Destination of The Month

Krakatoa

Banten & South Lampung

Lebih dari sekedar menikmati sensasi panorama Gunung Krakatau yang fenomenal dan melegenda, berwisata ke Lampung Selatan merupakan sebuah perjalanan mengeksplorasi pulau, pantai, dan pegunungan yang dipenuhi dengan segala keindahan surga kawasan tropis.

read more

Waisak di Borobudur: Spektakuler, Magis tapi Menyedihkan

Saya berkesempatan hadir dalam puncak perayaan Tri Suci Waisak, Minggu 6 Mei 2012 di Candi Agung Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sungguh luar biasa, sebuah acara ritual keagamaan yang dihadiri oleh berbagai umat dan bangsa. Saya melihat begitu banyak wanita berkerudung dan pengunjung mancanegara memenuhi pelataran candi.

Oleh Roni Khoiron

Saya berkesempatan hadir dalam puncak perayaan Tri Suci Waisak, Minggu 6 Mei 2012 di Candi Agung Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Sungguh luar biasa, sebuah acara ritual keagamaan yang dihadiri oleh berbagai umat dan bangsa. Saya melihat begitu banyak wanita berkerudung dan pengunjung mancanegara memenuhi pelataran candi. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah ritual agama yang seharusnya bersifat eklusif untuk umatnya sendiri tapi kali ini disaksikan dan diikuti secara bebas oleh umat lainnya. Sepertinya memang puncak perayaan Waisak telah menjadi daya tarik wisata yang sangat mengagumkan. Tak heran jika berbulan-bulan sebelumnya pemda Yogyakarta telah mempromosikan acara ini sampai ke luar negeri. Namun di balik gegap-gempita perayaan ini, ada beberapa hal yang menurut saya masih menyedihkan!

Prosesi di tengah guyuran hujan

Prosesi ritual diawali dengan ‘Rally Mendut-Borobudur’ membawa air suci dan api berkah sejauh 3 km,di tengah hujan yang mengguyur Magelang, ratusan Bhiksu dan umat Budha berjalan dengan khidmat sambil mengucapkan puja bakti dari Candi Mendut, melewati Candi Pawon dan berakhir di Candi Agung Borobudur. Selepas siang iring-iringan memasuki pelataran Candi Agung Borobudur, hujan masih turun rintik-rintik. Candi Agung Borobudur sudah dikosongkan dari pengunjung. Para Bhiksu langsung menuju panggung utama dan melanjutkan dengan berdoa di depan patung Sang Budha Gautama dan Candi Agung Borobudur. Ritual ini merupakan lambang penghormatan kepada sifat luhur Budha sebagai orang yang disucikan dan diteladani. Prosesi berikutnya adalah melakukan meditasi di tenda-tenda yang telah disediakan. Meditasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri dalam mencapai kebahagiaan. Banyak pengunjung yang juga bergabung untuk bermeditasi walaupun kebanyakan mereka bukan pemeluk Budha.

Saat magis saat hujan berhenti

Menjelang sore para Bhiksu, umat budha dan pengunjung kembali memenuhi pelataran Candi Agung Borodur. Hujan masih saja turun walaupun tak begitu lebat. Para Bhiksu menaiki panggung utama, kali ini mereka berdoa agar hujan segera berpindah sampai berakhirnya prosesi. Begitu magis! ketika puja suci selesai dipanjatkan, hujan langsung berhenti. Suasana beranjak gelap, sesaat kemudian lampu sorot yang mengelilingi Candi Agung Borobudur dinyalakan. Begitu dramatis! Temaram lampu kebiruan menyinari puncak Candi Agung Borobudur, awan putih melayang-layang di sekitar stupa utama dan suasana kembali hening. Langit yang gelap perlahan-lahan tampak terang. Bulan mulai terlihat bersinar tepat di atas Candi Agung Borobudur. Di pelataran candi, umat Budha dan pengunjung mulai bermeditasi yang dipandu para Bhiksu dari panggung utama. Pengunjung yang semula berdiri sekarang duduk bersila. Berikutnya di panggung utama para Bhiksu dari berbagai majelis di Indonesia dan perwakilam dari Bhutan, Nepal, dan USA secara bergantian mengumandangkan parita dan mantra suci. Kali ini puncak perayaan Waisak mengambil tema, ‘Meningkatkan Metta dan Karuna (cinta kasih dan welas asih)’ sebagaimana disampaikan oleh ketua penyelenggara sekaligus ketua Walubi (Perwalian Umat Budha Indonesia), Ibu Siti Hartati Murdaya dalam sambutannya.

Lampion perdamaian yang spektakuler

Menjelang tengah malam prosesi Pradaksina dilakukan, merupakan ritual terakhir dengan mengelilingi Candi Agung Borobudur searah jarum jam sebanyak tiga kali. Para Bhiksu memimpin iring-iringan sambil membawa lilin dan mengucapkan doa secara berulang-ulang kemudian diikuti oleh umat Budha dan pengunjung. Saya juga bergabung dalam ritual ini, berasa khidmat dan syahdu dengan alunan puja suci yang terus berkumandang. Sementara pengunjung yang tidak bergabung menyaksikan di pinggiran. Kilat lampu kamera menyala-nyala dari berbagai sudut. Ritual Pradaksina bertujuan untuk menghormati sifat luhur Sang Budha Gautama. Akhirnya prosesi puncak perayaan Waisak ditutup dengan pelepasan seribu lampion perdamaian sebagai simbol dari pelepasan kebencian dan kekotoran. Saat pelepasan lampion bagi umat Budha juga merupakan momen yang tepat untuk mengucapkan suatu permintaan pada Yang Maha Esa. Para Bhiksu memulai dengan melepaskan sepuluh lampion dari panggung utama kemudian diikuti pelepasan ratusan lampion berikutnya oleh umat Budha dan pengunjung. Langit terlihat spektakuler, bulan bersinar penuh dan lampion-lampion bergerak perlahan meninggi seperti tebaran bintang yang memenuhi langit.

Hal yang menyedihkan; berkurangnya nilai ritualitas

Saat perayaan puncak Waisak, Candi Agung Borobudur dipenuhi ribuan pengunjung. Seperti halnya saya, mereka sangat antusias untuk menyaksikan prosesi Waisak dari pagi sampai berakhir tengah malam. Saya sempat berpikir ‘konyol’ apakah candi suci yang dibangun oleh Dinasti Syailendra pada abad ke-8 ini akan mampu menahan ribuan kaki yang memijaknya. Tentu saja mampu karena pihak pengelola pasti sudah melakukan studi kelayakan terhadap carrying capacity dari candi Budha terbesar di dunia ini. Seberapa banyak pengunjung yang mampu diterima sehingga tidak merusak struktur candi pasti sudah diperhitungkan dengan baik dan benar oleh PT. Taman Nasional Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), sebagai BUMN pengelola candi Borobudur. Sementara pada saat yang sama dari pagi sampai sore banyak umat Budha yang juga berdoa di dalam area Candi Borobudur terutama di area stupa. Mungkin yang perlu dipertimbangkan adalah keputusan untuk tetap membuka tempat suci sekaligus area wisata ini pada saat hari Waisak. Inilah salah satu dampak negatif dan positif pariwisata yang kebanyakan orang bilang ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Saat suatu tempat dijadikan sebagai destinasi wisata, ini akan memberikan keuntungan secara ekonomi kepada pemerintah, swasta dan masyarakat sekitar namun bersamaan dengan itu dampak-dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, degradasi nilai ritual dan moral juga akan muncul.

Pada saat Waisak kemarin hal ini dengan nyata saya saksikan, banyak sekali umat Budha yang sedang beribadah di sekitar stupa terlihat kurang tenang karena di sekeliling mereka berjubel banyak pengunjung. Yang lebih menyedihkan pengunjung dengan seenaknya memanjat-manjat stupa walaupun di kanan-kiri ada orang yang sedang berdoa. Berkali-kali larangan untuk memanjat stupa di umumkan tapi tetap saja ada yang melanggarnya. Petugas juga banyak disebar untuk memperingatkan secara langsung namun karena jumlahnya tidak sebanding dengan banyaknya pengunjung, semuanya menjadi tidak efektif. Umat Budha terpaksa harus berdoa di tengah hiruk-pikuk pengunjung dengan berbagai tingkah. Saya sempat membaca di surat kabar lokal bahwa pada puncak perayaan Waisak, beberapa lokasi candi akan ditutup untuk pengunjung dan digunakan khusus untuk beribadah tapi kenyataannya pengunjung tetap bisa memasuki seluruh area candi. Umat Budha sendiri mungkin sudah sangat menyadari bahwa candi suci dan agung ini bukan hanya milik mereka tapi sudah menjadi milik masyarakat Indonesia dan dunia sehingga terlihat mereka sangat toleran dengan keadaan ini.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

 
 
 
 
 
 
You are here: Home News Waisak di Borobudur: Spektakuler, Magis tapi Menyedihkan

Newsletter

Subcribe
309659
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
246
247
4021
126943
9526
14984