Bicara tentang Kekinian Berwisata

Adalah sebuah kewajaran umum untuk melihat kecenderungan kita sebagai wisatawan dalam pencarian hal yang baru. Kita terkadang tak hanya menginginkan bisa berkunjung ke destinasi dengan daya tarik wisata yang unik, tetapi juga mengeksplorasi pengalaman diri yang berbeda. Wisatawan muda menyebutnya dengan “kekinian”!

Kekinian berwisata tak melulu bicara tentang sebuah destinasi yang baru terbangun dan mapan. Melainkan, bisa jadi karena coraknya yang terasa melekat pada karakter dari wisatawan yang kini semakin tampak dominan sekaligus potensial: mereka yang relatif muda dan pengguna aktif media sosial. Ada jalinan yang semakin dinamis ketika kita menyinggung tentang wajah pariwisata saat ini dan mengaitkannya dengan perkembangan teknologi dan Milenial (generasi yang lahir tahun 1980 sampai 2000-an), khususnya jejaring sosial berbasis Internet dan smartphone.

Milenial yang Berwisata

Menurut sebuah laporan riset berjudul Milenials: A Portrait of Generation Next, (Pew Research Center, 2010) teknologi merupakan topik yang berada pada posisi paling atas untuk menggambarkan generasi yang berumur 15-34 tahun ini. Dan tak mengherankan jika mereka yang kini lebih banyak mewarnai potret wisatawan kita, mengingat populasi Milenial di Indonesia yang mencapai lebih dari 34% dari total penduduk. Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian mereka, termasuk ketika melakukan perjalanan wisata. Kita pun melihat mereka dari sisi jumlah sebagai kelompok yang dominan. Begitu pula untuk menyinggung representasi mereka yang bisa jadi berada di garis depan.

Pada Mei 2017 lalu, Agoda International Indonesia (Agoda) - sebuah platform reservasi akomodasi online - merilis hasil studi kampanyenya tentang karakter Milenial dalam berwisata yang diulas oleh kanal berita Viva.co.id. (17/05/2017) Hasil itu menegaskan karakter wisatawan muda yang berjiwa independen, petualang, dan nekat. Mereka tidak sungkan untuk mengunjungi tempat-tempat baru yang tanpa kematangan infrastruktur dan sebagian besar justru berada di tengah-tengah masyarakat sebagai pemilik dan pengelola destinasi. Dan memotret, - pastinya - termasuk “selfie” maupun “wefie” menjadi salah satu kegiatan yang terkesan wajib untuk dilakukan dengan latar pemandangan destinasi pariwisata yang dianggap instagram-able dengan tampilan artistik.

Menurut survey yang dilakukan Agoda terhadap seribu traveller Milenial, terdapat kebiasaan unik yang mereka lakukan dalam berwisata. Yaitu, 72% melakukan selfie, 64% mengunggah foto pada Instagram, 90% mencari kuliner populer, 86% mengarahkan orang lain untuk memotret diri mereka tanpa melihat ke kamera, 52% berani dengan sengaja tersesat dan berjalan-jalan secara spontan, dan 67% mengunjungi pasar tradisional/lokal. (Rappler.com)

Berwisata telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Secara ekonomi, mereka adalah pasar yang besar. Visa Global Travel Intention Survey (2015) menunjukkan bahwa perjalanan wisata keluar negeri dari Indonesia meningkat 33%. Singapore Tourism Board yang menaruh perhatian khusus pada Milenial di Tanah Air juga melakukan riset yang mengatakan bahwa 31% wisatawan muda senang melakukan wisata secara mendadak dan sebagian besar dari mereka mengandalkan jejaring sosial offline dan online untuk menentukan destinasi yang hendak dituju. Words of mouth saat ini bukan hanya mengacu pada obrolan dari mulut ke mulut di warung kopi, melainkan dari apa yang dibagikan melalui media sosial (words of social media), baik itu Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain melalui gadget yang dipastikan hampir selalu melekat di tangan anak muda. Pada artikel berjudul “Social Media and Tourism Industry Statistics,” Stikky Media (stikkymedia.com) mengatakan bahwa meng-upload foto melalui smartphone selama traveling adalah hal nomor satu yang dilakukan wisatawan saat ini.

Bagi generasi muda, berwisata secara kekinian adalah dengan mengunjungi destinasi yang unik, baru, otentik, dan berbeda. Sementara itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong mereka untuk bisa menyusun sendiri rencana dan akomodasi pariwisata secara cepat, mudah, dan relatif murah. Kita juga bisa katakan bahwa berwisata secara kekinian adalah penegasan pada karakter diri wisatawan yang petualang dan dilakukan secara independen dan spontan. Sekaligus, menjadikan ajang media sosial untuk saling berbagi aktivitas berwisata sebagai pengalaman yang personal.

Dilema Etika Berwisata

Kita tak dapat lagi menyangkal bahwa perkembangan teknologi informasi, termasuk media sosial, telah memberikan banyak perubahan terhadap bagaimana industri pariwisata saat ini bekerja di antara kelompok anak muda. Itu tak hanya menyoal peluang bagi pengembangan destinasi dan pengelolaan bisnis pariwisata itu sendiri, melainkan juga tantangan pada efek-efek perilaku wisatawan dalam berwisata.

Di satu sisi, apa yang dilakukan oleh wisatawan Milenial, mungkin dapat memberikan kontribusi amat besar terhadap dukungan pemasaran pada tempat dengan potensi pariwisata atau destinasi baru yang membutuhkan banyak promosi. Tetapi di sisi lain, kita dihadapkan pada pertanyaan bagaimana dengan kesiapan destinasi maupun penerapan etika berwisata dengan karakter unik wisatawan muda tersebut.

Pada diri wisatawan muda yang berwisata dengan mobile communication berlayanan Internet, kesadaran itu terkait pada tanggung jawab terhadap dampak dan risiko dari apa yang ia share/posting saat berwisata maupun setelahnya, seperti izin (consent) untuk bisa memotret masyarakat adat atau situs tertentu pada tempat yang ia kunjungi, pemahaman pada efek yang bisa ditimbulkan dengan menaruh komentar pada media sosial yang menyerang secara personal seorang atau kelompok staf pengelola destinasi yang memberikan layanan buruk, atau penyebarluasan informasi detil tentang area konservasi hewan yang rentan pada kedatangan manusia.

Dilema yang kita hadapi kemudian adalah dengan mempertimbangkan sejauh mana dampak dari keterpaparan yang berlebihan (over-exposed) oleh wisatawan dan kontrol pada ambang batas/daya dukung (tourism carrying capacity) terhadap akibat dari apa yang terlanjur tersebarluaskan. Apakah daya tarik wisata yang telah dikunjungi itu sudah benar-benar mampu merespon arus kedatangan wisatawan? Apakah masyarakat lokal dan lingkungan sekitar sudah memiliki kemampuan untuk beradaptasi? Ketika sebuah destinasi yang baru, unik, dan otentik (alternatif) tersebut tiba-tiba dalam waktu yang relatif singkat justru menjadi destinasi pariwisata yang massal (mass tourism) dengan corak yang kapitalistik, eksploitatif, mengutamakan profil sepihak, dan mendesak perubahan massif terhadap destinasi, termasuk fragmentasi sosial dan komodifikasi sebagai efek langsungnya.

Maka, berbicara tentang pariwisata kaitannya dengan teknologi, bukan lagi berbicara tentang bagaimana kita hendak menghadirkan dan memadukan perangkat  teknologi baru ke dalam proses dan jalinan rantai pariwisata, tetapi melihat aspek penting pada manusia di dalamnya (terutama masyarakat lokal) untuk dapat berdaya menghadapi perubahan. Begitu pun dengan perilaku wisatawan muda. Bagaimana kita dapat menyebarluaskan perihal etika berwisata pada mereka dan menjadikan kelompok Milenial sebagai agen perubahan untuk mendorong pendekatan alternative tourism dapat masuk ke dalam arus utama industri pariwisata di Indonesia.

Hadirnya wisatawan Milenial telah memberikan peluang pada perluasan pasar yang potensial, begitu pun dengan media sosial telah memberikan peluang pada penguatan strategi pemsaran yang sepintas tampak ideal. Namun, kita juga perlu menjawab tantangan pada sejauh mana peluang-peluang itu berdampak pada upaya pembangunan pariwisata yang berkelanjutan pada aspek pelestarian alam dan budaya maupun kesejahteraan masyarakat yang berkehidupan di dalam dan sekitar destinasi pariwisata.

Beragam peluang dan tantangan tersebut perlu segera direspon berbagai pihak. Kita perlu mengkondisikan situasi yang mendukung bagi wisatawan untuk bisa memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip etika berwisata dengan pendekatan maupun cara yang populer kepada kelompok Milenial. Maka, berbicara tentang strategi pemasaran digital berbasis Internet dan smartphone saja tidak akan pernah cukup. Kita perlu mengintegrasikan kampanye berkonten tourism ethics pada kanal-kanal teknologi digital yang hendak kita bangun dalam upaya mempromosikan sebuah destinasi sekaligus mendorong partisipasi anak muda untuk terlibat.

Begitu pun dengan kelompok masyarakat (masyarakat lokal maupun masyarakat adat), baik itu sebagai pemilik, pengelola, atau penyedia berbagai jasa usaha pariwisata. Penerapan teknologi tak lagi dapat dilihat sebagai hal yang eksklusif. Masyarakat perlu mendapatkan dukungan untuk bisa berdaya dan beradaptasi pada perangkat dan konten teknologi itu sendiri. Kita perlu mengembangkan pendekatan yang inklusif bagi masyarakat yang berada di dalam dan sekitar destinasi pada akses teknologi yang adil dan setara. Begitu juga dengan mempertimbangkan aspek edukasi sebab konversi dari analog ke digital, bukanlah proses yang selalu mudah dijalani.

Peran strategis lainnya juga perlu ditekankan pada sektor privat. Teknologi dan sasaran terhadap segmentasi pasar Milenial tidak hanya memberikan warna baru terhadap marketing toools dan services, terutama media sosial, tetapi berdampak signifikan pada manajemen dan operasional bisnis pariwisata. Kita perlu menekankan pada seperti apa corak persaingan bisnis pariwisata yang sehat untuk menghadapi kemungkinan krisis atau konflik terhadap penyalahgunaan teknologi dan pengkondisian kaum muda sebagai kelompok wisatawan yang apatis (apathetic tourists) atau enggan peduli pada etika dalam berwisata. Karena kita juga tak bisa menutup mata bahwa Milenial memiliki kecenderungan sebagai swinger - yang galau dan gemar ikut-ikutan apa yang sedang menjadi tren dan dibicarakan saat ini: “kekinian.”

Tentu saja untuk mendorong terciptanya situasi yang baik secara menyeluruh dan berjangka panjang, pemerintah perlu merumuskan aturan main berupa regulasi dan pengawasan.

Teknologi dan Generasi Milenial telah memberikan pengaruh dan perubahan terhadap wajah pariwisata saat ini. Ada banyak peluang dan tantangan sekaligus beragam dilema yang kita hadapi. Dengan pemanfaatan yang tepat dan bijak, situasi ini mungkin memberikan alternatif solusi baru untuk menjawab pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Tetapi bukan tidak mungkin, dapat pula menjadi kendala dan ancaman yang justru kian sulit dihadapi kini dan nanti. Kita dapat mendorong anak muda menjadi bagian dari yang sepatutnya ikut merespon itu dengan menguatkan kemampuan mereka untuk merenungkan sejenak dan dapat memilah mana yang pantas dan tidak pantas: merekonstruksi ulang kekinian dalam berwisata menjadi kekinian berwisata secara etis.

***

*Artikel ini pertama kali diterbitkan pada majalah mata jendela pada edisi 3/2017.