Pariwisata Berkelanjutan dan Pengembangan Pariwisata Bahari

Kawasan konservasi perairan merupakan wilayah yang diperuntukan bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati. Namun, kawasan ini juga dapat memainkan peran penting dalam sektor  pariwisata. Salah satu bentuk pemanfaatan kawasan konservasi perairan adalah pariwisata bahari atau taman wisata perairan (TWP). Tentunya pengembangan TWP kaitannya dengan pariwisata ini harus mengacu pada konsep pariwisata berkelanjutan.

Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

Pariwisata berkelanjutan menekankan penyelenggaraan pariwisata bertanggung jawab yang memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia saat kini, tanpa mengorbankan potensi pemenuhan kebutuhan dan aspirasi manusia di masa mendatang dengan menerapkan prinsip layak secara ekonomi (economically feasible), lingkungan (environmentally viable), sosial  (socially acceptable), dan tepat guna secara teknologi (technologically appropriate).

Pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan dan masyarakat di daerah tujuan saat ini dengan tetap menjaga dan meningkatkan kesempatan pemenuhan kebutuhan di masa yang datang. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah sebuah proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dan kesesuaian dari sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia. ”Berkelanjutan” dapat diartikan dengan kelestarian yang menyangkut aspek fisik, sosial, dan politik dengan memperhatikan pengelolaan sumber daya alam (resources management) yang mencakup hutan, tanah, dan air, pengelolaan dampak pembangunan terhadap lingkungan, serta pembangunan sumber daya manusia (human resources development). Kondisi ini dapat tercapai apabila perangkat kelembagaan memasukkan unsur-unsur multisektor yang mencakup pemerintah, swasta, LSM, serta badan-badan internasional.

Pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan oleh pemerintah sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. Pariwisata yang bersifat multisektoral merupakan fenomena yang sangat kompleks dan sulit didefinisikan secara baku untuk diterima secara universal, sehingga menimbulkan berbagai persepsi pemahaman terhadap pariwisata, baik sebagai industri, aktivitas, maupun sistem. Pariwisata yang melibatkan pelaku, proses penyelenggaraan, kebijakan, supply dan demand, politik, serta sosial-budaya yang saling berinteraksi dengan eratnya, lebih realistis bila dilihat sebagai sistem dengan berbagai subsistem yang saling berhubungan dan mempengaruhi.

Dalam kerangka kesisteman tersebut, pendekatan terhadap fungsi dan peran pelaku, dampak lingkungan, peningkatan pengetahuan, dan kesejahteraan masyarakat, serta kesetaraan dalam proses penyelenggaraan menjadi semakin penting. Kecenderungan yang berkembang dalam sektor kepariwisataan maupun pembangunan melahirkan konsep pariwisata yang tepat dan secara aktif menjaga keberlangsungan pemanfaatan budaya dan alam secara berkelanjutan dengan memperhatikan apa yang disebut sebagai pilar dari pariwisata berkelanjutan: ekonomi masyarakat, lingkungan, dan sosial-budaya. Pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat dikat  sebagai pembangunan yang mendukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat.

Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata berbasis masyarakat. Prinsip ini menekankan keterlibatan masyarakat secara langsung, terhadap seluruh kegiatan pembangunan pariwisata dari mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Masyarakat diletakkan sebagai faktor utama, yang memiliki kepentingan berpartisipasi secara langsung dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi serta pemanfaatan sumber daya alam dengan dilandaskan pada opsi pemilikan sendiri sarana dan prasarana pariwisata oleh masyarakat setempat, kemitraan dengan pihak swasta, dan sewa lahan atau sumber daya lainnya, baik oleh masyarakat maupun kerja sama dengan swasta.

Indikator pariwisata berkelanjutan ditunjukkan dari keadaan lingkungan, artinya industri pariwisata harus peka terhadap kerusakan  lingkungan, misalnya pencemaran limbah, sampah yang bertumpuk, dan kerusakan pemandangan yang diakibatkan oleh pembalakan hutan, gedung dengan ketidaksesuaian arsitektur, serta sikap penduduk yang tidak ramah. Dengan kata lain, aspek lingkungan lebih menekankan pada kelestarian ekosistem dan biodiversitas, pengelolaan limbah, penggunaan lahan, konservasi sumber daya air, proteksi atmosfer, dan minimalisasi kebisingan dan gangguan visual. Selain lingkungan, sosial-budaya pun menjadi aspek yang penting diperhatikan. Interaksi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan persentuhan antarbudaya yang juga semakin intensif. Pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang memberi kontribusi persentuhan budaya, antaretnik, dan antarbangsa. Oleh karenanya penekanan dalam sosial budaya lebih kepada ketahanan budaya, integrasi sosial, kepuasan penduduk lokal, keamanan dan keselamatan, serta kesehatan publik. Aspek terakhir adalah ekonomi dengan penekanan aspek ekonomi lebih kepada persoalan pemerataan usaha dan kesempatan kerja, keberlanjutan usaha, persaingan usaha, keuntungan usaha dan pajak, untung-rugi pertukaran internasional, proporsi kepemilikan lokal, dan akuntabilitas.

Kaitan Keberlanjutan Terhadap Pariwisata Bahari

Pariwisata bahari merupakan salah satu alternatif pariwisata berkelanjutan. Pariwisata bahari bukan semata kegiatan memperoleh hiburan dari berbagai suguhan alami lingkungan lautan dan pesisir serta daya tarik budaya, tetapi kegiatan di mana wisatawan diharapkan dapat berpartisipasi langsung mengembangkan konservasi lingkungan dan pemahaman mendalam tentang ekosistem lautan dan pesisir. Tujuan kegiatan bahari adalah membentuk kesadaran tentang bagaimana menentukan sikap dalam melestarikan wilayah lautan dan pesisir di masa kini dan mendatang.

Pariwisata bahari merupakan  bentuk implementasi dari lintas sektor antara pariwisata dan kelautan. Pariwisata ini mengembangkan dan memanfaatkan objek daya tarik wisata bahari di kawasan pesisir dan lautan Indonesia, berupa kekayaan alam yang indah, serta keragaman flora dan fauna, seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan.

Wisata bahari dalam pengertian aslinya didefinisikan sebagai berikut: “Marine Tourism include those recreational activities that involve travel away from one’s place of residence and which have their host or focus the marine environment(where the marine environment is defined as those waters which are saline and tide - affected).”(Orams, 1999)Atau dapat pula didefinisikan sebagai kegiatan rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan bahari. Lingkungan bahari yang dimaksud, yaitu lingkungan perairan laut yang bersifat garam dan dicirikan dengan adanya karakter dan pengaruh gelombang. Wisata bahari tidak termasuk di dalamnya, mencakup:

  • kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya bahari untuk tujuan perdagangan atau budidaya, misalnya perikanan komersial, perkapalan, eksplorasi alam, serta kegiatan penelitian; dan
  • kegiatan yang berlangsung di lingkungan perairan/air tawar (perairan sungai dan danau di daratan).
  • Sumber daya wisata bahari adalah keseluruhan potensi sumber daya bahari yang dapat dimanfaatkan dan dikelola untuk mendukung pengembangan kegiatan wisata bahari. Potensi sumber daya wisata bahari meliputi  tiga bentang yang berbeda, yaitu bentang darat pantai, bentang laut (perairan di sekitar pesisir pantai maupun lepas pantai yang menjangkau jarak tertentu yang memiliki potensi bahari), dan dasar laut. Pemanfaatan ketiga bentang untuk kegiatan wisata bahari dapat dijabarkan, sebagai berikut:
  • bentang darat pantai, terdiri atas kegiatan rekreasi olahraga susur pantai, bola voli pantai, bersepeda pantai, panjat tebing pada dinding terjal di pantai (cliff), dan menelusuri gua pantai;
  • bentang laut, terdiri atas kegiatan berenang (swimming), memancing (fishing), bersampan yang meliputi mendayung (boating), sea kayaking dan berlayar (sailling), berselancar (surfing),parasailing,dan sea cruising; dan
  • dasar laut, terdiri atas kegiatan menyelam (diving), snorkeling,dan coral viewing dengan alat bantu dan/ atau kendaraan (kapal selam kaca mini) atau tanpa alat bantu sama sekali.
  • Ada delapan hal yang menjadi latar belakang mengapa Indonesia perlu mengembangkan wisata bahari sebagai pengembangan pariwisata yang strategis dan berkelanjutan, yaitu:
  • membuka destinasi baru di kawasan wisata Nusantara;
  • mengangkat akses laut sebagai sarana pencapaian daerah tujuan wisata (DTW) dan pesisir Indonesia yang terisolir;
  • membentuk untaian destinasi di perairan Nusantara;
  • menjalin jejaring (network) antara kabupaten, kota, dan provinsi;
  • membuka peluang informasi dan edukasi industri bagi masyarakat dan pemuda pesisir;
  • memotivasi kaum muda pesisir untuk mau melakukan inovasi dalam wacana kebaharian;
  • sebagai sarana promosi kepada dunia; dan
  • sebagai sarana pendukung pendapatan asli daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kepulauan adalah objek wisata bahari yang berpotensi besar untuk dikembangkan. Pada umumnya, Indonesia memiliki kondisi pantai yang indah dan alami. Wilayah pantai menawarkan jasa dalam bentuk panorama pantai yang indah, tempat pemandian yang bersih dan juga tempat untuk melakukan kegiatan berselancar air (surfing), terutama pada pantai yang landai, memiliki ombak yang besar, dan berkesinambungan.

Tujuan kegiatan wisata bahari bisa dibedakan menjadi wisata minat khusus dan wisata umum (rekreasi). Wisata minat khusus merupakan suatu bentuk perjalanan di mana wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat atau tujuan tertentu dan secara aktif terlibat dari setiap kegiatan di lingkungan lautan dan pesisir serta komunitas yang dikunjunginya. Sementara itu,wisata umum atau rekreasi adalah kegiatan yang dilaksanakan pada waktu luang secara bebas dan menyenangkan. Tidak ada tujuan khusus dari kegiatan wisata khusus ini, namun saat ini rekreasi diarahkan pada wisata edukatif yang bertujuan agar wisatawan mendapatkan nilai tambah dan pengetahuan yang bermanfaat.

Adanya kegiatan pariwisata di suatu tempat berimplikasi pada kebutuhan sarana dan prasarana penunjang yang bervariasi, baik jenis maupun bentuk dan konstruksi fisiknya, tergantung pada sumber daya jenis kegiatan wisata yang dikembangkan. Sarana dan prasarana penunjang diadakan  untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama mereka tinggal den berwisata di suatu daerah tujuan wisata tertentu, termasuk kebutuhan makan-minum, tidur, dan hal-hal mendasar lainnya. Fasititas yang disediakan, mencakup akomodasi, rumah makan, transportasi, dan beberapa fasilitas umum pertokoan lainnya yang terkait langsung dengan wisatawan.

Berdasarkan sumber daya dan kegiatan wisata yang dikembangkan, terdapat fasilitas khusus yang sangat spesifik dan hanya diperlukan untuk kegiatan yang satu, tetapi tidak atau kurang dibutuhkan untuk kegiatan lainnya. Kegiatan wisata bahari selam misalnya, membutuhkan sarana penunjang untuk  mendukung para penyelam, seperti kapal, dermaga, tabung oksigen, kompresor dan lain-lain.

Bentuk dan konstruksi sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan juga sangat beragam. Penyediaan dermaga bagi kapal  bisa bervariasi dari yang sederhana untuk kapal-kapal kecil sampai dermaga besar berkelas untuk pelabuhan kapal penyeberangan. Penyediaan fasilitas akomodasi pun menjadi sangat beragam, mulai dari hotel bintang lima bertingkat banyak hingga losmen atau home stay sederhana atau bahkan bangunan semi-permanen.

Bagi Indonesia sebagai negara maritim, pariwisata bahari tak hanya menjadi corak pariwisata yang potensial untuk dikembangkan, melainkan juga menjadi kunci bagi upaya mengarus-utamakan pendekatan pariwisata berkelanjutan terhadap perpaduan konservasi dan pengembangan taman wisata perairan. Tentu saja perhatian utama dari pariwisata bahari tak sekadar mencakup kesenangan saja, melainkan juga penekanan pada aspek edukasi dan partisipasi, baik wisatawan maupun masyarakat lokal untuk terlibat dan mendapatkan manfaat dari pengembangan kawasan pesisir dan laut sebagai daya tarik pariwisata yang terus hidup.