Berjumpa Orangutan di Kalimantan Tengah

Oleh Nurdiyansah

Anggapan saya terhadap Borneo telah berbeda. Ini pertama kali saya mengunjungi salah satu pulau besar dan paru-paru dunia. Musim hujan sudah datang, tapi sisa kemarau memberi pemandangan yang tak mengenakan. Pepohonan menyisakan ranting tanpa daun di sisi jalan raya yang berbatasan dengan hutan. Di antara genangan air lahan gambut, tampak arang dan belukar berwarna hitam bekas kebakaran. Zamrud khatulistiwa terus berubah wajah!

Tanpa berlama-lama, setibanya kami di Kota Palangkaraya di Provinsi Kalimantan Tengah pada pagi hari, siang itu pula kami langsung melakukan perjalanan menuju kampung masyarakat adat di salah satu tepi Sungai Barito untuk menggali kearifan lokal terkait bencana. Ditemani kawan dari AMAN Bogor, Andri Febrian, dan kawan-kawan dari AMAN Kalteng, Henri dan Bang Dadot, perjalanan ke Mengkatip, Kecamatan Dusun Hilir di Kabupaten Barito Selatan, kami tempuh sekitar 10 jam dengan mobil. Kondisi jalan menembus hutan sempit dan hanya cukup dilewati satu kendaraan saja dari masing-masing arah yang berlawanan. Aspal tak selalu mulus karena amblas di sejumlah titik dan perbaikan jalan hampir berlangsung setiap tahun. Hujan mengiringi perjalanan kami.

Untuk sampai Mengkatip, kami menyewa kelotok (semacam perahu kayu bermotor) dari dermaga kecil yang bersebelahan dengan lalu lintas truk-truk besar dan jejeran kapal tanker pengangkut batubara. Kami menghabiskan sekitar satu jam perjalanan di atas perairan Barito lewat dini hari. Udara terasa dingin dan permukaan air begitu tenang. Dan bunyi nyaring mesin perahu yang memecah kesunyian tak menghalangi saya menikmati bulan yang menuju purnama serta bisik-bisik hutan lebat di pinggir sungai.

Saya tak melihat ada cahaya selain lampu seadanya di perahu yang sedang kami naiki. Kegelapan pekat dan bayangan hitam rimbun pepohonan di sisi sungai membuat saya penasaran. Adakah hewan buas hidup di sana? Orangutan? Atau makhluk-makhluk gaib Mirkwood yang dideskripsikan Tolkien pada buku The Hobbit: peri hutan, goblin, troll, beorn....

“Di sini masih ada buaya. Dulu ikan-ikan banyak dan besar,” ungkap salah seorang keluarga Bang Dadot yang ikut menemani kami di atas kelotok ketika saya bertanya. Kami tak banyak mengobrol karena terhalang deru mesin bermotor.

Remang-remang lampu yang berkerumun samar kian nyata semakin kami mendekat. Rumah-rumah panggung dari kayu mendominasi perkampungan tepi sungai. Kami sampai dan beristirahat melepas lelah di rumah orangtua Bang Dadot.

Saya tak bisa tidur dan sekitar jam enam pagi memutuskan memulai aktivitas berkeliling kampung. Mengobrol dengan ibu-ibu yang sudah kumpul di bale-bale pinggir sungai. Di dekatnya ada bungkusan berisi sayur-mayur. Ia memperlihatkan isinya pada saya. “Ini sayur-sayur buat dijual murah,” kata seorang perempuan setengah baya. Ada terong, pisang, dan macam-macam hasil kebun yang mereka tanam di belakang rumah. Sebentar lagi akan ada yang mengambil sayuran mereka untuk kembali dijual. Ia mengambil beberapa terong kecil berwarna ungu sekaligus dan memberitahu saya kalau harganya hanya laku seribu-dua ribu. “Murah ‘kan,” ia tersenyum.

Saya melanjutkan penelusuran kampung seorang diri. Pagi-pagi, aktivitas telah ramai. Anak-anak berseragam berjalan kaki dan bersepeda ke sekolah. Di tepian sungai, para perempuan mencuci baju, piring, serta menyiangi ikan untuk lauk. Bapak-bapak juga sibuk membenahi perahu. Sementara sungai masih menjadi nadi kehidupan mereka, namun tak banyak lagi yang bertahan menjadi nelayan karena tangkapan tak pasti. Mereka telah beralih profesi menjadi petani sawah, pekerja di perusahaan tambang, supir taksi air (kelotok), pengusaha keramba ikan, pekerja yang menyemai dan membuat produk olahan rotan, dan usaha lainnya.

Pagi itulah saya merasa beruntung berkenalan dengan Bapak Jumi. Ia mengajak saya mampir ke rumahnya dan mengopi bersama. Jumi adalah nama anak lelakinya. “Kalau kamu tanya ke orang kampung nama asli saya, ngga akan ada yang tahu. Tapi kalau bilang Pak Jumi atau Bapak Rini (nama anak perempuannya), semua tahu!” Rini anak perempuannya ternyata juga aktif di AMAN Kalteng. Sayangnya, saya belum sempat berkenalan.

Dari Pak Jumi-lah saya mendapatkan apa yang sedang saya cari tentang kearifan lokal terkait mitigasi bencana yang dimiliki masyarakat Dayak secara turun-temurun. Adalah beje, semacam parit yang dibuat di antara batas hutan, ladang, dan permukiman. Fungsi beje memiliki kaitan yang erat dengan konservasi hutan dan ladang serta perlindungan terhadap kebakaran hutan pada musim kemarau. Saat musim hujan di mana banjir kerap datang, kita bisa menemukan banyak ikan di dalamnya. Tentang beje ini akan saya ulas di tulisan berbeda bersama rumah lanting (rumah apung) yang kami kunjungi di kampung-kampung anak Sungai Barito dan kearifan Suku Dayak dalam membuka hutan dan menerapkan corak ladang bergulir (bukan ladang berpindah), hasil wawancara saya dengan tokoh perempuan adat Ibu Mardiana di Barito Timur.

Cerita yang saya dapat tak melulu menyoal kekaguman pada kearifan lokal masyarakat adat, tapi juga ancaman terhadap keberlangsungan kearifan bersamaan dengan perjuangan masyarakat adat dan konflik-konflik terkait hutan dan pelanggaran hak. Perselisihan dengan negara maupun perusahaan tambang dan perkebunan. Lebih ekstrem lagi, kawan saya dari Belanda menyamakan situasi yang dialami masyarakat adat kita selama puluhan tahun sebagai salah satu bentuk genocide.

***

Hari ketiga kami di Kota Palangkaraya hanya ada saya dan Andri. “Jadi akan ke mana kita hari ini?” tanya saya yang bosan di kamar hotel. Saya tak henti membayangkan orangutan dan berharap bisa berjumpa dengan makhluk endemik Kalimantan ini.

Akhirnya kami memutuskan mencari pinjaman kendaraan untuk menuju lokasi wisata yang secara acak saya Google. Karena tak banyak waktu tersisa, kami memutuskan untuk mengunjungi Arboretum Nyaru Menteng dan Danau Tahai yang berjarak sekitar 28 km dari pusat kota. Sebetulnya adalah karena di sanalah orangutan berada dan saya berharap banyak pada perjalanan hari ini. Andri membonceng saya santai dengan motor pinjaman kawan di kantor AMAN Kalteng yang tak jauh dari tempat kami menginap. Jangankan macet, bahkan ruas jalan-jalan utama di dalam kota tak ramai lalu-lalang kendaraan.

Semakin menjauh dari pusat kota, pemandangan masih serupa dengan yang kami lihat pada perjalanan ke Barito Selatan dan Barito Timur. Lahan-lahan baru saja terbakar (atau dibakar?). Sebagian bibit sawit dan tanaman kayu telah tertanam, sebagian lain telah berganti kebun-kebun sayur dan buah. Banyak juga lahan gundul berupa semak yang terpatok papan dengan keterangan “Dijual!”

Arboretum Nyaru Menteng merupakan kawasan konservasi hutan yang dipadu dengan aktivitas pariwisata di Palangkaraya. Sebelumnya adalah bekas HPH yang usai dieksploitasi sejak tahun ’74. Arboretum sendiri baru dibangun tahun ’88 dan mencakup luasan 65,2 hektar. Selain bumi perkemahan dan Pusat Reintroduksi Orangutan, terdapat pula kawasan wisata Danau Tahai.

Kami sampai terlalu sore. Pusat Reintroduksi Orangutan sudah tutup, sehingga kami hanya melihat-lihat di terasnya! Tapi meski datang lebih awal pun, jangan membayangkan bisa bermain-main atau berfoto bersama orangutan. Pusat Reintroduksi Orangutan bukanlah kebun binatang, melainkan tempat pelepasan dan adaptasi hewan yang kini terancam punah. Di sini bayi-bayi orangutan dirawat dan dilatih untuk dilepaskan kembali ke habitat mereka. Maka lokasi bagi aktivitas turisme hanya bisa dilakukan di tempat pemantau berupa rumah dengan dinding kaca dan berpagar. Jika beruntung, dari situlah pengunjung bisa menyaksikan orangutan bergelantungan.

Dari luar, saya bilang ke Andri agar melihat ke puncak pohon tertinggi di mana ranting-ranting dan semak daun tampak seperti sengaja dikumpulkan. “Itu sarang orangutan ‘kan ya?” Mungkin ya, mungkin tidak.

Kami akhirnya mengobrol dengan petugas keamanan. Ialah yang menjelaskan pada kami mengapa kontak dengan pengunjung (manusia) dibatasi. Siapa pun yang hendak mengakses area reintroduksi ini harus mengantungi izin khusus dari pengelola karena bayi dan anak orangutan sangat sensitif pada manusia.

Petugas itu menunjukkan pada kami foto-foto yang tertempel pada papan informasi. “Beberapa waktu lalu kami kecolongan!” Foto-foto yang dimaksud berupa potret lelaki dewasa yang tengah asyik dengan kamera besarnya memotret sekawanan orangutan di sungai. Hal tersebut tentu saja melanggar peraturan dan etika. Akibat kontak langsung antara manusia dan orangutan bermacam-macam, mulai dari penularan penyakit menular sampai pada perubahan perilaku orangutan itu sendiri di habitatnya. Ingat, loh, 97% DNA orangutan sama dengan kita!

Pusat Reintroduksi Orangutan ini didirikan tahun ’99, tak lama berselang setelah terjadi kebakaran hebat di lokasi yang sama. Lone D. Nielsen dan Odom Kisar adalah relawan di Taman Nasional Tanjung Puting yang berinisiatif mendirikan tempat ini. Kini Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng dikelola oleh BOS (Borneo Orangutan Survival). Sekitar 300 orangutan diasuh secara intensif dan baik. Sebagian besar adalah bayi-bayi orangutan yang terlantar karena perburuan, kebakaran hutan, penebangan liar, pembersihan lahan untuk pembukaan kebun kelapa sawit, dan perdagangan satwa langka dan liar.

Dari pos jaga tempat kami berbincang, saya bisa sedikit mengintip pandang ke arah dalam. Di ujung sanalah saya melihat sekawanan bayi dan anak orangutan tampak sedang bermain dengan para perawatnya.

Lucu sekali seperti halaman bermain Taman Kanak-kanak lengkap dengan wahana permainan tempat mereka bisa bergelantungan. Tentu saja mereka lebih kecil dari anak TK. Ini pengalaman pertama saya melihat orangutan di luar kebun binatang. Saya bisa saja membidik mereka dengan memperbesar lensa kamera, tetapi di sini ada aturan yang harus ditaati. Lagipula saya ingin menikmati momen ini–meski dari kejauahan–tanpa harus menyebarluaskan segala hal yang saya lihat ke media sosial. Ah, doa saya terwujud untuk bisa melihat orangutan yang sesungguhnya!

Tak jauh dari Pusat Reintroduksi Orangutan, kami mampir ke Danau Tahai di lokasi yang sama. Dari informasi yang saya dapat dari penelusuran Google, danau ini punya keunikan dari warna airnya yang berwarna kuning kecokelatan dan terdapat jembatan kayu hingga ke tengah danau.

Sepi! Tak ada turis selain kami. Saya bertanya pada sekelompok pemuda apakah kami harus membayar kontribusi untuk ke danau. Seorang dari mereka tersenyum ramah dan berkata tak ada. Jadi kami berjalan menapaki jembatan kayu yang dibuat agar pengunjung bisa menikmati suasana di atas danau.

Pada banyak bagian, boardwalks telah rusak dan jadi target aksi vandalisme. Tempat duduk yang dinaungi payung-payung mulai hancur. Meski begitu, saya dan Andri sepakat bahwa tempat ini sangat mengagumkan. Suasananya begitu damai. Pepohonan dan rawa-rawa memiliki kondisi yang baik. “Sayang ya padahal ini bisa jadi tempat wisata bagus kalau diurus,” Andri berkomentar.

Prok! Saya tak henti-henti memukul tangan dan kaki karena banyak nyamuk. Kawan perjalanan saya ini bilang kalau saya mestinya tadi bawa lotion nyamuk. Ia dengan celana panjang dan saya dengan celana pendek.

Bocah-bocah yang tinggal di kampung sekitar terlihat riang berenang di air yang masih jernih. Dari jembatan kayu, mereka saling beradu loncat. Dengan tersipu malu, mereka tak menolak untuk saya foto ketika sedang beraksi.

“Dulu di sini ramai wisatawan, tapi ‘kan sekarang sudah kalah dengan tempat wisata baru,” ungkap seorang pemuda yang kami ajak ngobrol. Padahal di tepi danau sudah dibangun penginapan yang kini kosong dan terlantar. Ia bilang kalau kami menyebrangi jembatan ke sisi lain danau masih terdapat orangutan liar. Namun kami tak berani meneruskan langkah karena jembatan ke sana dalam kondisi yang rusak. Lagipula saya ingat nasehat satpam di Pusat Reintroduksi Orangutan tentang kontak langsung manusia dan orangutan di alam liar. Mereka yang masih tinggal di sekitar danau adalah Dayak Manyaan dan Ngaju.

Kami tak lama di Danau Tahai karena tak banyak juga yang dapat kami lakukan di sana, apalagi perut sudah keroncongan. Baru kami sadar kalau kami belum makan siang. Tekad kami sebelum pulang ke Jakarta besok pagi adalah mencicipi kuliner khas Kalteng. Maka kami rencanakan untuk mencari rumah makan yang menyajikan kuliner lokal pada arah jalan pulang.

Ternyata tak mudah menemukan makanan asli Kalimantan. Sepanjang perjalanan, tepi jalan raya dipenuhi tenda dan warung makan Jawa dan rumah makan Padang. Beberapa kali kami salah tengok. Lagi-lagi ternyata Jawa Timur-an: bakso, soto lamongan, sate ayam.... Kami akhirnya baru menemukannya di arah menuju pasar, tepatnya di Jl. Diponegoro di sebrang kantor kecamatan. Saya lupa nama rumah makannya, namun ingat spanduk besar yang tertera adalah hidangan ikan bakar madu.

Ikan-ikan sungai yang disajikan masih segar: lais, jelawat, baung, patin, dan lain-lain. Kami memilih salah satu dari ikan yang tersisa dengan cara dibakar. Pelengkap lauk kami adalah semacam lalapan berupa sambal pedas dengan irisan mangga muda, tempe goreng, timun, singkong rebus, dan sayuran kuah bening dan santan. Nasi disajikan dalam bakul. Antara lapar dan enak, Andri menambah dan menghabiskan tuntas nasi pada bakul yang dihidangkan!

Hari sudah gelap. Usai makan, kami masih berencana mampir ke pasar. Andri hendak beli lampit (tikar rotan). Menurut si tukang bakar ikan, pasar masih buka sampai sekitar jam delapan malam. Tapi begitu kami men-starter motor matic milik kawan ini, ia malah tak mau menyala. Berkali-kali dinyalakan dengan kick starter (starter kaki) pun tetap tak menyala meski beberapa orang sudah menjajal. Ternyata sejak berangkat, Andri sudah merasakan ada yang aneh dengan motor ini.

Kami menyerah setelah berkali-kali berusaha menyalakan motor. Lalu kami tertawa-tawa kecut menyadari mendapatkan masalah motor mogok. “Mari kita merokok lagi!”

Tentu saja rencana ke pasar kami batalkan. Sambil menunggu kawan menjemput, kami membakar rokok masing-masing! Setidaknya, kami telah melengkapi malam terakhir kami di Kalteng ini dengan perut kenyang dan perjalanan untuk diceritakan.

Get There

Angkutan umum sangat jarang di Kota Palangkaraya. Selain lama ditunggu, masyarakat sekitar pada umumnya juga tak banyak menggunakan angkot. Anggapan remaja dan anak muda di sana malah merasa malu kalau ke sekolah atau bepergian dengan angkutan umum. Angkot malah banyak digunakan untuk mengangkut barang. Maka, kami sangat tidak menyarankan untuk berkeliling dengan kendaraan umum lebih karena alasan kenyamanan dan sulit menemukannya. Tapi menurut kawan, ada angkutan umum kecil dari kota untuk menuju Arboretum. Tetapi kendala lain jika menggunakan angkutan umum, adalah akses jalan yang cukup jauh untuk memasuki kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan atau Danau Tahai. Ojek tak selalu mudah ditemukan di sana.

Sementara dengan mobil atau motor, perjalanan ke Arboretum Nyaru Menteng memakan waktu sekitar kurang dari satu jam ke arah Sampit atau sekitar 28-30 km dari pusat kota. Usahakan untuk mengisi penuh bensin ketika menemukan pom bensin di kota karena pom bensin sangat jarang ditemukan di luar pusat kota dan harga ecerannya tentu jauh lebih mahal dari harga resmi.

To Stay

Berbagai penginapan yang beragam terdapat di pusat kota. Jumlah hotel dan kamar di Palangkaraya tidak sebanyak kota-kota besar, sehingga kami sarankan agar membooking kamar hotel sebelum sampai di Palangkaraya. Karena ketika bertepatan dengan acara-acara besar atau kegiatan-kegiatan pemerintah, hotel biasanya telah penuh terisi.

To Eat

Kalimantan Tengah memiliki sajian kuliner khas ikan sungai. Jadi jangan sampai terlewatkan untuk mencicipi olahan ikan dengan rempah lokal di sana. Selain rumah makan ikan bakar madu yang kami rekomendasikan di Jl. Diponegoro (depan kantor kecamatan), restoran yang menghidangkan masakan khas Kalteng yang kami rekomendasikan adalah Rumah Makan Samba di Jl. R. T. A. Milono No. 15. Di sini menu khas Kalteng beragam dan lengkap dengan harga yang relatif tidak mahal. Mulai dari ikan patin, baung, jelawat, lais, seluang, dan lainnya tersaji komplit dengan pilihan goreng atau bakar. Sementara sayur yang harus dicoba adalah sayur kalakai (sejenis paku hutan) dan umbut rotan (rebung rotan) yang bisa disajikan dengan kuah bening atau santan.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Borneo Berjumpa Orangutan di Kalimantan Tengah

Newsletter

Subcribe
1037204
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
461
453
5520
850939
16787
20604