Desa Semen dan Tulungrejo

Oleh Nurdiyansah

Kunjungan kami ke Blitar diawali dengan perkenalan yang menyenangkan pada suatu malam bersama seorang inisiator dan pendamping desa wisata, Mas Andi, dan dua kawan mahasiswa dari Universitas Brawijaya yang akrab disapa Simox dan Saga. Dari perjumpaan yang kemudian lebih banyak diisi dengan diskusi hangat tentang desa wisata tersebut, esoknya kami langsung sepakat pergi ke Desa Tulungrejo dan Semen di Kabupaten Blitar, dua desa yang sama-sama mendapatkan penghargaan untuk desa wisata oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kami sudah bangun sebelum Subuh untuk bersiap-siap. Dari Kota Malang, kami menuju Blitar menggunakan sepeda motor melewati Kota Wisata Batu dan Pujon, sebuah kawasan yang pula menjadi sentra produksi susu sapi perah. Soal jarak memang tak bisa dibilang dekat, tapi waktu tempuh hanya sekitar satu setengah jam. Beberapa kali kami menepi di tengah perjalanan. Asyik memotret perkebunan sayur maupun sawah yang berada di tepi sungai yang dipenuhi bebatuan besar. Ada juga hutan pinus dan ladang-ladang kopi. Pemandangan lain yang menarik adalah wadah-wadah di pinggir jalan dan teras rumah di mana biji kopi dan bulir jagung sedang dijemur di bawah terik. Udara dingin kami terjang sambil menikmati pemandangan yang begitu menyegarkan mata. Saya berpasangan dengan Roni dan Simox membonceng Saga. Meninggalkan Pujon, kami melintasi perkampungan dan jalanan berkelok di hutan yang ditumbuhi bambu pada kiri-kanan jalan.

Panorama berganti menjadi gugusan persawahan terasering yang bertingkat-tingkat. Sebagian tampak bagai permadani hijau, sebagian lain berwarna kuning keemasan yang menandakan musim panen yang telah tiba. Kami sampai di Kabupaten Blitar.

Desa Wisata Tulungrejo

Desa pertama yang akan kami kunjungi adalah Desa Tulungrejo. Simox dan Saga yang berada di depan kami memelankan laju kendaraan. Lampu sen menyala di sisi kiri untuk mengarahkan kami yang mengekor di belakang. Kami memasuki sebuah perkampungan. Rupanya sebelum sampai di Tulungrejo, kami mampir dulu di atraksi pertama yang berada dekat dengan desa wisata yang akan kami tuju, yaitu Situs Rambut Monte.

Rambut Monte merupakan sebuah situs percandian yang namanya diambil dari seorang resi yang konon berasal dari Majapahit dan mengasingkan diri di lokasi situs berada, yaitu Krisik, Kec. Gandusari. Informasi itu kami ketahui dari penjaga/juru kunci. Sesampainya di lokasi yang dipenuhi dengan rindang pepohonan lebat, terdapat reruntuhan bangunan candi yang tingginya mungkin tersisa sekitar 3 meter dan bercorak Hindu. Sekilas tampak tak ada yang istimewa sampai Simox dan Saga memanggil kami.

“Kemari, Mas, di sana ada danaunya!” Kami mengikuti arahan dua anak muda ini mengikuti tangga semen menuju ke bawah.

Kami pun takjub. Sebuah telaga yang begitu bening dan berwarna biru toska pada bagian tengah. Hari masih pagi dan dapat kami lihat cahaya matahari yang memancar dari celah pohon menyoroti permukaan telaga yang berpendar serupa kristal. Bukan hanya airnya yang jernih, di dalamnya hidup segerombolan ikan purba yang disakralkan dan dikenal masyarakat desa dengan sebutan “ikan naga” atau “ikan dewa.” Bentuknya seperti ikan koi dengan warna sisik hitam kecokelatan. Konon sejak dulu jumlah ikan tak pernah bertambah atau berkurang.

Tak ada angin, namun udara terasa sejuk.  Suara serangga bersahutan dengan burung-burung liar yang tak tampak. Ini suasana hening dan tenang yang tak pernah kami dapat di Jakarta. Sejenak kami hanya duduk terbengong di tepi Danau Rambut Monte.

Usai dari Situs Rambut Monte, kami melanjutkan perjalanan dan terlebih dulu bertamu ke rumah Mas Andi yang berada tepat di pinggir jalan utama Desa Tulungrejo. Dan di rumah bertingkat itulah kami lantas menginap selama semalam.

Melanjutkan aktivitas jalan-jalan, Simox dan Saga membawa kami ke tempat peribadatan umat Hindu: Pura Arga Sunya. Bukan hanya bangunan pura saja yang spesial, tapi view persawahan berundak yang bisa kami nikmati dari dekat.

Meski sempat mendapat penghargaan sebagai salah satu desa wisata terbaik, sayangnya aktivitas wisata tak lagi seramai dulu. Kami sudah diberitahu oleh Mas Andi sebelumnya bahwa sejak peristiwa meletusnya Gunung Kelud yang menjadi perhatian hebat publik dan media, turis tak lagi datang. Padahal meski berada dekat dengan Kelud, desa-desa di Blitar ini aman dari abu vulkanik. Tak ada debu bertebaran, apalagi rumah yang rusak.

Desa tampak sepi di siang hari. Umumnya warga beraktivitas tani dan kebun saat pagi. Tapi kami menikmati betul melihat-lihat rumah tradisional Jawa di jalan-jalan desa yang sebagian besar masih memiliki pohon kopi, cokelat, dan lain-lain.

Di belakang desa, perbukitan yang menghubungkan desa dengan Gunung Kelud, ditumbuhi pepohonan pinus yang lebat. Aroma hutan yang harum. Hutan ini aman dari penebangan karena warga desa memanfaatkan getah pinus yang dapat diolah menjadi bahan baku resin, sabun, cat, atau aroma terapi/parfum. Di antara tebing-tebing mengalir sungai. Saga memberitahu kami kalau di sungai itulah aktivitas arung jeram bisa dilakukan. Namun setelah Kelud meletus, sungai dipenuhi pasir dan aktivitas penambangan tak dapat dihindari.

“Dari hutan pinus ini jalur pendakian diawali,” ujar Simox menunjukkan jalan setapak di antara pinus besar yang berhimpitan. Ia bilang trek relatif santai dan bisa dilakukan dalam satu hari untuk tracking gunung dengan pergi Subuh dan turun sebelum menjelang sore.

Kami kembali ke rumah Mas Andi yang sekaligus menjadi pusat informasi dan kegiatan pengembangan Desa Wisata Tulungrejo. Teras-teras rumah tetangga yang tadi siang kami lihat dihiasi jemuran biji kopi ternyata sudah dirapihkan. Kesempatan kami untuk mengobrol dan bertanya-tanya tentang perkebunan dan proses pengeringan biji kopi secara tradisional, kami lakukan keesokan pagi saat terpal-terpal mulai digelar ketika embun telah kering.

Jelang Magrib, kami disuguhi makan malam enak: nasi hangat bersama sayur buncis kuah santan dan ikan goreng lengkap dengan sambal merah dan kerupuk.

Desa Wisata Semen

Bertetangga dengan Tulungrejo, adalah pula desa wisata peraih penghargaan: Kampung Wisata Alam dan Ekologis “Puspa Jagad” di Desa Semen, Kec. Gandusari, berjarak sekitar beberapa kilometer saja dari tempat kami menginap di Desa Tulungrejo. Corak alam dan agrikultur di Semen ini juga begitu lekat dengan kehidupan desa.

Ada banyak atraksi dan paket yang ditawarkan Desa Semen yang berbasis komunitas dan agrikultur serta alam. Di pusat informasi, kami berjumpa dengan Ibu Mujiyati. Beliau bercerita bagaimana awal-mula desa dikembangkan menjadi destinasi wisata yang bermula dari budidaya anggrek hutan yang kemudian berkembang sampai aktivitas pertanian, peternakan (kelinci, kambing, sapi perah), outbound, festival budaya kirab pusaka, dan banyak lagi.

Sama seperti Tulungrejo, di sini pun sedang sepi pengunjung paska-letusan Kelud. Saat kami datang hanya ada sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan pendampingan untuk produk olahan pertanian. Maka, kami memutuskan keliling desa dengan bekal informasi Bu Mujiyati tentang atraksi dan lokasi-lokasi yang menarik dikunjungi, salah satunya pengolahan minyak cengkeh.

Saat mencari lokasi peyulingan cengkeh, kami malah tersasar ke kebun nanas milik warga. Kebetulan sedang panen. Kami berjumpa dengan Pak Yan dan istri yang sedang sibuk memetik nanas yang berwarna kuning menggiurkan. Pasangan petani nanas itu mempersilakan kami melihat-lihat.

“Wah, nanasnya besar-besar dan banyak sekali!” ungkap saya dan Roni kagum. Roni berkata pelan pada saya kalau ini nanas khas Gunung Kelud yang terkenal enak dan manis. Mendengar bisikan Roni, istri Pak Yan mengiyakan sambil tersenyum. Saya jadi malu! “Ini bisa dibeli, Bu?”

“Oh ya, bisa. Kalau beli satuan Rp 8 ribu.”

Murah! Kami pun mengambil 4 buah nanas dan cukup hanya membayar Rp 30 ribu saja. Di halaman belakang rumah Pak Yan, ada juga ternak sapi, kambing, dan ayam kampung. Suasananya ramai! Seperti halnya pengelolaan atraksi/aktivitas wisata, begitu pun dengan pertanian yang dilakukan secara berkelompok.

Ternyata tak jauh dari kebun nanas Pak Yan, ketemu juga penyulingan minyak cengkeh yang berada di jalan utama desa dengan halaman yang penuh tumpukan kayu bakar dan asap mengepul.

Pengolahan cengkeh sangat sederhana dan tradisional. Di antara bangunan kayu, seorang lelaki setengah baya tampak sedang menyapu daun cengkeh kering ke tungku pembakaran. Berkarung-karung daun cengkeh kering akan dibakar. Di atas tungku, asap menyembul meriah. Tentu saja wangi cengkeh di mana-mana. Jalinan pipa-pipa terhubung dari tungku ke bak air. Bak air ini berfungsi untuk mendinginkan. Pipa berujung pada keran-keran yang diwadahi ember. Seperti apa minyak cengkeh itu ya? Kami penasaran.

Pekerja lain yang membakar cengkeh tak segan menunjukkan pada kami. Ia memutar selang yang mengalirkan minyak bercampur air. Minyak akan mengendap di dasar ember dan tak akan menyatu dengan air. Pada sebuah gayung, kami diminta untuk mencicipi sendiri rasa minyak cengkeh. “Coba saja ini diolesi di kulit. Awas, jangan sampai kena mata karena ini panas!”

Bukan panas seperti air mendidih, maksudnya adalah panas layaknya minyak kayu putih. Setelah kami olesi, kami malah berpendapat minyak cengkeh ini jauh lebih panas di kulit dibanding minyak kayu putih. Roni mengolesi sedikit di bawah hidung karena menurutnya aroma cengkeh memberikan efek terapi yang menenangkan dan menyembuhkan.

“Ini minyaknya diekspor, loh!” ucap lelaki penyuling cengkeh. Per kilogram minyak cengkeh dihargai Rp 150 ribu. Di Blitar tak banyak lagi orang menanam pohon cengkeh, sehingga cengkeh kering yang hendak disuling berasal dari banyak daerah di luar Blitar, bahkan dari Bali.

Usai dari Semen, kami kembali ke Tulungrejo. Tapi sebelumnya, Simox dan Saga tak lupa mengajak kami mampir ke peternakan kambing etawa yang menghasilkan susu kambing yang bermanfaat bagi kesehatan. Kambing-kambing etawa ini perangainya berbeda dari kambing pada umumnya. Warnanya dominan hitam dan putih dengan tanduk mungil dan kuping panjang yang menjuntai. Penjaga ternak kambing tak hanya mengizinkan kami berkeliling, namun ikut memberikan susu anak-anak kambing. Kami bahkan dibolehkan menggendong dan berfoto dengan bayi-bayi mungil kambing etawa. Segelas susu segar beku kambing etawa seharga sepuluh ribu. Rasanya bening dan tak berlemak seperti susu sapi.

Ada banyak hal di desa yang tampak menarik, begitu pula beragam potensi aktivitas dan atraksi wisata di desa yang mengundang masyarakat perkotaan untuk datang. Desa wisata merupakan corak pariwisata alternatif yang menekankan pada partisipasi masyarakat desa dalam menggali keberlangsungan potensi ekonomi, alam, dan sosial-budaya di desa. Ini bukan sekadar tentang alam pedesaan dan kehidupan tradisional, pilihan berlibur ke desa wisata adalah tentang bagaimana kehidupan masyarakat desa yang selaras dengan alam dapat memberikan pengalaman dan pembelajaran bagi kami yang berkunjung.

To See

Untuk menikmati beragam atraksi dan aktivitas wisata yang disesuaikan dengan keinginan atau karakter kita sebagai turis, maka sebaiknya mengkonsultasikan paket-paket wisata di pusat informasi yang terdapat di kedua desa, termasuk bagi wisatawan individu atau kelompok (terkait jumlah grup).

Setiap paket wisata akan disesuaikan dengan keinginan wisatawan, kemampuan masyarakat desa terkait kondisi fisik desa, serta harga yang fleksibel. Berikut ini adalah variasi atraksi dan aktivitas wisata yang ditawarkan di desa, mencakup:

  • pertanian/perkebunan (agrowisata),
  • teawalk (kebun teh),
  • air terjun,
  • wisata panorama alam,
  • situs purbakala,
  • tempat ibadah,
  • peternakan,
  • outbound,
  • pagelaran budaya (seni dan tari dengan jadwal/hari tertentu),
  • kemping,
  • bersepeda keliling desa dan kebun,
  • kuliner,
  • tracking Gunung Kelud,
  • arung jeram,
  • homestay,
  • dan lain-lain.

Aktivitas maupun atraksi tersebut dapat dipadukan dalam satu paket wisata dengan waktu/hari yang disesuaikan dengan lama tinggal turis di desa.

To Stay

Tak ada hotel di kedua desa wisata. Satu-satunya sarana penginapan adalah dengan menggunakan homestay dan tinggal bersama dengan salah satu keluarga di desa. Untuk informasi mengenai rumah yang bisa diinapi, kita harus melapor terlebih dulu di pusat informasi desa wisata di kedua desa. Setelah melapor, kita akan diantar dan dikenalkan dengan keluarga pemilik rumah. Pengalaman menginap di rumah warga ini sangat menyenangkan karena kita menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat desa yang ramah, sekaligus memberikan pendapatan ekonomi secara langsung kepada warga desa dan desa. Tarif untuk menginap dapat disesuaikan dengan fasilitas dan jumlah tamu. Jika datang dalam kelompok, sebaiknya melakukan komunikasi atau pemesanan terlebih dulu dengan mengontak pusat informasi atau pemandu wisata lokal.

To Eat

Tentu akan sulit untuk menemukan restoran atau rumah makan di dalam desa. Rumah makan/warung makan sederhana hanya bisa kita temukan di jalan raya desa. Tetapi jika menggunakan jasa homestay, kita tak perlu khawatir karena biasanya paket menginap sudah termasuk dengan pemenuhan makan bersama dengan keluarga di rumah tempat kita menginap. Makanan yang dihidangkan umumnya sederhana berupa masakan sayur-mayur lengkap dengan lauk tempe/tahu, telur, dan lain-lain. Seperti layaknya sajian orang desa, makanan yang dihidangkan diolah secara tradisional dengan kesegaran dan olahan rempah yang nikmat.

Semen juga merupakan desa agrikultur dengan dominasi perkebunan sayur dan buah. Jadi tak ada salahnya mencicipi aneka panen petani setempat, khususnya nanas yang berukuran besar dan sangat manis. Saat ini warga desa sedang mengembangkan olahan keripik dari olahan umbi-umbian yang ditanam di kebun. Kita juga bisa membeli susu kambing etawa yang diternak oleh masyarakat Desa Tulungrejo. Dan tentu saja, tak ketinggalan cicipilah kopi hitam yang banyak ditanam warga desa di halaman dan kebun belakang rumah.

Get There

Terdapat dua akses perjalanan menuju Tulungrejo maupun Semen, yaitu melalui Kota Blitar dan Kota Malang.

Untuk perjalanan melalui Kota Blitar, jarak tempuh yang akan dilalui sekitar 40 km dari pusat kota. Perjalanan menggunakan bus atau kereta api akan melalui Stasiun Wlingi, Blitar, kemudian dilanjutkan dengan angkot berwarna kuning hingga Tulungrejo atau Semen. Sementara melalui Kota Malang, lebih tepat dilalui dengan kendaraan pribadi mobil maupun motor. Perjalanan relatif lebih singkat (sekitar 1,5 jam) dengan pemandangan yang sangat atraktif, namun tak banyak kendaraan bus yang mau melewati rute Kota Malang-Kota Wisata Batu-Pujon-Kab. Blitar ini karena kondisi jalan yang berkelok di kawasan dataran tinggi dan rawan longsor untuk dilalui kendaraan berat. Tetapi untuk mobil pribadi dan motor, tentu saja infrastruktur jalan relatif baik dan membutuhkan kehati-hatian ketika melewati kelokan tajam di perbukitan.

Quick Tips

  • Berperilaku dan berpakaian yang santun dan sopan selama berada di desa. Sebaiknya tidak mengenakan pakaian tanpa lengan maupun celana di atas lutut. Masyarakat desa memang telah terbiasa menerima kedatangan turis dan murah senyum pada orang asing, sehingga biasakan membalas salam dan tegur-sapa atau senyuman yang mereka lontarkan.
  • Untuk kedatangan dalam kelompok besar, sebaiknya mengkonsultasikan terlebih dulu dengan pusat informasi desa wisata atau menghubungi pemandu lokal agar dapat mendiskusikan kebutuhan selama wisatawan berada di desa.
  • Tak perlu malu-malu untuk menyinggah pekarangan atau kebun warga desa. Kita dapat meminta izin secara langsung untuk melihat-lihat. Jika ingin memotret, biasakan juga meminta izin terlebih dulu.
  • Jika ingin mengunjungi pura, jangan lupa izin kepada penjaga pura dan juga mengenakan pakaian pantas. Tak ada salahnya untuk membawa kain panjang/sarung. Berhati-hati ketika melangkah karena di sekitar pura terdapat banyak ular sawah yang berkeliaran.
  • Udara di kawasan lereng Kelud relatif dingin, terutama menjelang Subuh. Maka, sebaiknya menyiapkan pakaian hangat. Jika tak kuat mandi pagi dengan air dingin, terlebih dulu mintalah tolong kepada tuan rumah apakah memungkinkan untuk merebus air hangat bagi keperluan mandi.

Contact Us

Selama mengunjungi Desa Tulungrejo dan Semen, kami didampingi oleh Simox (0813 3020 0094) dan Saga (0857 4969 9307), mahasiswa jurusan pariwisata dari Universitas Brawijaya yang terlibat dalam pengembangan desa wisata sekaligus menjadi pemandu wisata kami. Mengingat kedua desa wisata sedang sepi turis paska-letusan Gunung Kelud, maka kala itu sangat sulit bagi kami jika mencari pemandu lokal setibanya di desa.

Kami menyarankan untuk mengontak terlebih dulu pusat informasi kedua desa sebelum melakukan kunjungan wisata.

Gubuk Limas Desa Wisata Tulungrejo

Kantor             : Jl. Cimandiri Gang 2, Ling. Badoet, Kel. Tanggung, Kota Blitar

Basecamp       : Ds. Modangan, Kec. Nglegok, Kab. Blitar

Telepon           : 0812 52912 083, 0857 31635 239

Website           : http://desawisatatulungrejo.blogspot.com/ 

Kampung Wisata Ekologis Puspa Jagad, Desa Semen

Kantor             : Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Gandusari, Kab. Blitar

Telepon           : 0857 9050 6767 (Eko), 0858 5506 3300 (Anji)

Website           : http://puspajagad.tk dan http://desa-semen.blogspot.com

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home News The Popular Desa Wisata Desa Semen dan Tulungrejo

Newsletter

Subcribe
1036777
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
34
453
5093
850939
16360
20604