan Mas Sidiq. Sebetulnya bukan totok, tetapi hanya dipegang-pegang dengan jari tangan, tentu saja, menggunakan tenaga dalam. Rasanya bukan main sakitnya, seolah tubuh ditusuk-tusuk dengan pisau.

Di antara rasa sakit untuk bisa sehat, hiburan saya selama di Sukorejo adalah menikmati pesona alamnya yang sejuk dan indah. Dari lantai dua kediaman Bu Gretha, saya bisa menyaksikan indahnya panorama pegunungan pada pagi dan sore hari. Selain alam, makanan di Sukorejo juga tak kalah enaknya. Mungkin ini dikarenakan oleh bahan-bahan masakan yang alami dan segar.

Perjalanan pulang dari Sukorejo menjadi berbeda buat saya. Selain belajar banyak hal dari obrolan dengan Bu Gretha mengenai apa pun, saya juga merasakan memiliki jiwa dan raga yang lebih sehat dari sebelumnya.

Membelah perbukitan, kebun cengkeh, karet, persawahan, dan hutan jati, Sukorejo memang menjadi tempat yang paling cocok untuk mereka yang mencari atmosfir berbeda dari hiruk-pikuk kota Jakarta. Tidak hanya memberikan ketenangan, tetapi juga pesona alam dan wisata kuliner.

Selain di Sukorejo, Rumah Balur juga terdapat di Malang, Kudus dan Jakarta.