Semakin Jatuh Cinta dengan Kota Malang

Mendung menyambut kedatangan kami di Kota Malang, gunung-gunung megah yang mengelilingi kota ini menjadi hilang, tersembunyi dibalik gumpalan awan hitam dan putih yang tersebar dimana-mana. Hawa dingin menemani sepanjang perjalanan kami mengelilingikota ini. Benar-benar eksotis! Yang paling kami kagumi adalah banyaknya bangunan peninggalan jaman kolonial yang masih terawat dengan baik. Melihat jejaknya sekarang tak heran jika kota Malang dulunya memang adalah salah satu kota penting bagi Belanda selain Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya.

Tujuan pertama kami pagi ini adalah wisata kuliner di Toko Oen. Sebuah rumah makan yang berdiri sejak jaman Belanda. Konon bangunan dan menunya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Menu andalannya adalah ice cream dan steak. Letak Toko Oen berada di tengah kota, tepatnya di jalan Basuki Rahmat, tidak jauh dari Alun-Alun. Dari terminal Arjosari bisa ditempuh hanya dengan satu kali angkot. Di depan Toko Oen berdiri gereja kathedral kota Malang yang juga merupakan salah satu bangunan tua peninggalan Belanda.

Saat memasuki Toko Oen, suasana tempo dulu benar-benar terasa. Mulai arsitektur, furnitur dan seragam pelayannya semuanya jadul banget. Bahkan daftar menunya ditulis dalam tiga bahasa; Indonesia, Inggris dan Belanda. Desain furnitur dan interiornya sangat sederhana namun terasa cozy. Kami langsung memesan menu andalan rumah makan ini, steak lidah dan ice cream vanilla. Hmmm…terasa benar kalau makanan ini berasal dari masa lampau, rasanya ringan namun nikmat. Menandakan bahwa bumbu-bumbunya adalah rempah-rempah yang diproses secara alami. ice cream-nya walaupun tak selembut ice cream jaman sekarang tapi rasanya benar-benar unik. Saat makan, kami perhatikan ternyata banyak juga orang asing yang berada di toko ini. Mereka kebanyakan orang tua dan berasal dari Belanda. Mungkin mereka sedang bernostalgia.

Tujuan kami berikutnya adalah mengelilingi kota ini sampai habis. Ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi hari ini; jalan Besar iIen, pasar Besar, universitas Muhammadiyah, universitas Brawijaya, dan kampung wisata keramik Dinoyo. Dari Toko Oen kami menyusuri jalan pedestrian yang sepi menuju Alun-Alun. Kota ini cukup bersih walaupun di beberapa tempat masih terlihatsampah berserakan, itupun karena ulah wisatawan yang tak bertanggung jawab dengan membuang sampah sembarangan. Alun-alun kota cukup rindang, pohon besar dan tua menjadi hiasan utamanya. Di sini terdapat pusat informasi bagi wisatawan. Seperti kebanyakan alun-alun, masjid besar kota Malang juga berdiri megah disisi luarnya.

Ternyata kota ini juga dijejali banyak mall sebagai sarana wisata belanja, ada sekitartujuh mall yang kami catat. Untuk kota setingkat kabupaten jumlah ini cukup banyak. Tapi bisa dimaklumi karena penduduk kota Malang juga banyak, apalagi kota Malang juga terkenal sebagai kota pendidikan, yang otomatis pendatangnya juga banyak. Ada empat perguruan tinggi negeri dan puluhan swasta berdiri di kota ini. Wow…banyak juga ternyata!

Kota ini tidak terlalu besar, jalannya juga lumayan lancar tanpa macet. Bangunanya juga jarang yang tinggi, pohon-pohon besar banyak terdapat di kanan kiri jalan utama. Pedestrian juga banyak disediakan. Ketika kami melewati beberapa komplek perumahan, terasa benar bahwa kota ini begitu tenang dan damai. Orang-orang yang kami temui juga ramah dan menyenangkan. Satu-satunya tempat yang tidak nyaman adalah terminal Arjosari, walaupun cukup bersih tapi orang-orangnya tidak ramah…mudah-mudahan saja ini hanya kebetulan saat kami berkunjung! Namun ini bisa dimaklumi karena hampir disetiap kota besar di Indonesia, orang-orang di terminal ya memang seperti itu!

Ketika kami mengunjungi kawasan balai kota, terus terang kami ikut merasakan kedamaian itu. Bangunan balai kota adalah peninggalan jaman belanda, di depannya terdapat tugu yang dikelilingi oleh taman dan kolam teratai. Saat itu hujan turun rintik-rintik, kami berlari-lari kecil menikmati kawasan ini, berteduh dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Di kawasan ini juga terdapat bangunan tua lainnya hotel Tugu dan Splendid Inn. Dari luar kedua hotel ini kelihatan begitu magis. Hotel Tugu adalah hotel paling mahal di kota Malang, tarifnya ada yang 1,5 juta per malam. Tak jauh dari Alun-Alun Tugu-begitu kawasan ini disebut, terdapat stasiun kereta api Kota Baru, yang juga merupakan peninggalan jaman Belanda. Dulu stasiun ini adalah satu-satunya stasiun kereta api di Indonesia yang mempunyai terowongan bawah tanah.

Menjelang sore kami melewati jalan Besar Ijen, jalan raya fenomenal yang dibangun olehBelanda. Jalan ini mempunyai karakteristik landskap yang sama dengan jalan-jalan di Eropa pada abad pertengahan. Jalan raya dengan taman yang luas ditengah-tengahnya dan pedestrian yang dijuga diapit oleh taman. Saat ini di jalan Besar Ijen dihiasi oleh pohon palem di kanan-kirinya. Sepanjang jalan ini berjejer bangunan rumah tinggal yang kebanyakan juga bangunan jaman Belanda, kemudian ada gereja kuno, museum Brawijaya dan perpustakaan kota Malang, salah satu perpustakaan terbaik di Indonesia. Setiap tahun pada bulan Mei selama seminggu jalan sepanjang hampir 1,5 kilometer ini akan ditutup untuk kendaraan dan digunakan sebagai tempatpenyelenggaraan festival Malang Tempoe Doeloe. Sebuah festival yang menghadirkan kesenian, budaya dan makanan tempo dulu di kota Malang.

Mengakhiri perjalanan di Kota Malang, kami mampir ke Bakso Presiden. Sebuah warung bakso yang nendang rasanya dan hanya bisa ditemukan di sini. Berbeda dengan Bakso Kota Cak Man, yang bisa anda temukan di Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Soal rasanya kami lebih suka Bakso Presiden, ringan dan segar. Lokasi Bakso Presiden tersembunyi di belakang bangunan pusat perbelanjaan Mitra II (saat kami datang pusat perbelanjaan ini sudah tutup dan rencananya akan dirubah jadi hotel). Dekat dengan rel kereta api dan tidak begitu luas. Di dinding warung banyak terdapat photo-photo artis ibukota yang pernah datang ke sini.

Sebenarnya waktu satu hari terasa belum cukup untuk menikmati keindahan dan kedamaian kota Malang. Kota kecil tapi begitu kami berada di salah satu sudut kota, kami ingin berlama-lama disitu. Bukan hal yang spektakuler yang kami rasakan tapi hanya sekedar suasana yang tenang, kesederhanaan, dan hawa yang sejuk. Sebenarnya kota Malang tak memiliki obyek wisata unggulan seperti halnya Monas di Jakarta, Malioboro di Jogja atau Pantai Kuta di Bali. Namun sesungguhnya kota ini mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Mungkin benar, positioning dan branding wisata kota Malang kurang begitu mengena. Sehingga potensi yang harus ditonjolkan dan dikembangkan kurang jelas dan pada akhirnya seperti yang dirasakan oleh salah satu teman kami sesaat setelah mengunjungi kota ini, sesungguhnya apa ya yang ingin ditonjolkan oleh kota Malang? Suasananya nyaman tapi semuanya terasa biasa-biasa saja. Namun bagi kami kota ini sungguh eksotis dan menyenangkan. Dulu kami pernah datang kesini dan sekarang kami sepakat untuk mengatakan, ‘We are in love with you Malang, more…more…and more!”. Salah satu dari kami yang asli orang Malang bahkan menyesal kenapa dulu dia meninggalkan kota ini.