Mencari Kekayaan di Gunung Kawi

Oleh Roni Khoiron

Seperti dataran tinggi lainnya, Gunung Kawi menawarkan keindahan pegunungan asri dengan udara yang menyegarkan. Lebih dari itu, Gunung Kawi ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik. Bagi sebagian orang, Gunung Kawi adalah salah satu tujuan wisata religius sekaligus simbol kemakmuran. Pesarehan Gunung Kawi merupakan daerah wisata yang unik, karena bertahun-tahun memendam mitos bahwa daerah ini merupakan tempat untuk mencari ‘pesugihan’ atau kekayaan, terutama bagi orang-orang keturunan Tionghoa. Siapapun yang datang ke sini dan mendapatkan berkah maka usahanya akan maju dengan pesat dan meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Yang paling menarik adalah hampir tiap tahun pesarehan ini penuh sesak dengan peziarah. Dan kebanyakkan mereka adalah orang-orang yang pernah datang kesini sebelumnya. Mereka kembali karena telah mendapatkan ’pesugihan’ itu dan supaya tetap langgeng mereka harus datang lagi sesering mungkin. Konon banyak juga pengusaha etnis China ternama dari Jakarta yang sering datang ke tempat ini.

Kawasan Gunung Kawi, terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut. Persisnya berada di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang Jawa Timur. Dulu daerah ini disebut Ngajum. Sekarang berubah menjadi Wonosari, ‘wono’ berarti hutan, sedangkan ‘sari’ berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat.

Gunung Kawi berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an. Meskipun terletak terpencil di sebuah desa di atas bukit tapi Anda akan menemukan keramaian yang luar biasa layaknya sebuah perkampungan di kota. Di sini ada banyak tempat hiburan malam, penginapan, restoran dan warung-warung kaki lima yang berjejeran di sepanjang kanan kiri jalan menuju komplek pesarehan. Padahal menuju daerah ini, sepanjang perjalanan anda masih tetap disuguhi pemandangan pedesaan dan pegunungan yang tenang dan sepi. Daerah sekitar pesarehan ini merupakan daerah pertanian yang subur, penghasil ketela ungu Gunung Kawi yang terkenal itu, sejenis ketela rambat kecil-kecil berwarna ungu yang rasanya manis sekali. Ketela ini banyak dijual di area pesarehan sebagai oleh-oleh khas Gunung Kawi.

Dari kota Malang, Anda bisa menggunakan bis antar kota Malang-Blitar turun di Kepanjen, kemudian dilanjutkan naik mikrolet menuju Gunung Kawi sepanjang 18 km. Tarif bis antar kotanya cukup murah Rp 2.000 namun mikroletnya cukup mahal Rp. 15.000. Untuk arah kembalinya cukup sulit karena melewati jam 3 sore sudah jarang ditemukan. Sebaiknya memesan mikrolet yang Anda tumpangi dari awal dengan tarif Rp. 45.000, supirnya akan menunggu sampai Anda selesai menjelajah pesarehan. Kalau ingin menginap, penginapan kelas melati banyak tersedia.

Di Gunung Kawi terdapat dua makam tokoh kejawen; RM Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876) dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (yang memerintah Kraton Kertosuro 1705-1717). Adapun RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I (memerintah Kraton Jogjakarta pada 1755-1892).

Berkunjung ke kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Biasanya masyarakat melakukan pemujaan di pesarehan pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam Sabtu Suro. Pemujaan dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Untuk memasuki pasarean ini, harus melewati tiga gapura dan anak tangga sejauh 750 meter. Di setiap gapura terdapat relief perjuangan Eyang Jugo dan Sujo. Jalan menuju pesarehan merupakan pedestrian yang cukup luas, di kanan-kiri jalan banyak lapak-lapak berjualan aneka kuliner, bunga untuk sesaji dan oleh-oleh khas Gunung Kawi. Terlihat juga banyak lapak yang berjualan bibit pohon Dewandaru. Sementara kuliner yang dijual kebanyakan adalah jajanan kuno khas Jawa Timur seperti rujak cingur, lupis, gatot, horok-horok, bledus, dll.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para pezirah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja. mereka berjalan dengan lutut. Menurut RM Nanang Yuwono Hadiprojo, keturunan ke-5 RM Imam Sujono. Image bahwa tempat ini sebagai tempat pesugihan adalah tidak beralasan. Tempat pesugihan itu memiliki beberapa kriteria, antara lain, tempatnya menyeramkan, jauh dari pemukiman masyarakat, dan tidak ada tempat ibadah. Sementara di tempat ini, tempatnya tidak menyeramkan, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan banyak tempat ibadah.

Sementara di luar makam, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon itulah yang disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Dari bentuknya, pohon ini mirip pohon ceremai, yang diduga berasal dari negeri Cina. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran. Sepeti halnya pada malam Jumat Legi ini, salah seorang peziarah melakukan syukuran dengan menggelar pementasan wayang kulit. Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan berkahnya. Fact or Myth? Let's prove it!

Tip

*Untuk yang tidak ingin menginap sebaiknya menyewa mobil sendiri dan supirnya dari kota Malang supaya bisa lebih lama dan tidak tergantung dengan ketersediaan angkutan.

*Di area pesarehan banyak guide lokal yang menawarkan jasa, jika Anda merasa tidak membutuhkan tolak dari awal supaya tidak mengikuti Anda terus.

*Oleh-oleh yang dijual bisa ditawar sampai 30% lebih murah. Harga yang Anda dapatkan bergantung pada kepandaian Anda bernegoisasi dengan penjual.

*Sebaiknya jangan memotret di dalam area pesarean dan belilah bunga untuk menghormati meskipun bukan suatu keharusan.

***Artikel pertama kali dimuat di uklamuklam.co.cc dengan beberapa penyesuaian.

Comments  

 
#3 tyas 2013-11-07 10:07
Revisi... naik bus dari kota malang ke kepanjen Rp. 5000,- naik angkot ke G. Kawi Rp. 10.000 worth it. Kepanjen - Malang cuma butuh 30 menit (naik angkot) kendaraan sendiri 15 menit. Gunung Kawi - Kepanjen butuh 1 jam (naik angkot) kalo bawa kendaraan sendiri 40 menit... jadi ga mahal khan...

Untuk ziarah ga harus bawa bunga... kalian masuk makam duduk dan berdoa, baca tahlil, yasin, sudah OK...

Untuk memasuki makam juga tidak harus berlutut seperti menghadap raja, yang penting qta sopan gitu aja...

kalo masih ada pertanyaan boleh tanya2 :)
 
 
#2 Diyan 2012-02-15 06:24
Dear Normandia,

Kepercayaan orang trhadap sesuatu hal memang berbeda dan beragam. Di sini kita bs menikmatinya sebagai suatu wisata untuk belajar memahami bagaimana org bnyk melakukan wisata religi dan spiritual, keramaiannya sangat menarik, lagipula lingkungan pegunungannya sangat indah loh.
 
 
#1 Normandia Zaldi 2012-02-04 01:42
Cuma mitos tapi kenapa banyak yang mempercayai dan membuktikan kebenarannya ya?
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Java Mencari Kekayaan di Gunung Kawi

Newsletter

Subcribe
418324
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
45
398
2700
237550
15882
18793