Merasakan Segarnya Air Terjernih di Dunia

Oleh Roni Khoiron

Gunung Penanggungan di JawaTimur memang unik, selain mempunyai puncak utama yang dikelilingi oleh beberapa puncak lagi di sekitarnya, di lereng-lerengnya juga banyak bertebaran situs-situs bersejarah peninggalan kerajaan masa lampau. Menurut BPPP Trowulan ada sekitar 40 situs berupa candi, prasasti, arca dan petirtaan tersebar di lereng gunung ini. Secara geografis Gunung Penanggungan berada di wilayah kabupaten Mojokerto dan Pasuruan. Desa-desa yang mengelilingi gunung yang sudah tidak aktif ini berhawa sejuk dan memiliki landscape yang berbukit-bukit. Tak heran jika sejak dulu kawasan lembah Gunung Penanggungan merupakan tempat retret yang banyak dikunjungi oleh wisatawan seperti kawasan wisata Prigen dan Tretes di kabupaten Pasuruan serta Pacet dan Trawas di  kabupaten Mojokerto.

Salah satu peninggalan bersejarah yang menarik untuk dikunjungi di lembah Gunung Penanggungan adalah Petirtaan Jolotundo. Lokasinya muda dicapai karena hanya berjarak beberapa ratus meter dari jalan desa Seloliman dan berada di lereng paling bawah sehingga jalannya tidak terlalu menanjak. Perjalanan menuju Jolotundo adalah perjalanan yang menyegarkan mata. Bukit-bukit hijau, sawah-sawah dan ladang tebu yang menguning, sungai-sungai kecil yang jernih, desa-desa yang sepi dan bersahaja merupakan pemandangan yang paling banyak ditemui. Ada banyak juga tempat-tempat wisata yang bisa disinggahi seperti Air Terjun Dlundung, Pemandian Air Panas Pacet, Wisata Hutan Taman Dayu, Candi Jawi atau Air Kakek Bodo ketika berada di kawasan lembah Gunung Penanggungan.

Jolotundo merupakan candi dengan air yang mengalir pada sudut-sudutnya dan membentuk sebuah kolam besar yang dulu berfungsi sebagai tempat mandi para petinggi kerajaan. Candi ini dibangun pada tahun 997 Masehi pada masa kerajaan Kahuripan, artinya petirtaan ini dibangun sebelum kerajaan Majapahit. Candi ini tersusun atas batu andesit yang terpahat halus, menandakan bahwa pengerjaannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Dalam sejarah tertulis bahwa Jolotundo dibuat oleh raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga.

Berdasarkan beberapa penelitian sumber airnya adalah salah satu yang terjernih di dunia. Ada ratusan ikan dari berbagai jenis hidup liar di dalamnya dan tidak ada yang berani mengambilnya. Penduduk setempat meyakini mengambil ikan berarti malapetaka. Di sisi kanan dan kiri bagian atas candi terdapat dua kolam kecil dengan pancuran air yang saat ini difungsikan sebagai tempat mandi bagi pengunjung. Terpisah untuk pengunjung laki-laki dan perempuan. Saat mandi banyak pengunjung yang juga langsung minum air yang mengalir di pancuran. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan sabun ataupun sampo agar tidak mencemari air dan ikan-ikan yang hidup di kolam. Namun pengunjung diijinkan untuk membawa pulang air Jolotundo. Warung-warung kecil di sekitar lokasi banyak yang menjual jerigen tempat air. Udara sejuk khas pegunungan tak membuat pengunjung malas untuk mandi karena tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Jolotundo tanpa menikmati kesegaran airnya.

Memasuki kawasan Jolotundo ibaratnya memasuki hutan. Pohon-pohon besar dan suara-suara burung akan memecah keheningan. Di dalam kawasan selain Petirtaan Jolotundo juga terdapat banyak gazebo untuk beristirahat, bangunan kecil yang berisi batu reruntuhan candi, toilet dan warung-warung yang menjual makanan ringan. Sekitar 500 m ke bawah saat memasuki pintu gerbang kawasan, Ada Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan lingkungan hidup. Selain itu PPLH Seloliman juga menyediakan penginapan, paket outbond dan seminar yang berbasis lingkungan.

Pintu gerbang memasuki PPLH Seloliman

Get There

Petirtaan Jolotundo berada di desa Seloliman, kecamatan Trawas, kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Starting point terdekat adalah kota Surabaya yang berjarak sekitar 50 km. Untuk mencapai Jolotundo bisa ditempuh dengan dua cara; melalui Pandaan atau Japanan. Jika melalui Pandaan, angkutan umum hanya bisa sampai di Trawas, dari sini dilanjutkan menggunakan ojek dengan tarif 20-30 ribu rupiah tergantung penawaran. Jarak Trawas-Seloliman sekitar 9 km. Rute yang ditempuh adalah Surabaya-Pandaan-Prigen-Tretes-Trawas yang akan memakan waktu kurang lebih sekitar 1,5 jam. Sementara jalur Japanan bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 1 jam dengan rute Surabaya-Japanan-Ngoro-Seloliman. Karena berdekatan dengan PPLH Seloliman sebaiknya mengikuti petunjuk ke arah PPLH tersebut. Ada banyak petunjuk jalan yang mengarahkan ke PPLH Seloliman.

To Stay

Jolotundo berada di kawasan wisata Trawas. Ada banyak hotel, penginapan dan vila atau bahkan rumah penduduk yang bisa disewa. Namun penginapan terdekat yang hanya berjarak 500 m adalah PPLH Seloliman. Tarifnya bervariasi antara 50-200 ribu rupiah. Di sini juga terdapat restoran yang menyajikan masakan khas Jawa Timur. Selain itu PPLH Seloliman juga menawaran kegiatan-kegiatan wisata alam, pendidikan dan outbond berwawasan lingkungan di sekitar Trawas dan Jolotundo.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Java Merasakan Segarnya Air Terjernih di Dunia

Newsletter

Subcribe
430733
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
32
744
2153
249148
12286
16005