Antara Kefanaan dan Tambal-Sulam Suatu Perjalanan

Selasar Sunaryo Art Space, Bandung

Tepat 20 tahun sudah Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) berdiri tahun ini. Dalam perayaan hari jadinya itu, seniman Sunaryo menghadirkan sebuah pameran tunggal yang mengajak kita untuk merefleksikan waktu sekaligus merenungkan banyak hal tentang situasi Indonesia di hari ini.

 Sunaryo pada perayaan 20 tahun  SSAS

Sunaryo pada perayaan 20 tahun  SSAS

Pameran itu bertajuk “Lawangkala” yang merupakan perpaduan dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “lawang” dan “kala” yang dapat diterjemahkan sebagai lorong waktu. Pada pidato pembukaannya, Sunaryo mengungkapkan bahwa kali ini ia hendak menampilkan suatu makna dari kesementaraan. Sebuah karya besar berupa instalasi yang terbuat dari bambu dan kertas, dihadirkan Sang Maestro sebagai realisasi dari gagasannya terhadap sesuatu yang fana. Karya itu mewujud bubu (alat perangkap ikan tradisional) dalam ukuran raksasa.

Lorong Waktu

“Kita di sini hanya numpang lewat,” ungkap Sunaryo menjelaskan tentang salah satu karyanya itu. “Ini adalah ruang utama yang saya lalui setiap saat untuk tempat lewat.... Ini terkait dengan waktu. Saya buat lorong. Jadi inilah kelahiran kita bagai ikan masuk ke bubu.... Kita memasuki  waktu.”

Ia menjelaskan tentang filosofi di balik bubu di mana ikan yang secara tidak sadar telah masuk, tidak akan dapat keluar. Dan itu diibaratkan dengan manusia yang masuk “perangkap” dan menjalani takdirnya.

Lawangkala

“Kita tak bisa mundur lagi,” tegas seniman kelahiran Banyumas, Jawa Tengah pada 1943 silam. Menurutnya, waktu tak memiliki awal dan ujung.

Tentu saja, pengalaman memasuki Lawangkala itu memiliki kesan dan makna yang tak sederhana. Sunaryo membuat siapa pun yang melintasinya dipenuhi decak kagum pada bentuk anyaman bambu. Tidak hanya itu, ia juga menampilkan berbagai perpaduan instalasi dan karya multidisiplin di dalamnya. Ada robekan kertas, seutas tali berwarna merah darah yang menjulur sepanjang lorong, dinding cermin yang menampilkan refleksi diri, serta - pada suatu titik perhentian – alunan musik dan cahaya yang menampilkan visualisasi sungai. Sunaryo seperti hendak mengajak kita bermain dengan takdir. Kita memang tak bisa kembali, tetapi pada setiap langkah yang dilalui dalam kesementaraan, kita dapat memilih dan menikmati untuk berada pada suatu spektrum dualisme: antara positif dan negatif, siang dan malam, panas dan dingin....

Sunaryo mengutarakan bahwa dibutuhkan kerja sekitar tiga bulan dengan bantuan lima orang ibu pengrajin bambu untuk merealisasikan bentuk bubu raksasa yang digagasnya itu.  Secara keseluruhan, persiapan pameran tunggalnya memakan waktu selama 1,5 tahun.

Yang Menambal dan Menjahit

Menengok ke belakang pada dua puluh tahun lalu, Selasar Seni Sunaryo (nama sebelumnya dari SSAS) diresmikan di tengah situasi yang dipenuhi berbagai kekacauan. Indonesia memasuki masa transisi. SSAS pun merespon keruntuhan rezim otoriter Orde Baru yang diliputi berbagai krisis, dengan pameran bertajuk “Titik Nadir.” Saat itu, hampir seluruh karya dan sebagian bangunan SSAS diselimuti kain hitam sebagai bentuk dari kemarahan dan rasa berkabung. Dan bukan Sunaryo jika tidak menaruh perhatian pada situasi politik saat ini.

Pada pameran tunggalnya, ia masih menghadirkan sekumpulan lukisan abstrak yang puitis dan lirih. Tetapi, ada yang berbeda dari proses dan tampilan karya-karyanya kali ini. Yaitu, tambalan dan jahitan.

Seniman yang pula dikenal sebagai pencipta monumen-monumen publik di Jakarta dan Bandung, antara lain Patung Jenderal Sudirman dan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat itu mengungkapkan bahwa lukisan-lukisannya masih berkaitan dengan waktu.  Pada lukisan berjudul Bloodmoon, Sunaryo merekam pengalamannya terhadap fenomena langka ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis yang kemungkinan hanya terjadi sekitar seratus tahun lagi.

“Saya buat ritme terkait jarak, ruang, dan waktu,” katanya.

 

Karya-karya Sunaryo pada pameran tunggalnya

Sementara pada karya-karya lain, seperti Diamlah Luka #1, Senja Mengapung di Bukit, Jarum Waktu yang Bergetar, Kaladampit, dan lain-lain, Sunaryo menghadirkan karya-karya abstrak dengan tambalan dan jahitan pada kanvas.

“Saya juga menambal dan menjahit dan itu sementara.”

Baginya, menambal dan menjahit merupakan pula suatu metafor yang menggambarkan apa yang sedang terjadi di Indonesia.

“Situasi politik ini sementara, bukan sesuatu yang kekal, tapi kita sering mengorbankan keluarga dan saudara untuk marwah identitas,” kritiknya terhadap politisasi SARA (suku, agama, dan ras) yang terjadi di tahun-tahun politik ini. “Dulu ada penembakan secara fisik, seperti (kasus) Trisakti. Sekarang kita tidak tahu. (Sesuatu itu) terlihat tak nyata, tapi itu memberi ruh dalam perjalanan ini.” Pameran tunggal “Lawangkala” oleh Sunaryo berlangsung mulai 15 September sampai 23 Desember 2018.

Karya bermaterial bambu oleh Joko Avianto yang turut ditampilkan pada pameran bertajuk “SSAS/AS/IDEAS.”

Dalam peringatan hari ulang tahun ke-20, SSAS juga mempersembahkan pameran bertajuk “SSAS/AS/IDEAS” yang menampilkan kolaborasi bersama 20 seniman senior dan muda yang terinspirasi dari keunikan artistik Sunaryo. Sedangkan di Wot Batu, sebuah galeri yang menampilkan kumpulan karya Sunaryo yang bermaterial batu, berlangsung pula pameran tunggal Septian Harriyoga. Dalam pameran yang berjudul  “Circle,” seniman lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB tersebut, mencoba menampilkan respon terhadap karya-karya batu yang dibuat oleh gurunya yang tak lain adalah Sunaryo sendiri.  Karya-karya Septian yang terbuat dari logam putih tampak dominan, futuristik, dan mungkin terkesan menyeimbangkan karya-karya batu yang keras dan dingin.

Karya instalasi Septian Harriyoga bersanding bersama karya Sunaryo di Wot Batu.

***

Selasar Sunaryo Art Space

Jl. Bukit Pakar Timur No. 100, Ciburial, Cimenyan, Bandung

T: +62 22 250 7939/+62 22 251 508

E: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

W: www.selasarsunaryo.com

Wot Batu

Jl. Bukit Pakar Timur No. 98 #1, Ciburial, Cimenyan, Bandung