Scenic Beauty and Blue Fire on Ijen Crater

Menuju Kawah Ijen adalah perjalanan yang menantang dan melelahkan. Tidak mudah untuk mencapai salah satu destinasi terbaik di Indonesia ini. Rute jalan kaki menanjak sejauh lebih dari 3 km harus kami lewati sekitar 3 jam. Tapi begitu sampai di puncak, kami benar-benar mendapatkan sesuatu yang indah dan langka. Danau kawahnya yang luas menghijau merupakan yang terbesar di dunia. Fenomena unik lain adalah kemunculan si api biru atau blue fire.

Taman Wisata Kawah Ijen terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi di Jawa Timur. Posisinya dikelilingi oleh tiga gunung besar, yaitu Raung, Meranti, dan Merapi. Kawah Ijen sendiri berada di puncak Gunung Ijen setinggi 2.368 meter dpl. Kawahnya merupakan danau belerang seluas hampir 5,5 hektar dengan derajat keasaman yang mendekati nol. Dengan kondisi asam tersebut, air di kawahnya bisa melepuhkan kulit. Soal bahaya, itu adalah keunikan dari karakter geotourism dari Ijen. Sebelumnya, tentu saja kami telah mempersiapkan informasi tentang Ijen sehingga kami pun sangat berhati-hati saat melakukan perjalanan dan ketika sampai di kawasan yang didominasi oleh turis asing dari berbagai benua, terutama negara-negara Eropa. Beberapa yang kami temui, sudah lebih dari sekali berkunjung. Sementara ini adalah perjalanan pertama kami.

Pemandangan di Gunung Ijen sangat berwarna. Itulah kesan kami begitu tiba di puncak. Kawah hijau tosca, lereng terjal yang gersang dengan paduan hitam tanah, warna putih kapur, dan semburat kuning belerang. Sudah pasti, gradasi warna segar dari hijaunya hutan-hutan yang membentengi Ijen dengan hiasan asap belerang putih melayang-layang di permukaan kawah. Di pinggiran jalan setapak sisi selatan kawah, banyak terdapat bongkahan kayu kering yang telah mati dan membentuk macam-macam fantasi. Hutan yang mendekati garis lingkar kawah, sebagian besar dikelilingi pohon-pohon kering yang mati terkena asap belerang akibat letusan terakhir tahun 1993. Anehnya, batang utama pepohonan masih kokoh berdiri dan memberikan efek warna yang kontras terhadap hijau tanaman-tanaman perdu yang menutupi tanah di bawahnya. Membayangkan memasuki sebuah negeri dongeng yang penuh imajinasi? Ijen memiliki banyak hal yang lebih dari apa yang kami bayangkan sebelum datang. Jadi, silakan buat list kamu sendiri untuk menyaksikan atraksi-atraksi (what to see) di Ijen yang akan memberikan beragam inspirasi terhadap harmoni warna dan variasi bentuk yang diciptakan alam.

To See

Memburu Blue Fire

Beberapa tahun terakhir, blue fire menjadi fenomena alam yang banyak diperbincangkan para wisatawan setelah berkunjung ke Kawah Ijen, terutama wisatawan mancanegara. Mereka bilang fenomena blue fire ini hanya terjadi di dua tempat di dunia: Islandia dan Kawah Ijen. Tapi setelah kami Googling, tidak ada petunjuk yang mengarahkan bahwa blue fire juga terdapat di Islandia, akhirnya kami yakin bahwa blue fire di Ijen mungkin saja merupakan satu-satunya di dunia.

Fenomena blue fire adalah munculnya kobaran api berwarna biru yang menyala-nyala di atas penambangan belerang. Api ini bersuhu sangat tinggi, lebih dari 600 derajat celcius, uniknya api ini tidak bisa membakar kayu, namun bisa melelehkan besi. Blue fire hanya muncul di saat gelap antara jam 6 sore sampai menjelang pagi sekitar jam 5. Ada banyak kobaran api yang bisa dilihat, bahkan sulur-sulur birunya kadang menyatu dengan sangat indah menyerupai nadi yang hidup.

Untuk mendapatkan blue fire, kami berbekal informasi seadanya dengan bertanya ke sana-sini dengan masyarakat sekitar dan para backpacker. Kami berangkat dari Pos Paltuding sekitar jam 2 dini hari. Karena kami bukanlah pendaki yang bisa dengan cepat sampai puncak, akhirnya kami putuskan untuk berangkat lebih awal. Ditemani seorang pemandu, kami menyusuri kegelapan malam, melewati jalan menanjak, dan berpasir. Harus hati-hati karena beberapa kali kami terjatuh menginjak butiran pasir yang licin. Hampir seluruh perjalanan merupakan jalan menanjak dan hanya sekitar 500 meter menjelang puncak jalannya mulai mendatar. Berkali-kali kami berhenti untuk istirahat, sehingga jalan sejauh 3 km yang umumnya bisa ditempuh dalam 2 jam, kali ini kami tempuh lebih dari 3 jam. Dalam perjalanan kami sering bertemu dengan wisatawan lain dan para penambang belerang. Ada empat pos pemberhentian yang masing-masing berjarak sekitar 500-700 meter. Di pos terakhir yang bernama Pos Bunder, terdapat warung kecil dan toilet, serta tempat penimbangan belerang. Tapi sayangnya, toilet sering kehabisan air. Hanya ada dua toilet di Ijen, yaitu di Pos Paltuding dan Bunder. Saat itu, dua-duanya kehabisan air. Banyak wisatawan akhirnya memilih buang air di tempat terbuka. Jadi, persiapkan selalu air dan tisu saat pergi. Di Pos Bunder ini juga terdapat bangunan yang berbentuk melingkar yang dulunya merupakan tempat pengamatan cuaca, tapi sekarang kondisinya sudah rusak dan tak berbentuk.

Udara mulai bertambah dingin. Pertanda kami akan segera sampai puncak. Bau belerang telah menyengat dan mata terasa sedikit pedih. Tapi lama-kelamaan, hilang dan menjadi terbiasa. Suasana masih gelap, kami belum bisa melihat kawah, tapi samar-samar dari atas kami bisa lihat nyala-nyala kecil berwarna biru sepeti bintang. Nah, itu dia si api biru! Ternyata untuk melihatnya lebih indah dan jelas, kami harus turun ke dasar kawah sejauh 1 km dengan kondisi jalan yang lebih ekstrem, bahkan cenderung berbahaya. Tapi banyak juga wisatawan yang turun, terutama bule-bule bersama dengan para penambang belerang. Akhirnya beberapa dari kami juga memutuskan untuk turun. Sampai di dasar kawah, puluhan wisatawan berkeliling di sekitar area penambangan belerang untuk mengambil gambar blue fire. Mereka berpadu dengan kesibukan para penambang. Sayang, kami hanya membawa kamera saku, sehingga tidak bisa mengabadikan blue firedengan baik. Yang jelas, mata telanjang kami mengatakan bahwa fenomena ini sungguh luar biasa indahnya.

Kawah yang Eksotis

Menjelang matahari terbit, blue fire mulai menghilang. Kami putuskan untuk naik ke atas. Sampai di atas, sang surya telah menebarkan pendaran cahayanya. Dari Kawah Ijen, kami tidak bisa melihat matahari terbit karena di sisi timur kawah terdapat tebing tinggi yang menghalangi. Untuk melihat matahari terbit, kami harus menaiki tebing sejauh 1,5 km. Kami putuskan tidak naik karena sedang menyiapkan tenaga untuk turun. Menurut beberapa wisatawan, matahari terbit di Ijen tak kalah indahnya dengan Dieng atau Bromo.

Beberapa saat kami menunggu, kawah terlihat. Semburat oranye menghiasi atap tebing timur, kegelapan perlahan menghilang. Samar-samar di antara asap belerang putih, tampak bentangan kawah nan luas yang menghijau. Spontan, kami terdiam karena takjub dan menikmati momen-momen perubahan alam di hadapan kami yang membentang dengan luar biasa. Seperti nirwana sedang menampakkan wujudnya di sana.

Seiring dengan langit yang mulai membiru, air kawah perlahan-lahan mulai tersingkap. Walaupun tidak keseluruhan karena sisi barat masih tertutup oleh asap belerang yang terus mengepul. Dan sayang sekali, pagi ini angin bertiup ke arah timur, sehingga membuat keseluruhan kawah tak bisa terlihat karena tertutup asap. Hembusan angin sifatnya tak menentu, jadi kami pun tak mungkin menunggu sampai hembusan angin berbalik arah, apalagi menjelang siang seluruh wisatawan disarankan untuk segera turun karena kepekatan asap belerang yang semakin meningkat.

Panorama Merapi, Meranti, dan Raung

Berbeda saat naik yang dipenuhi dengan kegelapan dan kerlap-kerlip lampu senter wisatawan maupun penambang, saat turun kami bisa menyaksikan keindahan lereng-lereng Merapi, Meranti, dan Raung dari kejauhan. Perjalanan turun, meski terasa lebih cepat, tapi bukan berarti lebih mudah. Kaki kami terasa lebih capek akibat bertarung dengan gravitasi. Agar tak mudah terpeleset, hentakan kaki ke tanah juga harus lebih kuat.

Seperti dataran tinggi lainnya, di Ijen kami juga banyak melihat bunga edelweiss tumbuh liar di lereng-lereng. Sepanjang perjalanan, kami pun menemukan aneka buah berry gunung berwarna merah. Kami mencoba mencicipinya. Rasanya asam sedikit manis. Perjalanan turun gunung kami agak berbeda karena dibarengi kumpulan monyet yang bergelantungan di pucuk-pucuk pohon. Mereka berakrobat dengan melompat ke pohon satu ke pohon lainnya yang sangat bervariasi. 

Lereng Gunung Merapi dan Meranti yang paling dekat dengan Ijen tampak begitu cantik dan hijau. Sulur-sulur jurangnya terlihat jelas. Sementara Gunung Raung hanya tampak membiru dengan permukaan puncak yang lebih mendatar. Dari ketiga gunung ini, Raung adalah yang masih aktif seperti halnya Ijen yang sedang tertidur pulas. Gunung Ijen sendiri terakhir mengeluarkan awan belerang beracun yang panas pada 1993, bahkan sejak tahun 2012 lalu statusnya naik turun dari level siaga ke waspada dan belum pernah ke level aman. Loket tiket masuk di Pos Paltuding saja tidak lagi difungsikan, sehingga kami masuk tanpa membayar. Saat kami naik juga ada peringatan bahwa jarak terdekat yang boleh dilampaui oleh wisatawan adalah 1,5 km dari Kawah Ijen. Itu berarti wisatawan tidak akan bisa melihat Kawah Ijen. Tapi sepertinya peringatan tersebut tidak banyak dipatuhi, buktinya hampir semua wisatawan yang jumlahnya ratusan setiap hari selalu nekat berada sampai ke bibir kawah. Ada yang bilang bahwa Ijen cantik, sekaligus membahayakan, tapi jauh dari menakutkan. Bahaya yang paling mengancam dari letusan Gunung Ijen adalah luapan 30 juta meter kubik air kawah yang sangat asam dan dapat melepuhkan kulit dalam waktu singkat. Jadi kalau merasa tidak yakin, jangan memaksakan diri melanggar himbauan!

Penambang Belerang yang Tangguh

Sisi lain dari keindahan Kawah Ijen adalah penambang belerangnya. Mereka berasal dari desa-desa terdekat, seperti Desa Licin, Sempol, dan Blawan. Jumlah mereka lebih dari 300 orang. Kadang mereka berganti profesi antara pemandu atau penambang. Bisa dibilang para penambang ini sangat tangguh. Dalam satu hari, mereka bisa naik 2-3 kali ke kawah dengan membawa beban bongkahan belerang murni seberat 80-120 kg saat turun. Kami sering melihat para penambang tersebut naik dan turun sambil berlari. Betapa kuatnya mereka. Kami saja yang hanya membawa backpack seberat tidak lebih dari 15 kg, sudah merasa begitu ngos-ngosan. Ya, kehidupan dan kebiasaan telah membuat mereka begitu tangguh.

Setiap hari para penambang belerang tersebut ibarat menantang maut. Terpapar dengan asap belerang beracun setiap saat dan berhadapan dengan kemungkinan Kawah Ijen meletus sewaktu-waktu. Kami sempat bertanya kepada mereka mengapa memilih menjadi penambang. Dengan wajah datar mereka menjawab, “Andai saja kami punya sawah, tentu kami lebih memilih menjadi petani.” Itu artinya menjadi penambang adalah satu-satunya pilihan bagi mereka untuk bertahan hidup. Belerang tersebut dijual dengan harga Rp 700-800 per kg, sementara upah pemandu turis mereka dapatkan sekitar Rp 130-200 ribu. Mereka juga membuat cinderamata dari belerang berbentuk kura-kura, gunung, dan bunga untuk dijual ke wisatawan dengan harga Rp 5-10 ribu. Buat kami yang paling membanggakan untuk para penambang tersebut adalah keramatamahannya. Selalu tersenyum dan menyapa setiap wisatawan yang ditemuinya. Benar-benar khas Indonesia!

Berlari-lari di Kawah Wurung

Kawah Wurung adalah sebuah sabana atau padang rumput yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Bentuknya menyerupai kawah atau cekungan yang luas. Kami jadi teringat dengan keindahan Sabana Tengger yang telah kami kunjungi. Dulunya Kawah Wurung adalah sebuah kawah yang telah mati dan akhirnya ditumbuhi rerumputan. Saat turun dari Kawah Ijen, kami bisa melihat sabana ini dari kejauhan. Letaknya berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Berjarak 8 km sebelah barat Kawah Ijen atau hampir 17 km sebelah utara Sempol. Untuk mencapai Kawah Wurung tidak begitu melelahkan seperti halnya ke Kawah Ijen. Karena kendaraan bisa masuk sampai ke lokasi walaupun harus melalui jalan berbatu dan banyak yang rusak. Pada 14 km pertama akan melewati perkebunan kopi yang sangat luas setelah itu di 3 km terakhir akan menelusuri hutan yang masih alami. Karena masih belum banyak didatangi wisatawan, jalannya banyak ditumbuhi rumput ilalang. Sampai di puncak Kawah Wurung, kesegaran seperti menyapa di mana-mana. Yang ada hanya hijau dan hijau. Kami berlari-lari kecil kegirangan. Seperti menemukan sebuah mainan baru yang belum kami kenal sebelumnya. Jika ingin mengunjungi Kawah Wurung sebaiknya kamu menghabiskan waktu dua hari di dataran tinggi Ijen. Hari pertama ke Kawah Ijen dan hari ke dua ke Kawah Wurung atau sebaliknya. 

Agrowisata Jampit dan Air Terjun Blawan

Di Jampit terdapat perkebunan stroberi yang cukup luas, lebih dari tujuh hektar. Kamu bisa memetik dan membawanya pulang dengan hanya membayar Rp 25 ribu per orang. Sayangnya saat kami datang, kebunnya sedang tutup karena belum mulai musim panen. Sementara di Blawan, terdapat perkebunan kopi. Di perkebunan kopi ini juga memproduksi kopi luwak. Terdapat sekitar 80 luwak yang ditangkarkan. Luwak-luwak tersebut ditangkap dari alam liar, tapi tidak untuk dibudidayakan. Untuk memasuki perkebunan, kamu harus membayar retribusi masuk yang sama layaknya kebun stroberi.

Tidak jauh dari Blawan juga terdapat air terjun, namanya Air Terjun Blawan. Tepatnya di Desa Kalianyar, sekitar 1 km dari Blawan. Air terjun setinggi 30 meter ini begitu unik, dari jauh airnya seperti terbagi dalam dua warna. Satu berwarna coklat yang berasal dari aliran Sungai Kalipahit yang bercampur belerang. Sungai Kalipahit merupakan rembesan dari Kawah Ijen. Sementara lainnya, tak berwarna dan terlihat jernih yang merupakan air tanah pegunungan aliran dari Sungai Kaligedang. Satu lagi yang unik dari air terjun ini, adalah muaranya yang langsung masuk ke dalam tanah dengan dasar yang sangat curam. Di sekitar air terjun juga terdapat pemandian air panas. Daerah Blawan banyak terdapat tumbuhan kacang makadamia. Kacang termahal di dunia ini juga bisa dibeli di sini sebagai oleh-oleh.