Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Mendamba Kota yang Ramah Pejalan Kaki

Tahun lalu, kita bisa jadi terkejut, tapi mungkin juga tidak ketika Stanford University meluncurkan hasil penelitiannya. Studi yang dilakukan di 46 negara tersebut, dikutip dari sebuah artikel pada VICE Indonesia (14/07/2017), menunjukkan fakta bahwa orang Indonesia punya gelar sebagai yang paling malas berjalan kaki di dunia. Rata-rata warganya hanya berjalan kaki sekitar 3.513 langkah per hari.

Kita tentu tidak sedang memperdebatkan studi tersebut. Tetapi, ada kondisi lain yang turut mempengaruhi mengapa tak banyak dari kita mau untuk berjalan kaki dalam jangka waktu dan jarak yang relatif lebih panjang di Indonesia. Dan itu mungkin tak selalu membawa kita pada suatu penghakiman menjadi si pemalas.

***

Ancaman di Trotoar Jalan

Carut marut pemandangan trotoar di Jakarta tampak selama berlangsungnya proses pembangunan MRT (Mass Rapid Transit), sebuah sistem transportasi cepat yang menggunakan kereta rel listrik. Proyek itu dimulai sejak akhir tahun 2013 dan diprediksi selesai pada Maret 2019. Suasana di sekitar jalur MRT pun tak hanya menimbulkan kesemerawutan yang menyebabkan warga mau tak mau menikmati kemacetan yang jauh lebih dahsyat, melainkan pula pejalan kaki yang terkendala untuk melangkah. Warga yang berjalan kaki perlu ekstra waspada sebab lubang ada di mana-mana, udara dipenuhi debu yang tebal, suasana bising, dan jalanan menyempit. Bahkan, pada sejumlah ruas trotoar jalan yang terpaksa ditutup, membuat para pejalan kaki harus berjalan di tepian jalan raya yang dilalui kendaraan bermotor.

Tetapi, tantangan itu bukanlah hal yang baru bagi warga yang tinggal dan bekerja di Jakarta yang seringkali pula dijuluki sebagai kota yang paling tidak ramah bagi pejalan kaki. Ada sekelumit persoalan yang membuat aktivitas berjalan kaki di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia, termasuk Jogja, menjadi aktivitas yang bisa jadi membahayakan.

Kita mungkin masih ingat serangkaian aksi yang dilakukan oleh Koalisi Pejalan Kaki di berbagai kota dalam menghadang sepeda motor untuk melintasi trotoar. Mereka menghalangi motor-motor yang melintas di bahu jalan yang khusus diperuntukkan untuk pejalan kaki sambil membawa poster dan seruan. Dalam setiap kampanyenya, Koalisi Pejalan Kaki mendorong pemenuhan hak pejalan kaki yang seringkali diabaikan atau dianggap remeh. Selain motor yang merebut ruang pejalan kaki karena alasan macet, ada juga pedagang kaki lima (PKL) yang berdagang di atas trotoar, tiang listrik atau telepon yang didirikan di tengah-tengah lintasan pejalan kaki, dan galian kabel atau selokan yang seringkali mengorbankan trotoar untuk dibongkar dan setelahnya luput mengembalikan pada bentuk semula.

Trotoar yang tak terurus pun bisa jadi memberikan ruang bagi tindak kriminal dan kekerasan seksual. Itu terutama terjadi pada malam hari di sudut-sudut trotoar yang sepi dan tak memiliki penerangan berupa lampu jalan. Perempuan kerap menjadi korban. Jika bagi masyarakat secara umum saja berjalan kaki di trotoar telah diliputi dengan berbagai tantangan, bayangkan bagaimana hal itu dapat menjadi mimpi buruk bagi kelompok minoritas, termasuk orang-orang dengan disabilitas maupun lansia.

Maka, tak heran pula untuk mengatakan pejalan kaki merupakan kelompok yang paling rentan di jalan. Dilansir dari BeritaSatu.com (22/01/2017), disebutkan bahwa di tahun 2016 saja terdapat 288 kecelakaan per hari di mana setiap harinya 72 orang tewas akibat kecelakaan. Salah satu peristiwa paling mengerikan itu adalah Tragedi Tugu Tani pada 22 Januari 2012 - tanggal yang diusulkan sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional oleh Koalisi Pejalan Kaki.

Payung Hukum

Berjalan kaki di trotoar dengan aman dan nyaman dilindungi oleh negara. UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU 22/2009) serta Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan (PP 34/2006) telah mengatur keutamaan keselamatan pejalan kaki dan sanksi bagi mereka yang melanggarnya.

Pasal 108 Ayat (2) UU 22/2009 menyebutkan dengan tegas bahwa pengemudi kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki. Baik itu UU No. 22/2009 maupun PP 34/2006, juga telah mengatur peruntukkan trotoar bagi lalu lintas pejalan kaki. Sanksi terhadap perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi fasilitas pejalan kaki, dapat dikenai pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 275). Sementara bagi pengendara motor yang tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki, yaitu kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Tetapi, tampaknya, selain tak banyak orang tahu mengenai hal itu, lemahnya penegakan hukum pun membuat banyak orang, terutama pengendara motor, tak juga jera.

“Trotoar hanya untuk pejalan kaki, apa pun alasannya, termasuk macet. Yang tidak jalan adalah penegakan hukumnya. Pihak berwajib dan Pemda tidak pernah serius menegakan aturan hukum tersebut,” ungkap Nirwono Yoga dikutip dari Tirto.id (1707/2017).

Pada sumber yang sama, pengamat tata ruang dari Universitas Trisakti tersebut juga mengutarakan pendapatnya terkait pembangunan kota yang tampaknya luput dalam melihat kebutuhan pejalan kaki. Sebagian besar infrastruktur yang dibangun untuk memanjakan pengendara kendaraan bermotor dan kebijakan yang terkesan tumpul, menegaskan pendapat itu. Polanya serupa. Di negara-negara (mungkin pula kota-kota) dengan jumlah kendaraan sepeda motor yang tinggi, kemacetan menjadi fenomena yang mengiringinya. Bersamaan dengan keduanya, adalah prioritas yang relatif kecil terhadap pejalan kaki.

Pendekatan yang Berbeda dan Multifungsi Pedestrian

Namun, ada hal yang kemudian berubah. Belakangan ini kita melihat suatu tren yang berbeda dan membuat trotoar atau pedestrian punya wajah yang lain.

Di Kota Jogja di mana sebagian besar trotoar mengalami malfungsi, kini terdapat satu titik yang sedang banyak disoroti karena kondisinya yang ideal sekaligus tengah populer di media sosial. Itu adalah trotoar di sisi timur Jl. Malioboro yang telah dikenal sebagai salah satu atraksi pariwisata dan lokasi favorit bagi berkumpulnya wisatawan. Jalan utama tersebut punya nilai historis yang tinggi. Dan peran strategis Malioboro dalam mendukung perekonomian kreatif dan industri pariwisata di Kota Gudeg, telah memberikan desakan yang besar terhadap kebutuhan untuk merevitalisasi trotoar di sana.

Di dua kota lain, yaitu Jakarta dan Palembang, yang di tahun ini menjadi tuan rumah bagi perhelatan Asian Games, keberadaan trotoar juga menjadi sorotan. Di Jakarta, menjelang penuntasan proyek MRT, trotoar pada poros Jl. Sudirman-Thamrin mengalami transformasi dengan penampilan yang baru. Hal yang paling menonjol tentu saja di sekitaran Gelora Bung Karno. Pedestrian di jalan-jalan utama di ibukota itu diperlebar, ada penambahan sarana bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus (disabilitas), kursi taman dan pohon atau tanaman hias juga diperhatikan untuk mempermanis suasana. Kebutuhan untuk memperlebar trotoar di depan pintu-pintu masuk GBK berguna untuk mengantisipasi antusiasme maupun antrian pengunjung yang hendak menyaksikan perhelatan olahraga yang sekaligus menjadi ajang puncak sport tourism di Asia itu.

Sementara di Palembang, pemerintah setempat punya ide menarik dengan pedestrian yang kebetulan juga punya nama yang sama, tapi kini punya branding yang unik, yaitu “Pedestrian Wisata Sudirman Palembang.” Sudah bisa ditebak! Kota Pempek itu bukan hanya memperbaiki bentuk fisik pedestriannya dalam menyambut Asian Games 2018, melainkan pula mengintegrasikan pedestrian dan pariwisata. Di Jl. Sudirman Palembang, warga berbondong-bondong hampir setiap malam, terlebih lagi di akhir pekan selama Asian Games, untuk menyaksikan berbagai acara hiburan hingga sekadar ber-selfie di berbagai spot yang dianggap Instagram-able oleh warga maupun wisatawan.

Topik yang terkait pedestrian dan pariwisata memang bukan hal baru. Tentu saja, pedestrian punya fungsi yang signifikan sebagai pendukung aksesibilitas. Keberadaan pedestrian menghubungkan mobilitas wisatawan pada daya tarik wisata serta transportasi dan sarana pendukungnya, seperti terminal, halte, stasiun, pusat informasi pariwisata, dan lainnya. Tetapi, tren yang muncul kemudian adalah bahwa pedestrian itu sendiri bisa menjadi daya tarik wisata yang mengundang wisatawan untuk datang. Dan itu menguntungkan masyarakat lokal (host community) dan suatu kota terhadap upaya perbaikan infrastruktur kota. Pedestrian yang aman dan nyaman pun mendorong minat lebih banyak orang untuk mau berjalan dan beralih pada transportasi publik.

Tentu saja, terlepas dari itu semua, perbaikan maupun pengembangan trotoar atau pedestrian tak boleh terlepas dari fungsi utamanya: berjalan kaki. Tetapi, dalam mendorong upaya terhadap pemenuhan kebutuhan pejalan kaki, dibutuhkan pula pendekatan yang berbeda dan kreatif untuk merespon keangkuhan kota yang selama ini tampaknya hanya dibangun demi memanjakan kendaraan bermotor. Pariwisata menjadi salah satu poin strategis yang bisa diangkat untuk menunjukkan peran pedestrian yang mempunyai dampak positif bagi perekonomian dan industri kreatif suatu kota. Trotoar jalan dapat menjadi tempat berkumpul dan bermain, bahkan bukan hal mustahil untuk menyelenggarakan suatu acara seni dan budaya di trotoar jalan.

Sehingga, kita bisa katakan bahwa pedestrian melampaui fungsi sekadar untuk berjalan kaki. Bahwa keberadaan pedestrian yang aman dan nyaman mungkin tak hanya berpengaruh dalam memecah stigma Indonesia sebagai bangsa yang malas untuk jalan kaki, tetapi juga menghidupkan kelangsungan sektor kreatif dan pariwisata di negeri ini. Mari, kita jalan-jalan!

***

*Artikel ini pertama kali diterbitkan pada majalah mata jendela edisi Vol. XIII No. 3/2018

Sumber Tulisan:

Kabar Perwakilan Ombudsman (2 Februari 2018) Kondisi Trotoar Buruk Bertebaran di Jogja, Warga Menagdu ke Ombudsman. Solopos.com. Didapat dari http://www.ombudsman.go.id/perwakilan/news/r/pwk--kondisi-trotoar-buruk-bertebaran-di-jogja-warga-mengadu-ke-ombudsman

Lawrence, Arzia Tivany W. dan Renaldi, Adi (14 Juli 2017) Eksperimen Kami Menjelaskan Alasan Orang Indonesia Malas Jalan Kaki. Vice Indonesia. Didapat dari https://www.vice.com/id_id/article/8xad84/eksperimen-kami-menjelaskan-alasan-orang-indonesia-malas-jalan-kakiNathaniel, Felix (17 Juli 2017) Hak Pejalan Kaki di Trotoar yang Sering Terabaikan. Tirto.id. Didapat dari https://tirto.id/hak-pejalan-kaki-di-trotoar-yang-sering-terabaikan-csNh

Saputra, Odi Aria (3 April 2017) Pedestrian Sudirman Palembang Jadi Wisata Primadona. Sripoku.com. Didapat dari http://palembang.tribunnews.com/2017/04/03/pedestrian-sudirman-palembang-jadi-wisata-primadona.

___ Pedestrian Malioboro Jogja jadi Daya Tarik Baru bagi Wisatawan. Jogja.co. Didapat dari http://www.jogja.co/pedestrian-malioboro-jogja-jadi-daya-tarik-baru-bagi-wisatawan/.