Toraja: Negeri dengan Orang Mati yang Abadi

Perjalanan dari Makassar saya tempuh selama delapan jam dengan bis menuju Rantepao di Toraja Utara. Ini bukan perjalanan pertama saya dengan bis malam yang berkursi ekstra besar di mana saya bisa membaringkan tubuh secara lurus. Tetapi setiap perjalanan ke Toraja Utara selalu membuat saya ingin kembali. Dan setiap itulah saya kadang merasa bersalah karena belum juga saya bagi cerita tentang Toraja Utara di sini.

Sebelum terpecah menjadi Tanah Toraja dan Toraja Utara, pada awalnya satu kabupaten ini kita kenal dengan hanya sebuah nama: Toraja. Seorang kawan memberi tahu saya kala itu kata “Toraja” seharusnya dibaca “Toraya” - sebuah pelafalan yang terlanjur populer di saat peralihan ejaan yang disempurnakan pada rezim sebelumnya. Nama itu pun sesungguhnya adalah sebutan yang diberikan Belanda dari bahasa Bugis kepada mereka - Masyarakat Adat Toraja - yang berdiam di negeri di atas (dataran tinggi).

Potret tentang Toraja telah menarik banyak perhatian wisatawan dari dalam dan luar negeri, bahkan pada masa kolonial. Bukan hanya lansekap alam dataran tinggi yang dipenuhi perbukitan karst, tetapi pula tradisi dan budaya. Di belahan mana pun, pegunungan atau perbukitan mungkin tampak serupa. Tetapi tidak di Toraja. Di sanalah kita dapat menemui goa atau celah yang sengaja dibuat sebagai rumah peristirahatan terakhir bagi para leluhur dan mereka yang mati. Perkuburan kuno yang menjadi tempat melepas tubuh untuk abadi. Bagaimana Orang Toraja memberikan penghormatan pada mereka yang telah mati adalah tradisi yang mewarnai hampir seluruh ritual dan seni-budaya. Sebuah tradisi yang mengakar pada ajaran Aluk To Dolo sebagai agama awal di masa jauh sebelum kedatangan Kristen yang dibawa para misionaris Belanda. Orang Toraja tak mengenal surga dan neraka. Tak ada penghakiman untuk kehidupan setelah kematian. Dan pesta kematian Rambu Solo adalah salah satu perayaan terbesar yang dirayakan dengan penuh kemeriahan dan sakral.

Banyak dari kita mungkin ingin sekali atau berencana ke Toraja, maka pada tulisan ini, saya langsung saja fokus berbagi informasi tentang tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi selama melakukan perjalanan ke Kabupaten Toraja Utara.

Ke’te’ Kesu’

Tempat ini adalah ikon Toraja yang terletak tak jauh dari pusat kota di Rantepao. Sebuah kompleks yang dipenuhi jejeran tongkonan(rumah besar) dan alang (lumbung padi) yang berusia amat tua. Berjalan sekitar 100 meter ke belakang kompleks tongkonan,adalah sebuah bukit yang menjadi kuburan tua, termasuk bangsawan. Kita dapat berjalan di sisi bukit dengan tangga semen dan melihat langsung dari jarak dekat sekumpulan peti, patung, dan sisa tengkorak maupun tulang belulang mereka yang telah mati. Peti-peti tua bahkan masih bisa dilihat tergantung di bagian atas dan ceruk tebing yang curam. Selain atraksi tersebut, Ke’te’ Kesu’ juga dikenal sebagai penghasil ukir kayu khas Toraja. Jadi jangan lupa untuk sekalian berbelanja karena harga ukirannya relatif lebih murah dibandingkan tempat lain di Toraja.

Londa

Berbeda dengan Ke’te’ Kesu’, Londa memiliki daya tarik sebagai kawasan pemakaman tua dengan nuansa yang berbeda. Londa adalah kuburan goa kapur kuno milik Lengkong dan To Pa’pak (keturunan Tandilino atau orang pertama yang membuat erongatau peti mati kayu berukir). Untuk memasuki Londa, kita harus ditemani pemandu yang akan menunjukkan jalan memasuki goa dengan lampu petromaks sekaligus memberikan penjelasan karena para pemandu yang ada adalah keturunan langsung atau bagian dari keluarga dari mereka yang dikubur. Memasuki lorong-lorong goa, nuansa udara memang terasa sejuk, namun bisa jadi bercampur aduk karena kita begitu dekat dengan sisa-sisa jasad atau barang-barang mereka yang telah abadi.

Liang Pia

Berjarak sekitar 6 km di sisi selatan Rantepao, kita menuju Liang Pia. Sekilas mungkin tak ada yang menarik selain pepohonan besar dan area yang dipenuhi semak. Tetapi lebih jeli memperhatikan batang utama pohon beringin yang ada, kita akan menemukan lubang-lubang yang ditutup tirai berupa ijuk hitam. Di lubang itulah Orang Toraja dahulu memakamkan bayi-bayi. Tak seperti mereka yang dikuburkan di batu atau bukit kapur, para bayi yang belum memiliki gigi susu atau belum bisa berjalan, masih dianggap suci dan akan amat baik untuk dikubur di pohon yang masih hidup.

Bori’ Kalimbuang

Toraja adalah salah satu masyarakat dengan peradaban tua di bumi. Di banyak tempat, tersebar peninggalan batu megalitik/menhir yang disebut dengan simbuang. Salah satu lokasi terbaik untuk melihat simbuang dengan penataan yang masih asli adalah Bori’ Kalimbuang yang hanya berjarak 5 km sebelah utara Rantepao di Kec. Sesean. Bori’ Kalimbuang terdiri dari kuburan batu atau liang dan lapangan terbuka untuk ritual kematian (rante).

Lombok Parinding

Berbeda dengan Ke’te’ Kesu’ atau Londa, Lombok Parinding memiliki kekhasan karena di kuburan tua yang diduga telah ada sejak abad ke-7 Masehi inilah kita dapat melihat begitu banyak erong (peti mati) tua yang relatif masih utuh. Lombok Parinding berstatus Cagar Budaya dan berjarak sekitar 7 km di sebelah utara Rantepao.

Sa’dan To’ Barana

Bosan dengan melulu soal kuburan? Jangan lupa mampir ke Sa’dan To’ Barana sebab di kompleks tongkonan dan alang tua inilah kita akan menemukan sentra pengrajin tenun toraja. Telah sejak dulu kawasan Sa’dan menjadi lembang (desa) penghasil tenun dengan kualitas terbaik. Memang Sa’dan bukan satu-satunya, tetapi di Sa’dan-lah gerak pertumbuhan dan perkembangan tenun yang hingga kini masih terus menggeliat. Kala saya berkunjung, saya beruntung bisa jumpa dengan Nenek Panggau yang mengaku berusia 88 tahun - tapi saya kira ia lebih tua dari itu. Ia adalah salah satu penenun tertua yang masih memiliki kemampuan memilin kapas menjadi benang. Teknik yang tampak amat sederhana, namun sesungguhnya memiliki level kesulitan yang tinggi. Di tempat inilah kita bisa membeli tenun langsung dari para penenun dan melihat proses pembuatannya.

Batutumonga

Menuju dataran tinggi di lereng Gunung Sesean, perjalanan terasa begitu berbeda. Kita akan menyaksikan hamparan persawahan dan batu-batu besar berlubang di pinggir jalan yang dijadikan kuburan orang mati. Jalanan beraspal sempit dan berlika-liku. Selain area persawahan, pemandangan lain berupa tongkonan dan alang juga akan menjadi tampilan umum yang memaniskan perjalanan. Batutumonga amat terkenal di kalangan turis Eropa sebagai lokasi treking. Tapi bagi yang tak menyukai aktivitas itu, tak perlu khawatir. Di bagian puncak lereng gunung kita dapat menikmati sebuah pemandangan spektakuler berupa kawasan persawahan yang secara masif dan dikelilingi oleh perbukitan yang hijau sambil menyeruput kopi. Dari ketinggian, lansekap alam Toraja Utara adalah sebuah potret yang amat menyejukkan dan membuat kita sejenak rileks.

Desa Wisata Sesean Matallo

Ketika tiba di Kec. Sesean, jangan lupa untuk sekalian mampir sejenak ke Desa Wisata Sesean Matallo. Selain menyajikan kekhasan lembang yang masih kental dengan nuansa Toraja yang asli, di Sesean Matallo inilah terdapat kebun kopi terbaik dan menyajikan pemandangan sisi lain dari Toraja. Saat ini, desa tengah mengembangkan diri melalui pemanfaatan pariwisata melalui konsep desa wisata. Maka pilihan untuk singgah di desa ini sekaligus menjadi dukungan bagi para petani kopi dan warga desa mengembangkan pariwisata berbasis komunitas. Di Sesean Matallo, kita bisa mampir dan izin untuk masuk ke dalam tongkonan warga dan melihat proses pembuatan tradis lukis rintang pada kain (Ma’a dan Sarita) serta belakangan adalah pengembangan batik bermotif Toraja.

Pasar Bolu

Atraksi menarik juga bisa kita temukan di pusat kota. Pasar Bolu adalah sebuah pasar tradisional yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Saya terus terang menyukai pasar tradisional dan kerap menjadikannya tempat yang layak dikunjungi wisatawan untuk melihat keunikan rasa yang asli dan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal: berbelanja sayur dan rempah, termasuk lada katokkon (cabai toraja). Keunikan lain dari Pasar Bolu adalah satu hari dalam perhitungan setiap enam hari (secara bergilir setiap minggunya), terdapat lokasi lapangan khusus untuk menjual kerbau (tedong). Kerbau adalah salah satu media utama dalam pesta kematian. Pada pesta kematian bangsawan, bisa jadi puluhan kerbau akan dipotong, termasuk di antaranya adalah tedong belang (kerbau “bertanda” dan bercorak belang) yang harga satu ekornya bisa mencapai miliaran rupiah!

Tentu saja ada lebih banyak lokasi atau tempat lain yang menarik untuk coba dikunjungi. Selain rekomendasi di atas, kita juga bisa berkunjung ke kawasan perkebunan kopi yang dikenal sebagai penghasil arabika terbaik di Awan. Dinamakan “Awan” karena ketika di atas, kita bisa melihat awan di bawah kaki kita. Ada juga Palawa’ di Sa’dan yang merupakan perkampungan tradisional, kompleks tongkonan dan alang tua di Buntu Pune di Kec. Sanggalangi, goa dengan dinding berukir di Lo’ko’ Sura’ di Kec. Kapala Pitu, Benteng Batu di Kec. Baruppu’, Kolam Alam Limbong yang berjarak 3 km dari Rantepao, mencoba rafting di Kec. Denpina, dan banyak lagi yang bisa dilakukan di Toraja Utara. Jadi usai mengunjungi tempat-tempat yang direkomendasikan, cobalah menghabiskan sisa waktu yang ada dengan berjalan tanpa tujuan dan sekadar berkeliling. Mungkin akan bisa ditemukan tempat menarik yang tak selalu diulas atau luput dari perhatian banyak orang. Mungkin akan ada kejutan atau pengalaman unik yang bisa jadi justru berkesan dari menikmati ketersesatan.

Get There

Dari Makassar menuju Toraja, ada banyak bis malam yang akan mengantarkan kita menuju Rantepao di Toraja Utara. Dari bandara, kita bisa naik taksi menuju Terminal Daya di mana tersedia banyak jasa bis Makassar-Toraja dengan tarif berjenjang sesuai dengan fasilitas bis, mulai dari harga Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu yang paling mewah dengan kursi pijat. Bis malam akan berangkat sekitar pukul 08.30 malam dan akan tiba di Rantepao sekitar jam 6 pagi. Selama berada di Toraja, kita bisa menyewa mobil dengan supir atau ojek dengan pemandu untuk berkeliling ke berbagai lokasi. Di sekitar kota terdapat angkutan umum atau sitor (becak motor), namun tak bisa menjangkau lokasi-lokasi atraksi utama yang berada cukup jauh dari pusat kota di Rantepao.