Ancaman Bertubi-tubi Agen Travel

Oleh Roni Khoiron

Kemajuan teknologi informasi benar-benar menjadi titik tolak bagi travel agent akan kemunduran dalam penjualan tiket. Bagaimana tidak, sebelumnya travel agent merupakan perantara yang potensial antara konsumen dan penyedia jasa transportasi untuk pemasaran tiket. Dalam hal ini travel agen banyak mendapatkan kemudahan dan keuntungan. Selain mendapatkan harga khusus yang lebih murah, airline juga memberikan insentif penjualan untuk setiap lembar tiket yang dijual. Saat itu konsumen terasa lebih mudah membeli tiket melalui travel agent daripada membeli langsung. Namun kini perlahan-lahan hal tersebut mulai terkikis. Penyebab utamanya, adalah diberlakukannya e-ticket yang pemesanan dan pembeliannya bisa dilakukan langsung melalui Internet. Hanya berbekal sambungan Internet dan kartu kredit, konsumen bisa langsung mencetak tiket yang dipesannya. Atau cukup mencatat kode booking yang didapat, kemudian mencetaknya di bandara. Lebih singkat dan praktis. Memang kebanyakan masyarakat Indonesia yang paham dan mau menggunakan Internet, jumlahnya tidak begitu signifikan, tetapi jumlah tersebut justru merupakan bagian terbesar dari pengguna jasa transportasi udara. Dampaknya cukup terasa terhadap penjualan tiket melalui travel agent. Akibatnya, banyak juga pelaku-pelaku usaha travel agent mulai gulung tikar. Ke depannya, ini bisa menjadi semacam bom waktu bagi travel agent. Perlahan tapi pasti, seiring dengan kesadaran masyarakat, konsumen tentu akan memilih yang lebih singkat dan praktis.

Era perdagangan bebas juga memaksa travel agent harus bersaing dengan perusahaan dari luar negeri, khususnya kawasan Asia Tenggara. Bagi agen perjalanan besar dengan sumber daya ekonomi dan manusia yang kompeten, hal ini tentu dengan mudah bisa disiasati, namun bagi travel agent menengah dan kecil, tentu akan kesulitan bersaing. Teknologi Internet yang semakin mudah dan terbuka membuat travel agent asing dengan mudahnya menggali informasi tentang destinasi-destinasi wisata di belahan bumi mana pun, sehingga paket-paket wisata lintas negara juga dengan mudah bisa ditawarkan langsung ke konsumen tanpa perlu melibatkan operator tur lokal. Memang beberapa negara masih memberlakukan kebijakan keharusan untuk bekerjasama dengan operator lokal dalam membuat paket wisata, namun cepat atau lambat, kebijakan ini akan semakin tidak populer di waktu mendatang karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pasar bebas. Ditambah lagi dengan adanya tren terbaru pola perjalanan wisata yang mulai bergeser dari mass tourism ke individual tourism. Artinya, kebanyakan wisatawan lebih menyukai perjalanan secara individu daripada rombongan. Mereka cenderung mengurus sendiri perjalanan wisatanya tanpa melibatkan travel agent. Kepuasan akan pengalaman berwisata menjadi tujuan utama dari perjalanan wisata yang bersifat individu. Harga tidak lagi menjadi pertimbangan penting seperti halnya dalam perjalanan yang bersifat massal.

Travel agent juga mulai mendapat tekanan dari mitra utama mereka, yakni airline. Saluran distribusi penjualan tiket melaui Internet yang praktis dan efisien membuat maskapai penerbangan semakin berlomba-lomba mempromosikan penjualan tiket berbasis Internet. Tentu saja ada keuntungan yang akan diperoleh, penjualan langsung ke konsumen melalui Internet akan memangkas biaya komisi bagi travel agent, sehingga airline akan memperoleh profit yang lebih besar. Saat ini salah satu airline domestik sudah menghilangkan biaya komisi sekalipun tiket tersebut dijual melalui agen. Pihak travel agent diharuskan menaikkan sendiri harga tiket, sehingga jelas harganya akan lebih mahal jika konsumen membeli tiket melalui travel agent.

Di tengah berbagai ancaman kelangsungan usaha travel di atas, lalu bagaimana seharusnya para pelaku bisnis travel agent bertindak? Yang jelas semua butuh dukungan dari semua stakeholders dalam tata kelola bisnis pariwisata. Secara internal, agen juga harus mulai membenahi diri, terutama dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan merubah strategi pemasaran yang bersifat on-line marketing untuk menyesuaikan dengan perekembangan teknologi informasi. Yang tak kalah penting, adalah keterlibatan pemerintah pusat dan daerah melalui kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung keberlangsungan usaha travel agent karena tak dapat dipungkiri bahwa agen perjalanan ikut berperan dalam mempromosikan potensi wisata suatu daerah. Organisasi-organisasi swasta yang menaungi travel agent, seperti ASITA juga harus ikut berperan mendukung anggotanya dalam melakukan mediasi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah atau airline yang dirasa merugikan travel agent secara sepihak.

Tetapi, di tengah-tengah ancaman tersebut masih tersimpan peluang bagi travel agent untuk tetap bertahan dan berkembang seandainya mau melihat industri pariwisata secara umum dan inovatif masih merupakan industri yang cukup berprospek di waktu mendatang.

Comments  

 
#4 jelino 2013-01-24 02:40
terima kasih untuk informasinya, gimana bisa download informasi complete tentang Ancaman bagi industri travel yang datang bertubi-tubi. thanks
 
 
#3 VIA Indonesia 2012-04-25 05:31
tulisan yang menarik. Cuma, selama ini ASITA sendiri seperti tidak punya power mas.
 
 
#2 Jejak Wisata Colony 2011-12-30 05:51
Terimakasih mas Kilenk atas sarannya, ke depannya akan kami pertimbangkan.
 
 
#1 Kilenk 2011-12-24 04:03
Saya suka dengan tulisan anda. Sekedar saran mohon layoutnya dbagi menjadi 2 bagian kiri dan kanan,agar pembaca tidak lelah. Mirip di koran atau majalah. Trima Kasih
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Tourism Studies Tourism in General Ancaman Bertubi-tubi Agen Travel

Newsletter

Subcribe
415146
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
144
574
2048
234132
12704
18793