Menjelajahi Ruang Seni dan Kreatif di Bandung

Jalan-jalan ke Bandung mau apa lagi?

Bagi wisatawan asal Jakarta atau kota-kota besar lain di sekitarnya, Bandung telah lama menjadi destinasi yang teramat populer untuk keindahan panorama alam di dataran tinggi, kuliner, hingga belanja brand fesyen lokal dan alternatif. Well, aktivitas semacam itu mungkin saja tidak akan membosankan untuk dilakukan berulang. Apalagi, akses Bandung yang relatif mudah, murah, dan cepat dari Jakarta melalui jalan tol maupun kereta, telah menjadikan Kota Kembang itu sebagai pelarian singkat yang favorit.

Beberapa waktu lalu, kami mampir lagi untuk kesekian kali ke Bandung dengan motivasi yang berbeda. Bukan untuk me-review kafe atau restoran terkondang yang sedang hits atau menyambangi spot wisata yang sedang ramai di-post melalui Instagram, tetapi mengunjungi ruang-ruang seni dan kreatif di Bandung dan sekitarnya. Saat ini, Bandung sedang gencar untuk membangun industri kreatif. Tentu saja banyak dari kita sudah tahu bahwa beberapa kampus terbaik untuk urusan desain dan seni rupa memang ada di Bandung. Maka, dibantu oleh seorang kawan yang juga berprofesi sebagai pekerja seni, graphic designer, dan ilustrator buku yang berbasis di Bandung, - yang kamu bisa cek karyanya pada akun Instagram @idamkhar - kami menyinggahi sejumlah tempat yang direkomendasikan buat kamu yang tertarik untuk menggali inspirasi maupun referensi untuk daya imajinatif yang kreatif dan inovatif.

Berikut ini, adalah beberapa tempat yang kami rekomendasikan untuk bisa kamu datangi ketika berada di Kota Bandung dan sekitarnya. Kalau dihitung-hitung, terdapat sedikitnya 50 galeri, ruang seni, dan studio seniman. Tentu saja kami belum mampu mengunjungi seluruhnya dalam kunjungan kami yang hanya tiga hari. Tetapi review terhadap beberapa galeri dan ruang seni ini bisa saja mewakili hal yang menarik dari potret perkembangan seni dan industri kreatif di Bandung.

Lawangwangi Creative Space

Berlokasi di Jl. Dago Giri 99A, Mekarwangi, Lembang, Bandung Barat, Lawangwangi Creative Space hadir dengan konsep sebagai art gallery, design space, dan kafe. Keberadaannya persis berada di dataran tinggi yang dikelilingi perbukitan. Jadi mengunjungi Lawangwangi seperti sensasi mengunjungi sebuah resort di pegunungan. Kebetulan sekali ketika kami berkunjung, Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) sedang berlangsung sejak 5 Oktober-5 November 2017. Tahun ini terdapat 15 karya seni kontemporer yang sedang dipamerkan. Salah satu karya yang juara menampilkan sebongkah gundukan tanah merah yang ditetesi bocoran air dari akuarium plastik dengan sekumpulan ikan hidup di atasnya. Berjudul “00” karya Deni Ramdani. Menarik dan menggugah karena karya tersebut menjadi refleksi terhadap persoalan krisis lingkungan dan konflik tenurial yang kita hadapi saat ini. Oiya, sebagai informasi, kafe yang terletak di lantai paling atas Lawangwangi merupakan salah satu spot populer untuk menikmati lansekap Bandung dari ketinggian, begitulah kata kawan kami yang menemani.

 

Selasar Sunaryo Art Space

Dari namanya, sudah bisa ditebak! Ya, art space yang satu ini merupakan perwujudan dari mimpi Sunaryo yang dikenal sebagai salah satu seniman serba bisa di Indonesia, mulai dari patung, grafis, keramik, hingga tekstil. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) - seperti yang ditegaskan oleh Sunaryo - adalah museum yang hadir dengan semangat anti-museum. SSAS yang berlokasi di Jl. Bukit Pakar Timur No. 100 ini memiliki fasilitas lengkap, mulai dari galeri yang memamerkan karya pribadi hingga seniman lain, kafe, perpustakaan, toko sovenir, hingga ruang terbuka dan komersil. SSAS pun aktif menjadi wadah bagi berbagai pameran dan pagelaran seni, diskusi, hingga pemutaran film yang terbuka bagi publik. Kafenya pun cukup asyik untuk bekerja dan mengobrol.

WOT Batu

Masih berada di sekitar SSAS, adalah WOT Batu atau Stone Garden di Jl. Bukit Pakar No. 98. WOT Batu merupakan suatu karya seni instalasi Sunaryo dengan eksplorasi melalui media batu. Di tempat ini, batu-batu tersusun dan terpahat dengan beragam makna. Melalui karya-karya di ruang terbuka itu, kita seperti diajak untuk menelusuri fase kehidupan manusia. Ada batu yang mungkin membawa perspepsi kita pada awal perdaban manusia. Ada batu yang tampak seperti mengambang di cakrawala. Ada juga batu yang mungkin kita tak tahu apa maksudnya. Ya sudah, tak perlu pusing kalau kamu tak bisa menemukan makna dari seni yang tercipta. Nikmati saja! Harga tiket untuk WOT Batu sebesar Rp 50 ribu untuk orang dewasa bukan pelajar/mahasiswa. 

NuArt Sculture Park

Berjarak hanya sekitar 10 menit dari Pintu Tol Pasteur, tepatnya di Jl. Setraduta Raya No. L6, adalah NuArt Sculpture Park (NuArt). Yup! Di tempat inilah kamu bisa menikmati sekitar 200 karya Nyoman Nuarta, seniman yang begitu fenomenal dan sosok di balik proses pengerjaan megaproyek patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di GWK Cultural Park Bali. NuArt telah dibuka sejak tahun 2000 atas prakarsa pribadi Nyoman Nuarta dan kini tercatat sebagai salah satu sculpture park terbesar di Indonesia. Baik itu di ruang galeri, taman, maupun selasar museum, kamu dapat menikmati dengan bebas karya-karya seniman pelopor seni rupa baru itu yang kental dengan media tembaga serta efek bayangannya. Untuk bisa menikmati NuArt, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 50 ribu untuk orang dewasa bukan pelajar/mahasiswa. Selain museum dan galeri, NuArt juga menyediakan berbagai fasilitas lengkap, termasuk ruang bioskop untuk menonton beberapa film dokumenter dari proses kreatif pembuatan karya-karya Nyoman Nuarta, kafe dan restoran, butik, dan lain-lain.

Selain empat tempat yang paling kami rekomendasikan di atas, silakan juga mengunjungi galeri dan ruang seni lainnya yang menjadi tempat bagi ruang display berbagai karya seni beragam bentuk dan aliran, antara lain:

  • Groya Seni Popo Iskandar, Jl. Setiabudi No. 235b.
  • Museum Barli, Jl. Prof. Ir. Sutami No 91.
  • Omnispace dan Omuniuum, Jl. Ciumbuleuit No. 151B.
  • Kineruku, Jl. Hegarmanah No. 52.
  • Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Jl. Bukit Dago Utara No. 53.
  • The Parlor, Jl. Rancakendal Luhur No. 9.
  • Orbital Dago, Jl. Rancakendal Luhur.
  • URBANE, Jl. Cigadung Raya Barat No. 5.
  • S14 Art Space & Library, Jl. Sosiologi No. 14, Perumahan Unpad.
  • Platform 3, Jl. Cigadung Raya Tengah No. 40.
  • Gerilya, Jl. Raden Patah No. 12.
  • Galeri Soemardja, Jl. Ganesha No. 10.
  • Galeri Hidayat, Jl. Sulanjana No. 36.
  • World’s End, Surapati Core Blok J No. 23.
  • Gedung Indonesia Menggugat, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5.
  • Rumah Seni Ropih, Jl. Braga No. 43.
  • Tobucil & Klabs, Jl. Panaitan No. 18, Sumur Bandung.
  • Kolekt, Gudang A, Jl. Gudang Selatan No. 22.
  • Spasial, Jl. Gudang Selatan No. 22.
  • Titik Temu Space, Jl. Gatot Subroto No. 91F.
  • Roemah Seni Sarasvati, Jl. Jend. Sudirman No 137.
  • Galeri Ideloka Telkom, Jl. Telekomunikasi Terusan Buah Batu.

Oiya, kamu juga bisa menemui pusat kebudayaan Jerman dan Perancis di Bandung, yakni Goethe-Institut di Jl. R. E. Martadinata No. 48 dan Institut Francais Indonesia di Jl. Purnawarman No. 32. Selain mengeksplorasi ruang seni dan galeri, ada juga banyak seniman yang membuka pintu pada waktu-waktu tertentu untuk kita bisa mengunjungi studio atau ruang kerja mereka, seperti studio seni milik Agugn Prabowo, Antonio S. Sinaga, Asmudjo J. Irianto, Dadan Setiawan, Benny Messa, dan lain-lain.

Ngga heran, dong, kalau Bandung telah secara resmi dinyatakan oleh UNESCO sebagai salah satu dari jaringan kota kreatif dunia atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Selain Bandung, Pekalongan telah lebih dulu masuk ke dalam UCCN. Jadi, bukan hanya soal pembangunan kota secara berkelanjutan yang dikedepankan Bandung, tetapi juga termasuk perhatian pada pengembangan seni dan budaya secara inklusif.

Selamat menikmati pengalaman kreatif menjelajahi Bandung sebagai destinasi pariwisata seni dan budaya yang berbeda - meski tak jarang, seni kontemporer bisa bikin kita bingung sekaligus termenung!

Tips Mengunjungi Galeri dan Ruang Seni

Tentu tak semua dari kita harus paham apa itu seni ketika mengunjungi galeri dan ruang seni. Meski begitu, ada beberapa hal penting yang harus kita perhatikan. Setiap karya seni dibuat dengan upaya dan melalui proses yang tak selalu mudah, sehingga sebagai pengunjung, kita harus menghormati dan mengapresiasi karya seni dengan perilaku dan sikap yang santun. 

  • Pertama adalah patuhi aturan yang diberlakukan oleh setiap galeri atau ruang seni. Peraturan setiap galeri maupun ruang seni dapat berbeda-beda. Tetapi hal-hal umum yang biasanya diberlakukan, seperti pelarangan menyentuh karya, perhatikan jarak untuk menikmati karya (jangan sampai, dong, karya seni tersenggol tanpa sengaja!), dan lainnya. Beberapa karya mungkin dapat dipegang atau disentuh atau bersifat interaktif, hal itu harus kamu perhatikan dengan melihat keterangan dan aturan yang ada.
  • Tidak memotret jika itu dilarang! Jika pun terdapat karya yang bisa dipotret, perhatikan aturannya. Beberapa karya seperti lukisan bisa amat sensitif terhadap lampu cahaya kamera. Dan jika memotret dan menyebarluaskannya melalui media sosial, jangan lupa menyebutkan seniman yang membuatnya. Tentu saja, perhatikan jarak aman dan berpose-lah sewajarnya untuk menghargai karya seni.
  • Tak semua galeri dan ruang seni terbuka setiap saat. Perhatikan jadwal buka-tutup-nya. Untuk galeri dan ruang seni yang terbuka untuk umum, sebagian tertutup pada hari Senin dan hanya buka pada jam kerja. Sebagian lainnya dapat diakses secara bebas/gratis, tetapi sebagian memberlakukan retribusi berupa tiket masuk.
  • Jika ingin mengunjungi studio seniman di Bandung, sebaiknya buatlah janji atau berkomunikasi dengan pengelola/pemiliknya terlebih dulu.
  • Tak semua lokasi di atas dilalui oleh transportasi umum, sehingga akses hanya dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau taksi maupun ojek, baik ojek online maupun konvensional.