Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationSite::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Deprecated: Non-static method JApplicationCms::getMenu() should not be called statically, assuming $this from incompatible context in /home/jejak306/public_html/libraries/cms/application/site.php on line 272

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jejak306/public_html/plugins/content/responsivesocial/responsivesocial.php on line 192

Gastronomi dan Globalisasi

Suatu ketika saat traveling, saya dan seorang kawan sedikit berselisih soal makanan.

 “It’s time to eat,” kata saya. “Lapar nih, yuk, kita makan! Tapi, bingung mau makan apa.”

“McD aja! Ada di seberang hotel.” Tiba-tiba teman saya memberi ide.

“Ngga ah! Coba makanan lokal, dong! Pasti lebih seru. Masa jauh-jauh buat jalan-jalan terus makan fastfood juga. Bosan!”

“Tapi, katanya, makanan lokal di sini itu terkenal mahal. Terus kita juga ngga tahu masaknya seperti apa. Belum lagi  nanti bisa sakit perut kalau ngga cocok.” Ia bersikukuh untuk memilih makanan yang sudah pasti ia kenal. Tak mau ambil risiki, ia bilang, “Mau aman, lebih baik ke McD saja, deh!”

***

Hal serupa bisa jadi tak saja dialami oleh saya, tapi pula banyak wisatawan lain ketika berwisata di dalam maupun di luar negeri. Kurang berani mencoba makanan lokal karena alasan harga yang belum jelas (khawatir mahal), takut rasanya tidak cocok, dan kebersihan yang belum terjamin. Ditambah lagi, menyoal kehadiran fastfood sebagai akibat dari globalisasi.

Identitas makanan lokal, regional, dan nasional tampaknya bisa jadi berada pada ancaman akibat globalisasi. Menurut Achmad Suparman dalam bukunya yang berjudul Ekonomi Lokal dan Daya Saing Global (2002), mengungkapkan bahwa globalisasi adalah sebuah proses menjadikan sesuatu benda atau perilaku sebagai ciri dan setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi menembus batas negara dan melemahkan keunikan budaya lokal. Globalisasi identik dengan penyeragaman budaya, sehingga identitas lokal menjadi tidak penting. Kebudayaan lokal akan tergerus oleh kekuatan budaya yang lebih besar. Itu hal-hal yang pada konteks ini, saya singgung sebagai dampak negatif atau tantangan dari globalisasi. Tentu saja, globalisasi tak selalu memberikan efek yang buruk.

Pertumbuhan Fastfood yang Masif

Makanan sebagai produk budaya, tak luput dari pengaruh globalisasi. Makanan, seperti french fries, burger, sushi, hotdog, dan fried chicken, begitu mudah ditemukan di mana pun dan kapan pun. Puluhan tahun yang lalu, untuk menikmati makanan dari suatu daerah, kita harus mengunjungi daerah tersebut. Dan untuk menyantap makanan tertentu, kita pula harus menunggu sampai musimnya tiba. Globalisasi menghilangkan batas-batas itu: ruang, jarak, dan waktu.

Saat ini, globalisasi makanan terlihat pada pertumbuhan makanan cepat saji (fastfood) di hampir seluruh belahan dunia yang begitu masif. Kehadiran mereka telah memberikan tekanan kepada kebiasaan makan kita sehari-hari. Proses penyajiannya yang cepat dan praktis sejalan dengan perubahan teknologi, menuntut segala aktivitas kehidupan diselesaikan dengan cepat. Selain itu, fastfood dihidangkan dengan tampilan yang menarik, tempat yang nyaman, dan harga yang reasonable, bahkan relatif murah. Fastfood adalah jawaban dari kebutuhan akan makanan yang cepat dan praktis. Tanpa kita sadari, seiring dengan waktu, makanan lokal sudah jarang kita nikmati. Kita semakin tergantung dengan fastfood. Itulah realitas yang terjadi saat ini. Jangankan untuk menikmati, banyak generasi muda sekarang saja sudah tidak tahu lagi dengan makanan-makanan kuno peninggalan leluhur.

Banyak ahli berpendapat bahwa salah satu upaya untuk melawan arus globalisasi, adalah dengan meningkatkan semangat nasionalisme yang bangga akan produk lokal. Fastfood boleh hadir di mana pun dan kita juga tidak harus menghindari untuk tidak menikmatinya, namun bukan berarti kita harus tergantung pada fastfood. Saat sedang di rumah, sering-seringlah memasak dan menikmati makanan lokal daerahmu dan saat sedang berwisata pun jangan ragu untuk menikmati makanan lokal yang mengandung cerita-cerita unik tentang asal usul maupun proses pembuatan dan penyajiannya. Jangan turuti bisikan yang berkelakar: “Ah, makanan lokal membuat saya tidak berselera!” Selera dapat diubah atau disesuaikan dengan kemauan dan lingkungan.

Menyinggung soal makanan cepat saji, pada awalnya, fastfood juga merupakan makanan lokal. Burger, hotdog, dan fried chicken dari Amerika Serikat, sushi dari Jepang, atau french fries dari Belgia. Lalu, kenapa fastfood bisa diterima dan cocok dengan selera hampir semua masyarakat dunia? Melalui perusahaan multinasional, fastfood dijual dan dipromosikan secara gencar, diproduksi dengan standar kebersihan tinggi, dihidangkan dengan waktu cepat dan tampilan menarik, dijual di tempat yang nyaman, dan diinformasikan dengan harga yang jelas. Semua itu adalah usaha dari kapitalisme fastfood untuk mempengaruhi dan mengubah selera makan kita! Dan terbukti berhasil.

Gastronomi Adalah Kunci yang Tak Berdiri Sendiri

Ketika gerai fastfood, seperti McDonald, KFC, atau Burger King hadir di sebuah destinasi, hal itu menjadi semacam dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Ada dampak positif dan negatif yang menyertainya. Bagi kebanyakan wisatawan mancanegara, fastfood memberi rasa aman akan kebutuhan makan di daerah yang mereka kunjungi dan menjadi salah satu pertimbangan untuk mengunjungi destinasi tersebut. Walaupun sebagian besar wisatawan mancanegara, terutama mereka yang berasal dari Eropa dan Amerika, menyukai atraksi lokal, tapi bukan berarti selama perjalanan mereka akan menikmati makanan lokal setiap hari. Sesekali mereka juga membutuhkan fastfood yang sudah tidak asing lagi dengan selera mereka sehari-hari. Manusia memang cenderung lebih memilih comfort food ketika mereka berada di luar daerah di mana mereka tinggal.

Di sisi lain, kehadiran fastfood juga bisa menggerus keberadaan makanan lokal, regional, maupun nasional. Apalagi jika makanan lokal tersebut tidak pernah dipromosikan, tidak dilestarikan, dan kebersihannya kurang terjaga, bisa dipastikan eksistensinya akan semakin tenggelam. Generasi mendatang hanya akan mengetahui namanya saja. Padahal, makanan lokal punya nilai jual yang tidak dimiliki oleh fastfood. Di sinilah peran gastronomi mengubah ancaman menjadi tantangan. Gastronomi menganggap makanan sebagai satu kesatuan budaya. Tidak hanya melihat makanan secara fisik, namun juga menyertakan sejarah, tradisi, dan cerita-cerita yang mengiringnya. Jika aspek-aspek terhadap makanan lokal diperhatikan selayaknya makanan cepat saji, seperti kebersihan, serta dilestarikan, dikembangkan, dan dipromosikan secara terus-menerus, dijual di tempat yang nyaman dengan harga yang terjangkau, mempunya cerita atau storytelling yang kuat, dan dikemas atau dipaketkan bersama atraksi lain di sebuah destinasi, lantas apakah kita masih akan bisa menolak untuk tidak menyantapnya?

Gastronomi memang belum bisa berdiri sendiri sebagai sebuah atraksi wisata. Keberadaannya membutuhkan atraksi lain untuk menarik wisatawan menikmatinya. Gastronomi memberikan nilai tambah untuk menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi wisatawan. Hadirnya gastronomi melengkapi rasa penasaran wisatawan akan hal-hal yang berbau lokal, termasuk keindahan alam, masyarakat setempat dan budayanya, dan makanan lokal.

Jadi, apakah ini juga berarti adalah waktu yang tepat untuk memviralkan kata-kata bijak yang seringkali sudah banyak kita dengar? Kali ini, berlaku juga untuk perkara makanan. Yaitu, “think globally, eat locally!