Gemah Ripah Mako Lombok

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Aroma harum yang menyengat langsung menyerang ketika saya dan kawan-kawan dari Jakarta tiba di sebuah pusat pembelian tembakau di Lombok Tengah. Begitu keluar bis, suasana kantor dan gudang tengah ramai dengan hilir-mudik para petani tembakau yang membawa hasil panennya. Sosok mereka tampak begitu khas. Lelaki tua dan muda ada yang mengenakan sarung. Sebagian dari mereka memakai topi anyaman, sebagian lain ada yang mengenakan ikat kepala serupa udeng dalam busana tradisional masyarakat adat di Bali. Asap kretek mengepul di sekitar mereka. Ada juga perempuan sebagai petani dan pekerja. Mereka ini sudah datang sejak pagi dengan mobil bak, motor, atau bahkan sepeda yang mengangkut lembaran-lembaran daun berwarna emas.

Sebelumnya, saya belum pernah mengunjungi Lombok dan perjalanan ini sekaligus menjadi yang pertama buat saya mengikuti tur “Jelajah Negeri Tembakau” di mana saya dan kawan-kawan lain dari Jakarta, Bali, Bandung, Jogja, dan Jember berkumpul dan melakukan aktivitas wisata yang berbeda: wisata tembakau.

Tempat yang kami kunjungi ini tak lain adalah sebuah kompleks dari Departemen Purchasing Djarum yang menjadi pusat jual-beli tembakau. Seorang pria separuh baya menyambut kami dengan antusias. Di ruang rapat, ia memperkenalkan dirinya. Namanya Iskandar, seorang manajer senior yang telah 30 tahun bekerja untuk urusan tembakau. Usianya sudah kepala enam, tapi geraknya masih gesit dengan senyum yang tidak pelit. Saya membaca sekilas profil singkatnya pada buku Ensiklopedia Kretek. Ialah perintis budi daya tembakau jenis Virginia FC (virginia) di Lombok yang dimulainya sejak tahun 1985.

“Pak Is ini ‘profesor tembakau,’” celetuk Nuran, salah seorang panitia tur ketika memperkenalkan kepada kami lelaki yang akrab disapa Pak Is itu.

Yang dipuji hanya membalas dengan tawa canda. Pak Is bilang itu berlebihan kalau beberapa waktu lalu ada kawan yang mengangkat profilnya melalui sebuah tulisan. Tetapi 3 dekade bekerja untuk urusan tembakau, saya yakin ada banyak hal menarik dari sosok maupun pekerjaannya.

Usai berkenalan, Pak Is memaparkan presentasinya yang menjelaskan tentang selub-beluk tembakau di Lombok, mulai dari asal-usul maraknya kebun tembakau rintisan di tahun 1969, konsep kemitraan yang dibangun dengan petani tembakau, hingga situasi terkini tentang tembakau sebagai komoditi. Kerja keras yang dilakukan Pak Is kini telah membawa Lombok sebagai salah satu daerah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia.

Awalnya, saya tak tahu apa yang spesial dari jenis itu sampai Pak Is menjelaskan soal tren pasar dan kebijakan terkait tembakau. “Tidak seperti tembakau rakyat, tembakau virginia ini bisa langsung dipakai. Sekarang perokok butuh yang ringan dan asam. Virginia ini juga punya kandungan nikotin yang sedang (sesuai tren), gula tinggi, tipis-elastis dengan filling power yang tinggi,” ungkap Pak Is menjelaskan pertanyaan saya soal keunikan virginia. Maksudnya filling power yang tinggi adalah isian rokok/kretek yang tipis, tapi padat.

Saat ini, SKT (sigaret kretek tangan) hanya dikonsumsi sekitar 18%, sedangkan 75% penikmat tembakau telah banyak beralih ke RPM (rokok putih mesin). Kretek sebagai tradisi pun berhimpitan dengan rokok putih yang diproduksi mesin dan dikemas secara “modern” untuk kebutuhan pasar saat ini. Saya mencoba memahami mengapa banyak penikmat kretek tradisional, seperti tingwe (rokok yang dilinting tangan sendiri) maupun rokok/kretek dengan kertas dari daun aren atau jagung (kelobot), kerap dicap sebagai hal yang kuno atau aneh, khususnya di kawasan urban. Kawan yang senang mengoleskan getah kemenyan pada rokok/kretek pun tak jarang disindir mirip dukun. Asap yang buat sebagian orang dianggap harum, kadang menjadi bau atau bahkan membuat bulu kudu merinding. Tetapi saya senang mendengar komentar kawan dalam rombongan tur yang mengatakan bahwa tingwe mulai jadi tren (lagi) di Jogja, tua maupun muda. Salah satu alasannya adalah biaya cukai yang kian tinggi. Untuk diketahui, mekanisme penarikan cukai melalui pabrik rokok, ditambahkan dalam harga jual eceran, sehingga ditanggung oleh perokok sendiri sebagai konsumen.

Tradisi menanam tembakau di Lombok sebetulnya bukan hal yang relatif baru. Masyarakat Sasak mengenal tembakau dengan sebutan mako. Sejak masa kolonialisme Hindia Belanda, mereka mulai diperkenalkan dengan tanaman tembakau. Tembakau rakyat memiliki nama lokal sendiri, yaitu kasturi dan ampenan. Penyebutan tidak menunjukkan pada jenis tanaman. Misalnya, tembakau ampenan dinamakan “ampenan” karena dulu tembakau diperjual-belikan di Pelabuhan Ampenan, maka tembakau hasil petani lokal (tembakau rakyat) jadi dikenal dengan tembakau ampenan. Setidaknya betulah penjelasan yang kami dapat ketika melakukan diskusi pada malam harinya bersama Paox Iben Mudhaffar, seniman dan budayawan muda Lombok.

Ruang rapat kian sesak karena penuh kepulan asap dan rentetan pertanyaan. Kami berbincang asyik dengan Pak Is sambil merokok hingga tengah hari. Obrolan berhenti karena ia akan mengantarkan kami melihat seperti apa proses jual-beli dan olahan mako.

Sambil berjalan ke gudang, saya iseng bertanya: “Apa yang membuat Pak Is bertahan selama 30 tahun mengurus tembakau? Masih sehat ya, Pak?”

“Tembakau itu banyak tantangannya,” jawabnya ringan. Rupanya ia pun belum ada tanda-tanda untuk pensiun. Ia menjelaskan pada saya dan kawan kalau beberapa waktu lalu ia punya masalah dengan jantungnya. Tapi ia mengaku sehat. Dan ia memang tampak sehat untuk lelaki paruh baya yang sehari-hari masih sibuk mengurusi tembakau.

Balok-balok padat daun tembakau tengah antri untuk didata. Para petani tembakau menatap kami dengan ramah dan menyambut baik kerepotan kami yang mulai asyik foto sana-sini. Ini pertama kalinya saya melihat daun tembakau berton-ton. Ratusan pekerja sibuk mendata, mengemas, dan mengepul tembakau. Ini panen raya dan udara terasa harum luar biasa.

Dalam satu hari, ada sekitar 150 ton tembakau kering hasil petani yang tiba dan harus diproses. Saat masa panen seperti ini, ada 400 pekerja terserap, baik lelaki maupun perempuan. Pria-pria sibuk mondar-mandir mengemas dan memindahkan tembakau sesuai pengelompokkan. Sedangkan para perempuan, saya lihat punya peran yang tak kalah penting. Mereka mengumpulkan remahan tembakau agar bisa diolah serta memilah tembakau sebelum dimasukkan ke dalam oven. Pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan dibandingkan sekadar tenaga.

Saya berkenalan dengan dua pekerja perempuan muda yang sudah 6 tahun berturu-turut bekerja sebagai buruh saat panen tembakau. Mereka bertanya dari mana kami yang rombongan ini tampak begitu antusias melihat proses olah tembakau di gudang.

Saya jawab sederhana saja kalau kami sedang jalan-jalan untuk khusus melihat momentum panen tembakau. Giliran saya balik bertanya tentang pekerjaan mereka.

Dua pekerja perempuan itu bernama Sarini dan Mirna. Keduanya berkarib dan sebaya. “Tahun ini mungkin kami akan kerja tiga bulan. Paling lama empat bulan,” kata salah satu dari mereka.

Lalu apa yang mereka lakukan di sisa bulan-bulan lain dalam setahun?

“Kalau tidak sedang kerja di sini, ya kerja di luar negeri.”

Menjadi buruh migran kerap menjadi peluang alternatif bagi para pencari kerja di Lombok, khususnya perempuan. Meski beberapa tahun terakhir perkembangan industri dan investasi pariwisata begitu pesat, tapi tampaknya belum banyak memberikan dampak besar bagi perekonomian di kalangan akar rumput. Di Taiwan, Sarini bekerja sebagai penjaga orang jompo, sedangkan Mirna tukang pijat refleksi.

Sarini separuh bercanda dengan menawarkan saya untuk coba dipijat Mirna yang dijamin enak. Sementara Mirna membalas candaan dengan mempelesetkan nama Sarini sebagai Syahrini sambil menirukan gaya genit selebritis itu.

Saya tak berlama-lama mengobrol dengan mereka. Khawatir pekerjaan mereka terganggu karena saya yang banyak tanya. Saya pun berkeliling sisi lain gudang dan melihat proses tembakau yang akan dimasukkan ke oven, lalu dikemas dalam balok-balok berbalut anyaman tikar.

Dari kantor dan gudang tembakau milik Djarum, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah kampung untuk bisa bertemu langsung dengan para petani tembakau dan lahan-lahan kebun tembakau mereka. Dusun Paok Rengge di Desa Waja Geseng, Lombok Tengah berjarak sekitar kurang dari satu jam perjalanan dari gudang tembakau.

Kami singgah di rumah Pak Syamsul. Kebetulan ia dan keluarganya baru memanen tembakau. Di gudang belakang rumahnya, ribuan helai tembakau tersimpan rapih. Ia juga memiliki oven tradisional tembakau berupa bangunan batu bata. Pengovenan merupakan proses pengeringan daun tembakau krosok dengan cara mengalirkan panas. Yang menarik adalah bahan bakarnya yang berupa kulit kemiri.

“Dulu pakai kayu bakar, tapi ‘kan kayu sudah susah didapatkan dan mahal. Kami awalnya beralih pakai minyak tanah,” kata Pak Syamsul. Dari kebijakan konversi minyak tanah ke gas, barulah kulit kemiri ini mulai dipakai karena mudah, murah, dan punya kemampuan bakar dan aroma yang tepat.

Harga 1 kg cangkang kemiri berkisar Rp 1.450. Untuk mengeringkan 1 ton tembakau basah menjadi 1 kuintal tembakau kering, dibutuhkan 120 jam pengovenan. Kebutuhan cangkang kemiri untuk satu malam saja bisa 3-4 karung (50 kg/karung). Ini proses yang tak mudah, pikir saya. 

Pak Syamsul bilang “Kalau sedang mengoven, kami bergantian jaga dengan anggota keluarga lain.” Bahan bakar tak boleh sampai habis dan suhu pun harus dijaga tetap stabil.

Usai makan siang dengan sajian khas Masyarakat Sasak dengan telur asin, lawar, sate lilit, serta ikan dan ayam kampung bakar bumbu taliwang, kami melanjutkan obrolan bersama dengan perut kenyang. Kali ini ada Pak Sukirman yang ikut berbincang. Ia adalah petani tembakau yang juga menjadi kepala dusun.

Kami mendapat penjelasan yang sangat detil tentang proses tanam tembakau dari Pak Sukirman yang kerap disapa Pak Haji. Status haji jadi kebanggaannya karena ia peroleh sejak menjadi petani tembakau. Yang menarik bagi saya, bukan tentang bagaimana cara menanam tembakau, tetapi sejauh mana tembakau kemudian mempengaruhi kehidupan petani, salah satunya Pak Haji Sukirman.

“Sejak kawin, saya ini bukan apa-apa. Ngga punya pekerjaan, ngga punya lahan pertanian. Saya dari gembel,” ungkapnya. Pak Haji mulai menanam tembakau sejak tahun 1988. Kala itu, ia berprofesi sebagai tukang ojek dan mulai tahu tentang potensi tanaman tembakau dari hasil mengantar penumpang ke desa-desa di sebrang. “Saya lihat orang di Lombok Timur bisa sukses tanam tembakau.”

Tahun 2000, kebun tembakau mulai menjamur. Di Dusun Paok Rengge terdapat sekitar 40 hektar lahan untuk tembakau. Setiap panennya, tak kurang 80 ton tembakau basah dihasilkan. Jika harga tembakau berkisar Rp 300 ribu/kuintal, bayangkan saja berapa perputaran uang di dusun ketika panen tiba. Milyaran!

Tetapi menjadi petani tembakau juga bukan tak ada tantangan. Ancaman gagal panen pun tak jarang terjadi. Ini adalah komoditi pertanian dengan potensi menggiurkan sekaligus dengan risiko yang tinggi. Selain proses yang rumit dan butuh perawatan ekstra, ada serangan hama. Apalagi untuk memproses tembakau basah menjadi kering butuh pengovenan di mana tak semua petani punya cukup modal untuk membangun oven sendiri. Banyak petani juga belum memiliki pemahaman bisnis pertanian, terutama soal pengelolaan keuangan. 

“Berapa upah buruh tani tembakau, Pak?” tanya seorang kawan.

“Rp 35 ribu untuk lelaki dan Rp 20 ribu untuk perempuan.”

“Loh, kenapa beda?” Kami serentak protes.

“Kan kalau perempuan kerjanya tidak secepat lelaki. Mereka suka bergosip, jadi lama,” kata Pak Haji dengan jawaban yang agak seksis.

Meski kental dengan kebiasaan merokok di mana pun dan kapan pun, tetapi justru tak banyak perempuan yang merokok.

“Kalau perempuan merokok di sini itu jarang. Ya bagaimana ya.... Kalau di sini ada pandangan tertentu buat perempuan kalau merokok.”

Ada banyak tangan perempuan yang turut berkontribusi, mulai dari proses tanam tembakau sampai menjadi rokok/kretek, tetapi rokok/kretek seolah begitu lekat dengan maskulinitas.

Dari rumah petani tembakau, kami beralih ke perkebunan tembakau. Beberapa dari kami, baru pertama kali melihat tanaman tembakau. Tanaman-tanaman tembakau berukuran tidak lebih tinggi dari badan kami. Daun-daun pada batang tidak penuh. Tanda bahwa daun tuanya sudah dipanen. Petikan daun bisa 8-10 kali petik selama sekitar 2 bulan. Hamparan warna hijau muda yang terang di bawah sengat matahari sore tampak begitu dominan. Kebun tembakau pun jadi latar yang menarik buat kami befoto bersama.

“Bisa dibilang tembakau-lah yang buat kehidupan Orang Sasak berubah di Lombok,” ungkap Pak Haji yang tahu betul bagaimana tembakau telah memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat agraris.

Saya teringat ucapan Pak Is yang menyatakan bahwa tembakau (telah menjadi) sumber penghidupan rakyat. “Mengganti komoditi tembakau dengan komoditi lain yang nilainya lebih tinggi, itu mustahil!”

Saya tak ingin mengiyakan pernyataannya. Selain menyoal komoditi, saya rasa kita bisa melihat ini pula adalah tradisi di mana tembakau telah memberikan kehidupan bagi petani dan keluarga serta daerah dan negara. Dan bagi saya dan rombongan tur, baik yang perokok atau bukan perokok dan perempuan maupun lelaki, perjalanan ke Lombok ini setidaknya telah memberikan pengalaman yang berbeda sekaligus menyenangkan. Saya melihat potensi tradisi tembakau sebagai bagian dari potensi pariwisata. Apakah ini memiliki potensi nilai yang lebih tinggi? Mungkin saja. Karena pariwisata merupakan sektor dengan rantai bisnis terluas, mulai dari elemen transportasi, akomodasi, infrastruktur, fasilitas, kelembagaan, dan jasa usaha terkait lainnya. Tetapi ini tetap adalah wisata tembakau!

Get There

Untuk mengikuti jejak Jelajah Negeri Tembakau di Lombok, kamu bisa pergi dengan kendaraan bermotor dan mobil (akses bisa dilalui dengan kendaraan mobil atau bis), baik pribadi maupun sewa. Lokasi Gudang (Departemen Purchasing) Djarum yang menjadi pusat pembelian tembakau mitra petani berlokasi di Montong Gamang, Kabupaten Lombok Tengah. Perjalanan dari Kota Mataram menuju kantor dan gudang milik Djarum tersebut membutuhkan waktu sekitar lebih dari satu jam dengan mobil. Karena lokasinya yang relatif strategis berada di tepi jalan utama, maka tentu lokasi ini tidak akan sulit untuk disinggahi.

Sementara sentra perkebunan tembakau petani, kami merekomendasikan untuk mengunjungi Dusun Paok Rengge, Desa Waja Geseng, Kabupaten Lombok Tengah. Di dusun tersebut, kebun-kebun tembakau terhampar luas. Kamu juga bisa mampir dan berkeliling ke rumah-rumah penduduk dan jangan segan untuk permisi melihat proses mereka mengolah tembakau basah menjadi tembakau kering. Tak semua warga punya oven. Tetapi jumlah oven di rumah penduduk cukup banyak.

Perhatikan waktu untuk mengunjungi momen panen di Lombok Tengah. Puncak panen tembakau di Lombok jatuh pada akhir September dan awal Oktober

To Stay

Tak perlu khawatir untuk penginapan di Lombok. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat kota dan pusat atraksi wisata di Lombok, kami menyarankan untuk memilih penginapan di pusat kota atau alun-alun di Kota Mataram. Atau jika tak ingin melewatkan keindahan panorama matahari terbenam di Lombok, kami merekomendasikan untuk memilih penginapan di kawasan Pantai Senggigi. Di dua lokasi tersebut tersedia penginapan dari kelas homestay atau hotel melati hingga hotel atau resort bintang lima.

To Eat

Ada banyak rumah makan dengan kelas atau harga yang bervariasi di Lombok. Salah satu restoran yang sudah kami cicipi dan memiliki menu autentik dengan rasa khas bumbu Lombok dan tempat yang nyaman, adalah Lesehan Taliwang Irama di Jl. Ade Irma Suryani No. 10. Silakan mencicipi kuliner Lombok yang menurut kami menjadi andalan restoran tersebut, yaitu sate lilit, ayam bumbu taliwang, dan sup iga dengan kacang. Mereka memiliki bumbu dan sambal yang segar dan rasa pedas yang nikmat. Tak hanya makanan, minuman pun disajikan dengan kekhasan Lombok, seperti es kelapa muda dengan madu putih. Madu putih adalah madu Lombok yang diberi campuran khusus dan dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 

Newsletter

Subcribe
1070268
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1338
555
4385
886362
11277
19042