Glamping: Tren yang Merespon Pasar & Konservasi

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Pariwisata kian berkembang dan mengalami beragam modifikasi untuk menyesuaikan diri sebagai industri dan kajian yang mengusung kekinian. Bukan hanya hendak mencari peluang bagi potensi pasar, melainkan pula menjawab persoalan zaman. Menarik ketika suatu arus tren dalam beberapa tahun terakhir merambah kaum urban Jakarta: glamping!

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika tiba-tiba seorang kawan mengajak kita ke tempat dengan alam terbuka dan menginap di tenda pada akhir pekan? Bagi mereka yang gemar melakukan outdoor activities atau kegiatan yang memicu adrenalin, pastinya itu bukan masalah. Tetapi tak semua penggiat alam, mau repot dan bersusah payah dengan perkakas camping (kemping). Tetapi tren baru seakan mengubah pandangan lama kita tentang kemping melalui tren wisata kemping berkonsep glamor, yaitu glamorous camping atau disingkat glamping.

Glamping Sebagai Respon Pasar

Dalam gelombang pariwisata modern, tren berwisata ala kemping pada awalnya menjadi populer di abad ke-20 di Eropa. Kemping - menurut kamus Oxford - dapat didefinisikan sebagai aktivitas di luar ruangan yang berlokasi di alam terbuka dan aktivitas menghabiskan hari libur dengan tinggal di tenda. Mereka yang mepraktikkannya dikenal dengan sebutan “campers.”

Definisi sederhana tersebut memang relevan di mana kita melihat kemping mempunyai unsur utama (karakter) berupa alam terbuka dan tenda. Maka menjadi amat relevan jika banyak pakar mengelompokkannya sebagai bagian dari wisata alam (nature tourism) karena kemping merupakan wisata yang berbasis alam (nature-based).

Secara konvensional, kemping memang menjadi alternatif wisata yang cenderung murah (low budget) sebab - kemping yang umumnya dilakukan di alam terbuka, seperti taman nasional atau hutan - pada awalnya adalah aktivitas wisata yang tidak mendesak kebutuhan pada infrastruktur fisik modern maupun layanan akomodasi, amenitas, dan sarana lain yang matang. Alam yang asli menjadi hal yang diterima apa adanya (taken for granted) dan campers-lah yang mengalah dengan upaya ekstra memenuhi kebutuhan dirinya, seperti membawa/mengolah makanan sendiri dan menginap di tenda sendiri. Proses itulah yang membuat kemping menjadi relatif murah karena tak ada biaya servis yang lebih untuk layanan kamar, makan, transportasi, dan macam-macam. Para campers melakukannya dengan motivasi yang bervariasi, mulai dari sekadar menjalin keakraban dengan kawan atau kerabat melalui interaksi yang kuat di alam terbuka (intimacy with people and nature) hingga menghilangkan stres (stress relief).

Alam yang telanjang mungkin menjanjikan suatu kemewahan. Namun untuk menikmatinya, bagi sebagian kalangan, bukanlah yang mudah untuk didapatkan jika harus pula mempersiapkan perlengkapan dan kebutuhan selama menginap di alam terbuka. Ada pula mereka yang tidak bisa menikmati kemping dengan cara konvensional atas alasan kondisi fisik dan non-fisik, misalnya turis dengan keluarga dengan anak balita, lansia, dan difabel. Banyak pula mereka yang ingin kemping, tetapi tidak bisa dan/atau tidak ingin melakukan kemping dengan gaya konvensional, kemudian rela menukar kenikmatan dengan membayar uang lebih. Yang terakhir ini, tidak sedikit merupakan kelas menengah/pekerja urban. Kemping pun memasuki ranah gaya hidup dalam berwisata.

Awalnya, glamping diperkenalkan di negara-negara Eropa terhadap segmentasi wisatawan dari kota/perkotaan dengan motivasi tinggi terhadap nature-based tourism dan memiliki daya beli (buying power) yang juga cenderung tinggi. Glamping menghadirkan suasana yang serupa dengan kemping konvensional, namun menawarkan kemudahan dan kemewahan layaknya layanan wisata atau hotel berbintang.

Seiring dengan lonjakan kelas menengah secara global, yang pula melanda Indonesia, terutama di kota-kota besar dan kawasan perkotaan, maka glamping mulai memasuki ranah arus utama pariwisata alternatif bagi wisatawan urban, baik individu maupun kelompok. Glamping dengan cepat bertumbuh bersamaan dengan niche market-nya yang pula merangkak naik.

Glamping telah memberikan perluasan pasar baru. Mereka tak hanya kelas menengah, tetapi juga wisatawan keluarga (family tourist) yang menikmati bertenda dengan layanan yang komplit (a whole package and integrated services).

Turis tidak datang dengan tenda! Destinasi glamping telah disediakan dengan berbagai jenis dan fasilitas atau penyesuaian sesuai faktor keamanan dan kenyamanan sesuai kebutuhan dan keinginan wisatawan. Infrastruktur dan layanan pada glamping, bahkan melebihi kebutuhan dasar wisatawan itu sendiri. Ada banyak layanan tambahan dalam paket, termasuk di dalamnya aktivitas wisata. Sebagai kawasan maupun paket yang terintegrasi, maka sebagai contoh, Tanakita Camop di Situ Gunung, Sukabumi (yang berbatasan dan terhubung dengan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango), tak cukup dengan hanya memberikan fasilitas toilet dan kamar mandi shower (dengan dekorasi tematik dan dilengkapi aroma terapi), dapur, area makan, arena bermain, api unggun, dan titik pandang, tetapi juga aktivitas alam, seperti flying fox, arum jeram, birdwatching, hiking, dan lainnya.

Dengan begitu, kemping - dalam konsep glamping - dapat dinikmati oleh segmentasi pasar yang beragam, mulai dari balita hingga lansia, bahkan mereka yang difabel sekali pun (tentu dengan penyesuaian atau pelayanan dan pengawasan khusus dari staf jika infrastruktur tidak ramah pada kelompok difabel), asalkan mampu membayar lebih.

Glamping memecah stigma kemping sebagai bentuk wisata alam yang relatif murah dan adrenaline-type adventure di mana menenda umumnya dilakukan di bukan kawasan komersil atau berada di tengah hutan, gunung, tempat terpencil, atau jauh dari segala akses layanan publik yang menuntut fisik dan mental lebih serta persiapan yang repot selama menginap. Atau memberikan nilai komersil terhadap kawasan konservasi.

Glamping Sebagai Dukungan Konservasi Alam

Glamping - dengan seluruh aspeknya - memiliki kaitan yang tidak dapat dipisahkan dengan bentuk pariwisata berbasis alam. Selain meluaskan potensi pasar, glamping ternyata juga membuka berbagai peluang maupun inovasi baru terkait kesadaran terhadap pelestarian lingkungan sekaligus menegaskan bahwa pelestarian mempunyai potensi terhadap perputaran roda ekonomi yang tidak kecil bagi tingkat pendapatan, serapan tenaga kerja, maupun kemajuan suatu kawasan secara lestari, baik taman nasional maupun perdesaan di sekitarnya.

Pengelola glamping - beserta seluruh kru dan stafnya - perlu memiliki pemahaman tinggi terhadap kerentanan lingkungan fisik di mana glamping berada dan aktivitas wisatawan yang melakukan kemping dan aktivitas terkait lainnya di sekitarnya. Bagi mereka yang melihat peluang bisnis terhadap glamping, penting sekali untuk melihat faktor alam sebagai prioritas, bahkan sejak proses perencanaan. Dari awal, pengelola harus mempertimbangkan bagaimana dan apa dampak terhadap lingkungan, ekonomi, sosial-budaya, dan tentu saja politik. Seperti apa relasi keterkaitan terhadap dampak-dampak tersebut bisa dikelola untuk menjamin keberlangsungan pariwisata yang menjadi perpaduan kualitas pengalaman dan aspek etika berwisata (tourism ethics) yang ditekankan terhadap turis. Pengelola glamping harus mampu menjalin rantai pasok dengan penekanan pada konservasi dan pemberdayaan.

Sayangnya, aspek etika seringkali luput. Kita kerap gagap melihat peluang bahwa turis sendiri sebetulnya mampu mendukung upaya keberlanjutan glamping dengan partisipasi turis dengan interaksi yang personal dan individual terhadap alam. Misalnya saja, - meski memberikan kesan alam sebagai keutamaan - glamping Tanakita Camp (berdasarkan pengalaman personal penulis), sayangnya kurang menekankan aspek etika dan kerelaan partisipasi wisatawan (voluntary) terhadap kegiatan-kegiatan yang mendukung konservasi di taman nasional. Kru tidak menjelaskan tentang etika selama menginap atau memberikan pemahaman bagaimana para campers bisa mendukung aspek konservasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

Untuk melihatnya sebagai respon pasar dan salah satu jawaban bagi persoalan lingkungan, maka glamping sebaiknya secara tegas perlu memberikan perhatian pada aspek keberlanjutan sekaligus promosi terhadap aspek konservasi dan edukasi kepada turis untuk bisa berpartisipasi aktif terhadap isu lingkungan maupun pariwisata yang berkelanjutan, terutama bagi mereka yang menjadi kelompok kelas menengah urban sebagai pula bagian dari rantai persoalan lingkungan hidup kita.

 

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Planning and Development Glamping: Tren yang Merespon Pasar & Konservasi

Newsletter

Subcribe
1037199
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
456
453
5515
850939
16782
20604