Menjadi Pasien di Klinik Kopi

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Bayangkan kita berada di sebuah klinik dan hendak mengunjungi seorang dokter. Kita baru bisa datang saat klinik dibuka dan harus mengantri dulu ketika Si “Dokter” tiba. Ketika akhirnya ia terlihat, belum tentu juga ruang praktik langsung dibuka. Mohon bersabar karena perlu jeda bagi Si “Dokter” tersebut bebenah perkakas untuk periksa-periksa macam apa “sakit” kita dan apa “obat” yang sekiranya pas.

Dan suasana seperti di klinik itulah yang saya dan kawan-kawan lain alami ketika mau mencicip kopi. Ya! Benar, yang mau kami kunjungi ini memang kedai kopi, bukan klinik untuk berobat medik. Layaknya klinik, kedai yang satu ini mengatur ruangannya dengan benar di mana orang tak boleh merokok sembarangan. Tapi tentu bukan seperti industri farmasi yang anti-rokok, tapi betul-betul karena alasan untuk menjaga aroma! Bicara tentang kopi, memang menyoal tentang rasa dan aroma. Tapi, eits, tunggu dulu, di “klinik” yang satu ini, kopi punya hal yang lain. Kopi juga tentang cerita!

Namanya Klinik Kopi! Pada suatu sore kami (Jejakwisata.com) diajak mengunjungi lokasi ini bersama kawan-kawan dari Ludens Tourism Space di Jogja.

“Jadi, biasa buka (praktik) jam berapa?” tanya saya kepada kawan yang kala itu bersama kami. Ia sudah berlangganan ke tempat ini. Sementara saya dan kawan dari Jakarta baru akan pertama kali menjadi “pasien” di klinik yang satu ini.

“Biasanya menjelang sore sekitar jam 4. Tapi ya suka-suka! Kalau dia (Si “Dokter”) lagi traveling, ya tutup juga tempat ini,” jawab kawan yang berdomisili di Jogja dan juga bekerja pula sebagai penulis dan blogger.

Karena pagar sudah terbuka, artinya ia akan berpraktik. Saya mengintip ruang praktik itu. Si “Dokter” sudah di sana. Sepasang pasien sedang berkonsultasi.

“Tunggu di luar dulu ya, bergantian!” kata Si “Dokter” tahu saya mengintip dan hendak nyelonong masuk.

Kami menunggu di ruang duduk. Ada pengumuman yang menegaskan bahwa ini area dilarang merokok. Saya mengambil handphone. Baru saja hendak menanyakan kode wifi, tapi tiba-tiba saya membaca lagi pengumuman bahwa tidak ada wifi dan disarankan untuk mengobrol. Aduh, saya merasa agak tertohok dengan kelakukan macam nongkrong atau kerja di kedai kopi yang mungkin lebih renyah disebut “kafe” ketimbang “kedai” di Jakarta yang seringkali dijadikan patokan keberadaban dalam menikmati kopi ala kafe. Tak ada pilihan lain, maka kami pun mengobrol-ngobrol sambil selonjoran dengan bantal di area duduk tanpa kursi yang bermaterial utama berupa bambu. Di sekelilingnya ada kolam ikan dan suara gemericik air. Yang buat saya makin betah, adalah halaman belakangnya yang berupa hamparan sawah dan halaman depan berupa kebun organik.

Giliran kami tiba. Si “Dokter” menyambut kami ramah tanpa perlu senyum bertele-tele. “Suka kopi apa?” tanyanya tegas. Si “Dokter” inilah yang bernama Pepeng. Lebih dari sekadar peracik, ia sekaligus inovator tempat ini. Tentu saja sebagai pemilik merangkap banyak hal untuk mengelola tempat yang terlihat sederhana, tapi tak pernah juga sepi pengunjung. Ia berdiri dikelilingi segala perkakas kopi aneka rupa dari yang begitu awam ada di kafe sampai yang bahkan tak pernah kami lihat sebelumnya. Aneka toples berisi biji-biji kopi segar ada di depannya.

“Saya suka yang pahit! Tubruk.” Saya melihat-lihat jejeran toples yang menyimpan aneka kopi. “Kalau yang ini bagaimana?”

“Itu sedang tidak begitu bagus.”

Loh, saya heran kok dia bisa sejujur itu bilang kopi yang dipajangnya sedang tidak bagus.

“Saya kasih ini ya Sunda Geulis. Itu yang bagus yang sedang kami punya dan biasanya biji kopi yang dipakai untuk lomba.”

Saya merasa ge-er Mas Pepeng memberikan saya kopi terbaik yang ia punya. Tanpa perlu berlama-lama dan basa-basi, ia langsung menyeduhkan saya biji kopi pilihannya dengan cara paling sederhana yang saya suka dan biasa saya nikmati: tubruk! Ia pun menyodorkan saya sebuah kertas berisi foto dan penjelasan tentang apa itu Sunda Geulis.

Saya membaca, tapi tampaknya tak perlu juga sebab Mas Pepeng langsung bercerita. “Varietas abyssinia. Disempurnakan dengan proses petik merah. Itu koleksi langka kami dari Garut. Diproses dengan semi washed....” ia terus bercerita tentang perjalanannya untuk mendapatkan biji kopi itu. “Saya ada videonya.” Ia lantas menyetel laptop di belakang dirinya untuk ia tunjukkan dokumenter pendek yang ia rekam hanya dengan kamera handphone.

Kopi pesanan saya jadi. Tampilannya sederhana, tapi cantik. Lebih dari yang sekadar saya harapkan, rasanya luar biasa nikmat. Oiya, jangan kaget kalau datang kemari tidak menemukan gula dan susu. Yang dijual memang hanya kopi. Maka, tak ada pula menu!

“Kopi itu punya banyak rasa,” Mas Pepeng mulai cerita lagi. Tentu saja saya tak ada ide atau persiapan merekam obrolan seru kami. Tapi yang saya ingat ia pernah iseng menawarkan kepada temannya yang sewaktu-waktu mampir. Iseng yang luar biasa menurut saya karena ia dengan kurang ajarnya menghidangkan seduhan tisu yang dibakar! Kata kawannya itu enak. Saya dan kawan-kawan tertawa. “Banyak dari kita tidak paham soal kopi, baik itu rasa dan cara menyajikannya, jadi seolah semua rasa kopi itu sama.” Seingat saya, ia juga menyinggung kalau Starbucks itu jualan utamanya ya susu, bukan kopi. Nah, dapat lagi saya kutipan soal kedai kopi Amerika itu. Kawan lain pernah bilang kalau Starbucks itu jualannya saus kopi, bukan kopi. Saya tersenyum nyinyir.

Mas Pepeng menolak disebut barista meski ia paham betul seluk-beluk kopi dan bagaimana menyajikannya dengan kualitas prima. Ia memilih disebut sebagai pencerita kopi karena begitulah ia menyajikan kopi dengan unik. Kopi enak banyak yang bisa buat, tapi cerita di balik kopi yang sedang saya nikmati ini, hmmm... Tak banyak untuk menyebutnya bahkan hampir tak ada. Ia tahu cerita di balik biji kopi dengan detil karena ia sendiri berkunjung ke tempat di mana kopi ini tumbuh. Tentang alam dan tentang tangan-tangan yang merawatnya sebagai sumber penghidupan. Kopi punya makna besar bagi para petani kopi di Nusantara ini. Di sanalah Mas Pepeng mengoleksi cerita ketimbang biji kopi. Dan ia membelinya dengan meninggalkan pembelajaran bagi para petani tentang pengetahuan yang ia pahami selama ini tentang mengolah biji kopi dengan baik.

Saya suka gaya Mas Pepeng yang bercerita. Tak perlu ramah-ramah yang mungkin memang tak perlu. Ia tegas dan lugas! Ia memang pencerita. Di tangannya, biji kopi jadi dongeng tentang bagaimana saya membayangkan Nusantara ini sebagai sebuah Wonderland ketika saya menjadi Alice yang menemukan benda-benda ajaib yang bisa saya kunyah (bijinya) dan seruput. Setiap rasa berisi aroma yang bercampur pengetahuan!

Tiba-tiba seorang pengunjung masuk ruang praktik. Ia memintanya menunggu di luar karena kawan yang dalam rombongan kami belum tuntas dibuatkan kopi. “Kadang ini biasa ‘orang Jakarta’ kalau datang ke sini suka ngga sabar! Pernah ada yang minta diantarkan kopi!” Ia tersenyum geli menganggapnya lelucon.

Saya tersenyum nyinyir karena itulah yang biasa saya terima kalau pesan kopi di kafe pada umumnya. Saya agak merasa tersindir, tapi tak berani mengakui.

“Apa yang membuat Mas Pepeng melakukan semua ini?”

Ia sedikit terdiam dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Gayanya, sih, sedikit berpikir. Tapi ia tampak cool dengan dikelilingi beragam aroma dan cerita di balik toples-toples yang kedap udara.

Dan ia mulai lagi dengan kisah sebelum memulai ini semua. Berkeliling mengunjungi kafe-kafe di luar negeri. Tahu banyak tentang mengolah dan menyajikan biji kopi. Dan memiliki kesadaran bahwa selama ini masyarakat dan petani kita punya tantangan pada gap pengetahuan soal kopi. Dari sanalah ia memulai perjuangannya sendiri terhadap kopi. Dan buat saya, juga perjuangan untuk mendukung kaum tani: petani kopi!

Saya ingin mengobrol dengannya lama sebab saya yakin ada banyak hal yang belum ia sampaikan. Tapi ini adalah tempat praktik dan mendekati senja para pasien mulai berdatangan.

 

Mas Pepeng mengizinkan saya melihat gudangnya. Aroma kopi menyeruak harum! Kami mengambil foto beberapa kali.

Lalu, saat giliran kami habis, rombongan pasien lain diizinkan masuk. Kami menyingkir dan membawa cangkir kami masing-masing keluar ruang praktik. Baru kemudian saya tahu ternyata di halaman depan ada bangku panjang dari bambu yang jadi ruang merokok. Di area itulah saya dan kawan-kawan mengobrol sambil nyundut dikelilingi rindangnya aneka tanaman buah dan sayur organik. Dan saya lupa berapa lama pada akhirnya kami mengobrol tentang kopi, tentang kesibukan para blogger yang jadi kawan saya selama di Jogja ini, dan berapa batang rokok telah habis.

Hari sudah gelap! Kami kembali masuk ruang praktik untuk bayar. Mas Pepeng menyuruh kami masukan saja uangnya ke sebuah ember yang khusus untuk memasukkan uang. Kami sendiri yang harus menghitung total berapa yang harus kami bayar. Kalau ada kembaliannya, ya tinggal cari-cari saja uang receh di ember itu.

“Jangan lupa, nanti nonton film AADC 2, ya. Ada saya, loh, di situ!” pesan Mas Pepeng pada kami. Ternyata beberapa waktu sebelumnya, para pemain dan kru sempat datang kemari untuk ambil gambar.

“Wah, itu pasti, Mas Pepeng!”

Kami pamit dan saya menanti kapan lagi saya akan ke Jogja untuk tak lupa mampir ke tempat ini untuk kedua kali, ketiga kali, dan berkali-kali lagi!

Dan di hari yang sama usai menulis ini, saya dan kawan benar-benar menonton AADC 2 di bioskop. Kami tersenyum melihat perangai Rangga yang dibawa Cinta untuk pertama kalinya: menjadi pasien baru di Klinik Kopi!

 

Klinik Kopi

Jl. Kaliurang Km. 7,8, Gang Bima, Sinduharjo, Ngaglik

Sleman, Jogja

  • Best Hotels

  • Popular Places

  • Food Lover

  • Desa Wisata

 
 
 
 
 
 
 
 
You are here: Home Your Destination Food Lover Menjadi Pasien di Klinik Kopi

Newsletter

Subcribe
1037174
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
431
453
5490
850939
16757
20604