Jelajah Kuliner Pecinan Jakarta

Oleh Nurdiyansah

Kawasan Pecinan, Kota di Jakarta merupakan tempat dengan nilai historis tinggi yang membuktikan kedatangan orang-orang Tionghoa serta hubungan perdagangan yang terjalin sebelum bangsa Eropa singgah dan menjajah Sunda Kelapa. Terletak tak jauh dari Taman Fatahillah, Pecinan memiliki pesona seni dan budaya peranakan, juga kekayaan kuliner.

Menumpangi busway hingga stasiun Kota, kami melanjutkan perjalanan menuju Pecinan melewati Museum Bank Mandiri dan Jl. Asemka yang ramai dengan perdagangan pernak-pernik dan aneka sovenir. Setelah melewati keramaian tersebut, aroma harum masakan oriental mulai menghampiri hidung kami. Di kiri-kanan jalan dan gang-gang sempit sepanjang Jl. Asemka hingga ujung Jl. Pancoran dan Jl. Kemenangan (Glodok), pandangan kami dipenuhi beragam warung-warung makan aneka rupa, mulai dari manisan, permen-permen, kue, hingga aneka mi dan masakan peranakan lainnya. Karena memiliki kultur peranakan, bagi Anda penggemar masakakan olahan babi dan oriental, di sinilah tempatnya. Tapi jangan khawatir, tak semua makanan mengandung babi. Jika ragu, sebaiknya bertanya mengenai bahan makanan yang digunakan.

Kami menepi di Stand 68 untuk mencicipi Rujak Shanghai Encim yang telah begitu terkenal dan puluhan tahun berdiri. Harga satu porsi rujak adalah Rp 22.000. Tentu saja, ada yang berbeda dari rujak ini karena tidak sekedar berisi sayur apalagi buah-buahan. Rujak Shanghai Encim merupakan perpaduan antara timun, lobak, kangkung rebus, dan yang paling membuatnya unik – sekaligus agak mengagetkan kami – adalah rebusan cumi-cumi dan ubur-ubur yang disiram dengan saus asam manis (mirip saus Fu Yung Hai), taburan kacang halus, dan sambal. Meski terasa agak aneh buat kami yang belum pernah mencoba, rasanya unik dengan adanya aroma laut.

Tak jauh dari Rujak Shanghai Encim, kami belok ke kiri memasuki gang, di mana berbagai masakan olahan babi berada, mulai dari aneka mi, nasi goreng, siomay, rebusan jeroan babi, bakso (rebus dan goreng), nasi campur, dan lainnya. Seorang teman yang mencicipi salah satu menu tersebut mengakui kelezatan mereka mengolah hidangan babi.

Agak lurus sedikit, kami mencicipi Gado-gado Direksi yang sudah terkenal itu. Harga seporsi adalah Rp 20.000. Yang spesial dari gado-gado ini tentu adalah bumbu kacangnya yang begitu gurih, lembut, legit, dan nikmat. Kami menduga, mereka memaki kacang mete dan santan. Untuk menyegarkan siang yang terik itu, kami memesan susu kacang kedelai. Sayangnya, es kacang merah telah habis. Rekomendasi untuk minuman adalah es liang teh yang mudah ditemukan sepanjang jalan. Bersebelahan dengan Gado-gado Direksi, juga ada aneka dendeng sapi, ikan, dan babi. Lanjut menuju Jl. Petak Sembilan, ada lontong cap gomeh yang jadi favorit.

Sebagai penutup kuliner, mencicipi kue bulan, manisan atau permen, tentu tidak ada salahnya. Tak perlu memikirkan soal perut ketika berkunjung ke Pecinan, karena ini adalah persoalan lidah yang tak mau berhenti memilih mana yang enak dan dicicip di tengah-tengah rimba kuliner peranakan yang serba lezat dengan harga terjangkau.

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Food Lover Jelajah Kuliner Pecinan Jakarta

Newsletter

Subcribe
361638
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
436
360
2321
180452
12333
16356