Menjadi Duta Wisata Tidaklah Mudah

Oleh R. Teguh Satriawan, SE., MM.*

Perhelatan duta wisata yang digelar di berbagai daerah menyedot antusiasme yang tinggi dari putra-putri daerah. Duta wisata yang diharapkan dapat mewakili daerahnya dalam upaya mempromosikan potensi wisata, juga diharapkan bisa menjadi sosok wisata yang kreatif, inovatif, percaya diri, berpengalaman, dan berjati diri. Hal itu ditunjang oleh penampilan yang simpatik dan diarahkan untuk menggapai terwujudnya generasi yang berkualitas, santun, dan berdedikasi dalam melestarikan budaya, serta berperan aktif dalam promosi pariwisata.

Penyelenggaraan pemilihan duta wisata merupakan bagian integral dari pembangunan dunia pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya nasional. Kriteria penilaian duta wisata senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan menitikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian secara menyeluruh. Hal itu menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek yang mencakup pengetahuan umum, pengetahuan sejarah dan kebudayaan, pariwisata, public speaking, etika perilaku dan busana, penguasaan bahasa, psikologi dan pengembangan diri.

Perlu diketahui, ajang pemilihan duta wisata merupakan atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya daerah, sekaligus sarana pengembangan potensi bakat, kreativitas, kecerdasan para generasi muda untuk menjadi figur yang dapat berperan dalam mempromosikan kekayaan seni, budaya dan pariwisata serta menghilangkan citra sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja. Melalui ajang ini, para finalis duta wisata diharapkan dapat memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu pemerintah daerahnya dalam memamerkan serta mempromosikan keanekaragaman kebudayaan daerah kepada wisatawan. Sebagai duta wisata, selain harus mampu mempromosikan dunia wisata daerahnya tetapi juga harus mampu membantu pemerintah daerah mengajak warga untuk menjaga budaya bersih, indah, dan tertib yang akhirnya menghasilkan masyarakat yang bersih, bermoral, serta bermental baik. Di samping itu, pemilihan duta wisata diharapkan juga mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muda dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat.

Seorang Duta Wisata juga membutuhkan suatu bentuk kepribadian baik yang dibutuhkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas. Beberapa kepribadian yang diperlukan sebagai seorang Duta Wisata di antaranya:

Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan akan membuat orang lain merasa aman dan dihargai. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, mencari-cari alasan, atau memutar-balikkan fakta.

Kerendahan Hati

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Bagaikan sebatang padi semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat.

Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan, kalau dia merasa kecewa atau sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapa pun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apa pun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan sesesorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya, dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia, tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Hanya Sebagai Ajang Popularitas, Apa Benar?

Hakikatnya, acara pemilihan duta wisata hanya dinilai dari pengetahuan dan kematangan individu secara personal dan bukan sosial. Seharusnya pemenang dari kegiatan ini adalah orang yang telah berbuat banyak untuk kemajuan daerahnya. Kata kuncinya adalah telah berbuat dan bukan telah berteori saja atau punya ilmunya. Akhirnya ketika sang pemenang hanya dinilai dengan kriteria tersebut, output pemilihanduta wisata tidak akantercapai. Buktinya, pemilihan duta wisata yang digelar di beberapa daerah dalam sekian tahun terakhir, selama itu pula kita tidak bisa melihat pembuktian dari para duta wisata. Pada akhirnya kita hanya melihat sebuah kegiatan rutinitas tanpa hasil yang jelas. Beginilah nasib bangsa ini yang selalu menghabiskan uang rakyat, tetapi bukan untuk rakyat. Mengkritik persoalan ini jelas tidak akan membawa banyak perubahan, karena persoalannya terletak pada kriterianya. Pastikan pemenangnya adalah orang yang mempunyai knowledge, skill, dan attitude yang baik yang telah diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sesungguhnya, tujuan pemilihan duta wisata sendiri sudah menyimpang dari tujuan awalnya, yang memilih duta untuk mewakili kebudayaan daerahnya sendiri. Kebanyakan peserta menjadikan ajang ini sebagai pencarian popularitas dan tampil belaka. Beberapa pengetahuan yang mereka miliki tentang kebudayaan daerah hanyalah informasi seadanya dari bacaan-bacaan yang mereka hafalkan selama proses pemilihan. Walaupun tidak sedikit yang mengakui potensi individual dan karakteristik dari pemenang duta wisata tersebut. Namun, peranan dan kontribusi mereka sebagai duta wisata yang notabene “ikon”-nya daerah setempat, masih jarang kita dengar. Sementara ini, tugas duta wisata masih samar-samar, seharusnya dilakukan perubahan terhadap kriteria dan outcome-nya supaya duta wisata dapat menjadi sebuah ajang yang benar-benar berguna. Terlebih pada kenyataannya, pemenangnya belum mampu membuktikan kalau mereka bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka dapatkan.

Sebagai tambahan, fakta bahwa duta wisata mayoritas berstatus pelajar dan mahasiswa, juga menyulitkan perkembangan ide dan kontribusi mereka karena kesibukan pribadi. Lain halnya apabila mereka dicutikan dan dipekerjakan untuk Dinas Pariwisata sebagai staf pengembangan dan promosi pariwisata. Jadi untuk mengatakan bahwa duta wisata adalah pajangan, itu sangat tepat. Sebab, setelah event duta wisata mereka tidak diberdayakan dengan maksimal untuk keperluan Dinas Pariwisata, sehingga pada akhirnya hanya muncul pada saat acara-acara ceremonial dan bagi-bagi amplop di kantor.

Untuk perbandingan dengan yang terjadi di luar negeri, kebanyakan pemenang kontes serupa biasanya langsung terjun mengerjakan kegiatan sosial yang membantu masyarakat yang dampaknya sangat besar. Dari memberikan semangat kepada tim dance di sebuah universitas kecil, sampai menjadi juru bicara berbagai organisasi sosial besar. Segala sesuatu yang dapat dikerjakan pasti mereka laksanakan sesuai misi dan visi komite kontes dan juga pemenang kontesnya. Lebih menarik lagi media juga ikut memberitahukan kepada masyarakat tentang kontribusi dan hasilnya lewat majalah atau berita di televisi, sehingga masyarakat mengetahui segala sesuatu yang telah dilakukan para pemenang kontes.

Harapan kita, duta wisata ke depan semakin berkembang dan berfungsi sebagai duta pariwisata dan duta budaya. Sehingga bisa dilihat hasilnya bukan hanya dilihat dari segi umum saja. Karena kita tidak bisa menilai segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. Secara konkret, seorang presiden pun tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam menjalankan dan mengatur sebuah negara. Apalagi hanya seorang duta wisata yang tidak mudah mendapatkan segala fasilitas untuk melakukan promosi budaya dan promosi wisata. Namun, perlu diakui bahwa ajang pemilihan duta wisata dapat membawa perubahan dalam pribadi dan tingkah laku para generasi muda, karena setelah mengikuti ajang pemilihan duta wisata, rasa cinta budaya menjadi semakin mengental di dalam diri.

Mulai sekarang, seluruh duta wisata harus dapat menunjukkan kalau memiliki niat baik dalam memberikan kontribusi bagi daerahnya, karena belum terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Andaikan tidak dilakukan, duta wisata hanya akan menjadi ikon pemborosan yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat yang tidak dapat meninggalkan kesan apa pun seperti hilang ditelan waktu.

*Penulis adalah pakar dan konsultan pariwisata di kota Malang, Jawa Timur.

Comments  

 
#3 farida 2013-09-30 05:13
i agree that is good
 
 
#2 farida 2013-09-30 05:13
yeah i agree
 
 
#1 robiramdansita 2012-06-16 15:18
kapan di adakan pemilihan mojang-jajaka bogor . ap syaratnya and kapan pendaftaranya
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Social and Contemporary Issues Menjadi Duta Wisata Tidaklah Mudah

Newsletter

Subcribe
311837
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
43
292
2424
130090
11704
14984