Jelajah Pecinan Kota Tua Tangerang

Sudah lama sekali tidak menulis, dan akhirnya saya punya kesempatan untuk bercerita. Well, banyak hal yang terlewatkan tanpa sempat saya tulis, dan sekarang saya coba untuk memanggil kenangan-kenangan itu kembali.

Hari itu adalah 27 Mei 2012. Saya bersama 2 orang teman tengah menjelajah sebuah kawasan bersejarah tak jauh dari Jakarta: Pecinan, Tangerang. Apa yang menarik? Tentu saja, sekelumit kisah dan jejak masyarakat Tionghoa yang telah datang dan menetap, bahkan sebelum Ibukota bernama. Sebagian orang akrab menyebutnya “Cina Benteng,” tapi rasanya lebih arif kita tetap menyebutnya sebagai masyarakat peranakan.

Tinggal di kawasan Bekasi, kami pun memulai titik perjalanan di seputaran jalan tol Jatibening. Tak lama, bus yang kami tuju datang. Sebuah armada Mayasari Bakti jurusan Bekasi-Kalideres.

Karena akhir pekan, tak kami temui kemacetan khas Kota Jakarta. Siang itu juga, hanya berselang sekitar satu jam, kami akhirnya sampai di Terminal Kalideres. Lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum kecil berwarna putih hijau yang membawa kami menuju Kota Bumi.

Perjalanan kami dengan angkutan tersebut, berakhir tepat di depan sebuah gereja katolik. Dari sini, kami menyebrang ke arah Pasar Lama, Tangerang, dan melanjutkan perjalanan dengan naik becak. Satu becak, kami tumpangi bertiga. Tawaran si Abang Becak, lebih baik sekalian saja satu becak. Mengayuh dengan santai di antara rentetan ruko dan pusat perdagangan di Tangerang ini, membawa kami pada imajinasi terhadap bagaimana Tangerang ratusan tahun silam di mana warga pendatang dan peranakan mulai meramaikan kawasan ini dengan perniagaan.

Benar juga arahan dari seorang kawan. Lokasinya tak jauh dari tempat tadi kami turun dari angkutan umum. Tapi tentu kami tak menyesal telah mencoba menaiki becak. Selembar uang sepuluh ribu, kami berikan. Sepanjang perjalanan dengan becak - selain asyik mengobrol tentang fantasi terhadap Tangerang di masa lalu – kami tertawa. Badan kami yang tak bisa dibilang ramping, serta rasa was-was kalau-kalau ada jalan menanjak atau mungkin saja belokan tajam, becak bisa-bisa oleng.

Sesampainya di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh motor, kami berjalan kaki menembus keramaian para pedagang. Ini memang adalah pasar tradisional. Tipikal area klenteng yang menjadi pusat peribadatan warga peranakan. Biasanya, selalu ramai oleh para pedagang rupa-rupa, mulai dari penjual kembang, peralatan ibadah umat Budha dan Konghucu, sampai kue-kue basah dan jajanan khas Negeri Tirai Bambu.

Aroma pembakaran hio semakin dekat. Di ujung gang sanalah kami berjalan. Bukan sekedar sumber mengepulnya asap, tetapi kami tahu di salah terletak sebuah klenteng tua dengan dominasi warna merah yang menyala.

Klenteng Boen Tek Bio merupakan salah satu klenteng tertua di Tangerang, mungkin juga di Indonesia. Umurnya kurang lebih 3,5 abad. Atmosfir tua pada klenteng tak membuat kami melihat beberapa bagian yang lapuk sebagai bentuk kecacatan fisik, melainkan suatu kearifan dan rekam jejak yang telah dimilikinya selama melewati berbagai periode sejarah. Ada banyak hal yang telah dilihat berbagai benda tak bermata ini. Jajaran patung begitu tampak sakral. Ornaman naga di berbagai sudut ruangan membuat kami terkagum-kagum. Tak lupa, kami juga berfoto di beberapa sisi bangunan selain mencoba mengabadikan benda-benda sakral di klenteng ini. Warna merah dan emas yang menghiasi dinding-dinding adalah simbol spiritualitas bagi warga peranakan: kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keberanian. Indah dan kokoh, seolah hendak menegaskan keberadaannya yang tak lekang oleh waktu. Para pengurus klenteng yang ramah menyambut kami, menambah suasana yang terbuka dan hangat.

Sesi menjelajah klenteng dan foto-foto pun selesai. Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah museum yang tak lain adalah sebuah bangunan tua dengan desain arsitektur asli khas Tiongkok, yang berada tepat di belakang Boen Tek Bio. Mereka menamainya Museum Benteng Heritage, sebuah museum kecil milik pribadi yang dikelola oleh Bapak Udaya Halim. Untuk memasuki museum tersebut, kontribusi yang harus kami berikan adalah Rp 20 ribu/orang sebagai biaya administrasi, sekaligus biaya pemandu yang tak sekedar menemani kami berkeliling, tetapi juga menjelaskan sejarah berdirinya museum, koleksi-koleksi museum, dan berbagai peristiwa sejarah yang pernah dihadapi oleh masyarakat peranakan di Tangerang.

Meski tak memiliki ruang yang besar dengan koleksi yang terbatas, namun kami begitu kagum dengan koleksi yang ada. Penjelasan yang rinci dan menghibur pun membuat kami dapat terbawa suasana akan pesona tradisi dan budaya warga peranakan di sini pada masa lampau dan kini. Akulturasi yang unik dan indah.

Oiya, salah satu pengalaman unik memasuki museum adalah tangga asli yang digunakan sebagai penghubung menuju lantai kedua di mana kami menemukan koleksi lain yang begitu megah, seperti berbagai fosil, keramik, serta peralatan niaga kuno. Untuk naik ke lantai atas, terlebih dahulu kami melepas alas kaki. Pihak museum sebelumnya sudah menyediakan kantung plastik untuk menyimpan sepatu atau sandal yang kami pakai. Tangga yang terbuat dari kayu asli tersebut memiliki kecuraman sebesar 45 derajat. Jika tidak perlahan menapaki kaki untuk naik melangkahi setiap anak tangga, kami bisa saja terpeleset. Tetapi pemandu kami – yang berkediaman persis di depan museum – telah terbiasa dengan tangga seperti itu sejak kecil menjelaskan bahwa dia tidak pernah melihat anggota keluarganya terpeleset, bahkan ketika masih kecil mereka berlarian naik-turun tangga. Ternyata tangga seperti inilah yang umum dimiliki oleh masyarakat peranakan di rumahnya. Bagi yang sudah menonton film Soegija, tangga dengan model sama digunakan di rumah keluarga Ling Ling.

Selain tangga, pintu yang menghadap balkon di bagian atas museum juga sangat kental dengan kultur dan tradisi Tiongkok. Melihat pintu tersebut, kami teringat film kungfu klasik yang gemar kami tonton ketika masa kecil dulu. Selain bentuknya yang kokoh, ternyata teknik membukanya pun ada triknya. Jika kita tidak tahu caranya, maka pintu tak akan terbuka ketika sudah ditutup. Ini untuk menangkal seandainya maling masuk rumah. Mungkin mudah saja untuk masuk rumah khas peranakan yang terbuka dan berjendela, tetapi begitu sudah masuk, maling tak akan bisa keluar. Karena hampir seluruh anggota keluarga, dulu warga peranakan mewarisi ilmu beladiri, jadi jangan harap bisa keluar hidup-hidup atau setidaknya mungkin keluar dengan wajah memar tanpa barang curian, ya.

Koleksi lain yang cukup menarik perhatian, yaitu alat timbang yang terbuat dari logam besi yang ujungnya terdapat rantai tajam berbentuk pengait berfungsi sebagai cantelan barang yang akan ditimbang. Biasanya besi tersebut dipakai untuk menaruh hasil jualan. Berhubung ujung dari timbangan tersebut tajam, maka siapapun yang ingin mengambil hasil jualan harus berpikir panjang lagi. Jika berani menjambret, alih-alih si penjambret bisa dilempar mata rantai yang tajam dan tersangkut besi pengait. Hebat juga, ya, bagaimana orang dulu mengkreasikan seni pertahanan diri.

Satu jam sudah kami berkeliling dan memperkaya diri dengan beragam sejarah dan budaya masyarakat peranakan yang tergolong kelompok migrasi pertama di Nusantara berabad-abad silam. Selain kaki yang letih dan teriknya matahari yang menguras keringat, perut pun sudah mulai terasa lapar. Sasaran kami berikutnya adalah wisata kuliner. Kali ini, kami mencicipi hidangan mi yang berlokasi tak jauh dari museum dan klenteng, yaitu Bakmi Kemuning. Hmmmmmm... aroma semangkuk mi dan swekiau langsung membuat kami tak bisa menunggu untuk segera menyantapnya.

Kenyang dengan santapan khas asal Tiongkok itu, kami melanjutkan perjalanan menaiki angkutan umum kecil menuju Klenteng Bun San Bio.

Tak sampai 30 menit, kami pun sampai di tujuan. Klenteng besar yang berada tepat di pinggir Jl. Pasar Baru ini mudah sekali ditemukan. Setelah meminta izin di sekretariat, kami mulai berkeliling dan mengambil beberapa foto di dalam klenteng.

Berbeda dengan klenteng sebelumnya, Klenteng Bun San Bio lebih besar. Ada begitu banyak altar, ruang-ruang pertemuan/serba guna, dan taman kecil di mana kami dapat sekedar duduk-duduk.

Meski bangunan klenteng telah mengalami renovasi total, tetapi patung-patung dewa-dewi, Sang Budha, dan leluhur, masih asli dan beberapa telah berusia ratusan tahun.

Lampion-lampion merah berbuntut kertas kuning yang mencantumkan nama-nama para donatur, mengapung di langit-langit klenteng, sehingga menciptakan langit indah yang redup kemerahan sebagai atap. Keunikan lain dari klenteng ini, adalah jejeran piguran di tembok klenteng yang memaparkan berbagai rekor MURI yang telah dipecahkan. Kami hitung-hitung, ada 11 rekor. Yang paling mengesankan, yaitu rekor mendirikan 108 butir telur oleh 9 orang dalam kurun waktu 9 menit. Hebat, ya! Konon, tak semua lokasi dan sembarang waktu, telur dapat didirikan. Pada hari-hari besar tertentu, telur hanya dapat berdiri. Dan itu membuktikan bahwa klenteng ini memiliki energi spiritual tertentu.

Well, setelah berkeliling dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan kami. Kembali ke Pasar Lama dan mencicipi es campur yang ramai dan telah tersohor, terletak agak ke sebelah kanan di sebrang Klenteng Boen Tek Bio. Warung es campur tersebut selalu dipenuhi pengunjung. Untuk merasakan kenikmatan es tersebut, kami harus menunggu lebih dari 15 menit untuk semangkuk es campur aneka rasa. Lamanya menunggu dan panasnya udara hari itu, terbalaskan ketika akhirnya es campur serut itu datang di hadapan kami. Manis dan segarnya langsung melelehkan rasa lelah dan letih kami. 

Panasnya udara sepanjang perjalanan kami seolah tak memiliki arti jika dibandingkan dengan pengalaman yang kami dapatkan hari itu. Di pecinan yang mungkin akrab disebut “Cina Benteng” inilah sejarah Tangerang mengawali titik nolnya sebagai sebuah kota. Warga peranakan di Tangerang, memiliki tradisi yang unik. Memang bukan Sunda atau Betawi atau Jawa, tapi juga tidak Tiongkok. Akulturasi antara warga pendatang dan warga pribumi menjadikan mereka bagian unik dari Nusantara: sebuah rasa ke-Indonesia-an. Mungkin tak cocok juga disebut seperti itu. Namun, ya itulah yang kami rasakan. Kagum, bangga, dan ada cinta pada akar sejarah-budaya dan kebhinekaan.

*Penulis adalah lulusan Universitas Atmajaya. Selain sibuk menjadi guru di sekolah swasta di Jakarta, Shandra tak pernah menolak untuk memuaskan hasrat dan melangkahkan kaki menuju sebuah petualangan.