Mie Gang Kecil Solo

Oleh Shandra Maureen dan Nurdiyansah

Mi ayam termasuk salah satu makanan favorit kami. Bagi kami, hunting mi ayam di daerah mana pun selalu menyenangkan. Mungkin memang sama-sama mi, tetapi melihat hidangan ini sebagai juga bentuk perpaduan akulturasi, maka mi di setiap daerah memang serupa, namun pastinya tak pernah sama. Perjalanan kami ke Solo kali ini, membawa kami kepada sebuah warung mi ayam yang letaknya sangat terpencil. Jangan anggap remeh dulu hidangan mi di Kota “The Spirit of Java” ini. Di banyak kota besar, selalu saja ada pecinan (chinatown) yang cita rasa kulinernya juga berbeda-beda, begitu juga dengan Solo.

Mi ayam yang satu ini tanpa sengaja kami temukan setelah berkenalan dan bertanya kepada pengunjung di klenteng yang berada dekat Pasar Gede. Awalnya kami hendak mencari kuliner peranakan di sekitar klenteng, tetapi ketika mengobrol dengan seorang yang kami panggil Enci, yang sangat ramah di rumah ibadah tersebut, beliau memberikan rekomendasi kuliner wajib kunjung untuk hidangan mi yang ada di Solo. Dari kenalan singkat itulah kami segera melanjutkan perjalanan dengan becak menuju sebuah gang sempit dekat Toko Roti Kecil di jalan utama.

“Bubur Ayam & Mie Gang Kecil,” begitulah tulisan pada spanduk yang ada di depan gang menandai lokasi warung. Letaknya benar-benar di dalam sebuah gang kecil. Begitu memasuki gang, tampaklah jejeran meja menghadap tembok. Suasananya sangat sederhana. Seorang perempuan muda berdarah Tionghoa dengan ramah meghampiri kami dan menyodorkan menu. Mata memandang dengan cepat untuk segera merespon perut kami yang sudah keroncongan. Kami pun langsung memesan menu andalan yang menjadi tujuan utama perburuan mi kami di Solo, yaitu Mie Gepeng Ayam. Salah satu dari kami sangat ngeh melihat ke meja dengan kehadiran softdrink jadul Saparila yang rasanya tentu memberika sensasi masa kecil.

Tak perlu menunggu lama, mi kami datang. Sendok dan sumpit langsung kami sambar. Kami mencicipi kuah yang begitu gurih, mi-nya juga kenyal. Tampilan mi sangat sederhana, tetapi memiliki rasa yang sangat lezat. Tidak banyak campuran, selain dengan taburan ayam yang dipotong kecil dan terasa lembut dengan remasan kerupuk pangsit. Rasanya begitu segar, sehingga memberikan sensasi tersendiri di lidah saya. Rasa fresh ini ternyata dipertahankan karena mi dibuat sendiri dan diolah secara segar (langsung habis setiap hari). Harga semangkuk mi ayam tidak mahal, hanya Rp 6.500 untuk porsi kecil, Rp 7.000 untuk porsi sedang, dan Rp 10.000 untuk porsi jumbo (harga sebelum pertengahan 2013). Rasa yang enak dan harga yang murah serta keramahan dari penjual membuat kami betah untuk duduk berlama-lama di gang sempit ini. Kami pun minta tambah untuk hidangan siomay kuah yang rasanya tak kalah enaknya.

Selain, mi ayam, bakso, dan siomay, andalan lain dari Mie Gang Kecil ini adalah bubur. Tapi bubur hanya ada di pagi hari, sehingga sudah habis saat siang. Mereka juga memiliki menu khusus pada Minggu berupa Nasi Tim Ayam Merah dan Mi Ayam Merah. Menu dijamin halal dan yang penting jangan kesorean jika ingin berkunjung karena biasanya menu mi telah habis jelang sore. Setelahnya, kami tidak pergi dengan tangan kosong karena mereka menjual snack jadul khas Solo yang sebagian dibuat sendiri, seperti cokelat payung dan dolar, keripik dolar, enting-enting, dan lainnya.

So, if u have a plan to visit Solo, please try this special noodle. Happy eating!

Mie Gepeng Ayam dan Bubur Ayam Gang Kecil

Jl. AR. Hakim 2B Kepunton

Telpon : (0271) 65659

Buka    : Selasa sampai Minggu, jam 6 pagi sampai jam 4 sore

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Food Lover Mie Gang Kecil Solo

Newsletter

Subcribe
1070237
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
1307
555
4354
886362
11246
19042