Yang Tersembunyi Antara Malang dan Lumajang

Lama sudah kami mendengar cerita tentang sebuah air terjun yang spektakuler di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Dan selama itu pula kami hanya melihat keindahannya dari foto-foto yang berseliweran di media sosial. Kebanyakan adalah foto selfie dengan latar belakang sang air terjun.

Cantik dan megah. Begitu yang terlintas dalam benak saya ketika melihat potret Tumpak Sewu yang membentang bagai raksasa dengan kucuran air yang tumpah dengan derasnya. Keinginan untuk mengunjunginya pun kian tak tertahan. Semakin saya melihat foto-foto dengan latar Air Terjun Tumpak Sewu itu, kekaguman saya seperti berubah jadi rindu walau perkenalan pertama saya dengan Tumpak Sewu hanya melalui dunia maya. Kalau meminjam judul novel terbaru karya Eka Kurniawan, “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas.” Semakin saya melihat foto-fotonya di media sosial, saya rasanya jadi ingin segera membayar rindu.

Kalau dilihat dari awal popularitasnya sebagai destinasi wisata, Tumpak Sewu mulai dikenal banyak orang pada kisaran tahun 2015 lalu. Di tahun-tahun itulah saya perhatikan foto-foto Air Terjun Tumpak Sewu tiba-tiba mendadak ramai di Internet. Lalu, ke mana saja Tumpak Sewu selama ini? Sebelumnya, keindahan air terjun tersebut tampaknya tersembunyi atau memang sengaja disembunyikan untuk suatu alasan. Padahal, letaknya relatif tak jauh dari destinasi wisata yang lebih dulu terkenal, yakni Gua Tetes. Terkait dengan hal tersebut, ada dua cerita yang berkembang di masyarakat. Tumpak Sewu, katanya, sengaja disembunyikan karena adanya konflik kepentingan pengelolaan antara dua wilayah. Sementara cerita lain, mengungkapkan kekhawatiran penduduk setempat akan rusaknya keindahan Tumpak Sewu jika dijadikan sebagai destinasi wisata seperti halnya Gua Tetes yang kini begitu ramai dikunjungi turis. 

Awal Agustus 2018, dengan segala upaya, saya sebisa mungkin menyediakan waktu terbaik untuk berkunjung ke Tumpak Sewu. Kali ini saya tidak jalan-jalan sendirian, melainkan bersama anak-anak muda dari komunitas Dalaz Adventure di Malang. Kami berangkat dari Malang dengan rute melewati Bululawang-Turen-Dampit-Tirtoyudo dan Ampelgading. Dengan mobil pribadi, jarak tempuh dapat dilalui sekitar tiga jam. Kalau naik angkutan umum berupa bus Malang-Lumajang melalui Terminal Hamid Rusdi atau pertigaan di Terminal Gadang, bisa lebih lama lagi karena bus akan lebih sering berhenti atau ngetem menunggu penumpang.

Selama perjalanan dari Malang sampai Turen, pemandangan pada kanan-kiri jalan kebanyakan dihiasi dengan panorama berupa perkampungan dengan jalan yang datar-datar saja. Namun, ketika akan memasuki Dampit sampai Ampelgading, pemandangan menjadi berbeda. Puncak Semeru mulai samar terlihat. Jalan raya juga berkelok dan naik-turun dengan hamparan sawah di sisi jalan. Saya juga dapat menikmati panorama perkebunan kopi, pisang, dan singkong saling berebut menampakkan kehijauannya. Daerah Malang bagian selatan ini memang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Jawa Timur, yakni kopi dengan sebutan “Amstirdam.” Tak lain adalah sebuah singkatan dari nama tiga daerah: Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit.

Menjelang siang, kami tiba di Desa Sidomulyo - desa di mana Air Terjun Tumpak Sewu dihamparkan. Sebenarnya, Air Terjun Tumpak Sewu terbagi di dua desa yang berbeda: Desa Sidomulyo berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Desa Sidorenggo berada di wilayah Kabupaten Malang. Kedua desa tersebut mempunyai akses masuk sendiri-sendiri ke Tumpak Sewu. Di Desa Sidorenggo nama Tumpak Sewu berganti menjadi Coban Sewu. Namun sayang, saat kami datang, akses melalui Desa Sidorenggo sedang ditutup. Menurut penduduk setempat, penutupan dilakukan karena beberapa waktu lalu ada pengunjung yang sedang selfie tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Banyak pengunjung menilai bahwa akses masuk melalui Desa Sidorenggo cukup ekstrim. Lokasi di mana pengunjung terpeleset itulah yang menjadi lokasi favorit untuk selfie yang banyak tersebar di media sosial. Duh, lagi-lagi saya merasa prihatin karena banyak pengunjung masih kurang peduli dengan keselamatan diri sendiri saat berwisata.

Lokasi Desa Sidomulyo berada persis di pinggir Jl. Raya Malang-Lumajang. Di desa itu semua fasilitas umum penunjang pariwisata tersedia, mulai dari tempat parkir, toilet umum, warung makan, hingga tempat ibadah berupa mushola. Dari tempat parkir, kami berjalan menembus perkebunan salak pondoh untuk menuju Pos Pandang Panorama. Salak pondoh adalah hasil perkebunan utama Desa Sidomulyo. Karena sudah ada di tempat asalnya, maka saya tak menolak untuk bisa mencicip buah berkulit sisik keras itu. Rasanya manis dan renyah walau ukurannya kecil. Di desa kita bisa membeli salak melalui petani, bahkan bisa menyaksikan langsung salak pondoh dipotong dari pohonnya.

Usai menepi sejenak untuk menikmati salak, saya dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan. Kali ini, jalan yang kami hadapi menurun cukup curam dan berkelok. Tetapi bagi turis yang merasa lelah dan sudah tak sanggup melanjutkan, tak usah khawatir karena terdapat tukang ojek yang siap mengantar. Lokasi Pos Pandang Panorama yang sedang kami tuju merupakan tempat yang harus dikunjungi ketika kemari karena dari titik itulah kami dapat menyaksikan sisi lain Tumpak Sewu dari atas. Beberapa meter sebelum kami tiba, kami pun tetap waspada karena terdapat jalan setapak turun menuju dasar Air Terjun Tumpak Sewu.

Saya begitu tertegun saat menyaksikan kemegahan Tumpak Sewu di depan mata. Tebing tinggi berwarna hijau yang panjangnya berbentuk hampir setengah lingkaran, lereng-lerengnya dilapisi air yang mengalir seperti barisan tirai putih yang menari-nari terkena hembusan angin.  Dari dasar air terjun, tak henti-hentinya kabut naik ke atas dan menambah suasana Tumpak Sewu semakin magis. Hanya satu air terjun yang airnya berasal dari aliran sungai, yakni air terjun yang berada di tengah-tengah dan berwarna agak keruh. Sementara barisan air terjun lainnya, air muncul dari sela-sela tebing dengan warna yang bening jernih. Yang membuat air terjun Tumpak Sewu spektakuler, adalah jumlah, panjang, dan tingginya. Jumlahnya yang banyak berderet sepanjang hampir 500 meter dengan tinggi menjulang mencapai lebih dari 180 meter. Tampak gagah dan megah!

Keindahannya tidak berhenti sampai di sini, jika ingin yang lebih menantang, kami harus turun. Butuh keberanian dan tenaga tambahan untuk turun ke dasarnya. Jalurnya adalah jalan setapak yang bisa dibilang sangat curam. Berupa tanah basah dan tangga-tangga dari bambu. Beberapa ruas jalur bahkan memiliki sudut kemiringan hampir 90 derajat, sehingga untuk melewatinya, harus dibantu dengan tali yang sudah disediakan oleh pengelola. Pada jalur terakhir mendekati dasar tebing, terdapat jalur yang juga dilewati air. Dari jalur ini, kami bisa melihat jalur lain di tebing seberang yang merupakan akses turun jika melalui Desa Sidorenggo. Terlihat memang jalurnya lebih curam dan ekstrim. Ketika sampai di dasar tebing, itulah aliran Sungai Glidik. Hembusan butiran air yang lembut akan langsung menyapa. Dan suara gemuruh air terjun terdengar lebih nyata. Semakin mendekati air terjun, pakaian kami semakin basah. Pelangi kadang tampak muncul berganti-ganti tempat. Beberapa air terjun yang awalnya satu, ketika sampai ke dasar, membentur gundukan tebing yang lebih rendah, sehingga airnya terpencar menjadi beberapa aliran.

Sepertinya benar apa yang banyak disampaikan oleh orang-orang yang pernah ke sini, bahwa perjuangan berat menuruni tebing akan terbayar tuntas saat mata kita sudah head to head dengan wajah kemegahan Tumpak Sewu. Kali ini, ia tak hanya terlihat megah, tapi dapat pula terlihat cantik dan menawan pula!