Berburu Kacang Pinus sambil Bewisata

Oleh Roni Khoiron

Awal perkenalan dan ketertarikan saya dengan kacang pinus atau bahasa kerennya pine nut terjadi bersamaan. Bisa di bilang falling in love for the first time. Saat itu saya kebetulan sedang window shopping di mini market yang menjual produk impor. Niatnya memang ngga mau beli apa-apa, cuma lihat-lihat saja. Ngga tahu kenapa, kalau lagi ngga mood,  kegiatan yang satu ini moncer banget untuk me-refresh pikiran.

Saya memang kepo banget untuk urusan makanan yang jarang ditemukan di negeri ini. Seperti biasa, saya langsung menuju ke rak raw food. Mata saya langsung tertuju pada rak bersusun yang berisi kacang-kacangan mentah yang juga sudah sering saya lihat. Ada almond, walnut, pistachio, hazelnut, macadamia, dan... wait a minute! Saya menangkap satu yang baru, nih! Saya ambil plastik transparan berukuran 50 gram tersebut. Di dalamnya sejenis kacang mirip beras dengan ukuran 3-4 kali lebih besar berwarna kuning kecoklatan. Saya langsung membaca barcode-nya. Namanya kacang pinus dan harganya Rp. 75.000! Wow, mahal banget. Lebih mahal dari macadamia yang selama ini sudah saya anggap sebagai kacang termahal di dunia.

Membaca namanya pikiran saya langsung tertuju pada pohon pinus yang banyak tumbuh di lereng bukit dekat rumah, tapi di bagian apanya ya kacang ini diambil? Yang saya tahu pohon pinus itu hanya punya bunga keras dengan kelopak-kelopak membentuk piramid yang cantik. Atau ada pohon tersendiri untuk menghasilkan kacang ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan dalam pikiran sepanjang perjalanan pulang.

Sampai di rumah, saya langsung buka laptop dan Googling tentang pine nut. Beruntung dengan Google, informasi tentang apa pun bisa kita dapatkan dengan mudah walau kita harus tetap selektif memilih mana yang benar dan mana yang hoax. Tapi untuk informasi ilmiah seperti ini, andalan saya adalah Wikipedia. Dari hasil googling, saya dapatkan banyak informasi tentang pine nut dan akan saya kutip ulang dalam tulisan ini.

Mbah wikipedia menyatakan: “Kacang pinus merupakan biji dari pohonpinus yang dapat dimakan. Kacang pinus masuk ke dalam kategori kacang pohon secara kuliner, namun tidak secara botani. Kacang ini dapat dimakan, namun pengusahaannya secara komersial relatif terbatas karena ukuran dan hasilnya yang tidak banyak, beberapa merupakan produk samping dari budi dayakayu. China (Tiongkok) dan Italia merupakan produsen kacang pinus utama di dunia.”

Nah, dari informasi ini saya simpulkan bahwa semua pohon pinus pasti menghasilkan kacang cuma memang tidak banyak. Pertanyaan berikutnya, di mana letak kacang-kacang tersebut? Ternyata kacang-kacang tersebut bersembunyi di balik kelopak-kelopak bunganya. Kita cukup mengketuk-ketukannya di atas benda keras, maka kacang tersebut akan keluar. Kadang satu bunga bisa berisi lebih dari satu kacang. Sedihnya bisa tidak ada kacangnya sama sekali. Di YouTube, saya menemukan video yang menunjukan cara-cara mengambil kacang dari bunga pinus.

Rasa penasaran saya pada kacang pinus belum selesai. Selanjutnya saya terus mencari tahu tentang manfaat dan budi dayanya. Saya jadi teringat saat saya pertama kali mengetahui tentang kacang macadamia. Waktu itu saya bela-belain mbolang ke Bondowoso dan Ampelgading untuk melihat langsung kebunnya. Begitu pula saat saya terpesona dengan aroma herbal rosemary yang banyak dibudidayakan oleh petani-petani Kota Batu. Saya juga ikut-ikutan menanam dan mencobanya dalam aneka masakan. Tapi untuk kacang pinus yang jelas saya tidak akan ikut menanamnya. Gila saja saya belum punya lahan seluas hutan belantara! Saat tahu manfaat bahwa kacang pinus ternyata merupakan kacang sehat yang banyak mengandung anti-oksidan dan sedang banyak dikaji oleh peneliti-peneliti muda di dunia, tekad saya semakin kuat untuk mencari sendiri kacang ini di pinggiran hutan. Di Eropa dan Timur Tengah kacang ini banyak dipakai dalam kuliner. Saus pesto khas Italia yang hijau segar jga terbuat dari kacang ini. Dessert yang cukup terkenal baklava juga menggunakan kacang ini sebagai salah satu bahannya. Sebagai camilan kacang pinus juga tak kalah nikmat dibandingkan kacang almond, mente, ataupun macadamia. Namun satu hal yang membuat saya sedikit takut dengan kacang pinus, adalah pine nut mouth syndrome. Waduh, apa ini? Kata Mbah Wikipedia, after taste atau rasa yang tertinggal setelah mengkonsumsi kacang pinus. Rasanya pahit seperti menelan logam. Bayangkan kamu sedang mengunyah uang recehan! Anehnya, rasa itu tidak langsung muncul, tapi selang sekitar 2-3 hari kemudian. Walaupun tidak berbahaya bagi kesehatan, saya membayangkan pasti akan sangat mengganggu. Parahnya lagi, after taste ini bisa bertahan sampai tiga minggu. Waduh jadi pikir-pikir lagi untuk menimati kacang pinus. Tapi tunggu dulu, ternyata after taste ini hanya muncul pada kacang pinus yang varietasnya banyak tumbuh di China atau jenis dengan nama latin Pinus armandii. Terus pohon pinus yang tumbuh di pinggiran hutan dekat desaku itu jenis apa, ya? Nah, ini berarti harus dicoba dulu artinya harus hunting bunga pinus ke sana.

Hutan pinus di lereng pegunungan dekat desa saya, tepatnya di sisi tenggara Gunung Arjuna memang sudah lama menjadi tempat untuk mencari udara segar pegunungan bagi masyarakat sekitar. Untuk sekadar jalan-jalan keliling hutan, menikmati harumnya pohon pinus dan tanah basah, mendengar gemuruh angin yang menerpa pucuk-pucuk pinus dengan suara yang mirip deburan ombak di laut, dan menggelar tikar di sela-sela pohon pinus sambil menikmati bekal yang kita bawah dari rumah. Saya ingat waktu kecil bersama teman-teman, hampir setiap minggu selalu mengunjungi hutan pinus, mencari bunganya untuk dijadikan hiasan dan membuat rujak buah segar atau rujakan untuk disantap rame-rame. Sampai sekarang pun saya masih sering ke sana walaupun sudah agak jarang karena kesibukan bekerja. Tak jauh dari hutan pinus juga terdapat pesarehan Gunung Mujur yang sekarang mulai ramai diziarahi orang dari luar daerah. Pesarehan ini menjadi semacam tujuan akhir bagi mereka yang berkunjung ke hutan pinus. Terletak di atas sebuah bukit di lembah Arjuna. Pemandangan dari atas bukit memang cukup bagus, bisa melihat hamparan hutan pinus yang hijau dan lereng-lereng Gunung Arjuna yang menjulang tinggi dari dekat. Namun tidak semua yang datang ke Gunung Mujur bertujuan untuk berziarah, kebanyakan justru untuk menikmati pemandangan dan udara segar alam pegunungan.

Singkat cerita bersama beberapa teman, akhirnya pada hari minggu pertama di bulan November, saya mengunjungi hutan pinus. Saya jelaskan dari awal bahwa tujuannya untuk mencari kacang pinus.

Teman-teman semua heran, “Kacang pinus? Emang pinus ada kacangnya?”

Saya jelaskan panjang lebar tentang kacang pinus persis seperti kata Wikipedia.

“Oooo, OK, kita berangkat!”

Asyik! Rupanya mereka juga tertarik dengan kacang pinus. Pagi hari sekitar jam 06.00 WIB, kami berempat sudah berangkat naik motor menuju hutan pinus. Perjalanan hanya ditempuh tak lebih dari 30 menit. Jadi ingat saat kecil kami malah berjalan kaki selama hampir 2 jam untuk mencapai hutan pinus. Tapi terasa lebih enjoy dari pada naik motor. Kalau sekarang mau jalan kaki sudah terbayang capeknya, jadi malas.

Cuaca cukup bersahabat pagi itu. Matahari bersinar cerah, langit tampak membiru, dan angin berhembus dengan pelan. Tapi sayang jalan yang kami lalui banyak yang rusak. Aspal berubah jadi batu. Sebenarnya ada dua jalur yang bisa kami lalui, jalur pertama lewat Desa Tawangargo, jalannya sudah bagus dibangun oleh pemerintah untuk kepentingan pariwisata dan lebih dekat ke Gunung Mujur. Jalur lainnya lewat Desa Bocek. Separuh jalannya banyak yang rusak, tapi lebih dekat ke hutan pinus. Kami melewati jalur ke dua karena tujuan akhirnya hanya sampai hutan pinus. Saat kami tiba di hutan pinus, sinar matahari masih terasa hangat. Kami langsung menitipkan motor di rumah warga dan tak sabar untuk segera memasuki hutan. Hutan ini hanya berjarak beberapa meter saja dari perkampungan terakhir. Bahkan, saat memasuki satu-satunya jalan besar yang membelah desa, dari kejauhan rimbunnya pinus yang menjulang tinggi sudah kelihatan. Begitu memasuki bibir hutan aroma pinus langsung menyapa.

“Hmm.... segarnya! seperti bau rumah sakit, hahahaha,” celetuk salah satu teman.

“Eh, enak aja! Harusnya kalau masuk rumah sakit bilang aromanya kayak hutan pinus. Jangan sebaliknya, dong!” protes temanku yang lain.

Saya hanya tersenyum. Ini efek dari banyaknya rumah sakit di Indonesia yang menggunakan aroma pinus sebagai pembersih lantai dan jarangnya orang yang tahu aroma pinus.

Kami duduk-duduk sebentar di sebuah pondok kayu untuk menikmati teh hangat dan singkong rebus karena kebetulan kami semua belum sarapan. Kemudian kami pun berpencar untuk berburu kelopak bunga pinus. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang sedang menuju ladang. Memang di tengah-tengah hutan ini ada area yang dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayur-mayur, seperti wortel, kentang, sawi, dan lainnya.

Bapak-bapak petani itu juga dengan ramahnya menunjukan lokasi di mana terdapat banyak serakan bunga pinus. “Sebelah sana, loh, Mas! Banyak dan masih segar.”

Bunga pinus yang kami temukan ternyata banyak yang lapuk terkena air hujan, padahal kami memerlukan bunga yang segar tapi kering untuk mendapatkan kacang pinus yang bagus. Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan bunga-bunga pinus sebanyak satu karung yang justru lama selfie-selfie dengan aneka gaya yang heboh, bersandar di pohon pinus, telentang di rerumputan ala princess Syahrini, dan menyembul di antara semak. Seperti film India, catat ini termasuk juga saya!

Menjelang siang saat matahari tepat di atas kepala, kami semua berkumpul kembali di pondok bambu. Walaupun sinarnya terik, masih terasa sejuk karena terlindungi oleh hutan pinus ini. Gemuruh pucuk-pucuk pinus yang diterpa angin memecah kesunyian hutan. Sambil mendengarkan syahdunya saxophone lagu Forever in Love-nyaKenny G. Saya sendiri tak sabar dan langsung mengambil beberapa bunga pinus dan memilah-milah kelopaknya. Satu, dua, tiga, empat bunga pinus saya ambil.

Tak satu pun kacang ditemukan! Teman-teman yang lain mulai ikut mencari. Agak lama kami berkutat dengan tumpukan bunga-bunga pinus ini sampai menjelang separuh kami masih belum juga menemukan kacang pinusnya.

Saya sendiri mulai sedikit putus asa. Untuk menghilangkan kejenuhan, setiap bunga pinus yang habis dipilah dan tak ditemukan kacangny,a kami lemparkan ke teman yang lain sambil berteriak. Kosong mandul, gabuk atau kata-kata lain yang lucu.

“Ini dia! I got it!” teriak salah satu teman saya dengan girang, bersamaan kami semua mendekat untuk melihatnya.

”Mana-mana, coba lihat!”

Saat melihat butiran kecil kacang itu berada di telapak tangan teman saya, kami semua saling berpandangan tanpa kata. Raut kelegaan terpancar seketika, setelah itu kami terus bersemangat untuk mencari benda kecil yang berharga ini-setidaknya menurut kami. Suasana mencari kacang pinus menjadi kian seru saat kami terus menemukan butiran-butiran selanjutnya. Sampai akhirnya bunga-bunga pinus itu habis kami pilah semua dan kami mendapatkan segenggam kacang pinus. Tak satu pun dari kami berani mencicipinya walaupun sebenarnya kacang pinus bisa langsung dimakan. Takut akan pine nut mouth syndrome, akhirnya saya yang dijadikan kelinci percobaan karena yang mempunyai ide pertama untuk mencari kacang pinus.

It’s OK! Saya akan makan,” sahut saya lirih menerima tantangan itu. Dan rasanya ternyata gurih seperti kacang mente. “Hmmm, enak loh, kayak kacang mente, lebih enak malah. Ayo pada coba!” Meskipun saya yakinkan seperti itu, teman-teman tetap tidak ada yang mau mencoba. Mereka menunggu dua atau tiga hari lagi sampai pine nut mouth syndrome mulai muncul. Saya sendiri sudah siap menanggung risikonya.

Segenggam kacang pinus ini menjadi oleh-oleh kami selama setengah harian menjelajah hutan. Kesannya seru dan menyenangkan. Kelak saya akan mengajak teman yang lain untuk menikmati kegiatan seperti ini. Berwisata dengan sederhana.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Destination and Attraction Java Berburu Kacang Pinus sambil Bewisata

Newsletter

Subcribe
1070264
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1334
555
4381
886362
11273
19042