Partisipasi Sebagai Kunci Keberlanjutan

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Kritik terhadap corak “pariwisata modern” yang didominasi oleh karakter kapitalistik, pembangunan fisik berskala besar, serta cenderung bersifat eksploitatif, telah memunculkan gelombang “pariwisata alternatif” yang terus dikampanyekan dan berkembang secara global pada 3 dekade terakhir. Tuntutan terhadap gerakan pariwisata alternatif adalah jelas sebagai suatu tandingan bagi kian meluasnya laju mass tourism yang terbukti lebih banyak menimbulkan dampak negatif terhadap persoalan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan, terutama di kawasan dan masyarakat sekitar destinasi pariwisata berada. Bersamaan dengan itu, wacana keberlanjutan pariwisata (sustainable tourism development) seolah menjadi hal yang tak mungkin ditampik lagi.

Tetapi mungkin banyak dari kita terkadang lupa bahwa isu sustainability ini tak melulu mengenai hal-hal yang bersifat fisik–meski kita tak menyangkal itu pun menjadi penting. Salah satu kunci bagi keberlanjutan pariwisata adalah pula tentang partisipasi. Partisipasi yang dimaksud merupakan penekanan terhadap keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata. Artinya, mereka memiliki andil sebagai subjek pembangunan di mana masyarakat setempat ikut terlibat pada tahap pra-perencanaan hingga pengawasan, mulai dari pemetaan/identifikasi potensi sumber daya, penentuan visi-misi pariwisata, pengembangan tujuan strategis, implementasi, sampai pada monitoring dan evaluasi. Dengan begitu, kehadiran pariwisata memberikan dampak langsung dan positif terhadap kehidupan mereka, termasuk di dalamnya menyoal kemandirian ekonomi, kedaulatan sosial-budaya, dan upaya pelestarian alam. Desakan ini kian perlu diadaptasi karena dukungan dan partisipasi masyarakat lokal terhadap suatu destinasi berkontribusi pada keberlangsungan keberadaan atraksi dan aktivitas wisata itu sendiri.

Seiring dengan perkembangan pariwisata alternatif, kini pemahaman partisipasi pun tak terbatas pada aspek partisipasi masyarakat lokal sebagai subjek, melainkan juga partisipasi wisatawan. Motivasi wisatawan yang terus mencari dan menggali pengalaman baru dari proses wisata yang dilakukan, kemudian berdampak pada bagaimana pariwisata alternatif dikemas sebagai sesuatu yang menarik, baru, serta “alternatif” bagi mereka yang jenuh dengan modern tourism. Bahwa berangsur-angsur, wisatawan pun mulai memiliki ekspektasi yang berbeda dari proses konsumsi daya tarik wisata dengan keterlibatan aktif wisatawan. Ini berarti sekat antara wisatawan dan masyarakat lokal tak lagi menjadi jelas karena adanya interaksi bersama dan konsensus yang berimbang, sehingga bukan mustahil untuk menciptakan mutual understanding serta ruang yang adil dan setara di antara kedua pihak. Maka, tuntutan terhadap corak pariwisata alternatif maupun keberlanjutan pariwisata ini datang dari dua sisi yang berbeda secara bersamaan: dari “dalam” menyangkut desakan pada proses pembangunan pariwisata yang bertanggung jawab (partisipasi masyarakat lokal) dan dari “luar” tak lain adalah tren motivasi wisatawan itu sendiri yang menginginkan pengalaman berbeda dari perjalanan wisata (partisipasi wisatawan).

Sebagai suatu payung besar dari gelombang pariwisata dunia, pariwisata alternatif telah melahirkan banyak turunan berupa variasi corak pariwisata non-konvensional. Tipe-tipe pariwisata tersebut, mencakup eco-tourism, cultural heritage tourism, spiritual tourism, LGBTIQ-friendly tourism, pro-poor tourism, backpacker tourism, disaster tourism, village/rural tourism, agriculture tourism, food/gastronomic tourism, dan banyak lagi tipe alternatif lain dalam melakukan perjalanan wisata untuk tidak menyebutkannya satu per satu.

Pada bahasan kali ini, menarik untuk membahas tiga corak pariwisata alternatif yang sangat menekankan pada partisipasi aktif masyarakat lokal dan wisatawan, yaitu village tourism, creative tourism, dan volunteer tourism. Ketiganya mungkin bukan hal yang baru dalam materi pariwisata sebagai keilmuan. Meski begitu, corak pariwisata dengan keberpihakan terhadap masyarakat lokal ini tetap akan selalu penting untuk dipopulerkan dan dibahas mengingat perkembangan pariwisata dan masyarakat serta wisatawan yang dinamis dan kompleks.

Village Tourism

Biasa diterjemahkan dengan konsep desa wisata, village tourism merupakan pendekatan pengembangan pariwisata di mana elemen-elemen (atraksi, akomodasi, transportasi, elemen kelembagaan/pengelola, serta infrastruktur dan fasilitas layanan lainnya) memiliki integrasi dan harmonisasi dengan kehidupan masyarakat desa dan aspek fisik kawasan desa (pedesaan). Artinya bukan sekedar bahwa masyarakat desa dan desa menjadi atraksi saja, melainkan seluruh infrastruktur dan layanan pariwisata menjadi satu secara etika dan estetika sesuai kebutuhan wisatawan sekaligus masyarakat. Desa wisata juga menekankan pada pembelajaran dan pengalaman wisatawan terhadap kehidupan lokal. Biasanya wisatawan tinggal di dalam atau di dekat desa dan mendapatkan pengalaman melakukan/mengalami apa yang masyarakat desa lakukan.

Saat ini, konsep pengembangan desa wisata didukung oleh pemerintah pusat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat/PNPM Mandiri di Bidang Pariwisata yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan, peluang pekerjaan (dan wirausaha) masyarakat desa, serta sebagai dampak kebijakan desentralisasi (otonomi daerah). Konsep desa wisata sebetulnya tak berbeda jauh dengan community-based tourism yang berperan mendorong keberlangsungan atraksi bersamaan dengan local development enterprise. Selain dimiliki dan dikelola oleh masyarakat desa, profit dari pariwisata juga akan diserap oleh masyarakat desa sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama dan pengembangan infrastruktur maupun fasilitas publik di desa.

Creative Tourism

UNESCO mendefinisikan creative tourism (pariwisata kreatif) sebagai pariwisata yang berhubungan dengan pengembangan (pemberdayaan) masyarakat untuk cara hidup yang berkelanjutan (sustainable way of life). Pariwisata kreatif bukan hal baru, tapi semakin dilihat sebagai suatu solusi kontemporer terhadap keberlangsungan pariwisata yang memperhatikan aspek sosial-budaya dalam konteks cultural tourism karena memiliki konektivitas secara langsung dengan sejarah, budaya, serta cara hidup melalui pembelajaran dan pengalaman.

Creative tourism tak terbatas berupa home-stay (tinggal bersama masyarakat lokal), melainkan memberikan ruang dan mendorong wisatawan ikut terlibat dalam aktivitas masyarakat (khususnya atraksi pariwisata budaya), seperti ikut menanam padi bersama petani, membatik bersama pembatik, dan lain-lain. Tujuannya bukan hanya pada dampak bagi masyarakat lokal saja. Pariwisata kreatif juga memiliki capaian dalam menggali aspek kreatif di dalam diri wisatawan melalui aktivitas wisata yang kreatif. Dengan adanya pembelajaran dan pengalaman (simpati dan empati), maka diharapkan dapat memberikan pemahaman etika dan estetika (apresiasi) dari wisatawan untuk menghargai dan menghormati budaya yang berbeda. Pada saat yang bersamaan juga memberikan inspirasi kepada wisatawan melalui pengalaman kreatif yang didapatkannya.

Volunteer Tourism

Disingkat voluntourism–seperti namanya–lebih menitikberatkan peran wisatawan sebagai volunteer (relawan) untuk tujuan kemanusiaan. Ini menarik karena aktivitas relawan di suatu daerah bencana atau lokasi wisata (pada konteks relawan tinggal secara sementara/tidak menetap) juga dilihat sebagai daya tarik yang mendorong wisatawan untuk datang membantu. Melalui volunteer tourism, wisatawan dapat melepas jarak dengan masyarakat lokal melalui interaksi dan kontribusi positif terhadap lokasi yang dikunjungi.

Sejumlah destinasi desa wisata dan taman nasional kini telah menyediakan jasa untuk partisipasi turis sebagai relawan yang membantu kerja-kerja pemberdayaan masyarakat maupun konservasi. Tawaran terhadap kegiatan relawan juga telah mulai diintegrasikan ke dalam paket wisata sebagai bentuk tanggung jawab pada proses perjalanan wisata. Dorongan ini tentu menyasar pada ide bahwa wisatawan juga memiliki andil terhadap pengurangan dampak negatif wisata dan perlu memberikan timbal-balik dari kesenangan yang didapatkannya dari suatu daerah untuk masyarakat dan alam yang dikunjunginya. Pada kondisi berbeda, voluntourism akan sangat dibutuhkan bagi kawasan atau destinasi wisata yang mengalami bencana. Kehadiran wisatawan atau relawan menjadi penting tak hanya untuk membantu pemulihan bencana, tetapi pula dukungan untuk mengembalikan kembali destinasi yang tertimpa bencana di mana masyarakat dan kawasan begitu tergantung pada kehadiran wisatawan untuk menunjang keberlangsungan ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan fisik.

Pengalaman mengikuti voluntourism pula berdampak positif bagi diri wisatawan, yaitu meningkatkan karakter mandiri, menggali aspek humanis, menjalin semangat gotong-royong, persahabatan, dan solidaritas dengan sesama volunteer dan warga, serta memaksimalkan pengalaman melalui kontribusi pada pembangunan maupun pemberdayaan.

Ketiga corak di atas bukan tak mungkin untuk kemudian berkembang seiring dengan dinamika situasi dan kondisi pariwisata di Indonesia. Penekanan partisipasi dalam pariwisata akan terus diupayakan sebagai desakan terhadap isu keberlanjutan pariwisata yang semakin gencar dilakukan bersamaan dengan gelombang pariwisata alternatif yang mulai memasuki ranah arus utama tren pariwisata. Partisipasi di sini tidak sekadar menjadi klaim masyarakat lokal memperjuangkan ruang, melainkan pula menjadi tantangan untuk memenuhi selera baru wisatawan terhadap sesuatu yang baru dan alternatif dalam melakukan proses perjalanan wisata (termasuk penekanan pada etika berwisata bagi wisatawan). Tentu saja bagi para pengelola destinasi, ini penting untuk dilihat sebagai suatu peluang terhadap pola maupun perspektif dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Planning and Development Partisipasi Sebagai Kunci Keberlanjutan

Newsletter

Subcribe
1067784
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
198
421
1901
886362
8793
19042