Sensasi Alam Liar Baluran

Oleh Roni Khoiron

Ingin merasakan pengalaman berada di tengah alam liar yang sesungguhnya? Datanglah ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Taman nasional seluas hampir 25 ribu hektar ini merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

Baluran sangat mudah diakses. Berada 255 km dari Kota Surabaya, 35 km dari Banyuwangi, 60 km dari Situbondo, dan 159 km dari Denpasar. Dalam satu hari, taman nasional ini bisa dikunjungi lebih dari 100 orang dan jumlahnya naik lima kali lipat di hari libur. Uniknya, sebagian besar justru adalah wisatawan asing. Tak perlu khawatir soal biaya. Harga tiket masuk sangat murah: Rp 2.500 untuk wisatawan domestik, Rp 20.000 untuk wisatawan asing, dan Rp 6.000 untuk kendaraan.

Ada apa saja atraksi menarik di Baluran? Bagaimana akses menuju ke sana? Silakan rencanakan liburan kamu sendiri atau berkelompok dengan melihat ulasan di bawah ini yang kami tulis setelah mengunjungi Baluran bersama kawan-kawan backpacker di Malang.

To See

Sabana Bekol

Banyak yang bilang Sabana Bekol adalah “The Little Africa in Java.” Cukup beralasan, karena begitu kami sendiri memasuki kawasan sabana ini, langsung tercium dan terasa sekali aroma Afrika, meski kami pun belum pernah menginjakkan kaki di Benua Hitam. Padang rumput yang luas sedang menguning dengan beberapa pohon tersebar di pinggir dan di dalamnya. Kumpulan rusa berlari-lari di tengah sabana, suara lenguhan banteng menggema begitu liar, dan tentu saja, terik matahari yang panas. Benar-benar kontras dengan hutan-hutan yang sebelumnya kami lalui. Sabana Bekol berada 12 km dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Untuk mencapainya, kami menggunakan sepeda motor bersama dengan petugas taman nasional, menyusuri jalan aspal yang telah berbatu dan membelah hutan musim serta hutan evergreen silih berganti.

Luas Sabana Bekol mencapai 300 hektar. Sebelah utara berbatasan dengan jalan, sebelah barat berbatasan dengan hutan musim, sementara sebelah timur berhadapan dengan pinggiran pantai di Selat Bali. Satu-satunya akses yang kami lalui, membelah sabana ini menjadi dua: sebelah barat Sabana Bekol dan sebelah timur Sabana Bama. Pohon-pohon Widoro Bukel dengan bentuk yang unik seperti payung lebih banyak memenuhi Sabana Bama. Jika kamu melihat sabana dari sisi timur, pemandangan tampak lebih mengagumkan. Gunung Baluran yang megah akan menjadi latar belakangnya. Di ujung tikungan jalan terdapat sebuah bukit kecil di mana menara pandang berada di atasnya. Dari menara pandang, kami bisa melihat keseluruhan sabana dan Selat Bali yang membiru. Di kaki bukit terdapat beberapa bangunan yang merupakan wisma penginapan, lahan parkir, dan kamar mandi umum.

Saat terbaik mengunjungi Sabana Bekol, adalah pada pagi dan sore hari. Karena pada waktu-waktu tersebut, hewan-hewan liar keluar dari hutan. Sementara musim terbaik, adalah musim kemarau antara Juli sampai Oktober. Saat kemarau, air di dalam hutan sudah mulai habis dan yang tersisa hanyalah di padang sabana. Malam hari juga memberikan sensasi pemandangan yang menakjubkan. Jika kamu menginap di Bekol, dari depan penginapan kamu bisa menyaksikan bagaimana mata hewan-hewan tersebut bersinar memenuhi kegelapan malam yang hanya bercahaya bintang dan bulan.

Sabana Bekol hanya sebagian kecil dari 10.000 ha sabana yang dimiliki Baluran. Tetapi hanya Sabana Bekol dan Bama yang bisa diakses dengan mudah. Sabana di Baluran merupakan tempat hidup bagi rusa, banteng, kerbau, ular hijau, monyet ekor panjang, biawak, ajag (sejenis anjing hutan kecil), dan lainnya. Kadang kamu juga bisa menyaksikan bagaimana kawanan ajag membantai rusa untuk dimakan. Menakutkan? Atau malah membuat kamu ingin segera mengunjunginya?

Pantai Bama, Sunrise, dan Mangrove

Pantai Bama merupakan ujung dari jalan akses yang membelah Baluran. Berjarak 3 kilometer dari Sabana Bekol. Memasuki Pantai Bama, kamu akan disambut dengan pohon ketapang dan kesambi besar-besar yang rindang dengan puluhan monyet ekor panjang yang bergelantungan. Tapi jangan harap kamu akan mendengar suara ombak. Kami sendiri heran melihat laut Bama yang begitu tenang, nyaris tanpa ombak. Pantainya berpasir putih dan garisnya tidak begitu panjang, selebihnya dikelilingi oleh hutan mangrove. Sampai sejauh lebih dari 1 kilometer, kedalaman pantai ini hanya selutut orang dewasa, sehingga aman untuk aktivitas air bagi yang tak pandai berenang. Tanda batas laut dalam adalah warna biru tua.

Di balik lautnya yang tenang dan dangkal, Pantai Bama menyimpan keindahan alam bawah laut yang mempesona. Banyak yang bilang, ini merupakan yang terindah di Pulau Jawa. Dengan kondisi laut seperti ini, banyak aktivitas yang bisa kamu explore, seperti berenang, snorkelling, dan kano. Untuk snorkelling, setidaknya kamu harus berenang sejauh 500 meter dari bibir pantai untuk mendapatkan pemandangan terumbu karang dengan ikan-ikan kecil yang indah. Sementara di sekitar bibir pantai, kamu hanya akan melihat sejenis tanaman laut dengan daun yang meruncing besar-besar.

Kami juga memutuskan menginap di Bama untuk melihat sunrise-nya yang terkenal indah (sunset juga bisa dilihat di Sabana Bekol). Sore hari saat pengunjung sudah sepi, kami menyusuri bibir pantai, cukup prihatin melihat banyak sampah yang mengambang. Petugas taman nasional menjelaskan itu bukan merupakan sampah pengunjung, tapi sampah kiriman dari tempat lain yang entah dari mana. Di Bama ada tiga rumah singgah yang masing-masing berisi dua kamar, cafeteria, kamar mandi umum, musholah, dan rumah petugas taman nasional.

Saat menjelang malam, sebetulnya kami berharap mendengar suara ombak, tapi ternyata justru semakin sepi. Monyet-monyet sudah tertidur di atas pohon. Saat lampu sudah dimatikan pada jam 11 malam, suasana semakin hening, dan kami akhirnya tertidur. Kami baru terbangun pada pagi hari sekitar jam 4 oleh deburan suara ombak. Kaget dan senang tentu saja karena mendapatkan suasana yang membuat kami benar-benar merasa tinggal di dekat laut. Ternyata memang ombak di Pantai Bama hanya beriak pada pagi hari.

Menjelang matahari terbit saya berjalan ke arah barat untuk menyusuri hutan mangrove. Tak perlu repot karena sudah ada jalur dan jembatannya. Menurut petugas, sunrise di ujung jembatan yang membelah mangrove ini adalah titik yang paling indah untuk menyaksikan sang Raja Siang menampakkan dirinya. Sayangnya, karena mendung mataharinya jadi tak begitu terlihat. Tapi kekecewaan kami terbayar oleh atraksi ikan-ikan yang menari di atas permukaan air, melompat-lompat di sela-sela akar mangrove, serta monyet-monyet dengan asyiknya memancing kepiting dari lubangnya dengan ekornya yang panjang.

Gunung Baluran

Ini dia salah satu atraksi wajib dan utama dari konsumsi wisatawan di Baluran. Gunung setinggi 1.247 meter ini berdiri dengan megahnya di tengah-tengah taman nasional. Gunung Baluran merupakan gunung yang sudah tidak aktif, tapi belum diketahui betul kapan terakhir kali meletus. Menurut petugas taman nasional yang mengantar kami, gunung ini akan tampak sama bentuknya jika dilihat dari sisi utara maupun selatan. Simetris! Kalau tidak percaya coba kamu buktikan sendiri. Amati saja dari Kota Situbondo dan Banyuwangi! Kami penasaran juga ingin membuktikan, tapi sudah keburu tertidur di dalam bis. Gunung Baluran juga bisa didaki walaupun tidak bisa sampai puncak karena jalurnya yang belum layak didaki selain oleh profesional atau pendaki yang nekat. Untuk mendaki, kamu bisa didampingi oleh petugas dari taman nasional.

Pantai Bilik dan Sijile

Dua pantai ini katanya lebih indah dari Pantai Bama, baik pantainya maupun alam bawah lautnya. Tapi sayang tidak ada jalan akses umum ke tempat ini. Satu-satunya jalan paling mudah adalah lewat jalur laut melalui Pantai Bama dengan menyewa perahu nelayan. Jaraknya sekitar 15 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Kalau melaui jalur darat, kamu harus melalui jalur tikus dari Desa Banyuputih. Sangat tidak disarankan, kecuali kamu benar-benar seorang hardcore adventurer.

Hutan Musim dan Evergreen

Hutan musim akan tampak hijau di musim hujan dan akan terlihat kering menguning di musim kemarau, sementara hutan evergreen akan selalu hijau, baik musim hujan atau kemarau. Kedua jenis hutan ini akan silih berganti menemani perjalanan kami menyusuri Baluran. Dari pintu masuk, kamu akan disambut hutan musim, kemudian hutan evergreen, lalu berjumpa lagi dengan hutan musim, baru kemudian memasuki Sabana Bekol.

Sepanjang perjalanan melalaui hutan musim dan evergreen, kamu bisa menemukan kupu-kupu warna-warni yang berkumpul di atas kubangan-kubangan air. Saat musim hujan di mana banyak kubangan air, kupu-kupu juga semakin banyak ditemukan. Ayam-ayam hutan pun banyak melintas di tepi jalan. Jika beruntung, saat memasuki hutan evergreen kamu mungkin bisa bertemu dengan macan tutul karena di sinilah habitat hewan karnivora ini hidup. Kondisi jalan dari pintu masuk sampai Sabana Bekol memang rusak parah, tapi ada manfaat lain dari fasilitas jalan yang tak baik ini, bahwa pengunjung tidak bisa mengebut berkendara, sehingga terhindar dari resiko menabrak hewan-hewan liar yang bisa saja tiba-tiba melintas. Sementara menurut beberapa pengunjung lain, jika jalan mulus kemungkinan menambah jumlah pengunjung taman nasional. Kalau kami sendiri lebih memilih jalan yang mulus dengan dipasang beberapa peringatan dilarang mengebut dan tentu saja ada sanksi jika yang ketahuan mengebut dan berakibat pada kecelakaan terhadap hewan liar.

To Do

Hiking

Dengan dibantu oleh petugas taman nasional, kamu bisa melakukan pendakian di Gunung Baluran walaupun tidak bisa sampai puncak karena memang belum dibuka jalur resminya. Kamu akan melewati kaldera sepanjang 600 meter dan bertemu dengan sumber Sungai Kacip yang mengalir sepanjang tahun dengan air yang jernih dan segar. Dari ketinggian, tentu saja ada view berbeda sebagai hadiah yang akan kamu dapatkan dengan perjuangan keras.

Trekking

Silakan persiapkan sepatu kets dan peralatan lainnya dari rumah untuk menjelajah hutan-hutan di Baluran yang penuh warna dan keunikan. Ada jalan setapak atau walking trail dari Pantai Bama menuju Bekol sejauh 3 km. Di trek ini, ada berbagai flora dan fauna yang akan menyambut kamu di sepanjang perjalanan. Momen lain yang sayang untuk dilewatkan.

Snorkelling & Canoeing

Keindahan Baluran tidak hanya di daratan saja, kamu juga bisa menjelajah keindahan terumbu karang dan ikan-ikannya dengan snorkelling sejauh lebih dari 1 km dari bibir pantai atau bermain kano untuk menjelajah pinggiran hutan mangrove yang indah.

Birdwatching

Dengan jumlah keanekaragaman burung yang mencapai lebih dari 180 jenis, Baluran menjadi salah tempat pengamatan burung liar terbaik di Indonesia. Disediakan juga menara pengamatan burung di Bama dan Sabana Bekol. Jangan lupa, siapkan teropong atau lensa kamera terbaik kamu.

Widlife Observation

Salah satu atraksi utama Taman Nasional Baluran adalah pengamatan satwa liar. Dari pintu masuk Batangan melintasi hutan musim dan evergreen, kamu akan melihat kumpulan kupu-kupu cantik di setiap kubangan air, ayam-ayam hutan di pinggiran jalan, burung-burung dengan bebas berterbangan dari dahan ke dahan pohon. Jika beruntung, kamu juga bisa berjumpa dengan macan tutul yang melintas cepat di hutan evergreen. Sementara Sabana Bekol memberikan suasana alam liar yang sesungguhnya. Di pinggiran sabana terdapat bukit kecil yang menjadi tempat berdirinya menara pandang untuk melihat keseluruhan sabana dari ketinggian. Sepanjang jalan yang menghubungkan antara Bekol dan Pantai Bama, kamu akan banyak melihat hewan berkeliaran, mulai dari rusa, banteng, sapi, anjing hutan atau ajag, ular, sampai burung merak. Hanya saja, sekarang ini banteng sudah agak sulit ditemukan. Saat terbaik melihat satwa liar adalah pada pagi dan sore hari. Kamu bisa melihat bagaimana hewan-hewan tersebut berlari di sabana dari jarak yang cukup dekat. Jika kamu menginap di Bekol, pada malam hari kamu akan lebih banyak melihat dan mendengar suara hewan-hewan liar tersebut bagai orkestra alam yang merdu. Kamu akan melihat mata mereka bersinar di antara kegelapan dan merasakan keheningan yang begitu tenang.

Get There

Taman Nasional Baluran sangat mudah dijangkau dan hanya mempunyai satu pintu masuk.  Berada di tepian jalan raya antara Situbondo-Banyuwangi, tepatnya di Dukuh Batangan, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Meskipun berada di kawasan Situbondo, Baluran lebih dekat ke Kota Banyuwangi yang hanya berjarak 35 km, sementara dari Kota Situbondo berjarak 60 km.

Pintu masuk Batangan merupakan starting point untuk menjelajah seluruh objek wisata di dalam taman nasional. Hanya ada satu jalan utama sepanjang 15 km yang bisa dilewati oleh mobil maupun kendaraan bermotor. Jalannya lurus dan tidak ada tanjakan, tapi separuhnya dalam kondisi rusak (dimulai dari Batangan dan berakhir di Pantai Bama). Empat kilometer pertama jalan akan membelah hutan musim, enam kilometer berikutnya hutan hijau atau evergreen, dua kilometer kembali ke hutan musim, dan lima kilometer tersisa melintasi Sabana Bekol menuju Pantai Bama.

Kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor, bisa masuk sampai ke Pantai Bama. Namun jika kamu tidak membawa kendaraan sendiri, bisa menyewa atau diantar dengan sepeda motor milik petugas taman nasional dengan hanya membayar Rp 30 sampai 35 ribu sekali jalan dari Batangan-Bekol-Bama. Jika kamu dalam rombongan, petugas juga menyediakan mobil untuk disewa. Untuk mobil sebaiknya melakukan reservasi terlebih dahulu karena tidak setiap saat tersedia.

Surabaya-Banyuwangi-Batangan

Rute ini cukup menarik dan nyaman. Dari Surabaya kamu bisa naik kereta api ke Banyuwangi melalui stasiun Surabaya Gubeng dan turun di pemberhentian terakhir di Stasiun Banyuwangi Baru atau yang dulu bernama Stasiun Ketapang (lihat jadwalnya di www.kereta-api.co.id) Perjalananmu akan melintasi lembah Pegunungan Argopuro dan Raung dengan pemandangan yang menyejukkan. Surabaya-Banyuwangi ditempuh dalam waktu 5-6 jam. Setelah sampai di Banyuwangi Baru, perjalanan berikutnya selama 30 menit menuju Batangan bisa menggunakan bis jurusan Banyuwangi-Situbondo-Probolinggo atau mikrolet. Jika menggunakan bis, kamu berjalan dulu beberapa puluh meter keluar dari stasiun menuju jalan raya, sementara mikrolet banyak tersedia di depan stasiun dengan tarif yang lebih mahal. Bis sekitar Rp 9 ribu dan mikrolet Rp 15 ribu. Untuk tiket kereta harganya berkisar antara Rp 90 sampai Rp 120 ribu. Jika ingin lebih cepat, kamu bisa naik pesawat dari Surabaya ke Banyuwangi seharga Rp 400 sampai Rp 500 ribu dan hanya ditempuh dalam waktu 35 menit. Saat ini ada dua airline yang menyediakan jadwal penerbangan Surabaya-Banyuwangi: Lion Air dan Merpati Nusantara.

Surabaya-Situbondo-Batangan

Melalui jalur ini, kamu akan melintas pesisir pantai timur Pulau Jawa. Dari Terminal Purabaya (Bungurasih), kamu naik bis jurusan Surabaya-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi. Katakan saja pada kondektur bis untuk menurunkan kamu di Batangan di pintu masuk Taman Nasional Baluran. Surabaya-Situbondo ditempuh dalam waktu 4-5 jam, sementara Situbondo-Batangan memerlukan 2 jam perjalanan.

Denpasar-Banyuwangi-Batangan

Ini rute alternatif jika kamu berada atau memulai perjalanan dari Pulau Bali. Ini juga merupakan rute favorit wisatawan asing yang berkunjung ke Baluran. Awali perjalanan dari Terminal Mengwi Badung atau Ubung Denpasar. Naik bis jurusan Denpasar-Banyuwangi-Situbondo-Probolinggo-Surabaya dan langsung turun di Batangan. Rute ini hanya memerlukan 4 jam perjalanan, termasuk 1 jam melintasi Selat Bali. Tiket bis seharga Rp 45 ribu sudah termasuk tiket penyeberangan dengan kapal ferry.

To Stay

Di dalam taman nasional, tepatnya di pinggiran Sabana Bekol dan Pantai Bama terdapat wisma untuk pengunjung, tapi jumlahnya tidak banyak: lima rumah di Bama dengan kapasitas 14 orang dan tiga rumah di Bekol dengan kapasitas 25 orang. Tarifnya pun berbeda, jika di Bama 1 orang dikenakan biaya Rp 75 ribu/malam, sementara di Bekol Rp 35 ribu. Kedua tempat penginapan tersebut menyajikan pemandangan yang berbeda. Jika ingin menghabiskan waktu di pantai dengan snorkelling, diving, dan berenang, kamu sebaiknya menginap di Bama. Tapi jika ingin menikmati suasana sabana dan alam liar, menginap-lah di Bekol. Karena jumlah rumah singgah terbatas, kami sarankan untuk booking sebelum kedatangan kamu di Baluran.

Di dekat pintu masuk Batangan, di Desa Wonorejo juga terdapat homestay milik penduduk. Harga sewa kamarnya sama dengan yang ada di dalam taman nasional, antara Rp 35 sampai Rp 75 ribu per orang/malam. Untuk harga Rp 75 ribu, biasanya kamu mendapat tambahan sarapan.

Kamu juga bisa menginap di kota terdekat dari Batangan, yaitu Banyuwangi atau Situbondo. Ada lebih banyak pilihan hotel, tapi masih kelas melati sampai bintang dua. Keuntungan menginap di sana adalah kamu bisa berjalan-jalan di Kota Situbondo atau Banyuwangi sekaligus mencicipi kulinernya.

To Eat

Di dalam taman nasional sendiri, tepatnya di Bama terdapat cafeteria yang menghidangkan masakan Jawa, tapi jam bukanya siang hari dari jam 10.00-16.00 dan itu pun tidak setiap hari. Jika menginap di dalam taman nasional, sebaiknya membawa bekal makanan sendiri. Sebenarnya makanan khas di sekitar Baluran yang layak untuk dicoba justru berada di Kota Banyuwangi dan Situbondo.

Kuliner Osing

Ada dua makanan khas orang Osing (sebutan orang Banyuwangi) yang paling terkenal: rujak soto dan nasi tempong. Kedua makanan tersebut dihidangkan pada jam yang sama, yaitu untuk makan siang atau malam. Jadi jangan harap kamu akan menemukan dengan mudah penjual rujak soto dan nasi tempong di pagi hari.

Rujak soto merupakan gabungan antara nasi putih, kuah soto, dan bumbu rujak. Rasanya sangat khas dan unik. Sementara nasi tempong sebenarnya adalah seperti nasi lalapan pada umumnya. Hanya saja sambal dan sayurnya yang berbeda. Sayur nasi tempong adalah sayuran rebus, meliputi bayam, daun kenikir, dan kangkung ditambah irisan mentimun. Sementara sambalnya, adalah sambal mentah yang terbuat dari ranti (sejenis tomat), cabai, dan terasi khas Banyuwangi yang terbuat dari ebi atau udang kering. Sementara lauknya bisa memilih tahu, tempe, ayam, atau ikan laut goreng. Sambalnya sangat pedas, jadi berhati-hati! Nama “nasi tempong” diambil dari kata “tempong” yang artinya dipukul atau ditampar. Ini dikarenakan kebanyakan orang yang makan nasi tempong wajahnya memerah sebab menahan pedas, seperti habis ditampar pipinya. Nasi tempong semakin nendang jika dimakan dengan kerupuk cumi khas Banyuwangi. Ada banyak penjual nasi tempong di Kota Banyuwangi, dan katanya, yang paling enak adalah nasi tempong di Warung Mak Wah yang terletak menyempil di sebuah gang di Jl. Gambrung.

Tajin Palappa

Nah, kalau kamu sedang menginap di Situbondo, wajib untuk mencoba tajin palappa. Namanya berasal dari bahasa Madura, yang berarti bubur berbumbu. Merupakan bubur nasi gurih dengan topping kangkung, bayam, kembang turi, taoge, dan bakwan (kebanyakan orang Jawa Timur menyebutnya ote-ote, sementara orang Situbondo sendiri menyebutnya dengan hongkong), kemudian disiram dengan bumbu kacang (hanya orang Situbondo yang bisa membuat bumbu kacang selezat dan seunik bubur berbumbu ini). Tidak seperti nasi tempong yang mudah ditemukan di Banyuwangi, tajin palappa hanya dijual di warung-warung kecil dalam gang sebagai menu sarapan.

Quick Tips

-Bawalah bekal makanan sendiri atau persiapkan dengan membungkus makanan dan juga persediaan minum yang cukup jika kamu hendak berkeliling seharian maupun menginap di dalam taman nasional.

-Sediakan lotion anti-nyamuk karena pada malam hari nyamuk akan banyak berkeliaran.

-Udara di Baluran cukup panas, terutama pada siang dan malam hari. Bawalah topi atau payung (juga untuk persiapan hujan di musim hujan) untuk melindungi kepalamu saat menjelajah Sabana Bekol dan tempat lainnya.

-Untuk aktivitas pendukung, tentu saja persiapkan peralatan yang kamu perlukan sendiri. Untuk aktivitas di pantai dan laut, terdapat penyewaan, tapi jika kamu hendak melakukan pengamatan burung atau berjalan kaki, kamu tentu harus persiapkan sendiri alatnya, seperti sepatu kets, kekeran, dan lainnya.

-Listrik penginapan di dalam taman nasional hanya dinyalakan pada jam 18.00-23.00. Isi semua baterai gadget kamu, seperti handphone, kamera, dan MP3 player saat listrik sedang menyala, dan jangan menunda.

-Bersiaplah untuk tidak terhubung dengan dunia luar karena di Bama tidak ada sinyal untuk semua operator. Namun khusus di Bekol, beberapa operator besar masih terdapat sinyal.

-Hati-hati terhadap barang-barang bawaanmu, terutama bekal makanan saat di Pantai Bama. Tanpa pengawasan, bisa-bisa lenyap dicuri monyet.

-Untuk memesan penginapan di Bekol dan Bama, hubungi nomor berikut ini (0333) 424 119.

Comments  

 
#7 RAFI 2016-04-23 01:22
terima kasih infonya,..// tp gan kalo seandainya kita bertemu sama citah gimana tuh. soalnya saya brencana untuk k Baluran tp sndiri aja.
 
 
#6 Refan Sukardi 2016-01-11 13:20
keren banget yaa, Indonesia emang kaya pesona wisata alam dan satwa2 yg eksotis deh...
 
 
#5 pandika 2015-12-25 04:56
punya kontak yang bisa dihubungi untuk reservasi penginapan di sabana bekol dan pantai bama?terimakasi h
 
 
#4 Agung 2015-07-14 02:37
Belum pernah mengunjungi. Tapi trims karena infonya cukup memberi penjelasan terkait rasa penasaran saya akan wisata alam di Jatim ^_^
 
 
#3 babi teknisi 2014-09-15 02:56
gimana caranya hubungin kontak untuk menginap di baluran??
 
 
#2 babi teknisi 2014-09-15 02:55
bro,,,gimana caranya hubungin kontak untuk penjaga di baluran...mksud nya mau booking gitu
 
 
#1 ranselq 2014-04-16 05:55
terima kasih infonya... :) lengkap

www.ransel-q.com
 
  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Java Sensasi Alam Liar Baluran

Newsletter

Subcribe
1037201
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
458
453
5517
850939
16784
20604