Museum MACAN: Beyond Selfie Spot

Buat para penggiat Instagram, tentu bukan lagi hal yang relatif baru untuk menyinggung keberadaan Museum MACAN di Jakarta. Beberapa waktu lalu, kami mampir ke tempat yang sedang nge-hits sebagai spot favorit berfoto itu. Tentu saja bukan hanya soal selfie, melainkan pula pengalaman menikmati seni modern dan kontemporer yang seharusnya tidak luput untuk bisa ditengok!

Museum MACAN atau bernama lengkap Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara berlokasi di AKR Tower Level MM di Jl. Panjang No. 5, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Siapa pun sebelumnya mungkin tak akan menduga kalau sebuah museum berada di dalam gedung tinggi dan jauh dari kawasan di mana biasanya pusat area seni berada di ibukota. Museum MACAN merupakan segelintir dari museum yang ada di Jakarta yang dimiliki dan dikelola oleh bukan pemerintah. Merujuk pada keterangan resmi pada publikasinya, Museum MACAN mendefinisikan diri sebagai sebuah institusi seni di Jakarta sekaligus menjadi institusi pertama yang memberikan akses publik terhadap koleksi seni modern dan kontemporer Indonesia dan internasional. Dengan luas mencapai empat ribu meter persegi, museum tersebut menampung fasilitas ruang pameran, aktivitas seni, area pendidikan, dan konservasi.

Kami sengaja datang bukan di akhir pekan untuk menghindari keramaian pengunjung yang tampaknya masih didominasi oleh remaja dan anak muda urban. Siang itu, suasana tak ramai. Tetapi, tak bisa dikatakan sepi juga.

Museum MACAN memang terlihat dan terasa jauh sangat berbeda untuk membandingkannya dengan museum-museum secara umum yang ada di Jakarta. Tampilannya modern dengan jendela penuh yang tembus pandang menghadap lansekap Kota Jakarta dari ketinggian. Udara terasa sejuk dan harum. Seluruh staf museum hadir dengan seragam yang modis dan tak pelit senyum. Bukan berarti kami mau menyindir museum-museum yang sudah ada. (Tetapi bisa juga, sih, dimaksudkan untuk memberikan penekanan terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas! Hehehe…) Dan jangan terkejut dengan harga tiket masuk. Jika museum pemerintah memberlakukan harga tiket sebesar Rp 5 ribu secara rata untuk orang dewasa (bukan pelajar/mahasiswa), di Museum MACAN harga tiket yang diberlakukan sebesar Rp 50 ribu. Jangan juga keburu menghakimi kalau harga tiket terlalu mahal! Ingat, loh, ini bukan museum yang didanai oleh pemerintah dan mereka juga memiliki program keanggotaan dengan biaya tahunan yang bebannya bagi individu pelajar hanya separuh dari individu dewasa bukan pelajar.

Untuk pameran inagurasi pertamanya, Museum MACAN menghadirkan tema “Seni Berubah. Dunia Berubah,” yakni sebuah potret yang dibentuk dari 90 karya seni. Melalui pameran tersebut, museum menampilkan sejarah seni kontemporer dan modern yang sebagian besar tertuang dalam bentuk lukisan, mulai dari Indonesia pada periode kolonialisme, kemerdekaan, hingga pasca-reformasi dari berbagai seniman dalam dan luar negeri. Beragam karya yang dihasilkan oleh nama-nama besar di dunia seni, turut dihadirkan pada pameran, seperti Raden Saleh, Miguel Covarrubias, Affandi, Andy Warhol, dan banyak lagi. Tentu saja ada rasa yang berbeda untuk bisa menikmati karya-karya seni ikonik, mulai dari lukisan singa yang menyerang seorang penunggang kuda karya Raden Saleh, karya sang Maestro Andy Warhol yang mempelopori dan mempopulerkan Pop-Art, Wang Guangyi yang bernuansa kental pada kritik Revolusi Budaya di Tiongkok, hingga si Kiki yang nyentrik kreasi Takashi Murakami.

Maka, jangan heran kalau para pengunjung muda bisa jadi lebih sibuk mengatur posisi dan gaya untuk bisa ber-selfie dengan latar berupa karya-karya besar. Museum mengizinkan pengunjung untuk mengambil foto. Tentu saja dengan aturan dan etika yang diberlakukan. Siapa yang coba-coba melanggar, siap-siap kena tegur dan merasa malu.

Dari seluruh karya yang ditampilkan, ada satu karya yang tampak menonjol. Antrian panjang sudah terlihat dari kejauhan. Karya yang dituju itu berada di dalam kotak ruangan yang cuma boleh diakses oleh dua orang selama 45 detik! Infinity Mirrored Room-Brilliance of the Souls karya seniman Jepang, Yayoi Kusama. Bahkan, jika sedang ramai-ramainya pengunjung, kamu harus rela berdiri dan mengular selama satu jam. Ruang Cermin Tak Terhingga itu merupakan karya provokatif dan eksperimental. Di dalamnya, pengunjung akan dapat merasakan atmosfir dikelilingi oleh jutaan bulatan warna-warni neon mencolok yang tampak bagai mengambang dari refleksi cermin dan air.

Selain ruang pamer, Museum MACAN juga memiliki ruang seni untuk anak-anak “Floating Garden” (Taman Apung) karya Entang Wiharso, art shop, dan kafe mungil yang menyediakan kopi.

Get There

Selain tentu saja mudah dijangkau karena lokasinya yang relatif strategis di dekat pintu tol dalam kota, kamu juga bisa mengakses Museum MACAN melalui transportasi publik berupa busway Trans Jakarta dengan jurusan Harmoni-Kebon Jeruk. Halte busway memang tidak berlokasi persis di depan museum, tetapi kamu hanya perlu berjalan kaki saja untuk menuju museum. Perhatikan waktu kunjung museum yang buka mulai jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Seperti halnya museum lain, Museum MACAN tutup setiap Senin dan hari libur nasional.