Mari, Jo Ngopi di Tikala!

Begitulah ajakan khas orang-orang di Manado untuk menyeruput kopi. Tetapi, Rumah Kopi Tikala tidak hanya menyajikan secangkir kopi spesial yang diseduh dengan arang kelapa, melainkan suatu obrolan dan atmosfir persahabatan.

Saya dan seorang kawan tak sengaja menemukan Tikala yang berlokasi di Jl. Sudirman 2, Wenang - tak jauh dari Kantor Walikota Manado. Arsitekturnya yang sederhana pada sebuah rumah tua, tampak menonjol di antara deretan bangunan ruko yang semarak dan modern. Pada bagian depan, meja-kursi kayu berhamburan dan dipenuhi orang-orang. Motor yang terparkir pun penuh hingga ke bahu jalan.

Nuansa jadul langsung terasa begitu memasuki rumah kopi tersebut. Tak ada sofa, tak ada area selfie untuk Instagram, tak ada wifi. Saya melihat hampir setiap pengunjung begitu asyik menikmati kopi bersama obrolan dengan kawan satu meja. Sebagian orang terlihat sedang mengobrol serius. Lainnya, terlihat penuh canda dan tawa. Ada yang bermain catur, gaplek, bahkan pijat punggung. Kesan santai dan akrab terasa bersama dengan aroma kretek. Sebagian besar pengunjung memang lelaki dan umumnya berusia senior. Meski begitu, mereka yang perempuan dan muda bisa ikut menikmati suasana.

Tak banyak pilihan. Namanya juga rumah kopi, jadi selain secangkir kopi hitam encer dan kopi susu (dengan susu kental manis), Tikala pula menyajikan teh dan teh susu. Awalnya, saya berharap bisa menyesap es kopi susu untuk meredam teriknya Manado di siang hari. Tetapi, es batu sudah habis! Maka, saya pasrah memesan kopi susu yang terhidang panas. Selain kopi dan teh, Tikala juga menghidangkan aneka kue atau jajanan pasar dan roti dengan selai srikaya.Proses pembuatan kopi di Tikala sederhana. Tak ada pilihan jenis biji kopi maupun asalnya. Jangan berharap juga bisa memesan espreso, kapucino, amerikano, dan lain-lain. Mereka hanya menyeduh bubuk kopi yang mereka olah sendiri dengan gilingan kasar pada teko-teko dengan saringan di atas bara batok kelapa.

Saat saya berfoto-foto, seorang lelaki paruh baya bertanya ramah: “Dari mana?”

Saya menjawab dari Jakarta. Saya bilang bahwa ini adalah kali pertama saya ke Manado. Dan ia mulai berbagi cerita. Saya memanggilnya Om Robby.

Tikala sudah berdiri sejak tahun 1930-an. Om Robby masih ingat ketika muda dulu ia bekerja sebagai supir kerap mengopi di pagi hari. “Dulu secangkir kopi Rp 50 saat harga bensin masih seribu!” Itu tahun 1970-an. Usianya sudah lewat separuh abad. Kini harga secangkir kopi hitam Rp 9.000.

Tanpa sungkan, ia pindah meja agar bisa dekat mengobrol. Ia juga mengajak seorang pria paruh baya berwajah Tionghoa untuk ikut duduk satu meja. Katanya, saya bisa tanya-tanya langsung tentang Tikala padanya. Ia adalah salah satu pewaris Rumah Kopi Tikala.

Om Sui menjelaskan kalau rumah kopi ini diwarisi oleh orangtuanya kepada anak-anak lelakinya secara bergiliran setiap tahun. Tahun ini, saudaranya yang bernama Fang kedapatan jatah. Tahun berikutnya, giliran saudara Bun. Om Sui akan kembali mengelola Tikala dua tahun lagi.

“Sejak dulu ya seperti ini. Tidak berubah,” katanya. Yang ia maksud itu bukan hanya dekorasi dan interior, tapi juga menu, termasuk racikan kopi. Rumah Kopi Tikala adalah warung kopi pertama di Manado. Om Sui masih ingat bagaimana ia sejak kecil sudah dididik untuk bekerja keras membantu ayah dan ibunya mengelola kedai. Sebelum sekolah, ia harus mengambil kue-kue untuk dihidangkan. Tikala dulu sudah buka sebelum matahari terbit. Dan kue buatan ibunya adalah yang paling dicari banyak orang untuk menemani secangkir kopi pahit racikan ayahnya.

“Di sini, masih ada kursi kayu lama yang disimpan!” Om Robby langsung melesat ke bagian belakang dan ia kembali dengan membawa sebuah kursi kayu reot. Itulah kursi yang tersisa dari Tikala ketika dulu ia muda mulai gemar nongkrong di Tikala.

Saya dan seorang kawan berbincang tentang banyak hal bersama dua orangtua itu. Seperti tanpa ada batasan. Om Sui dan Om Robby bisa bercerita mengenai kondisi saat konflik pecah di banyak tempat di Indonesia, termasuk Maluku dan Sulawesi, banyak orang pindah ke Manado. Ia bilang kalau Tikala mulai ramai di akhir tahun ‘90-an.

“Di sini tak pernah ada kerusuhan,” katanya. “Tahu sebabnya?”

“Kita orang basodara,” saya menjawab dengan semboyan yang dipegang teguh orang-orang di Sulawesi Utara. Kedua orangtua itu tertawa lebar karena saya bisa tepat menjawab pertanyaannya.

Pada cangkir kopi kedua, saya memesan kue-kue yang ada di etalase kaca. Kalau pagi, ada lengkap puluhan jenis kue lokal: panada, kue pisang, cucur, lalampa, dan sebagainya. Tapi, hari sudah sore. Yang tersisa hanya beberapa saja.

Saya lahap mengunyah!“Teman saya ini makannya banyak, tapi badannya kurus,” sindir kawan yang bersama saya di depan Om Sui dan Om Robby.

“Nah, itu ada istilahnya kalau orang sini. Tahu apa?” Kami menggeleng. “Itu berarti kamu ada piara anak babi di perut!” Kami langsung tertawa lepas. Maksudnya, makanan apa pun yang dimakan tidak akan jadi daging atau lemak karena langsung dimakan anak babi.

Tikala tutup sekitar jam 6 malam. Khusus untuk hari Minggu, mereka hanya buka setengah hari. Tetapi, tentu mereka tak pernah mengusir pengunjung yang masih betah duduk sejenak. Om Sui malah asyik menemani kami mengobrol hingga jam 7 malam ketika dua orang pegawainya mulai merapihkan kedai.