Mengenal Tradisi dan Mencintai Budaya Melalui Kain

Diskusi mengenai kain-kain kuno Sumatera terus berlanjut di berbagai komunitas. Kali ini, Miyara Sumatera menerima ajakan diskusi budaya yang diselenggarakan oleh Jejak Langkah Study Club, sebuah forum yang didirikan sekitar 3 tahun lalu dan memfokuskan dirinya pada obrolan kritis mengenai kewarganegaraan (civic education).

Diskusi bertema “Budaya Sebagai Wujud Heritage” yang diadakan pada Sabtu pagi (25/02/2012) di Perpustakaan Diknas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jl. Sudirman, Jakarta ini turut menghadirkan Irma Hutabarat – Pendiri dan Ketua Miyara Sumatera Foundation – sebagai pembicara tunggal. Diskusi diramaikan oleh sekitar 30 peserta, yang terdiri dari aktivis, penggiat budaya, mahasiswa, serta anggota Jejak Langkah, yang sebagian besar adalah kaum muda dari berbagai latar belakang.

Irma Hutabarat dan koleksi kainnya

Diskusi yang berlangsung santai ini dimulai dengan pemaparan Irma Hutabarat mengenai keberagaman budaya Nusantara sebagai kekayaan bangsa yang multikultural. Tidak hanya merinci warisan alam dan budaya kita yang begitu indah, agung, dan mengagumkan, tetapi juga menyinggung mengenai local genius dan local wisdom (kearifan lokal).

“Budaya yang terbentuk (di Indonesia) berasal dari beragam pengaruh dan menyesuaikan dengan kondisi-situasi wilayah masing-masing, dan itulah yang kemudian disebut local wisdomLocal wisdom terpancar dari sejarah dan makna karya budaya, misalnya kain Ulos yang merupakan simbol jiwa Batak yang luhur. Bila memahami sejarah proses pembuatannya, ternyata mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan jiwa yang halus layaknya orang yang sedang melakukan meditasi. Local wisdom sering terlupakan karena kadang dipandang dengan kacamata modernitas,” ungkap perempuan yang gemar memakai kebaya itu.

Dengan kisah dan pengalaman hidupnya menjadi aktivis, politisi, pekerja media, maupun presenter, Irma banyak memberikan inspirasi bahwa pada akhirnya mempelajari dan melestarikan akar budayanya sebagai orang Indonesia, telah memberikannya kedamaian dan keindahan dalam memandang kehidupan. Banyak pertanyaan dan respon yang dilontarkan para peserta. Sebagai potret generasi muda, banyak dari mereka ternyata memiliki perhatian yang besar terhadap berbagai upaya pelestarian alam dan budaya.

Peserta diskusi

Rini dari Perkumpulan Skala, yang aktif mengumpulkan local wisdom dari fenomena bencana di Tanah Air juga kagum mengenai bagaimana leluhur kita membaca tanda-tanda alam. Ada juga Pia yang sangat berminat melakukan sesuatu terkait pelestarian budaya setelah mengenal kekayaan bangsa yang kini mulai terancam hilang. Peserta diskusi lain, mengusulkan festival budaya Indonesia harus diperbanyak. Bahkan, ada usul membuat “Hari Budaya” yang khusus menjadi hari peringatan kebudayaan Indonesia yang dirayakan oleh bangsa kita secara serentak. Komentar-komentar lain mengenai isu pelestarian warisan budaya terus bergulir. Dialog kritis pun terus mengalir bagai sebuah obrolan santai.

Bersama kawan-kawan lain dari Miyara Sumatera, Irma Hutabarat juga membawa koleksi kain kuno asal Sumatera. Koleksi yang dibawa kali ini cukup mewah dan megah karena menghadirkan koleksi bangsawan Sumatera, seperti Ulos Sadum, sapu tangan adat Palembang, ikat kepala raja dari Sumatera Selatan, kain Lawon, kain Tapis Kapal, celana Pangsi yang terbuat dari emas dan sutera, titian raja dari Riau, dan kain berumur ratusan tahun lainnya yang tampak sedikit rusak dan begitu ringkih, namun sarat akan sejuta sejarah dan filosofi yang agung.