Festival Peh Cun, Pecinan, dan Tradisi Makan Bacang

Bagi masyarakat Tionghoa dan peranakan di Nusantara, bulan Juni merupakan momen yang sakral dan penuh dengan kemeriahan. Tepatnya pada bulan kelima pada tanggal lima, dirayakan sebuah ritual penting yang akrab disebut sebagai Festival Peh Cun. Dalam dialek Hokkian, “Peh Cun” berasal dari kata “pachuan” yang artinya mendayung perahu. Kita kemudian mengenalnya sebagai Festival Perahu Naga atau Festival Bacang. Keterkaitan Peh Cun itu sendiri dengan perahu naga dan makanan bacang, bukanlah tanpa sebab.

Legenda bermula dari Menteri Negara Chu bernama Qu Yuan (339-277 SM) yang begitu dihormati dan disegani oleh rakyat. Namun, ketidaksukaan keluarga kerajaan, berdampak pada pengusiran dirinya meninggalkan negara. Tak ingin pergi meninggalkan rakyat yang begitu dicintainya, ia lantas melompat ke dalam sungai pada tanggal lima bulan lima. Mengetahui hal ini, Suku Yue di Tiongkok bagian selatan pun bergegas mendayung perahu tradisional (berbentuk perahu naga) mencari jenazah Sang Menteri sambil membuang nasi yang dibungkus daun (bacang) bagi naga penghuni sungai sebagai permohonan agar naga tak memakan tubuh Menteri Yuan. Jenzah tak pernah ditemukan. Ritual pun terus dilakukan setiap tahun sejak masa Dinasti Han. Mereka percaya bahwa Sang Menteri akan terus hidup menjaga mereka. Tradisi inilah yang dibawa oleh masyarakat dari Tiongkok bagian selatan ketika mereka datang ke Nusantara. Ramai-ramai lomba perahu naga dan perayaan makan bacang diselenggarakan di berbagai tempat.

Akulturasi Tionghoa-Nusantara di Jakarta

Kemeriahan Peh Cun juga ada di Jakarta, tepatnya di kawasan Pecinan, Kota Tua atau Glodok sebagai salah satu Kampung Cina tertua yang bersinggungan langsung dengan pusat kota Batavia pada masa kolonialisme.

Kedatangan dan permukiman etnis Tionghoa di Jakarta memiliki cerita historis yang cukup panjang dan sangat penting terkait proses perkembangan Kota Jakarta. Keberadaan orang-orang asal Tiongkok ini bahkan telah lebih dulu ada jauh sebelum kehadiran bangsa Eropa, khususnya Belanda.

Pada masa kolonialisme, peran warga etnis Tionghoa semakin strategis di Batavia, terutama bagi perdagangan. Berabad-abad berbaur bersama masyarakat lokal, kemudian menciptakan sebuah akulturasi yang indah dan unik, baik di antara masyarakat lokal maupun peranakan. Berbagai periode sejarah telah dilampaui. Menyisakan tidak hanya serangkaian kisah, melainkan juga berbagai artefak sejarah-budaya yang saat ini masih bisa kita nikmati.

Beberapa waktu lalu, saya menelusuri jejak warisan sejarah-budaya komunitas peranakan Tionghoa dengan mengunjungi berbagai klenteng (wihara) dan situs lain yang berumur ratusan tahun yang menjadi bukti sekaligus representasi dari corak kebudayaan Tiongkok di Jakarta. Itu tentu bukan yang pertama, tetapi berkali-kali mengunjungi Pecinan, kian terasa ada beragam hal yang selalu menarik untuk dipelajari dan dikunjungi kembali.

Dari Museum Bank Mandiri, kami memulai perjalanan menuju perhentian pertama, yaitu Rumah Perkumpulan Pengusaha Tembakau yang memadukan arsitektur oriental dan art-deco. Rumah bercat hijau ini masih asli dan sempat beberapa kali menjadi lokasi shooting film-film laga Hong Kong. Sebut saja beberapa nama aktor Hongkong yang kini telah masuk industri perfilman Hollywood. Tak jauh dari sana, kami menghampiri Rumah Tusuk Sate yang berada tepat di persimpangan jalan. Uniknya, rumah dengan desain khas Tiongkok ini menyimpan kearifan kuno. Pada atap depannya, terdapat sebuah guci yang dipercaya mampu menangkal kesialan atau keburukan (bad luck) pada rumah dengan letak “tusuk sate.” Segala kesialan tidak akan masuk ke dalam rumah, namun diserap ke dalam guci.

Kami juga mampir di Rumah Keluarga Souw, seorang ningrat dengan jabatan “Kapiten” (1619) yang bertugas mengawasi tempat perjudian, pembuatan uang, hingga perdagangan candu di Batavia. Keramaian lalu-lalang kendaraan dan jejeran ruko, kami temui saat memasuki Jl. Toko Tiga. Di sinilah dahulu pusat perdagangan kota yang dikelola oleh warga Tionghoa dan peranakan, berada.

Sayangnya, kini sebagian besar rumah-rumah kuno harus hilang satu per satu akibat pembangunan infrastruktur kota serta modernitas. Seolah berjuang dengan waktu. Berbagai warisan sejarah-budaya Pecinan tersebut kini terhimpit oleh toko-toko baru, pusat perbelanjaan, dan kemacetan kota.

Memasuki Jl. Kemenangan III, kami menyinggahi Wihara Tanda Bhakti yang dibangun tahun 1650. Pada hari itu, wihara diramaikan oleh umat yang hendak berdoa di Hari Peh Cun. Warna merah tampak kental mendominasi. Tempat ibadah yang terletak di pinggir kali kecil ini, didedikasikan kepada Dewa Pengampun, dan telah mengalami beberapa kali renovasi dengan mempertahankan bentuk aslinya.

Wihara kedua yang kami jumpai, terletak di jalan yang berada di belakang Wihara Tanda Bhakti, yaitu Toasebio yang kini dikelola oleh Yayasan Vihara Dharma Jaya. Didirikan sekitar abad ke-18, wihara ini merupakan peninggalan Dinasti Ming di Indonesia. Nama “Toasebio” berasal dari kata “toase” yang berarti konsul dan “bio” bermakna sebagai tempat ibadah. Wihara yang dibangun oleh Khau Chiang Kun ini menjadi saksi bisu permberontakan warga etnis Tionghoa kepada pemerintahan kolonial di Batavia atas tekanan yang diberikan oleh pejabat Hindia-Belanda terhadap mereka. Bertepatan dengan pembantaian (massacre) warga Tionghoa tahun 1740, wihara ini ikut dibakar Belanda. Sekarang, Wihara Toasebio tidak hanya menjadi lokasi spiritual, tapi pula pusat kegiatan seni dan budaya masyarakat peranakan di Pecinan.

Masih di jalan yang sama, kami menemui Gereja Santa Maria de Fatima yang bangunannya sendiri telah ada sejak abad ke-17. Dahulu merupakan kediaman Kapiten yang kemudian dibeli oleh seorang pastur tahun 1950 untuk mengajarkan agama Katolik kepada orang-orang Hoakiau di sekitarnya. Tak seperti gereja pada umumnya, Gereja Santa Maria de Fatima masih mempertahankan corak aslinya, sehingga tampak lebih mirip wihara atau rumah (tanpa ornamen) ketimbang gereja. Pemilihan nama diambil karena terkait pada penampakan Bunda Maria seperti yang tergambar pada replika Gua Maria. Hingga sekarang, gereja tua ini masih mempertahankan arsitektur khas Fukien atau Tiongkok Selatan, dan menjadi pusat aktivitas masyarakat peranakan umat Katolik.

Wihara terakhir yang kami kunjungi adalah yang berusia lebih dari 400 tahun serta menjadi salah satu yang terbesar dan tertua di Indonesia. Keindahan Wihara Dharma Bhakti begitu mencolok dengan berbagai ornamen naga pada atapnya, tak lupa sepasang patung liong menyambut kami di pintu masuk. Harta berharga yang tersimpan pada wihara ini adalah patung dewa-dewi (dan leluhur) serta benda-benda lain pada altar persembahan yang diperkirakan sebagai relik pertama yang dibawa oleh kaum Tionghoa ketika pertama kali melakukan migrasi ke Pulau Jawa, khususnya Sunda Kelapa. Saat ini, Wihara Dharma Bhakti masih menjadi titik pusat peringatan acara Waisak bagi masyarakat peranakan di Jakarta.

Oiya, tentang bacang sendiri adalah makanan yang sangat mudah ditemukan di Pecinan atau sekitaran Glodok. Favorit saya, adalah para penjual bacang di Gang Gloria (tak jauh dari Kedai Kopi Takkie). Bacang juga mudah ditemukan di sekitar Jl. Petak Sembilan dan toko-toko kue sekitarnya. Nama “bacang” (bakcang) berasal dari dialek Hokkian, kata “bak” berarti daging. Pada kenyataannya, ada juga kreasi bacang berisi sayuran yang sama-sama dibungkus daun. Mirip lontong isi memang, tetapi beda bentuk karena bacang berukuran segitiga dan beda pula isiannya.

 

Makan satu bacang saja sudah terasa kenyang. Kalau kamu khawatir dengan bacang yang tidak halal (berisi daging babi), sebaiknya jangan sungkan untuk tanya bacang isi daging sapi atau ayam sebelum mencicipnya.

Kemunculan Kembali Sang “Naga” yang Tertidur

Terik matahari yang panas di siang hari, tak membuat saya mengeluh. Keluar dari kawasan Pecinan menuju Jl. Gajah Mada, saya sampai di perhentian terakhir: Candra Naya. Bangunan bersejarah tersebut telah dibuka untuk publik secara resmi bertepatan dengan diselenggarakannya Perayaan Peh Cun/Festival Bacang beberapa tahun lalu oleh pengelola (kini kawasan apartemen).

 

Candra Naya yang didirikan abad ke-19 (sekitar tahun 1807 dan 1867) merupakan sebuah mahakarya. Kompleks bangunan tempat tinggal dan kantor ini didirikan oleh tuan tanah keluarga Khouw Tian Sek untuk menyambut kelahiran anaknya Khouw Tjeng Tjoan (1808), yang setelahnya mewarisi rumah tersebut kepada Khouw Kim An (putra Khouw Tjeng Tjoan), seorang Tionghoa yang menjadi pengusaha dan bankir. Tahun 1905, ia diberi pangkat “Letnan” oleh Belanda, tiga tahun kemudian menjadi “Kapiten,” dan pada 1910 menjabat sebagai “Mayor” (pangkat tertinggi).

Tidak hanya memiliki desain arsitektur yang luar biasa megah dan indah, Candra Naya juga sarat akan makna sejarah. Setelah perang, sekitar tahun 1946, Candra Naya memainkan peran sosial terpenting sebagai tempat berkumpul, berpolitik, melayani orang sakit, mendidik, perkumpulan olahraga, dan banyak lagi. Di sinilah cikal-bakal berdirinya Rumah Sakit Sumber Waras dan Univ. Traumanagara.

Menyandang status sebagai “Bangunan Cagar Budaya,” Candra Naya sempat memasuki periode kritis yang membuatnya terlantar dan diabaikan. Pada Perayaan Peh Cun lalu, Candra Naya telah resmi dipugar dan dibuka untuk publik yang sekaligus menandai rampungnya pembangunan apartemen (sebagai pengelola) yang menghimpit Candra Naya. Tentu saja, sambutan positif banyak diberikan kepada masyarakat yang menanti kebangkitan Sang Naga yang lama tertidur ini.

Seperti halnya kecintaan Suku Yue terhadap Sang Menteri, Peh Cun tahun ini menjadi bentuk kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur. Layaknya mitos Peh Cun itu sendiri, sebuah bentuk kekaguman dan kecintaan, mungkin saja berdampak pada kesejahteraan dan perlindungan. Inilah yang dipercaya sebagai energi positif yang disebarkan Menteri Qu Yuan dalam melindungi rakyatnya sebagai timbal-balik cinta-kasih yang tulus. Kita semua berharap, warisan sejarah-budaya yang di Pecinan, masih bisa terus dinikmati bersamaan dengan dilangsungkannya Perayaan Peh Cun setiap tahun. Dan tentu saja, jadi ajang untuk kita menikmati bacang!