Di Balik Oleh-Oleh Kekinian Kreasi Selebritis

Fenomena munculnya kue-kue dengan nama selebritis di balik suatu merek, memang unik. Menariknya dari fenomena tersebut, adalah kehadiran mereka di daerah-daerah yang bukan daerah biasa, melainkan daerah-daerah yang telah dikenal sebagai destinasi pariwisata. Sebuah akun media sosial bertema hiburan selebritis, yakni @lambe_turah, pernah merilis daftar nama-nama selebritis tersebut yang jumlahnya ternyata tak bisa dibilang sedikit - sekitar 20 selebritis. Sebagian di antaranya adalah Malang Strudel milik Teuku Wisnu, Princess Cake-nya Syahrini di Bandung dan Bogor, Surabaya Patata milik Oki Setiana Dewi, Surabaya Snow Cake kreasi Zaskia Sungkar, Jogja Scrummy oleh Dude Harlino, Cirebon Kelana milik Ussy Sulistiawaty, Savana Cake oleh Fitri Carlina di Banyuwangi, Makassar Baklava oleh Irfan Hakim, Queen Apple dari Farah Quinn di Malang, Medan Napoleon oleh Irwansyah, dan - yang terbaru - Mande Cake oleh Rossa di Padang.

Menurut beberapa foodies yang sudah mencoba, berpendapat bahwa umumnya kue-kue tersebut terbuat dari bahan dasar yang sama, yakni adonan keik dan pastri. Namun, yang membuat mereka berbeda satu sama lain, terletak pada modifikasi topping. Maka, tak heran juga kalau kue-kue yang dibuat khas sebagai oleh-oleh dengan perpaduan branding nama besar orang terkenal dan nama daerah masing-masingnya itu punya rasa dasar yang tidak jauh berbeda satu dengan lainnya. Sebagian kalangan bisa berpendapat kalau kue-kue itu mungkin tak terlalu istimewa dari segi rasa. Bahkan, ada netter yang bilang seandainya kue-kue tersebut dipotong kecil-kecil, kemudian dijejer dan diminta untuk mencicip, hampir bisa dipastikan, tidak ada yang bisa membedakan mana yang Medan Napoleon, Surabaya Snow Cake, Surabaya Patata, atau Malang Strudel.

Tapi, di balik kritik soal kreativitas pada rasa, mereka ternyata laris manis. Dengan embel-embel sebagai “kue kekinian” dan nama selebritis, kue-kue tersebut selalu dibanjiri pelanggan. Bahkan, merek tertentu sukses membuat pembeli untuk antri. Strategi pemasaran dengan mengandalkan kekuatan media sosial dan basis pada fans sang selebritis, menjadi andalan!

Yang menarik, jika kita amati kue-kue tersebut, kebanyakan dijual di luar Jakarta dan berada di kota-kota wisata. Siapa yang bisa menyangkal kalau kota-kota tersebut, seperti Malang, Surabaya, Bandung, Jogja, Medan, Makassar, Banyuwangi, dan Padang adalah kota-kota yang  banyak dikunjungi oleh wisatawan. Tujuannya jelas, sebagai kue-kue yang diposisikan sebagai oleh-oleh khas daerah. Penggunaan nama daerah sebagai brand merupakan strategi pemasaran untuk semakin menguatkan bahwa kue-kue tersebut layak untuk dijadikan oleh-oleh khas daerah. Tetapi ironisnya, alih-alih sebagai makanan khas daerah, kue-kue tersebut justru tidak memiliki hubungan, baik itu material/bahan maupun cita rasa, dengan konten lokal atau keunikan daerah. Kue yang mereka jual umumnya berjenis keik dan pastri yang tentu saja bukan makanan asli Indonesia. Tampilannya pun punya kesan modern dan mewah yang tak mencirikan nuansa daerah. Memang tidak ada yang salah jika sebuah oleh-oleh bukanlah produk asli suatu daerah. Tapi, banyak kalangan bisa saja mengkritik soal kepatutan atau etika tentang keterkaitan suatu produk yang hendak mengangkat aspek lokal suatu daerah. Namun, sebagian kalangan yang lain juga bisa berpendapat lain. Bahwa mungkin saja yang mereka jual itu bukanlah makanan khas daerah tersebut untuk menegaskan posisinya yang tidak ingin bersaing (head to head) dengan oleh-oleh atau pengusaha lokal yang sudah lebih dulu berkembang. Karena bisa jadi, jika dihadapkan pada merek lokal yang telah lebih dulu dikenal, justru bisa mematikan usaha lokal atau membuat merek-merek selebritis itu tak laku. Siapa yang tahu?

Kita mungkin sulit menerka apa yang ada dalam pikiran para selebritis tersebut pada awalnya untuk menjual kue-kue yang nyaris sama dan dilekatkan dengan nama-nama daerah itu. Tapi satu hal yang jelas, motifnya adalah bisnis yang mencoba menggali keuntungan dengan memanfaatkan nama besar mereka untuk mempengaruhi penggemar menjadi pembeli setia. Apalagi, ada juga “selentingan” dari para netizen bahwa ternyata kue-kue selebritis tersebut berada dalam satu manajemen yang sama. Banyak netizen beranggapan bahwa usaha kue selebritis ini akan mematikan usaha lokal. Apakah benar demikian? Tampaknya persoalan “mematikan” terdengar terlalu ekstrim. Mungkin lebih tepatnya diganti dengan kemungkinan terhadap “menurukan penjualan” produk lokal yang sudah ada. Tapi, bisa jadi itu pun hanya untuk sementara. Kita masih perlu menelaah lebih lanjut untuk bisa membuktikan pengaruhnya dari aspek bisnis lokal. (Ayo, mungkin teman-teman ada yang berminat untuk menelitinya?) Kita bisa katakan hal itu sementara karena bisa jadi itu hanya tren sesaat. Sebab, melihat produk kue-kue tersebut yang nyaris sama, tidak mempunyai keunikan rasa, tidak terikat pada daerah tertentu, ada juga respon kekecewaan dari rasa yang biasa, pelayanan yang lama, harga yang relatif lebih mahal, dan adanya fakta beberapa toko kue tersebut yang sudah tidak ramai lagi, maka bisa saja kita terka kalau fenomena itu tidak akan berlangsung lama. Melihat kondisi ini sepertinya pengusaha lokal akan tetap bisa bertahan dan berjaya!

Tetapi, jika diperhatikan pada sisi yang berbeda, kemunculan kue-kue selebritis di daerah juga mempunyai dampak positif, seperti penggunaan bahan baku lokal dan penyerapan tenaga kerja lokal. Chef Farah Quinn misalnya, ia sering bercerita melalui Instagram Story-nya bahwa Queen Apple selalu memakai buah apel dan stroberi dari petani lokal di Kota Batu dan Malang. Kita juga bisa menemukan Malang Strudel dijual di toko oleh-oleh kecil di terminal dengan sign “Toko ini dibina oleh Malang Strudel.” Itu artinya, bahwa selain memanfaatkan bahan dan pekerja lokal, mereka (seharusnya) juga tak luput untuk bermitra dengan pengusaha lokal agar dapat berkembang bersama. Mudah-mudahan hal itu juga dilakukan oleh selebritis yang lain.

*Photo by IG @surabayapatata, @itsrossa