Resensi Buku: Pentingnya Pariwisata Berkelanjutan dalam Perencanaan

Oleh Nurdiyansah

Judul Buku       : Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach

Penulis             : Edward Inskeep

Penerbit          : Van Nostrand Reinhold, New York

Tahun Terbit   : 1991

Tebal               : 508 halaman

Jauh ketika pariwisata baru akan diprediksi sebagai sebuah industri terbesar dan paling berpengaruh dengan beragam peluang yang menggiurkan, Edward Inskeep telah mampu melampaui itu semua. Konsultan pariwisata yang menetap di California ini tidak hanya meyakinkan dunia bahwa hal itu pasti terjadi dalam waktu dekat, melainkan ia telah memprediksi suatu isu yang kini jadi tren dalam industri keramahtamahan, yaitu konsep “sustainable” dan “integrated” dalam perencanaan pariwisata. Di awal tahun ’90-an, bukunya tentu saja menjadi incaran dan acuan para stakeholders pariwisata, bahkan hingga kini belum ada penulis yang melampaui kecakapannya dalam mejelaskan panduan perencanaan berwawasan lingkungan dan komunitas lokal.

Keberlangsungan yang Komprehensif dan Menyeluruh

Tak banyak buku pariwisata yang sanggup menjelaskan filosofi dari apa itu pariwisata. Pada bab 1 (hal. 3-23), Inskeep memberikan paparan berjudul Background for Tourism Planning. Tentu saja bukan sekedar latar belakang, melainkan sejarah perkembangan turisme, dimulai dari masa prasejarah, pertengahan, renaisans, hingga tren kontemporer yang berkembang sekarang.

Inskeep mendefinisikan perencanaan sebagai “mengorganisasikan masa depan untuk meraih tujuan tertentu.” (hal. 26) Pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh dibutuhkan bukan saja karena keseluruhan aspek (dalam perencanaan pariwisata) saling terkait, melainkan pula terhubung dengan lingkungan alamiah dan area sosial. Dengan segera, pemikiran Inskeep merubah kecenderungan para perencana pariwisata dalam memandang alam dan komunitas. Kedua hal itu kini dipandang sebagai subjek, bukan objek yang bisa dieksplorasi maupun dieksploitasi. Ide inilah yang kemudian diresapi oleh Inskeep dalam berbagai penjelasan selanjutnya terhadap cara serta proses bagaimana melakukan perencanaan pariwisata dalam lingkup nasional dan regional, serta dalam menganalisis perencanaan, memformulasikan kebijakan, mendesain pembangunan, mempertimbangkan dampak, maupun menstrategikan dan mengimplementasikan tourism plan.

Lebih spesifik lagi ketika membaca bagian 4 pada bab 12 dan 13 mengenai pengaruh dan dampak lingkungan dan sosio-ekonomi, Inskeep sama sekali tidak memberikan kesan menakut-nakuti ketika mempersoalkan akibat buruk yang ditimbulkan pariwisata terhadap kerusakan alam serta akibat buruk bagi aspek sosial dan ekonomi komunitas lokal. Paparan yang dijelaskan malah akan sangat membantu layaknya sebuah panduan bagaimana suatu perencanaan dapat sukses secara berkelanjutan dan sebisa mungkin menghindari kerugian-kerugian yang ditanggung.

Berbagai penjelasan pada buku ini juga disertai studi kasus, sehingga menjadi pembuktian bahwa apa yang diteorikan bukan sekedar nasehat intelektual yang tidak aplikatif. Data-data yang disertakan dalam buku ini pun terbilang baru pada masanya. Dengan analisis yang tajam, buku ini sudah pasti ikut berkontribusi dalam memperbaiki wajah industri pariwisata yang kini tengah lebih baik dengan kian populernya konsep-konsep, seperti sustainable, greentourism, ecotourism, community involvement, responsible tourist, dan lainnya.

Community Level of Tourism Planning

Ketika banyak pihak (termasuk peneliti, konsultan, dan para akademisi) di bidang pariwisata terlalu memfokuskan diri pada perencanaan regional maupun nasional, Inskeep pun turut memberikan ide-idenya terhadap dua level perencanaan tersebut. Namun setelah pembahasan itu, ia kemudian meyakinkan pentingnya prencanaan pada level komunitas, tentu penjelasan disertai panduan melakukan perencanaan itu.

Untuk menjawab pertanyaan terhadap mengapa pentingnya perencanaan yang khusus pada level komunitas, Inskeep berkata:

Basically, the comprehensive, integrated, environmental, sustainable development and community involvement approach is applied the same at the community level of tourism planning as it is at the national and regional levels, but is now adapted to this more specific level.” (hal. 197)

Kekhususan yang diberikan Inskeep pada level komunitas ini mewakili keseriusannya untuk melihat sejumlah kecenderungan terhadap perubahan tren dalam menikmati atraksi wisata. Dan, itu terbukti di masa sekarang dengan munculnya geliat wisata resort (tempat peristirahatan), urban berikut bentuk spesial lainnya, dan beragam atraksi serta aktivitas turis.

Salah satu studi kasus yang dibahas adalah Nusa Dua, Bali sebagai contoh resort pantai berskala raksasa yang dikembangkan dengan kerangka perencanaan regional dan terintegrasi dalam jangka waktu yang lama. (hal. 220-225) Proyek raksasa yang dibangun pada masa Orde Baru itu menggunakan pendekatan yang sangat erat dengan keterkaitan regional terhadap akses jalan, infrastruktur (air dan listrik), hubungan servis kota, dan kontrol serta perencanaan pembangunan sub-regional. Sekitar belasan hotel bintang lima dibangun di sana dengan jumlah kamar mencapai lebih dari dua ribu (sekarang, jumlahnya masih terus bertambah). Untuk kasus ini, Inskeep mencatat 20 prinsip penting, yang di antaranya membahas soal lokasi, keberadaan tempat ibadah umat Hindu, daya tampung sumber daya, arsitektur, dan sebagainya. Nusa Dua merupakan salah satu potret terhadap kesuksesan aplikasi pendekatan sosio-ekonomi yang terintegrasi dengan pariwisata di tingkat masyarakat lokal di Pulau Dewata itu, ungkap Inskeep di akhir pembahasan kasus.

Pada bagian akhir, buku ini memaparkan ulasan mengenai “Implementasi Perencanaan dan Elemen-elemen Institusional”. (hal. 401-451) Cakupan perencanaan elemen-elemen institusional dalam pariwisata, meliputi perencanaan sumber daya manusia, struktur organisasi, perundang-undangan, dan insentif investasi dari pariwisata. Sementara cakupan impelementasi perencanaan, meliputi pendekatan terhadap implementasi; peran dan koordinasi sektor publik dan swasta; implementasi perencanaan fisik, proyek, dan program; rencana marketing; hingga proses monitoring dan implementasi.

Selain bahasa yang mudah dipahami dan struktur yang baik, buku ini juga memiliki kelebihan dengan memiliki apendiks yang terdiri dari strategi aksi bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan, model ToR dari perencanaan pariwisata nasional, serta konten laporan. Semua itu pastinya akan sangat membantu kalangan akademisi dan praktisi dalam memahami perencanaan pariwisata dari segi teori dan praktek.

Wajah pariwisata di abad 21 ini adalah wajah yang dihiasi oleh ide-ide inovatif seorang Edward Inskeep di akhir tahun ’80-an dan awal ’90-an. Dengan kepeduliannya terhadap aspek lingkungan dan kemanusiaan, Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach ini telah banyak direkomendasikan oleh para guru di bidang pariwisata untuk dibaca murid-muridnya.

Bagi Indonesia, buku yang ditulis Edward Inskeep sekitar 20 tahun lalu ini juga telah banyak berkontribusi terhadap perencanaan pariwisata di Indonesia mengingat ketergantungan kita yang tinggi terhadap atraksi alam dan budaya yang ada sehingga dibutuhkan pendekatan berkelanjutan dan menyeluruh yang berdaya guna.

Comments  

 
#7 wiwiyuliati 2014-07-18 03:13
Kalau sekarang bukunya tu masih dijual gak ya?
 
 
#6 Made Sudana 2013-09-28 07:33
Saya setuju sekali dengan ulasan diatas, mari kita ajak rekan-rekan untuk membangun pariwisata berkelanjutan. sukses
 
 
#5 Made Sudana 2013-09-28 07:32
Ulasan di atas sangat bagus, sekarang tinggal komitmen kita semua untuk mengaplikasikan nya di lapangan. sukses
 
 
#4 Diyan 2012-01-26 09:28
Dear,

@Azhar Gani: Setahu saya, buku ini belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Msh dlm bahasa Inggris.

@Andreas: ada bnyk sekali buku ttg tourism planning. saya merekomendasika n buku tourism planning oleh Clare Gunn.itu juga sangat bagus. untuk MICE saat ini memang sedikit sekali referensinya yang berbahasa Indonesia.

@Priska: Silakan saja untuk mengutip kajian yang ada di www.jejakwisata.com

Terima kasih untuk komentarnya, kawan-kawan. Update terus website kami saja untuk tahu kajian terbaru ttg tourism.
 
 
#3 priska tourism 2011-11-15 13:54
saya ambil data ni sedkit utk pemenuhan tugas kuliah saya.
arigatoo gozaimasu
 
 
#2 andreas 2011-10-21 17:54
saya mengambil buku edward inskeep untuk materi mengajar di program studi MMPAr , STIEPARI Semarang dengan judui Torism Development Managemet dan MICE management, Indonesia masuk dalam kategori negara pariwisata berkembang (pelan), sehingga dalam pandangan inskeep kita akan terengah-engah untuk memajukan pariwisata, karena terlambat menyusun strategi besarnya secara bersama. Apakah sdr resensor memliki referensi lain untuk tourism planning dan MICE management? terima kasih
 
 
#1 Azhar Abdul Gani 2011-03-09 08:40
salam,

Menarik ulasan buku Inskeep. Apakah sudah ada terjemahan dalam bahasa Indonesia?

terima kasih
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Planning and Development Resensi Buku: Pentingnya Pariwisata Berkelanjutan dalam Perencanaan

Newsletter

Subcribe
1037250
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
507
453
5566
850939
16833
20604