Desa Selorejo

Oleh Roni Khoiron

Cerita bermula saat Lebaran. Seperti biasa setiap Lebaran saya dan keluarga selalu berkunjung ke rumah-rumah saudara yang tersebar di beberapa desa di Kab. Malang. Salah satu dari mereka tinggal di Desa Selorejo, Kec. Dau. Kalau ke sini saya selalu senang dengan pemandangan alamnya yang berada di lembah Gunung Kawi dan buah jeruknya.

Desa Selorejo yang kali ini saya kunjungi untuk bersilaturahmi dengan kerabat memang dikenal sebagai sentra pertanian jeruk. Setiap saya ke sini, saya selalu berkesempatan untuk memetik dan memakan jeruk langsung dari pohonnya. Kebetulan saudara saya juga mempunyai sebidang perkebunan jeruk. Kunjungan kali ini menjadi seru karena tak sekadar silaturahmi keluarga yang biasanya membosankan, melainkan liburan dengan wisata petik jeruk!

Saya baru terasa kalau ternyata sudah cukup lama tidak berkunjung ke Selorejo, hampir empat kali Lebaran. Dan itu saya sadari saat memasuki desa. Ada hal yang baru di pintu utama masuk jalan desa. Sebuah gapura besar khas kerajaan zaman dulu bertuliskan “Desa Wisata Selorejo” dalam tulisan latin dan Jawa. Wow, ternyata desa ini telah dikembangkan menjadi desa wisata, batin saya kagum. Saat saya mengunjungi desa ini empat tahun lalu, saya sudah jatuh hati dengan pemandangan alamnya. Hamparan perkebunan jeruk dengan buahnya yang menguning. Kemudian di ujung perkebunan, pohon-pohon pinus yang rindang menandai kawasan hutan lereng Gunung Kawi. Ada juga sungai kecil dengan airnya yang segar dan jernih. Potensi-potensi tersebut memang cukup layak untuk menjadikan Selorejo sebagai desa wisata. Sesaat setelah tiba di rumah saudara, saya langsung bertanya, “Sejak kapan Selorejo dijadikan desa wisata?”

“Empat tahunan ‘lah,” jawab saudara saya singkat. Setelah itu obrolan saya langsung mengarah pada manfaat wisata bagi masyarakat, jumlah kunjungan wisatawan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pariwisata. Dengan singkat saya simpulkan bahwa ini luar biasa!

Bumi Perkemahan Bedengan

Jauh sebelum ditetapkan sebagai desa wisata, Selorejo sudah mempunyai destinasi wisata alam yang cukup menarik, yaitu Bedengan. Sebuah bukit kecil di lereng Gunung Kawi yang merupakan habitat pohon pinus. Di bawah bukit ini terdapat sungai kecil dengan air yang jernih dan batu-batu besar. Hamparan rumput hijau menjadi selingan yang menyegarkan di antara pohon-pohon pinus. Bedengan juga merupakan bumi perkemahan yang dikelola oleh penduduk setempat melalui Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH). Untuk masuk dan berkemah di Bedengan hanya dikenakan tarif sebesar Rp 2 ribu dan Rp 25 ribu. Yang unik dari Bumi Perkemahan Bedengan, adalah tenda-tendanya yang berdiri di sela-sela pohon pinus sementara kebanyakan bumi perkemahan berupa tanah lapang. Sudah terdapat kamar mandi umum, area parkir motor, dan beberapa warung makanan ringan. Bedengan sering digunakan sebagai tempat kegiatan yang berkaitan dengan alam bebas. Pada hari akhir pekan tempat ini akan ramai dikunjungi wisatawan.

Untuk menuju Bedengan, saya melalui area perkebunan jeruk dengan jalan aspal dan sedikit jalan berbatu. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 3 km. Jika ditempuh dengan jalan kaki di pagi hari dari perkampungan, saya rasa akan lebih seru sensasinya. Apalagi sepanjang perjalanan kita bisa memetik jeruk dan memakannya langsung. Rasa lelah akan terbayar begitu sampai di Bedengan. Hijau hutan pinus yang menyegarkan mata dan sungai kecil berbatu dengan aliran airnya yang dingin, benar-benar paduan sempurna untuk sebuah keindahan alam pegunungan. Jika masih ingin berpetualangan lagi, beberapa kilometer dari Bedengan juga terdapat air terjun yang masih alami dan tak kalah indah: Coban Bruwes.

Wisata Petik Jeruk

Jeruk sudah menjadi produk unggulan Desa Selorejo selama bertahun-tahun. Ada sekitar 12 varietas tanaman jeruk yang ditanam dan dikembangkan oleh penduduk, kebanyakan adalah jenis jeruk iris dan hanya sedikit yang jeruk kupas. Salah satu varietasnya, yaitu jeruk manis Selorejo merupakan salah satu jeruk termanis di Indonesia. Ibaratnya, pertanian jeruk adalah urat nadi perekonomian desa ini. Selain itu juga banyak ditanam sayuran kol dan peternakan sapi perah. Hasil dari pertanian jeruk selama ini dijual langsung ke pasar-pasar tradisional di Kabupaten Malang atau diborong oleh tengkulak.

Pengembangan wisata petik jeruk baru dimulai pada tahun 2009 oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) desa setempat yang terinspirasi dengan agrowisata petik apel di Kota Wisata Batu. Awalnya wisatawan yang akan memetik jeruk harus melalui kesekretariatan Gapoktan, kemudian akan diarahkan ke petani-petani jeruk. Namun sekarang tidak lagi karena wisatawan bisa langsung menemui petaninya. Hampir semua rumah penduduk di Selorejo mempunyai tanaman jeruk di halaman rumahnya. Ada juga yang membuka kios kecil yang menjual jeruk. Wisatawan bisa langsung datang ke mereka untuk menikmati wisata petik jeruk. Jika kebunnya ada di dekat rumah, maka tinggal memetiknya di situ. Namun jika kebunnya jauh, maka wisatawan akan diajak berjalan kaki ke area kebun atau bisa juga naik kendaraan. Tidak semua kebun jeruk bisa digunakan untuk wisata petik jeruk. Ada beberapa persyaratan yang ditentukan oleh Gapoktan, di antaranya kebun jeruk sedang tidak disemprot pestisida, ada gubuk untuk wisatawan duduk santai, dan tentu saja jeruk yang siap dipanen.

Untuk mengunjungi dan memetik jeruk cukup mengeluarkan Rp 15 ribu setiap orang dan bisa makan jeruk sepuasnya di lokasi. Jika ingin membawa jeruk sebagai oleh-oleh per kilonya dijual Rp 5 ribu. Ada juga paket Rp 25 ribu per orang dengan tambahan makan siang yang disediakan oleh penduduk setempat. Coba bayangkan, berkeliling kebun jeruk yang rindang, kemudian duduk santai di gubuk sambil menikmati buah jeruk yang masih segar dan manis, dilanjutkan dengan makan siang dengan menu tradisional yang diolah penduduk setempat. Wah, ini benar-benar sensasi yang luar biasa! Jika ingin mendapatkan yang lebih terasa “desa,” wisatawan bisa menginap di desa ini. Ada puluhan homestay yang bisa disinggahi. Pagi hari jalan santai keliling kebun jeruk dan hutan pinus di Bedengan, kemudian mandi di sungai. Siang hari bisa memetik jeruk dan makan siang. Sore harinya menikmati kehidupan masyarakat Desa Selorejo hingga menjelang senja.

Get There

Tidak ada angkutan umum yang langsung menuju desa Selorejo. Starting point-nya adalah Terminal Landungsari, setelah itu naik angkutan apa saja yang menuju ke arah barat, bisa ke Batu atau Karangploso, kemudian turun di pertigaan Masjid Dau. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan ojek sejauh 8 km ke Desa Selorejo. Jika menggunakan kendaraan pribadi akan lebih cepat dan mudah. Dari jalan raya utama Malang-Batu, setelah melewati Taman Rekreasi Sengkaling, tepatnya di pertigaan Masjid Dau, belok ke selatan dan ikuti jalannya. Jangan segan untuk bertanya karena akan banyak ditemukan belokan dan persimpangan. Saya jamin jika tidak bertanya, pasti akan tersesat!

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home News The Popular Desa Wisata Desa Selorejo

Newsletter

Subcribe
1070214
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1284
555
4331
886362
11223
19042