Melayang di Negeri Atas Awan

Oleh Roni Khoiron & Nurdiyansah

Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif, ibarat gunung api raksasa yang tertanam di dalam perut bumi. Tak heran jika di kawasan dataran tinggi ini memiliki kawah-kawah yang masih aktif dan telaga-telaga air bekas letusan kawah yang tak lagi aktif. Tanah Dieng begitu subur dan terkenal dengan area penghasil komoditi pertanian terbaik, seperti kentang dan sayur-mayur. Ada juga tanaman khas yang tak ditemukan di tempat lain, seperti Purwaceng, Carica dan Cabe Dieng.

Kabut menyelimuti kami. Udara dingin pun mulai terasa bagai menusuk tulang ketika kami akhirnya sampai di dataran tinggi Dieng menjelang petang. Perjalanan darat kami tempuh sekitar 3,5 jam dari Kota Jogja. Menyusuri pemandangan berbagai kota kecil, perjalanan menuju Dieng begitu menarik di mana kami dapat menikmati pemandangan desa, hamparan sawah, dan beragam perkebunan.

Malam itu sengaja kami tidur lebih awal. Selain menghindari dingin, juga untuk menyiapkan rencana esok sebelum subuh kami sudah harus bersiap menyaksikan matahari terbit. Jangan harap menemukan hotel berbintang. Di sini, pariwisata dikembangkan dengan basis masyarakat lokal (community-based), sehingga untuk akomodasi penginapan, kami menggunakan jasa & fasilitas kamar yang dikelola oleh penduduk setempat (homestay).

The Golden Sunrise

Sekitar jam 4 subuh, suara klakson motor terdengar di tempat kami menginap. Tanda ojek yang kemarin kami sewa telah datang untuk mengantar kami menuju sebuah bukit tempat untuk menikmati the golden sunrise yang begitu terkenal di Dieng. Perjalanan kami tempuh sekitar 15 menit dengan motor. Meski telah memakai jaket tebal, kaus kaki, sarung tangan, syal, dan topi kupluk, namun udara dingin yang mendekati titik beku nol derajat, membuat kami menggigil.

Ojek mengantar kami hingga ke kaki bukit. Selanjutnya, kami harus berjalan kaki mendaki puncak Bukit Sikunir. Rute untuk menuju puncak tidak begitu terjal dan telah ditandai oleh jalan setapak yang berbatu. Dengan berbekal senter sebagai penerang jalan, pendakian kami tempuh sekitar 30 menit bersama para turis lainnya dari berbagai daerah dan negara.

Sesampainya di puncak, kami berbaur bersama kerumunan turis yang lebih dulu sampai. Turis lainnya pun terus berdatangan. Menit ke menit berlalu, sedikit demi sedikit sang surya memunculkan dirinya. Langit kian berubah. Warna emas mulai menghiasi cakrawala. Seiring dengan menguningnya langit, di sebelah kanan kami, gunung-gunung memperlihatkan kemegahannya. Dari kejauhan, tampak jelas berjajar Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Ah, seperti berada di sebuah singgasana nirwana. Kini, kami tahu mengapa the golden sunrise di sini begitu tersohor. Ekspresi riang dan bahagia tak hanya terukir di wajah kami, tetapi seluruh turis yang bersama kami ikut merasa bahagia, juga kagum pada keindahan yang ada di hadapan kami.

Kami kembali turun setelah puas menikmati matahari terbit di puncak Bukit Sikunir. Perjalanan menuruni bukit ternyata begitu indah. Bukit-bukit lain tampak bagai mengambang di atas hamparan hijau hutan dan perkebunan. Pemandangan lain yang tak kalah menakjubkannya adalah sebuah telaga di bawah bukit yang memancarkan gradasi langit yang membiru.

Ojek adalah satu-satunya transportasi untuk berpindah menuju berbagai atraksi wisata di Dieng. Kami pun kembali menaiki ojek yang telah mengantar kami dan menunggu di area parkir. Tujuan kami selanjutnya adalah Kawah Sikidang.

Selain kawah, Dieng memiliki banyak telaga. Salah satu yang terkenal karena keindahannya adalah Telaga Warna. Dinamakan Telaga Warna karena tak seperti telaga lainnya yang hanya berwarna bening-jernih dan memantulkan gradasi langit, telaga ini memiliki warna hijau, kadang berubah menjadi merah, putih, dan perpaduannya. Karena agak mendung, maka Telaga Warna siang itu memiliki warna hijau pucat. Telaga Warna tak hanya menjadi lokasi wisata alam, melainkan pula wisata spiritual. Masih di sekitar Telaga Warna, terdapat berbagai goa dan lokasi berdoa (semedi) yang telah digunakan sejak berabad-abad silam pada masa kerajaan kuno.

Kahyangan Para Dewa-Dewi

Nama “Dieng” berasal dari dua suku kata, yaitu “di” bermakna tempat dan “hyang” berarti “Dewa-Dewi.” Sebutan tersebut tidaklah berlebihan. Dieng tak hanya terkenal karena keindahan dan fenomena alam yang mengagumkan, tetapi merupakan kawasan sakral dan magis serta sejarah peradaban Hindu pertama di Jawa. Berbagai candi bernama tokoh-tokoh pewayangan kami kunjungi selama berada di Dieng

Pertama, kami singgah di Candi Bima yang berlokasi tak jauh dari Kawah Sikidang. Candi ini merupakan yang terbesar dengan 5 tingkat di bagian atap dan memiliki kesamaan desain arsitektur dengan candi-candi di India. Kemegahan Candi Bima tampak dari hiasan berupa relief serupa patung dada yang tertempel pada tingkatan atap candi.

Setelah Candi Bima, kami sampai di Candi Gatotkaca yang berbentuk bujur sangkar dan tanpa atap puncak. Di samping candi inilah terdapat pelataran di mana kami bisa menikmati pemandangan pedesaan dan perkebunan yang dikelilingi jajaran bukit. Tak jauh dari candi, adalah Museum Dieng. Berbagai kisah mulai dari proses terbentuknya kawasan Dieng, sejarah peradaban tua, profil candi, hingga panduan wisata Dieng dapat kita temukan di sini.

Turun dari area Candi Bima dan museum, kami menuju Kompleks Percandian Arjuna yang menjadi titik tengah Pulau Jawa (500 km ke Selat Sunda dan 500 km ke Selat Bali). Dahulu, para petapa dan pelajar dari berbagai pelosok Jawa dan luar Jawa mempelajari agama Hindu di sini. Kini, kawasan ini ramai dikunjungi turis. Selain makna spiritual dan sejarah yang tinggi, candi-candi di Kompleks Percandian Arjuna memiliki nilai seni tertua di Nusantara. Jika di puncak bukit tadi kami telah menikmati the golden sunrise, maka di pelataran Arjuna, terdapat juga the silver sunrise di mana momen detik-detik kemunculan matahari, memunculkan fenomena warna langit yang keperakan.

Sampai sekarang, Kompleks Percandian Arjuna masih menjadi pusat aktivitas bagi perayaan dan upacara penting umat Hindu, juga lokasi berlangsungnya Festival Kebudayaan Dieng dengan ritual potong rambut anak-anak berambut gimbal di Dieng yang konon adalah keturunan leluhur pertama yang mendiami Dieng.

Berbaris di Kompleks Arjuna adalah Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Sembadra, dan Candi Puntadewa yang pula dilingkari oleh gugusan pegunungan dan perbukitan. Berdekatan dengan Candi Arjuna, yaitu Kompleks Candi Setyaki.

Imajinasi kami pun terbang menuju Dieng berabad-abad lampau ketika orang-orang suci berjalan berhari-hari dan berbulan-bulan untuk bisa berdoa di tanah sakral ini. Membayangkan kembali gumpalan awan emas di atas ketinggian, serta udara dingin dan kicau burung-burung, sungguh rasanya tengah berada di kahyangan bersama para Dewa dan Dewi yang sedang bermusik dan bernyanyi tentang keindahan alam di bumi Indonesia.

To See

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna adalah komplek candi terbesar di Dieng. Terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan raya utama Wonosobo-Dieng. Terdapat lima candi yang dinamai dengan tokoh-tokoh pewayangan: Arjuna, Bima, Puntadewa, Semar, dan Sembadra. Menempati kawasan yang cukup luas dengan jarak yang saling berdekatan antara candi satu dengan candi yang lainnya. Komplek candi dikelilingi oleh deretan pohon cemara gunung yang tertata rapi dan perkebunan kentang milik penduduk. Komplek candi Arjuna merupakan candi Hindu yang dibangun pada tahun 809. Awalnya terdapat 19 candi, namun hanya 5 candi yang masih berdiri.

Candi Dwarati

Candi Dwarawati terletak paling utara di antara candi-candi di Dataran Tinggi Dieng. Berdiri sendirian di lereng Bukit Perahu. Candi Dwarati juga merupakan candi Hindu yang mempunyai bentuk empat persegi panjang. Pada masing-masing dinding luar dan dalam bilik candinya terdapat relung-relung tempat arca. Candi ini juga terletak pada posisi paling tinggi. Untuk menuju candi Dwarati, kamu akan membelah perkampungan penduduk yang cukup menanjak.

Candi Bima

Candi Bima terletak paling selatan dari seluruh komplek percandian di Dieng. Berada di pinggir jalan raya memasuki pintu gerbang menuju kawah Sikidang. Candi ini unik dibanding karena kemiripan arsitekturnya dengan candi di India.

Candi Gatotkaca

Candi Gatotkaca terletak di sisi barat yang tak jauh dari komplek candi Arjuna. Ada jalan setapak yang menghubungkan kedua komplek candi ini. Karena lokasinya yang tinggi, pelataran candi Gatotkaca merupakan venue yang bagus untuk melihat seluruh perkampungan di Dieng. Candi ini juga merupakan candi Hindu berbentuk bujursangkar dengan dinding relung berhias Kala Makara. Berhadapan dengan candi Gatotkaca adalah Museum Kaliasa.

Bukit Sikunir dan Telaga Cebongan

Bukit Sikunir adalah tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit di Dieng. Berjarak kurang lebih 8 km dari Desa Dieng Kulon. Sebaiknya, kamu menggunakan ojek atau menyewa sepeda motor untuk mencapainya. Saat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit adalah saat musim kemarau. Siapkan baju hangat dan senter karena harus berangkat pagi-pagi sekali untuk bisa menikmati keindahan mataharinya. Udara di sekitar lokasi sangat dingin, mencapai 0°C. Sebelum menaiki bukit setinggi 2 ribu m ini, di kaki bukit kamu akan disambut dengan Telaga Cebongan yang jernih. Area parkir, toilet umum dan basecamp para pemandu bersebelahan dengan telaga ini. Kamu harus membayar Rp 3 ribu sebelum menelusuri jalan setapak ke arah bukit. Jalan setapaknya cukup licin dan sempit yang diapit oleh bukit dan jurang, jadi perlu berhati-hati. Sebenarnya tanpa pemandu pun, dengan berbekal senter, dengan mudah bisa mencapai puncak bukit Sikunir. Sesampai puncak, kelelahan segera tertebus dengan pemandangan yang dramatis. Saat matahari mulai mengintip, warna jingga akan memendar memenuhi seluruh ufuk timur. Perlahan-lahan tampak cerah dan menguning sebelum akhirnya berubah putih terang memenuhi puncak. Saat itulah Anda dengan jelas akan melihat kegagahan tiga gunung sekaligus yang seolah-olah memandangi Bukit Sikunir, yaitu Sindoro, Sumbing, dan Merapi dari kejauhan. Sementara gumpalan kabut putih menutupi kaki bukit membuat Anda berasa melayang di atas awan.

Berbeda saat Anda menaiki bukit yang tampak adalah gelap, namun saat turun yang terlihat adalah pemandangan yang menakjubkan. Lembah hijau, hutan cemara, telaga, dan perkampungan tampak bagai lukisan yang menyegarkan.

Telaga Warna

Telaga Warna merupakan salah satu telaga terbesar. Keunikan telaga ini adalah warnanya yang terbagi dua: hijau dan biru kehijauan. Gradasi warna semakin indah jika menyaksikan dari ketinggian. Telaga ini dikelilingi oleh bukit dan hutan. Sudah terdapat jalan setapak yang nyaman untuk mengelilinginya. Selain Telaga Warna, di area ini juga terdapat Gua Semar, Dieng Plateau Theatre, dan Telaga Pengilon. Jalan setapak akan menggiringi kamu pada sebuah padang rumput alami yang indah. Di balik padang rumput ini melewati jalan kecil yang licin, kamu akan menemukan Telaga Pengilon. Suasananya begitu alami dan tenang. Airnya jernih seperti cermin dan diam tanpa ombak. Di pinggir telaga ditumbuhi rerumputan liar yang menghijau.

Kawah Sikidang

Merupakan salah satu kawah aktif terbesar dan aman untuk dikunjungi. Terletak di bawah sebuah bukit yang menghijau. Sungguh kontras dengan pemandangan di area kawah yang berupa dataran kapur yang gersang. Kawah Sikidang merupakan lumpur panas yang terus menerus mengepulkan asap belerang. Kamu bisa sangat dekat dengan bibir kawah untuk menyaksikan gerakan lumpur yang mendidih. Di sekitar kawah utama juga banyak terdapat lubang-lubang bekas kawah yang sudah tak aktif. Hati-hatilah melangkah agar tidak terperosok. Sebelum memasuki area Sikidang, silakan mampir di rest area untuk menikmati segelas purwaceng dan kentang goreng. Yang unik di sini juga dijual bongkahan-bongkahan belerang sebagai cinderamata.

Festival Dieng dan Anak Rambut Gimbal

Festival Dieng merupakan acara tahunan untuk mendukung promosi pariwisata Dieng. Selain menampilkan pentas aneka kesenian dan kuliner khas Dieng, pada festival ini juga dilakukan pemotongan rambut gimbal. Fenomena anak rambut gimbal merupakan hal yang magis. Beberapa anak dari penduduk setempat akan mempunyai rambut gimbal secara alami. Sebelum rambut menjadi gimbal, anak tersebut akan mengalami demam terlebih dahulu. Dan pada waktunya si anak meminta potong rambut, maka akan dituruti, setelahnya rambut tumbuh lurus. Jika belum saatnya dipotong atau dipaksa, rambut tetap tumbuh menggimbal. Memotongnya pun harus diiringi dengan ritual suci. Penduduk setempat menganggap anak-anak rambut gimbal masih merupakan keturunan leluhur Dieng.

Dieng Plateau Theatre dan Museum Kaliasa

Dieng Plateau Theatre terletak satu komplek dengan Telaga Warna yang bisa diakses melalui jalan utama. Jika dari dalam area Telaga Warna, kamu harus menaiki bukit untuk mencapai Dieng Plateau Theatre. Di sini kamu diajak menonton film pendek dokumenter tentang Dieng dan tempat-tempat yang layak untuk dikunjungi selama sekitar 15 menit dengan biaya Rp 4 ribu.

Museum Kaliasa terletak berhadapan dengan Candi Gatotkaca. Di sini dipajang aneka diaorama, artefak, patung, dan beberapa reruntuhan candi di Dieng. Untuk memasuki museum ini, biaya sebesar Rp 10.000 sudah termasuk biaya untuk menonton film tentang budaya dan sejarah masyarakat Dieng. Di area museum ini juga terdapat penginapan yang bisa disewakan.

Get There

Dataran Tinggi Dieng terletak di Jawa Tengah, tepatnya terbagi ke dalam 2 kabupaten, yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Kawasan Wisata Dieng I terletak di Kabupaten Wonosobo, sementara Kawasan Wisata Dieng II di Kabupaten Banjarnegara. Dengan pesawat udara bisa diakses dari Yogyakarta (Jogja) dan Semarang atau melalui jalur darat dengan bus antar-kota tujuan Wonosobo. Dari Wonosobo dilanjutkan dengan perjalanan kurang lebih 1 jam dengan minibus ke Dieng. Di dalam kawasan Dataran Tinggi Dieng sendiri, untuk mencapai satu lokasi destinasi ke destinasi lainnya, kamu bisa berjalan kaki atau menggunakan ojek. Tarif ojek untuk mengelilingi beberapa lokasi wisata beragam antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per hari, tergantung jumlah/jarak lokasi yang ingin dikunjungi dan tawar-menawar. Biasanya, Rp 50 ribu bisa berkeliling mulai sebelum Subuh (untuk melihat matahari terbit) sampai sekitar jam 2 siang.

Perjalanan melalui Yogyakarta

Jarak Jogja-Wonosobo sekitar 122 km. Untuk menuju Dieng, kamu bisa menyewa mobil travel seharga Rp 65 ribu dari Jogja dengan perjalanan hampir 3,5 jam. Jika naik angkutan umum, bisa dimulai dari Terminal Jombor atau Giwangan dengan bus menuju Magelang dan dilanjutkan ke Wonosobo. Perjalanan Jogja-Magelang-Wonosobo ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam dengan total ongkos Rp 45.000. Dari Terminal Wonosobo, naik minibus selama 1 jam menuju Dieng dengan ongkos hanya Rp 15 ribu. Minibus ini akan melewati Dataran Tinggi Dieng. Perhatikanlah jadwal keberangkatan bus jika hendak kembali, jangan sampai terlalu malam karena bus tidak 24 jam.

Perjalanan melalui Semarang

Semarang-Wonosobo berjarak 120 km. Perjalanan kamu bisa mulai dari Terminal Terboyo di Semarang, lalu naik bus langsung tujuan Wonosobo. Perjalanan ditempuh selama 4 jam dengan ongkos bus Rp 25 ribu. Dari terminal Wonosobo, melanjutkan dengan minibus yang sama seperti rute Jogja-Dieng.

To Stay

Kamu tidak akan kesulitan menemukan penginapan di Dieng. Ada banyak rumah penduduk yang sudah dibuat menjadi homestay dengan layanan yang ramah dan tarif terjangkau, sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu. Hampir semua penginapan sudah menyediakan fasilitas air panas mengingat udara di Dieng yang cukup dingin. Beberapa penginapan juga menyediakan kentang goreng sebagai kudapan bonus. Di kawasan Dataran Tinggi Dieng hanya terdapat satu hotel, lainnya adalah homestay. Kami menginap di homestay terdekat dari Kompleks Candi Arjuna. Harga Rp 50 ribu untuk kamar dengan tempat tidur besar, tetapi kamar mandi luar (fasilitas air panas) dan makan satu kali (bisa untuk sarapan atau snack siang). Sang pemiliki juga menyediakan kopi dan teh di dapur (self service).

To Eat

Ke Dieng rasanya tak lengkap jika tidak mencicipi purwaceng, carica, dan mi ongklok. Kudapan tersebut banyak dijual di warung kaki lima atau rumah makan. Purwaceng adalah tumbuhan langka dan endemik khas Dieng, akar dan daunya dibuat serbuk, kemudian dicampur dengan kopi, susu, atau teh untuk dibuat minuman hangat. Purwaceng berkhasiat untuk meningkatkan stamina dan salah satu afrodisiak (perangsang hasrat dan kemampuan seksual).

Carica adalah buah khas Wonosobo yang banyak tumbuh di Dieng. Seperti pepaya, tapi bentuknya kecil, dijual dalam bentuk manisan dengan kemasan plastik dan botol kaca kedap udara. Rasanya manis dan segar.

Sementara mi ongklok adalah makanan khas Wonosobo yang juga banyak dijual di Dieng. Membuat dan menghidangkannya unik, tidak seperti mi pada umumnya. Mi ongklok terbuat dari mi (ukuran mi besar-besar) yang di-ongklok-ongklok (dikocok-kocok pada sebuah peniris dalam air mendidih), kemudian disiram saus kacang kental dan dihidangkan bersama sate daging sapi. Rasanya unik dan manis, perpaduan mi dengan bumbu kuah yang lengket dan sate.

Quick Tips

 Tip

  • Bawalah jaket, penutup kepala dan kaos kaki karena saat malam dan pagi suhu di Dieng sangat dingin, bisa sampai 0 derajat celcius.
  • Untuk transport di dalam kawasan Dieng sebaiknya sewa sepeda motor atau ojek, jangan segan untuk menawar harganya.
  • Sediakan uang tunai karena di lokasi hanya ada 1 ATM bank BRI.

Comments  

 
#2 wisata dieng 2015-10-11 07:46
lengkap dan informatif. bisa buat belajar nulis nih.

salam kenal gan
 
 
#1 Diyan 2012-09-18 05:20
Foto siapa tuh cakep cakep amat ya hehehe
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Slideshow Melayang di Negeri Atas Awan

Newsletter

Subcribe
1037255
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
512
453
5571
850939
16838
20604