Sambil Berwisata, Kita Menolak Lupa!

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Baru-baru ini, saya yang sedang gandrung berinteraksi di dunia maya melalui Qubicle, menemukan sebuah artikel yang menarik perhatian. Saya gemar melakukan perjalanan dan artikel yang saya temukan di sana memberikan saya referensi tentang sebuah perjalanan yang unik dan membawa kita pada sebuah perenungan.

Buat kamu yang sudah sering dengar tentang Qubicle, tetapi baru sedikit paham, jangan sungkan untuk mencari tahu dengan mengklik http://qubicle.id/. Qubicle adalah sebuah wadah bagi para individu kreatif, komunitas, dan content creator (penyedia konten) untuk berbagi karya dalam format digital dan berinteraksi dengan mereka yang memiliki minat yang sama.

Artikel yang saya temukan di Qubicle itu berjudul The Invisible Monuments ditulis oleh Agan Harahap (http://qubicle.id/story/the-invisible-monuments). Judul tulisan tersebut sekaligus menjadi nama bagi project fotografi yang telah dilakukannya sejak tahun 2013. Agan berpelesiran ke destinasi yang berbeda, yaitu berbagai lokasi kuburan massal yang terjadi di Era ‘65 di Pulau Jawa. Setidaknya, saya menemukan foto-foto jepretannya yang ia potret di Boyolali, Pati, dan Salatiga. Dalam serangkaian kunjungannya itu, Agan bercerita kalau ia juga membuat penanda pada monumen-monumen yang sulit dilihat dengan mata telanjang sebagai tempat peristirahatan terakhir para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Sepintas, seolah tak ada hal yang menarik dari foto-foto yang Agan Harahap tampilkan. Foto-foto biasa berupa gundukan tanah, semak belukar, pohon pisang, kebun, dan sungai atau kali. Tetapi dari foto yang tampak biasa itulah sebetulnya mencerminkan bagaimana kita bisa amat mudahnya ditipu untuk melupakan sejarah. Membuatnya seolah bagai memori yang bisa datang dan pergi. Tempat-tempat yang tak diberikan ciri. Padahal di sanalah puluhan atau bahkan ratusan tubuh pernah dibenamkan dengan cara yang begitu keji dan ngeri.

Saya pun mengingat lagi, sebetulnya sekitar empat atau lima tahun lalu pernah melakukan hal yang mirip dengan apa yang Agan jalani. Kala itu, saya bersama kawan berpelesir bermodal novel yang merekam kisah tentang ‘65 di Singosari. Menggali kisah-kisah yang dianggap penuh misteri. Lokasi-lokasi yang sekadar dianggap angker di mana anak-anak yang lahir setelah era itu tak perlu tahu apa yang pernah terpendam di balik lokasi-lokasi yang dianggap tempat setan bersarang dan kerap menakut-nakuti. Tetapi mereka yang masih punya kerabat satu darah dengan para korban, biasanya dapat sepenggal cerita tentang kekejian yang sebaiknya hanya untuk diketahui, lantas dibiarkan lupa sebagai ampas memori.

Saya mengunjungi beberapa tempat di seputaran Malang yang pernah jadi lokasi eksekusi. Ada juga jurang dan tepi aliran Kali Berantas yang jadi tempat pembuangan mayat bertruk-truk. Ketika air sungai pernah menjadi merah dan begitu anyir.

“Ngeri kalau ingat itu lagi. Serem!” ungkap seorang saksi mata paruh baya pernah berkomentar pada saya sambil ia bergidik membayangkan ada tempat seperti itu.

Tetapi itulah peristiwa yang pernah terjadi dan sepatutnya memang tak perlu ngeri untuk diakui.

Project fotografi Agan Harahap, menurut saya, begitu sarat akan arti. Sekumpulan potret sederhananya membuat kita mungkin tergelitik pada sunyi. Yang membuat isi pikiran jadi ingin berisik karena tak banyak hal yang ia berikan deskripsi.

Saya akan menanti posting-an selanjutnya dari Agan Harahap tentang hal ini. Soal bagaimana kata “65” kelak akan berbunyi. Melalui foto, ia membantu kita merajut lagi sejarah yang sangat tidak patut dilupakan oleh generasi muda saat ini. Lantas kita sama-sama berupaya meluruskan sejarah yang lama disembunyikan dan tak sedikit masih menimbulkan luka dan peri yang kita harap tak melulu soal misteri.

Buat kamu yang mau ikut terus memantau dan menelusuri perjalanan Agan Harahap terhadap project The Inivisble Monuments, silakan terus terkoneksi pada Qubicle!

Facebook   Qubicle
Twitter   @Qubicle_id
Instagram   @Qubicle_id
Youtube   https://www.youtube.com/channel/UCXyUiI8vNTrFRzOk77jid7g
Sumber Foto   Agan Harahap
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home News Sambil Berwisata, Kita Menolak Lupa!

Newsletter

Subcribe
1037186
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
443
453
5502
850939
16769
20604