Inovasi Produk bagi Keberlanjutan Kepariwisataan

Oleh Ismayanti

Suatu produk pariwisata diharapkan dapat memberikan kepada wisatawan berupa pengalaman yang mengesankan dan nilai manfaat lebih dari setiap perjalanan wisata. Maka, inovasi produk pariwisata merupakan hal yang penting kaitannya pada tujuan terhadap pemenuhan harapan-harapan tersebut.

Apa Itu Inovasi Produk?

Inovasi produk pariwisata dapat diartikan sebagai kegiatan pembaharuan yang mampu menghasilkan pengalaman tak terlupakan dan manfaat yang lebih baik bagi wisatawan yang berpengalaman atau transumer, sehingga hal tersebut menjadi keunggulan destinasi. Pengalaman dalam konteks inovasi diandaikan sebagai nukleus. Sementara itu, destinasi adalah panggung dan wirausaha pariwisata adalah aktor-aktor di atas panggung. Pembelajaran berkelanjutan dan akuisisi pengetahuan dari wisatawan menjadi penting karena inovasi produk pariwisata adalah transformasi dalam berbagai bidang (Schumpeter dalam Hjalager, 2010 dan Weiremair, 2006), yaitu:

  • inovasi layanan dan fasilitas, sehingga dapat dikomersialisasi dan kebaharuan tersebut dibuktikan kepada produsen, konsumen, pemasok, dan pesaing;
  • inovasi proses dilakukan untuk meningkatkan kinerja operasional melalui teknologi baru atau melalui rancangan ulang seluruh mekanisme produksi (re-enjinering);
  • inovasi manajemen, terdiri dari profil kerja baru, struktur kolaboratif, dan sistem otoritas (inovasi manajemen menghasilkan pemberdayaan karyawan melalui pengkayaan pekerjaan, desentralisasi, dan pengembangan pelatihan);
  • inovasi logistik merupakan sebuah rekomposisi dari hubungan komersial eksternal yang berdampak pada posisi usaha dalam rantai nilai (logistik yang dimaksud adalah sumber daya manusia, uang, material, transaksi, informasi, keuangan, maupun metode);
  • inovasi kelembagaan melebihi sekadar inovasi usaha, merupakan struktur kolaborasi dan regulasi dalam sebuah komunitas (inovasi kelembagaan menggambarkan aturan main antar-stakeholder); dan
  • inovasi pasar yang terjadi karena adanya perubahan perilaku konsumen akibat tren, selera, dan daya beli (inovasi pasar muncul karena adanya pergeseran kurva permintaan yang diikuti dengan pergeseran kurva penawaran).

Adanya ciri pariwisata yang bersifat fana (intangible) membuat wisatawan mendapatkan ketidakpastian akan kualitas layanan dan fasilitas yang disediakan. Namun dengan sentuhan inovasi, sifat fana tersebut dapat memberikan nilai dengan menambahkan sensasi (desain, keharuman, penerangan, warna-warni, keterikatan emosional). Inilah produk pariwisata hasil inovasi, yaitunilai emosional dari pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Inovasi diandaikan sebagai darah kehidupan karena keberadaannya yang penting dan membawa pertumbuhan dan perkembangan, termasuk dalam industri pariwisata. Inovasi bisa diterapkan dalam banyak hal, namun ada syarat yang menjadikan kegiatan tersebut bisa dikatakan inovasi. Berikut ini adalah empat syarat sebuah inovasi produk pariwisata.

Pembaharuan

Siapa pun menyukai sesuatu yang baru, termasuk wisatawan. Banyak promosi produk pariwisata selalu menggunakan kata “baru” dalam kampanye untuk menarik minat wisatawan. Hal yang baru tersebut tidak cukup sebagai syarat sebuah inovasi, namun juga dituntut adanya  pemutakhiran.

Lebih baik dari apa yang telah ada sebelumnya

Inovasi mengandung sebuah nilai yang tentunya harus lebih tinggi dari sebelumnya karena inovasi merupakan perbaikan dan peningkatan. Nilai kebaruan dalam kegiatan inovasi harus dicerna dalam bentuk kegiatan yang lebih baik dari cara sebelumnya.

Manfaat ekonomi

Inovasi bisa berdampak pada dua hal: apakah inovasi menghasilkan uang atau inovasi menghemat uang? Artinya, inovasi harus mampu memberikan imbas positif secara ekonomi. Inovasi harus dapat memberikan laba lebih besar, meningkatkan efisiensi kerja, serta menghemat biaya. Inovasi produk berarti menghasilkan produk yang lebih berharga, inovasi proses berarti menghasilkan kerja yang efisien, inovasi manajemen berarti menghasilkan laba lebih tinggi, inovasi logistik berarti menghemat uang, inovasi kelembagaan berarti menekan beban biaya menjadi lebih rendah, dan inovasi pasar berarti mendapatkan segmen yang lebih loyal.

Tersebar luas

Tiga syarat di atas adalah wajib dicapai dalam setiap inovasi dan tentunya juga syarat terakhir, yaitu hasil inovasi harus tersebar luas agar diakui oleh seluruh pihak yang berkepentingan. Syarat ini menjadi wajib karena hasil inovasi harus dihargai melalui kepemilikan hak kekayaan intelektual (HAKI) berupa hak paten dan hak cipta.

Banyak orang bertanya kapan waktu yang tepat untuk melakukan inovasi. Apakah di awal membuka usaha, di tengah, atau di akhir saat produk ditawarkan? Wirausahawan umumnya menolak untuk melakukan inovasi di akhir, terutama ketika mereka sedang berkonsentrasi untuk pembukaan usaha (soft opening dan grand opening). Mereka cenderung menolak untuk berinovasi di tengah proses karena pada saat itu para wirausahawan sedang berkonsentrasi mengembangkan ide-idenya. Usaha pun cenderung menolak berinovasi di awal proses karena mereka sudah disibukkan dengan penetapan visi dan strategi. Lantas kapan waktu yang tepat melakukan inovasi? Jawabnya adalah setiap waktu. Ada begitu banyak alasan untuk merinci mengapa inovasi penting dilakukan setiap waktu, yaitu:

  • ketika di awal, wirausaha membutuhkan inovasi untuk mengembangkan sejumlah potensi ide-ide tentang produk, proses, manajemen, logistik, kelembagaan, dan pasar, maka inovasi dapat menggiring pemikiran dalam menentukan visi dan strategi menjadi lebih kuat dan terpercaya;
  • ketika di tengah, inovasi mampu memicu modifikasi atau perbaikan produk, proses, manajemen, logistik, kelembagaan, dan pasar yang sedang dikembangkan, maka inovasi mampu memberikan fitur-fitur pembeda pada luaran yang akan dihasilkan; dan
  • ketika di akhir, wirausaha harus menyegerakan diri untuk menentukan konsep baru berikutnya untuk menunjukkan pada dunia bahwa perusahaan tetap berkelanjutan untuk menemukan ide baru dan menghasilkan luaran yang lebih baik dari sebelumnya agar kredibilitas usaha pun terbentuk dalam benak konsumen.

Inovasi Produk Pariwisata

Sementara itu, inovasi produk pariwisata terjadi seiring dengan mobilisasi pengalaman berwisata itu sendiri, mulai dari input atau bahan baku, proses atau modus operandi, pendistribusian, hingga jenis penggunanya. Dengan adanya beragam inovasi pada setiap langkah dalam sistem pariwisata, maka terdapat pula beragam jenis inovasi produk pariwisata. Hjalager (2002: 467) membedakan empat jenis inovasi produk pariwisata.

Inovasi Reguler

Inovasi ini dilakukan dengan menggali potensi yang sudah ada dan kemitraan yang telah berjalan. Inovasi reguler memiliki risiko yang relatif rendah dibandingkan inovasi lain karena pada inovasi ini, usaha pariwisata memiliki pelanggan dan menawarkan layanan dan fasilitas dalam portofolionya. Kegiatan inovasi reguler bertujuan agar bisnis berjalan dengan produktivitas tinggi melalui peningkatkan mutu, pelatihan sumber daya, pemasaran agresif, dan penguatan struktur organisasi usaha.

Misal, pemilik hotel menawarkan sebagian sahamnya untuk dimiliki oleh karyawan level bawah (craft level), sehingga karyawan juga memiliki rasa memiliki (sense of belonging). Karyawan adalah pemilik usaha sehingga bisa memberikan andil dalam menciptakan budaya kerja yang nyaman bagi dirinya dan bagi pelanggannya. Produktivitas kerja membaik dan berdampak pada peningkatan mutu pelayanan.

Inovasi Revolusioner

Struktur cabang eksternal (kemitraan dengan pihak pemasok dan pesaing) dan pasar sasaran tetap ketika inovasi revolusioner dijalankan, namun produk dan layanan yang ditawarkan berubah dengan menggunakan teknologi baru, proses baru, dan pengemasan baru. Seperti dahulunya, seluruh proses check-in penerbangan harus melalui konter di bandara dan setelah check-in penumpang mendapatkan pas terbang (boarding pass) untuk memasuki pesawat, namun dengan inovasi revolusioner, penumpang bisa check-in menggunakan situs internet (web check-in), mencetak pas terbang di rumah, dan tiba di bandara dengan melapor ke konter check-in untuk menunjukkan pas terbang, menitipkan bagasi, dan langsung menuju ruang tunggu keberangkatan. Proses web check-in lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan cara reguler yang konvensional/manual.

Inovasi revolusioner memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi reguler. Inovasi revolusioner identik dengan menawarkan produk baru, termasuk proses dan pengemasannya kepada pelanggan atau kegiatannya sering disebut dengan pengembangan produk. Pada inovasi revolusioner, usaha pariwisata harus memiliki peron bernilai (valuable platform) berupa pengetahuan dan kompetensi pada segmen pelanggannya. Karakter pelanggannya benar-benar dipahami, sehingga bisa menawarkan produk baru.

Inovasi Ceruk

Inovasi ini menekankan pada bentuk baru kemitraan dengan pihak eksternal dan sedikit menyentuh kompetensi yang sudah ada. Inovasi ceruk dilakukan ketika sebuah usaha pariwisata hendak mempertahankan produk yang telah diciptakannya, namun usaha pariwisata tersebut juga ingin memperluas pasar sasarannya atau sering dikenal dengan pengembangan pasar (market development). Contoh, dahulu wisata kesehatan (health tourism) merupakan wisata yang diperuntukkan bagi penyembuhan wisatawan yang sakit, namun wisata kesehatan (wellness tourism) berkembang dan diperuntukkan tidak hanya untuk penyembuhan, tetapi juga untuk perawatan dan pemeliharaan kesehatan bagi wisatawan yang ingin menjaga kebugaran tubuh. Artinya, wisata kesehatan memiliki segmen baru dari wisatawan penyembuhan (recovery tourist) menjadi wisatawan kebugaran (fitness tourist).

Inovasi ceruk memiliki resiko yang sama tingginya dengan inovasi revolusioner, sehingga usaha pariwisata harus membuat perhitungan manfaat dan kerugian yang matang bagi pihak-pihak terkait (usaha itu sendiri, wisatawan, masyarakat dan pemerintah). Inovasi ceruk menawarkan alternatif-alternatif produk pariwisata yang menjadi preferensi bagi pilihan wisatawan dan ada kecenderungan bahwa inovasi ceruk mengarah pada pariwisata yang berkelanjutan karena inovasi ceruk merupakan upaya agar produk yang sudah ada tetap dapat bermanfaat bagi beragam segmen pasar sasaran.

Inovasi Arsitektural

Inovasi arsitektural memperkenalkan struktur baru dan meredefinisi jalinan usaha pariwisata dengan pelanggan, sehingga mereka menjadi transumer. Sebuah usaha penerbangan misalnya, telah memiliki penumpang setia dan manajemen mencoba menambahkan fasilitas dan layanan baru dengan menawarkan akomodasi, sehingga perusahaan penerbangan tersebut menawarkan paket terbang dan menginap dalam satu harga khusus dan pelanggannya menjadi rekonsumen untuk usaha hotel. Hotel yang ditawarkan disesuaikan dengan sistem operasional dan pemasaran dari penerbangan tersebut, di antaranya reservasi kamar melalui situs dan penjualan atribut kamar secara parsial sesuai kebutuhan tamu.

Inovasi arsitektural dilakukan ketika usaha pariwisata hendak menawarkan produk baru kepada segmen pasar baru atau dikenal dengan diversifikasi. Inovasi ini muncul karena adanya kecenderungan bahwa wisatawan selalu membutuhkan dan menginginkan pengalaman baru terutama kebudayaan dan lingkungan. Otomatis, perubahan tuntutan permintaan harus dipenuhi dengan perubahan persediaan (produk termasuk proses dan pengemasannya serta pemasok dan distributornya). Diversfikasi dipilih oleh usaha pariwisata ketika usaha tersebut melangkah keluar dari portofolio produk dan pasar yang ada, sehingga inovasi arsitektural memiliki risiko yang sangat tinggi dibandingkan inovasi-inovasi lainnya. Usaha pariwisata yang melakukan inovasi arsitektural harus siap untuk memasuk teritori dan situasi yang serba tak terduga. Sebelum melakukan diversifikasi, wirausahawan pariwisata harus memperhitungkan dan mempredikasi beragam kemungkinan serta menetapkan beragam strategi usaha. Ada banyak strategi dalam inovasi arsitektural yang dapat dilakukan oleh usaha pariwisata, yaitu diversifikasi konsentrik dan diversifikasi konglomerat. Diversifikasi konsentrik digunakan usaha pariwisata dengan cara mengakuisisi bisnis yang berbeda, tetapi dapat melengkapi bisnis yang sudah berjalan, sehingga tercipta efek sinergitas. Diversifikasi konglomerat adalah transformasi usaha pariwisata dengan menawarkan produk yang tidak berhubungan dengan produk yang sudah ada. Usaha pariwisata induk mencoba membuka bisnis lain sebagai sumber keuntungan potensial. Inovasi arsitektural secara konglomerasi cenderung memberikan dampak negatif karena produk baru diciptakan untuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya dari segmen pasar baru. 

Gambar Tipologi Inovasi Produk Pariwisata dalam Matriks Ekspansi Produk-Pasar

 

 

Produk

 

 

Lama

Baru

Pasar

Baru

3

4

Lama

1

2

Keterangan:

  1. Inovasi Reguler - Penetrasi Pasar
  2. inovasi Revolusioner - Pengembangan Produk
  3. Inovasi Ceruk - Pengembangan Pasar
  4. Inovasi Arsitektural – Diversifikasi 

Sumber: Adaptasi dari Hjalager (2002) dan Kotler (2009)

Inovasi dilakukan bisa karena kebutuhan lingkungan eksternal usaha pariwisata dan bisa pula karena inisiatif wirausaha pariwisata itu sendiri atau lingkungan internal. Di bawah ini adalah faktor-faktor pemicu inovasi produk pariwisata:

Persaingan

Inovasi menjadi kritis bagi organisasi untuk bisa bertahan dalam kompetisi, sekaligus membuat organisasi berekspansi dalam menghadapi persaingan. Oleh karena itu, banyak usaha pariwisata yang berinovasi atas sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh pesaingnya.

Performa  Ekonomi

Inovasi muncul karena adanya dorongan ekonomi melalui kinerja usaha yang lebih produktif, sehingga mampu menghasilkan keuntungan, tingkat pertumbuhan, dan perputaran yang lebih baik.

Perubahan Permintaan

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, sehingga selalu mencari sesuatu yang baru. Permintaan pasar wisata berubah karena meningkatnya waktu luang wisata, selera yang semakin spesifik, adanya kebutuhan totalitas pengalaman wisata, wisatawan semakin matang,  rasa penasaran akan pengalaman wisata lain, dan kemampuan daya beli yang mapan.

Jiwa kewirausahaan

Wirausahawan sering dianggap sebagai destruktor kreatif karena konsep-konsep, produk-produk, dan ide-ide mereka memunculkan standar-standar baru, baik untuk fasilitas maupun layanan, bahkan terkadang sifat inovatif wirausahawan menyebabkan perubahan selera dan preferensi konsumen yang radikal. Inisiatif pemilik dan karyawan menjadi pemicu transformasi internal dan berdampak pada inovasi manajemen.

Teknologi

Meskipun pariwisata lebih bergantung pada teknologi praktis daripada teknologi berbasis pesanan, namun teknologi menjadi pendorong kebutuhan inovasi. Adanya internet sebagai contoh, membuka peluang untuk usaha pariwisata untuk menyediakan informasi dan penjualan elektronik, bahkan muncul istilah e-tourism (pariwisata elektronik).

Kepemimpinan, visi, rencana strategik

Visi dan rencana strategik usaha pariwisata, baik yang bersifat defensif atau yang bersifat ekspansif, maupun yang memaksimalkan pendapatan atau yang berkonsentrasi pada kualitas, akan menjadi pijakan pimpinan dalam tingkatan inovasi proaktif dan tipe inovasi.

Peran pemerintah

Pemerintah memegang peran penting dalam inovasi pariwisata melalui keterlibatannya dalam berbagai bentuk, seperti dukungan untuk riset dan pengembangan, ketersediaan insentif permodalan, ketersediaan jaminan risiko, sistem penghargaan kreativitas, serta perlindungan atas hak karya.

Selain faktor-faktor pemicu inovasi di atas, ada pula beberapa faktor penghambat inovasi, antara lain:

  • keenggaan kelompok elit terhadap inovasi di mana inovasi justru dipandang oleh beberapa golongan sebagai gangguan atas status quo, sehingga keenggan atas inovasi menjadi hambatan;
  • resistensi atas perubahan (tranformasi bisa berhasil dengan baik atau sebaliknya bisa berupa kegagalan);
  • berada di zona nyaman dan konservatif dengan situasi usaha-usaha pariwisata yang sudah berada pada zona nyaman melalui usaha secara konservatif, sehingga bila dilakukan inovasi, usaha tersebut harus mengeluarkan ekstra energi, ekstra dana, dan ekstra waktu atau dengan kata lain menjadi tidak nyaman, sehingga rasa ketidaknyaman tersebut menghambat inovasi;
  • kurangnya dukungan pemerintah yang terjadi biasanya karena inovasi selalu menjadi oposisi dan memberikan konsekuensi, bisa baik dan bisa buruk, dan mempertaruhkan diri; dan
  • birokrasi dalam struktur hierarki organisasi atau adanya rigiditas struktur/birokrasi akan menghambat proses inovasi.

Maka, inovasi produk pariwisata dapat dilihat sebagai jawaban dalam merespon perkembangan maupun perubahan situasi, baik internal maupun eksternal pada diri wisatawan dan pariwisata sebagai industri. Inovasi produk pariwisata bisa saja dilakukan dengan beragam cara dan dengan faktor pemicu yang pula bermacam. Tetapi pada akhirnya, inovasi merupakan suatu nilai tambah yang tak hanya berdampak pada bagaimana wisatawan kemudian dapat menikmati pengalaman wisata, tetapi lebih dari itu, inovasi menjadi erat kaitannya secara keseluruhan terhadap keberlanjutan usaha pariwisata dengan corak industri yang kompleks dan dinamis.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Planning and Development Inovasi Produk bagi Keberlanjutan Kepariwisataan

Newsletter

Subcribe
1037254
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
511
453
5570
850939
16837
20604